NovelToon NovelToon
Pelaminan Tanpa Persiapan

Pelaminan Tanpa Persiapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:35.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Siapa laki-laki itu sebenarnya? Kenapa dia punya mobil mewah tapi tidak punya identitas di saku jaketnya?" tanya Ayahnya menyelidik.

Atha tidak tahu, Yah. Atha hanya menolongnya," jawab Athaya pelan.

Ibunya mendongak, matanya merah dan wajahnya tampak jauh lebih tua dari kemarin.

"Kamu sudah menghancurkan harapan Ibu, Atha. Harusnya hari ini kita merayakan lamaran dengan Pak Heru. Tapi sekarang? Kamu malah membawa sampah dari pinggir jalan ke rumah ini!" Maysarah begitu kecewa kepada Athaya.

"Bu, dia manusia, bukan sampah. Dia terluka..." Bela Athaya pada laki - laki yang kini sudah berstatus suaminya itu.

"Hati Ibu yang lebih terluka!" teriak Ibunya tiba-tiba, diikuti batuk yang hebat hingga tubuhnya terguncang.

"Ibu tidak mau melihat wajahmu atau wajah suamimu itu! Kalau sampai besok pagi dia masih ada di sini, Ibu yang akan pergi dari rumah ini!" Sungguh Maysarah tidak tahan dengan ucapan - ucapan para tetangga tadi saat di Balai Desa, hingga dia lebih memilih untuk pulang da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

*****

"Zayn! Sampai kapan kau mau memelihara anak desa itu di rumah ini?" suara Sheila melengking, memecah kesunyian lorong.

Zayn yang sedang menuang air ke gelas hanya melirik dingin.

"Jaga bicara Mama. Athaya sedang berduka. Ayahnya baru saja dimakamkan tadi siang," sahut Zayn dingin.

"Justru itu!" Sheila menggebrak meja kerja Zayn.

"Ayahnya sudah mati! Satu-satunya alasan kau menahan gadis itu di sini adalah karena rasa hutang budi pada wanita itu, bukan? Sekarang bebannya sudah hilang. Buang dia kembali ke desa asalnya! Dia tidak pantas berada di silsilah keluarga Al-Fahri,"

Zayn meletakkan gelasnya dengan dentingan keras. Matanya menatap sang mama dengan tatapan yang sangat tajam, sebuah tatapan yang sanggup membuat nyali orang biasa menciut.

"Athaya adalah istriku. Dia tidak akan pergi ke mana pun,"

Sheila tertawa sinis, meremehkan.

"Istri? Kau hanya kasihan padanya. Dan asal kau tahu, Zayn, masa lalumu baru saja mendarat di bandara. Clarissa sudah kembali dari Melbourne sore tadi. Dia wanita yang selevel denganmu, bukan anak pemungut sampah yang hanya bisa menangis itu!"

Mendengar nama Clarissa, Zayn sama sekali tidak goyah. Baginya, nama itu hanyalah bagian dari sejarah yang sudah dia hapus.

"Aku tidak peduli Clarissa kembali dari Melbourne atau dari neraka sekalipun," desis Zayn sambil melangkah mendekati Mamanya, membuat Sheila sedikit mundur.

"Jika Mama berani menyentuh Athaya atau mencoba mengusirnya, aku tidak akan segan-segan menjadi lawan Mama,"

Sheila tidak bergeming meski Zayn sudah memberikan peringatan keras. Baginya, Athaya hanyalah kerikil dalam sepatu yang harus segera disingkirkan demi kelancaran ambisi besar keluarga Al-Fahri.

Dia melangkah lebih dekat, menatap putra tunggalnya dengan pandangan menuntut.

"Zayn, dengarkan Mama! Kau ini CEO Al-Fahri Group, bukan pengasuh anak yatim piatu!" suara Sheila meninggi, penuh dengan nada merendahkan.

"Perusahaan kita sedang di ujung tanduk untuk tender proyek pelabuhan pekan depan. Fokusmu terbagi! Seharusnya kamu berada di ruang rapat, menjamu investor, atau setidaknya berada di sisi Clarissa yang memiliki koneksi kuat di Melbourne!"

Zayn mengepalkan tangannya di balik saku celana.

"Fokusku tidak akan terganggu hanya karena aku mencintai istriku, Ma,"

"Istri? Kau menyebutnya istri, tapi lihat apa yang dia berikan padamu? Hanya beban! Hanya air mata!" Sheila mencibir pedas.

"Sejak gadis itu masuk ke rumah ini, kamu terus-menerus mengurus drama keluarganya yang tidak berujung. Dari mulai ibunya meninggal, ayahnya sakit lalu meninggal menyusul ibunya, sampai sekarang pemakaman. Kamu membuang waktu berhargamu hanya untuk menghibur gadis desa yang bahkan tidak tahu cara memegang garpu dengan benar!"

Sheila menarik napas panjang, mencoba mengubah taktiknya menjadi lebih persuasif namun tetap tajam.

"Buang dia sekarang, Zayn. Kembalikan dia ke desa atau beri dia apartemen kecil di pinggiran kota kalau kau memang masih merasa kasihan. Putuskan hubungan kalian. Perusahaan membutuhkan pemimpin yang berdarah dingin dan fokus, bukan pria yang setiap jam harus mengecek apakah istrinya sudah berhenti menangis atau belum. Clarissa adalah pasangan yang tepat untuk citra perusahaan kita, bukan Athaya yang hanya akan membuat harga saham kita jatuh jika publik tahu latar belakangnya!"

Zayn menatap Mamanya dengan tatapan kosong, seolah sedang melihat orang asing.

"Sudah selesai bicaranya?"

"Zayn!"

"Jika perusahaan ini jatuh hanya karena aku mencintai istriku, maka biarkan saja jatuh," ucap Zayn dengan suara rendah namun sangat mematikan.

"Tapi jika Mama terus mendesakku untuk membuangnya, aku pastikan Mamalah yang pertama kali akan kehilangan kursi di dewan direksi. Jangan pernah menguji batas kesabaranku untuk orang yang baru saja kehilangan ayahnya,"

Sheila ternganga. Dia merasa tidak lagi mengenali putranya yang biasanya patuh dalam urusan bisnis.

"Kamu... kamu benar-benar sudah dibutakan oleh gadis itu!"

Zayn menunjuk pintu dengan dagunya, tanda perintah untuk keluar.

"Keluar dari ruanganku, Ma. Dan jangan pernah berani menampakkan wajah Mama di depan Athaya malam ini, atau aku tidak akan segan-segan melakukan hal yang akan membuat Mama menyesal,"

Sheila menghentakkan kakinya dengan marah dan keluar dari ruangan.

***

Zayn melirik jam dinding, sudah hampir tengah malam. Dia memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya. Dengan langkah pelan, Zayn berjalan menuju kamar utama, tempat di mana dunianya yang sebenarnya berada.

Begitu pintu terbuka, suasana kamar yang tenang dan harum aromaterapi menyambutnya. Zayn melihat sosok kecil di atas ranjang besar itu. Athaya tampak begitu tenang dalam tidurnya, meskipun sisa-sisa sembab di matanya masih terlihat jelas.

Rambut hitamnya yang panjang tergerai di atas bantal putih, pemandangan langka yang hanya bisa dinikmati oleh Zayn saat mereka berada di dalam kamar pribadi mereka.

Zayn duduk di tepi ranjang, membuat kasur sedikit melesak. Dia menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sangat dalam, penuh pemujaan sekaligus rasa bersalah karena harus melibatkan wanita selembut Athaya ke dalam pusaran konflik keluarganya yang kotor.

Dengan gerakan sangat hati-hati, Zayn menarik selimut hingga menutupi bahu Athaya, memastikan istrinya tidak kedinginan. Zayn kemudian menunduk, mendaratkan kecupan lembut di kening Athaya yang tidak terbungkus hijab.

Bukan hanya sekali, Zayn mengecup kening itu berkali-kali. Setiap kecupan seolah menjadi bisikan janji bahwa dia akan menjadi benteng terdepan yang melindungi Athaya dari siapa pun, termasuk dari Mamanya sendiri dan masa lalunya yang kembali datang.

"Aku tidak akan membuangmu, Atha," bisik Zayn sangat pelan, hampir tak terdengar.

"Bahkan jika dunia harus hancur, kamu akan tetap di sampingku. Tidurlah yang nyenyak, Sayang,"

***

Zayn menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara malam yang dingin setelah memastikan Athaya tidur dengan nyenyak.

Dia melangkah perlahan menuju balkon kamar, tangannya bertumpu pada pagar besi yang dingin. Dari ketinggian itu, matanya menangkap sosok pria yang berdiri tegak di tepi kolam renang yang airnya tampak hitam memantulkan cahaya bulan.

Pram.

Sosok itu berdiri mematung, menatap pantulan dirinya sendiri di permukaan air. Zayn terdiam sejenak, mengamati pria yang selama ini menjadi tameng hidupnya.

Kini, setelah mengetahui kebenaran dari mulut Ramli, setiap inci bahu tegak Pram terlihat berbeda di mata Zayn. Itu bukan lagi sekadar bahu seorang prajurit, melainkan bahu seorang Al-Fahri yang terbuang.

Zayn membalikkan badan, keluar dari kamar dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, lalu menuruni tangga menuju halaman belakang.

Langkah kaki Zayn yang menginjak rerumputan membuat Pram segera tersadar. Dengan insting yang sudah terlatih, Pram berbalik dengan cepat, tangannya hampir menyentuh senjata di pinggangnya sebelum ia menyadari siapa yang datang.

"Tuan Muda," ucap Pram sambil menunduk hormat, kembali ke posisinya yang kaku.

"Maaf, saya tidak mendengar Anda turun. Apa ada sesuatu yang Anda butuhkan?"

Zayn tidak langsung menjawab. Dia berjalan hingga berdiri tepat di samping Pram, ikut menatap air kolam yang tenang.

"Aku tidak butuh apa-apa, Pram. Aku hanya tidak bisa tidur,"

Hening menyelimuti mereka selama beberapa saat. Pram merasa ada yang aneh dengan energi yang dipancarkan atasannya malam ini. Tatapan Zayn tidak sedingin biasanya, ada sesuatu yang lebih lunak, hampir menyerupai rasa duka yang dalam atau... rasa bersalah.

"Bagaimana perasaanmu setelah pemakaman tadi?" tanya Zayn tiba-tiba.

Pram sedikit terkejut dengan pertanyaan pribadi itu.

"Saya... saya turut berduka, Tuan Muda. Pak Ramli adalah orang baik. Dia menjaga Nyonya Athaya dengan sangat luar biasa,"

"Bukan itu yang aku tanya," sela Zayn, suaranya rendah dan serius. Dia menoleh ke arah Pram.

"Maksudku perasaanmu sendiri. Aku melihatmu di pemakaman tadi. Kamu tampak sangat kehilangan, lebih dari sekadar kehilangan seorang kenalan,"

Pram terdiam, jakunnya naik turun saat ia menelan ludah.

"Saya hanya merasa... seolah-olah saya sudah mengenal beliau jauh lebih lama dari yang saya ingat, Tuan. Ada rasa familiar yang menyesakkan dada, tapi saya tidak tahu dari mana asalnya,"

Zayn mengepalkan tangan di dalam saku celananya.

"Tentu saja kau merasa begitu, Pram. Dia adalah orang yang menyelamatkan nyawamu dari ibuku sendiri," batin Zayn perih.

1
Bariah Bariah
di ulang ulang lagi ceritanya sama seperti yang diatas dobel
tinie
kenapa Athaya jadi egois
bukanya di awal dia juga melihat
photo dikotak itu
tinie
ini Siska apa shelaa
tinie
kamu juga punya pendidikan , meskipun tidak sama
TPI akan bisa seimbang jika kamu mau belajar
karna kamu gadis yg cerdas
tinie
rumit juga ya
lalu Zayn asli anak mama Shella
dan tuan Fahri
lalu Athaya anak siapa
tinie
jika maysarah ibu kandung Zayn
lalu Athaya anak siapa
kan gak mungkin kakak adik kandung nikah
tinie
hubungan sangat rumit, siapa dia menyebut ibu maysarah anak haram??
tinie
bisa jadi dia hanya pura pura ,,
atau madam sehlla ini ibu tiri🤔🤔
tinie
wong desoo yg sangat egois
sakit sudah dpt pertolongan malah
malah ingin memutuskan kekeluargaan
lelah koe pernah ngaji toh pak pak
masa iya ada darah yg terputus

kan kalo dah nikah juga dia akan ikut suaminya
terus KK terpisah
hadeuuh
tinie
astaghfirullah
seorang ibu mengatakan anak pembawa sial
hal yg paling sakit diantara sayatan 🗡️😭😭
tinie
bener mereka semua egois😭
tinie
bertanya pada takdir, kenapa orang tua selalu bertanya kapan kamu nikah,
TPI mereka lebih menghakimi sekarang kamu harus nikah titik,,
🥺🥺🥺
Bariah Bariah
owala kok cerita nya banyak yg dobel si kk author
di baca dulu coba dari awal ya
semangat semangat aku baca GK taunya dobel LG
Bariah Bariah
coba deh KK baca sendiri dari awal
ini dobel LG kk🤦
nunggu nya lama
begitu ada yg baru
dobel lg bacanya
semangat kk 💪👍
Bariah Bariah
coba baca dengan teliti KK
dobel lg ini🤦
semangat kk💪
Bariah Bariah
dobel lg🤦
Siti Romlah
maaf yh sebelumnya 🙏 menurut aku ceritanya ga nyambung, masa udah segitu jelasnya kalo Zayn itu bukan orang biasa tp ortunya ataya ttp ajha Masi kecewa sama anknya, apalgi k
harusnya mereka tau yg bawa istrinya ke RS kan orang' nya Zayn 💪
Bariah Bariah
lah kok di ulang lagi sih kak
dobel ini
semangat kak author semangat
Indriani Kartini: ini hasil revisi ya Thor, semangat di tunggu
total 2 replies
Bariah Bariah
yah kok dobel LG sih KK author 🤦
semangat kk💪
Bariah Bariah
banyak banget ceritanya yg di ulang ulang
ya kak author
di kira cerita baru
yg di baca kok itu LG ya
semangat kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!