Dilarang memplagiat karya!
"Pernikahan kontrak yang akan kita jalani mencakup batasan dan durasi. Nggak ada cinta, nggak ada tuntutan di luar kontrak yang nanti kita sepakati. Lo setuju, Aluna?"
"Ya. Aku setuju, Kak Ryu."
"Bersiaplah menjadi Nyonya Mahesa. Besok pagi, Lo siapin semua dokumen. Satu minggu lagi kita menikah."
Aluna merasa teramat hancur ketika mendapati pria yang dicinta berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Tak hanya meninggalkan luka, pengkhianatan itu juga menjatuhkan harga diri Aluna di mata keluarga besarnya.
Tepat di puncak keterpurukannya, tawaran gila datang dari sosok yang disegani di kampus, Ryuga Mahesa--Sang Presiden Mahasiswa.
Ryuga menawarkan pernikahan mendadak--perjanjian kontrak dengan tujuan yang tidak diketahui pasti oleh Aluna.
Aluna yang terdesak untuk menyelamatkan harga diri serta kehormatan keluarganya, terpaksa menerima tawaran itu dan bersedia memainkan sandiwara cinta bersama Ryuga dengan menyandang gelar Istri Presiden Mahasiswa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32 Proyek BEM
Happy reading
Pagi ini, jajaran pengurus BEM Universitas Cakrawala berkunjung ke Desa Bantul dengan membawa misi penting, 'mencerdaskan warga desa' melalui Proyek Bakti Hukum. Mereka dibersamai oleh perwakilan dari LBH dan salah seorang pegawai BPN.
Puluhan warga menyambut hangat kedatangan rombongan BEM yang dipimpin oleh Ryuga Mahesa--Sang Presiden Mahasiswa.
Bagi warga, Proyek Bakti Hukum yang dilaksanakan oleh Ryuga beserta teman-temannya bagaikan angin segar di tengah merebaknya aksi mafia tanah yang meresahkan.
"Selamat datang, Nak Ryu." Darma--Kepala Desa Bantul menyapa Ryuga. Menjabat tangan dan memberi pelukan singkat Sang Ketua BEM, tanpa terlupa menyematkan sebaris senyum.
"Monggo, silahkan duduk," lanjutnya--mempersilahkan Ryuga untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan.
Bukan hanya menyapa Ryuga, Darma juga menyapa seluruh anggota BEM, Aluna, perwakilan dari LBH, dan Danu Pratama--pegawai BPN (Badan Pertanahan Nasional) sekaligus kakak kandung Dimas.
Acara ramah tamah dimulai.
Darma memberi sambutan dan menuturkan permasalahan yang tengah dihadapi oleh beberapa warga terkait kasus penipuan yang dilakukan oleh mafia tanah, sekaligus meminta solusi kepada jajaran anggota BEM dan para ahli pertanahan yang turut hadir.
Usai bertutur, Darma mempersilahkan Ryuga untuk berganti memberi sambutan.
Ryuga mengambil mikrofon dan mulai memperdengarkan suara khas-nya. Tegas, lantang, penuh percaya diri, dan menunjukkan wibawanya sebagai seorang Presiden Mahasiswa.
Kharismatik.
Satu kata itu ditasbihkan oleh Aluna teruntuk lelaki berstatus 'suami'.
Dalam sambutannya, Ryuga menekankan bahwa mahasiswa harus menjadi jembatan antara teori hukum di kampus dengan realita di masyarakat.
Ia juga menyampaikan bahwa BEM Universitas Cakrawala sengaja menggandeng narasumber ahli, seorang pegawai profesional dari Badan Pertanahan Nasional yang akan membantu memberi edukasi sekaligus mendampingi warga--menyelesaikan permasalahan yang diakibatkan oleh keculasan mafia tanah.
Para warga dengan suka cita mendengar sekaligus menyimak rangkaian kata yang disampaikan oleh Ryuga. Bahkan, mereka terlihat sangat antusias.
Puncak acara diisi dengan sesi yang sangat krusial bagi warga desa 'Edukasi Pertanahan'.
Danu selaku narasumber, menyampaikan penjelasan mengenai Akta Tanah--sebagai bukti kepemilikan yang sah dan kuat, serta Akta Jual Beli--sebagai dokumen peralihan yang seringkali menjadi celah masuknya oknum jika tidak dipahami dengan benar.
"Mafia tanah bekerja di dalam gelap-nya ketidaktahuan kita. Dengan memahami prosedur resmi di BPN dan memastikan setiap transaksi tercatat secara legal, kita telah menutup pintu bagi para spekulan," ujarnya seusai menuturkan penjelasan.
“Bapak dan Ibu, zaman sekarang mafia tanah paling takut dengan masyarakat yang 'melek' teknologi. Sekarang, mengecek keaslian sertifikat tidak harus selalu mengantre di kantor pertanahan. Semua ada di genggaman Bapak-Ibu.”
Danu beranjak dari posisi duduk. Tangannya menggenggam sebuah perangkat tablet yang terkoneksi ke proyektor. Menampilkan antarmuka 'aplikasi' modern yang masih asing bagi sebagian besar warga, 'Sentuh Tanahku'.
Danu memperkenalkan aplikasi 'Sentuh Tanahku'. Mendemonstrasikan cara mengunduh dan menggunakan aplikasi resmi dari Kementerian ATR/BPN tersebut.
Ia menunjukkan fitur 'Cek Berkas' dan 'Plot Bidang Tanah'.
Warga tampak terpukau saat melihat peta satelit yang menunjukkan batas-batas tanah secara digital.
Danu menjelaskan bahwa dengan memasukkan nomor sertifikat, warga bisa memverifikasi apakah data tanah mereka sudah terintegrasi secara elektronik--valid atau belum.
"Jika data sudah muncul di aplikasi, itu artinya sertifikat Bapak-Ibu sudah masuk dalam sistem nasional yang aman," tuturnya.
Danu juga memperlihatkan contoh sertifikat terbaru yang menggunakan QR Code. Ia mengajari warga cara memindainya untuk melihat data fisik dan yuridis tanah secara instan, sehingga jika ada oknum yang mencoba memalsukan dokumen fisik, warga bisa langsung mendeteksinya lewat kecocokan data digital.
Di sela-sela demonstrasi, Dimas--Ketua Advokasi dan Nofiya--Ketua Publikasi, membantu membagikan selebaran panduan visual yang telah mereka siapkan agar warga bisa mempraktikkannya di rumah.
"Teknologi ini adalah pagar pelindung," tegas Danu.
"Dengan mengecek secara digital dan secara berkala, kita memastikan bahwa hak milik kita tetap aman dan tidak 'dimainkan' oleh pihak luar. Jangan tunggu ada sengketa, baru mengecek. Mulailah peduli dari sekarang," imbuhnya sebagai penutup penjelasan yang disampaikan.
Ryuga selaku Ketua BEM membuka sesi tanya jawab. Suasana yang semula tenang berubah menjadi hidup. Satu per satu warga mengangkat tangan, menyuarakan kekhawatiran yang selama ini terpendam di balik tembok rumah mereka.
"Mas Danu, kalau semua data ada di HP, apa ndak gampang dibobol pencuri digital? Bagaimana kalau sertifikat saya tiba-tiba berubah namanya di aplikasi?"
Danu mengulas senyum, lantas menanggapi pertanyaan yang diutarakan oleh Yanto, salah seorang warga Desa Bantul.
"Pertanyaan bagus, Pak. Aplikasi 'Sentuh Tanahku' menggunakan sistem verifikasi NIK yang ketat. Hanya pemilik akun yang datanya sinkron dengan Dukcapil yang bisa mengakses detail sertifikat tersebut. Justru dengan adanya sistem digital, jika ada orang yang mencoba mengubah data di kantor pertanahan, sistem akan meninggalkan jejak audit yang jelas. Ini jauh lebih aman daripada sekedar menyimpan kertas di lemari yang bisa dipalsukan."
"Mas Danu, kalau nanti datanya ada di HP, apa sertifikat asli saya ndak laku lagi? Bagaimana kalau aplikasinya eror, apa tanah saya hilang?" Sumini menyahut.
Danu tersenyum tipis, lalu menjawab dengan tenang.
"Aplikasi Sentuh Tanahku sebenarnya adalah 'KTP Digital' untuk tanah Bapak dan Ibu. Sertifikat fisik tetap Bapak-Ibu pegang di rumah. Aplikasi ini fungsinya sebagai pengawal. Kalau ada orang yang mencoba macam-macam dengan tanah Bapak-Ibu di sistem kami, panjenengan akan tahu lewat notifikasi di aplikasi. Ini adalah transparansi, bukan pengambil-alihan."
"Saya takut data saya diretas atau disalahgunakan, Mas." Bambang turut bersuara--mengutarakan keraguan sekaligus kerisauannya.
"Keamanan adalah prioritas. Sekarang, aplikasi sudah dilengkapi dengan PIN dan Biometrik--sidik jari atau wajah. Jadi, hanya Bapak-Ibu yang bisa membuka data tanah tersebut. Ini jauh lebih aman daripada sertifikat fisik yang dititipkan ke orang lain tanpa pengawasan."
Sesi tanya jawab masih berlangsung. Bukan hanya mengenai aplikasi yang tengah diperkenalkan oleh BPN, tetapi juga mengenai permasalahan yang sering dialami oleh warga terkait aksi mafia tanah. Salah satunya kasus yang tengah menimpa Mbah Kunto, seorang kakek berusia tujuh puluh tahun.
Sebagai pegawai BPN, Danu berjanji akan mengawal sekaligus membantu Mbah Kunto untuk mendapatkan kembali tanahnya yang telah dirampas oleh mafia tanah. Begitu juga Ryuga, seluruh anggota BEM, dan LBH yang digandeng oleh tim advokasi.
Hari ini, merupakan hari yang cukup melelahkan bagi Ryuga dan rombongan. Sebab, seusai acara ramah tamah sekaligus diskusi yang tadi berlangsung di halaman Balai Desa, mereka berkeliling--mengunjungi rumah para warga yang diduga tengah bermasalah akibat keculasan mafia tanah.
"Lo capek nggak, Love? Kalau capek, nggak usah ikut keliling. Istirahat aja di Balai Desa. Biar ditemenin Nofi," ujar Ryuga sambil mengusap pipi Aluna yang memerah karena terpapar sinar mentari.
"Aku nggak capek, Mas. Jujur, aku malah senang. Bisa berbaur dengan para warga, bersilaturahim, dan menikmati pemandangan yang tersuguh di desa ini." Aluna tersenyum. Genggam tangan Ryuga yang masih berlabuh di pipi. Tatap sepasang manik coklat yang juga tengah menatapnya.
"Uhuk, piyu-piyu. Bikin nganan aja nih Pak Ketu sama Bu Ketu. Jadi pingin cepet-cepet dihalalin sama Mas Tedy."
Celotehan Nofiya sukses membuat pipi Aluna semakin memerah. Mendorong Tara dan Dimas mengudarakan tawa.
"Gue juga. Jadi pingin buru-buru halalin Lien. Biar bisa nyentuh pipinya. Dan yang paling penting ... ngadon." Dimas turut berceloteh.
Tara menyikut lengan Dimas. Ingatkan Sang Ketua Advokasi untuk menjaga ucapan, sebab mereka masih berada di tengah-tengah warga desa dan para tokoh terkemuka.
🍁🍁🍁
Bersambung
Bab ini hanya bagian dari kisah Sang Presma. Bukan iklan dari BPN. Cimiiw 😉✌🏻
Itu fakta lho Ryuuu....
nah hadepin tuh sekarang...istrimu yg lagi cemburu.
gitu ya rasanya jadi istri yg cemburu ....
tapi kocak dihh🤣🤣