NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran Menggiurkan

"Kau selalu menunduk, apakah wajahku begitu jelek, hingga kau tak sudi menatapku?"

"Tidak, tuan. Bukan begitu, saya takut jika dianggap lancang ketika menatap wajah tuan." Hana panik ketika mendengar tuduhan dari atasannya.

"Ya, seperti ini lebih baik. Daripada seperti berbicara dengan seekor babi yang selalu menunduk." Hana merasakan hatinya tertohok ketika mendengar dirinya disamakan seperti seekor babi.

"Sebelum membuatkan kopi, kau belikan aku pengaman." Luca meletakkan beberapa lembar uang di atas meja. Hana masih mencerna perkataan dari bosnya tentang pengaman.

"Kondom." Luca seperti mengerti kebingungan Hana.

Wajah gadis itu memerah, kedua matanya membulat.

"Kond- Pengaman, tuan?" Ia mengulang kalimat bosnya takut jika ia salah dengar.

"Ya. Kondom." Ucap Luca menegaskan kata kondom yang membuat wajah Hana semakin memerah. Luca melihat perubahan wajah gadis tersebut seperti sebuah hiburan baginya.

"Cepatlah."

"Pilih yang paling bagus."

"B-baik, tuan." Luca menggerakkan tangannya seperti mengusir ayam. Hana segera beranjak pergi usai mengambil uang yang diberikan Luca.

Ia masuk ke dalam lift, namun menyadari bahwa dirinya tak tahu dimana harus membeli barang tersebut.

Hana tak kehabisan akal, ia membuka ponsel dan mencari info di internet.

Hana keluar dari gedung perusahaan, ia memesan taksi untuk mengantarkannya ke apotek terdekat. Ia begitu gugup, di kepalanya membayangkan bagaimana reaksi apoteker yang melayaninya nanti.

Dirinya begitu malu untuk membeli barang tersebut. Apa jadinya jika ia dianggap perempuan nakal. Bosnya benar-benar membuat Hana serba salah.

Hana mengingat di saku seragamnya ada masker, ia segera memakainya agar tak ada yang mengenali dirinya saat membeli barang haram itu.

Ia turun dari taksi, kakinya gemetar melangkah menaiki tangga apotek. Kedua tangannya bertaut saling menguatkan, ia begitu gugup.

"Ada yang bisa saya bantu, Kak?" Sapa apoteker yang seorang laki-laki muda.

"Em.. A-anu.. it-itu.."

"Ya, Kak?" Apoteker tersebut sabar menunggu jawaban Hana.

Hana menatap sekelilingnya memastikan tak ada orang yang mendengar.

"Beli pengaman, Kak." Bisik Hana.

"Apa, Kak? Maaf suaranya kecil."

"Pengaman, Kak."

"Oh, kondom?" Apoteker tersebut mengatakan dengan lantang yang membuat Hana panik karena ada pembeli selain dirinya. Ia memilih menundukkan kepala.

"Yang mana, Kak?"

"Yang paling bagus. Cepat." Hana sudah merasa sangat malu, rasanya ingin saat itu juga ia menghilang dari bumi.

Apoteker kembali ke hadapannya membawa dua buah kotak kecil.

"Dua-duanya bagus, Kak. Jika mau mencoba."

Hana langsung mengangguk dan membayar keduanya.

Apoteker tersebut memasukkan kedua barang tersebut ke dalam kantung plastik, Hana segera mengambil dan memasukkan ke saku seragamnya.

Ia bergegas keluar dari apotek dan menunggu taksi.

Hana segera menuju ke ruangan Tuan Luca usai sampai di kantor. Membawa barang yang diyakininya haram itu membuatnya seperti membawa kotoran. Benar-benar membuatnya malu setengah mati.

Rupanya ada tamu di ruangan Luca, ia hendak berbalik namun suara bariton itu membuatnya berhenti.

"Kau sudah mendapatkan kondomnya?" Luca dengan santainya bertanya di depan tamu yang seorang pria setengah baya.

Hana rasanya ingin mengubur dirinya ke dalam inti bumi.

Hana melangkah mendekati Luca yang duduk di sofa ia segera menyerahkan barang haram tersebut kepada bosnya.

"Ini, tuan. Saya permisi untuk membuatkan anda kopi." Hana bergegas berbalik untuk keluar ruangan.

"Itu kopi untuk siapa? Kenapa kau di sini?" Seorang perempuan muda yang berpenampilan sedikit sexy menegurnya.

"Untuk tuan Luca." Hana mengaduk kopi buatannya di pantry.

"Kenapa kau yang membuatnya? Itu adalah tugasku."

"Tuan sendiri yang meminta saya untuk membuatkannya."

"Sini, biar aku yang mengantarkannya."

"Tapi-"

"Kau kembali dengan pekerjaanmu, jangan cari perhatian dengan tuan Luca, ingat posisimu." Perempuan itu membawa kopi yang dibuat oleh Hana. Tidak ingin berdebat, Hana memilih kembali ke lantai bawah untuk menyelesaikan tugasnya.

"Ini kopinya, tuan." Perempuan yang berpenampilan sexy itu meletakkan di atas meja kerja Luca, tamu pria tersebut sudah pulang beberapa menit yang lalu.

"Mana gadis itu? Kenapa kau yang mengantarkan kopinya?"

"Dia pergi, tuan."

"Panggil dia kemari."

"Baik, tuan."

Sekretaris itu beranjak keluar ruangan dan menghubungi resepsionis di lantai dasar untuk menyuruh Hana kembali ke ruangan tuan Luca.

Tak berapa lama, Hana keluar dari lift. Sekretaris yang berada di balik meja menatap tajam ke arahnya. Hana tak begitu memedulikan hal itu, ia segera masuk ke ruangan setelahmengetuk pintu dan dipersilakan masuk.

Hana berjalan menuju meja kerja tuan Luca.

Pria itu menautkan kedua jemarinya dan menopang dagu seraya menatap tajam kehadiran Hana.

"Kenapa kau tidak mengantarkan kopinya sendiri?"

Hana menghembuskan napas berat, ia lelah bolak balik hanya karena masalah sepele.

"Sekretaris anda yang meminta mengantarkannya, tuan." Hana memilih membalas tatapan tajam itu.

Luca sedikit tertantang ketika menerima tatapan tegas dan percaya diri itu.

"Benarkah? Bukan karena kau malas?"

"Bukan, tuan. Anda bisa menanyakannya sendiri pada sekretaris anda."

"Kau berani memerintahku?"

"Tidak, tuan. Maaf." Hana menunduk. Luca tersenyum kecil, gadis ini kembali takut padanya.

"Jangan ulangi lagi."

"Baik, tuan. Saya permisi."

"Siapa yang menyuruhmu pergi?" Hana hampir terjatuh akibat tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Ia segera berbalik menghadap Luca.

"Ya, tuan?"

"Duduk di sana, dan tunggu aku bekerja." Luca menunjuk sofa menggunakan jarinya.

"Baik, tuan." Hana segera berjalan menuju sofa seperti perintah Luca.

Ia tak mengerti apa maunya pria Latin itu.

Tidakkah pria itu berpikir bahwa pekerjaan Hana belum selesai akibat dirinya?

"Apa yang kau pikirkan?" Hana mengangkat kepalanya, Luca terlihat sibuk membuka tumpukan kertas tanpa menatapnya.

"Pekerjaan saya belum selesai, tuan."

"Kau lupa siapa aku?" Luca menatap lekat Hana yang di matanya cukup cantik. Sayang sekali seragam kebersihan itu sangat mengganggu matanya.

"Tidak, tuan. Anda adalah bos di sini."

"Lalu, apa yang kau khawatirkan?"

"Maaf, tuan."

Luca kembali fokus pada tumpukan berkas.

Hana menunggu dengan patuh, ia beberapa kali menggosok hidungnya karena suhu ruangan yang terlalu dingin.

Hana berharap ia tidak terkena flu usai keluar dari sini.

"Apa kau suka sekali melamun?" Suara bariton mengagetkan Hana yang sibuk dengan segala pikirannya.

"Tidak, tuan."

"Aku tak suka basa-basi." Luca duduk bersandar di sofa yang berhadapan dengan Hana. Gadis itu siap mendengar perintah selanjutnya dari Luca.

"Bagaimana jika kita berbisnis? Ini saling menguntungkan satu sama lain."

"Maaf, saya tidak mengerti maksud anda, tuan."

"Kudengar kau terlilit hutang, dan aku perlu seorang istri."

Hana terkejut mendengar ucapan Luca, ia merasa tak pernah bercerita pada karyawan perusahaan ini bahwa ia mempunyai hutang selain kepada sahabatnya, Salsa.

"Kau tak perlu bingung aku tahu darimana. Fokus pada solusi yang kutawarkan. Bagaimana?"

"Hutang saya banyak, tuan."

"Kau meremehkanku?"

"Tidak. Bukan begitu, saya hanya memberi tahu agar tuan tak merasa rugi."

"Aku tahu."

"Anda perlu pembantu rumah tangga, tuan?" Sontak pertanyaan Hana membuat Luca tergelak.

Hana tertegun melihat Luca yang tertawa, pria itu terlihat lebih manusiawi dibanding dengan karakter dingin yang biasa ia perlihatkan.

"Aku memerlukan seorang istri, bukan pembantu. Kau tidak tuli kan?" Hana membulatkan matanya mendengar hal itu.

Bagaimana bisa seorang CEO yang pasti banyak kenalan wanita bahkan mungkin menjadi incaran para wanita cantik dan berkelas mengajaknya menikah?

"Kau tertarik? Aku tidak meminta dua kali. Jika kau menolak, kau tidak akan mendapatkannya lagi."

"Saya belum mengerti."

"Utarakan apa yang mengganjal dibenakmu, Hana."

Gadis itu mengerjapkan mata, hatinya terasa menghangat ketika mendengar namanya disebut dengan lembut.

"K-kenapa saya? Saya yakin di luar sana banyak wanita yang mengantre untuk menjadi istri anda, Tuan."

"Aku memilihmu, karena melihatmu yang menyedihkan." Baru saja perasaannya nyaman, ia kembali seperti dilempar kotoran.

"Maaf, saya tidak butuh bantuan anda, Tuan. Terima kasih atas tawarannya. Saya permisi." Hana berdiri dari duduknya.

"Selangkah saja kau meninggalkan ruangan ini tanpa seizinku, kau kupecat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!