Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Aku tidak langsung menarik tanganku saat Adrian masih memegang pergelangan tanganku. Pegangannya tidak kuat, tidak juga lembut seperti di drama-drama, tapi cukup untuk membuatku berhenti menyembunyikan wajahku.
Ruangan itu sunyi. Hanya suara jam dinding yang terdengar pelan.
Aku menarik napas, mencoba menenangkan diri, lalu perlahan menarik tanganku kembali. Adrian tidak menahan. Ia hanya kembali meletakkan tangannya di sandaran kursi roda.
“Maaf,” kataku lagi, lebih pelan.
“Kamu terlalu sering minta maaf,” jawabnya.
Aku tersenyum kecil sambil menghapus sisa air mata. “Karena aku terlalu sering tidak tahu harus melakukan apa.”
Ia menatapku beberapa detik. “Kalau kamu tidak tahu harus melakukan apa, kamu bisa diam. Kamu tidak harus selalu melakukan sesuatu yang benar.”
Aku sedikit tertawa kecil. “Aku dari kecil selalu dimarahi kalau diam.”
“Di rumah ini, kamu tidak akan dimarahi karena diam,” katanya tenang.
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti sesuatu yang lama sekali ingin kudengar.
Aku mengangguk pelan.
“Aku akan ingat itu.”
Kami kembali diam beberapa saat, tapi kali ini tidak canggung. Aku justru merasa lebih tenang duduk di ruang kerja itu daripada di kamarku sendiri.
“Apa kamu dulu juga kerja sampai malam seperti ini sebelum kecelakaan?” tanyaku tiba-tiba.
“Iya. Bahkan lebih parah,” jawabnya.
“Kenapa kamu kerja sekeras itu?”
Ia tidak langsung menjawab. Ia melihat ke arah meja kerjanya, ke tumpukan berkas, lalu ke layar laptop yang masih menyala.
“Karena kalau aku berhenti bekerja, aku akan punya terlalu banyak waktu untuk berpikir,” katanya pelan.
Aku mengerti maksudnya.
Kadang bekerja bukan karena ambisi.
Tapi karena tidak ingin memikirkan hal-hal yang menyakitkan.
Aku berdiri pelan. “Jangan terlalu malam. Besok kamu harus ke kantor lagi.”
Ia mengangguk kecil. “Sebentar lagi.”
Aku berjalan ke pintu, tapi sebelum keluar aku berhenti dan menoleh.
“Adrian.”
“Iya?”
“Terima kasih.”
Ia sedikit mengernyit. “Untuk apa?”
Aku tersenyum kecil. “Untuk tidak membuatku merasa seperti orang asing di rumah ini.”
Ia tidak langsung menjawab.
Namun saat aku akan membuka pintu, ia berkata pelan—
“Kamu memang bukan orang asing di sini.”
Aku tidak menoleh lagi karena aku tahu kalau aku menoleh, aku mungkin akan menangis lagi. Jadi aku langsung keluar dan menutup pintu pelan.
—
Hari-hari setelah itu berjalan lebih tenang.
Aku mulai terbiasa bangun pagi, sarapan bersamanya, kadang ikut ke kantor, kadang di rumah membantu bibi Ratna atau hanya membaca di ruang tengah. Malam hari kami makan bersama, lalu dia bekerja dan aku masuk kamar.
Rutinitas yang sederhana.
Tapi anehnya… aku menyukai rutinitas itu.
Suatu sore, saat Adrian belum pulang dari kantor, aku duduk di ruang tengah membaca buku. Bibi Ratna sedang di dapur. Rumah terasa sangat tenang.
Tiba-tiba aku mendengar suara mobil masuk ke halaman.
Aku berpikir Adrian sudah pulang, jadi aku berdiri dan berjalan ke arah pintu depan.
Namun saat pintu terbuka, yang masuk bukan Adrian.
Vanessa.
Dia masuk seperti pertama kali—percaya diri, sepatu hak tinggi, tas mahal, dan senyum yang sulit diartikan.
Aku berhenti beberapa langkah dari pintu.
“Adrian belum pulang,” kataku lebih dulu.
Vanessa tersenyum tipis. “Aku tahu.”
Aku sedikit bingung. “Lalu…?”
“Aku memang mau bertemu kamu,” katanya santai sambil melepas kacamata hitamnya.
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Dia berjalan masuk ke ruang tamu tanpa menunggu dipersilakan, lalu duduk di sofa seolah rumah ini juga rumahnya.
“Kamu tidak keberatan kalau aku duduk, kan?” katanya, tapi dia sudah duduk.
Aku tetap berdiri beberapa detik sebelum akhirnya duduk di kursi seberangnya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” tanyaku hati-hati.
Vanessa menatapku lama sekali. Menilai lagi seperti di kantor waktu itu.
“Kamu tahu siapa aku?” tanyanya.
“Aku tahu kamu teman lama Adrian,” jawabku.
Dia tersenyum kecil. “Teman lama? Itu cara yang halus untuk menyebut mantan.”
Aku tidak menjawab.
Dia menyilangkan kaki, lalu berkata,
“Aku dan Adrian hampir menikah dulu.”
“Iya. Dia sudah bilang,” jawabku pelan.
Vanessa terlihat sedikit terkejut. “Dia cerita?”
“Sedikit.”
Dia tertawa kecil. “Aku tidak menyangka dia akan menikah secepat ini. Apalagi… dengan orang yang tidak pernah muncul di hidupnya sebelumnya.”
Kalimat itu jelas sindiran.
Namun aku tetap tenang. “Aku juga tidak menyangka akan menikah dengannya.”
Vanessa menatapku beberapa detik, lalu berkata,
“Kamu mencintai Adrian?”
Pertanyaan itu langsung membuatku diam.
Aku tidak menjawab.
Karena aku sendiri… belum berani menjawabnya.
Vanessa tersenyum tipis melihat aku diam.
“Aku mengenal Adrian sangat lama,” katanya pelan. “Dia bukan orang yang mudah membuka hati. Kalau dia menikah denganmu, pasti ada alasan.”
Aku akhirnya menjawab pelan, “Mungkin karena keluarga.”
Vanessa menggeleng kecil. “Adrian tidak akan menikah hanya karena disuruh kalau dia benar-benar tidak mau.”
Aku terdiam.
Vanessa lalu berdiri, mengambil tasnya.
“Datanglah ke acara minggu depan,” katanya. “Aku ingin melihat… seberapa penting kamu di hidup Adrian.”
Dia berjalan menuju pintu, lalu berhenti sebentar di sampingku dan berkata pelan,
“Karena dulu… aku adalah orang yang paling penting di hidupnya.”
Lalu dia pergi.
Pintu tertutup.
Dan aku tetap duduk diam di ruang tamu, dengan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku—
Sekarang.. Siapa orang yang paling penting di hidup Adrian?
Aku masih duduk di ruang tamu cukup lama setelah Vanessa pergi. Rumah kembali sunyi seperti biasa, tapi kali ini sunyinya terasa berbeda. Lebih berat. Lebih penuh pikiran.
Kata-kata Vanessa terus terulang di kepalaku.
“Dulu aku adalah orang yang paling penting di hidupnya.”
Aku tidak tahu kenapa kalimat itu menggangguku. Seharusnya itu masa lalu. Sesuatu yang sudah lewat. Tapi tetap saja, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Aku baru tersadar saat bibi Ratna memanggil dari dapur.
“Nona, mau minum teh?”
Aku menoleh sedikit. “Iya, Bu.”
Aku pindah ke ruang makan. Bibi Ratna meletakkan secangkir teh hangat di depanku, lalu duduk sebentar di seberangku.
“Tadi ada tamu ya?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk. “Vanessa.”
Bibi Ratna terlihat tidak terlalu kaget, justru seperti sudah menduga.
“Dia memang sering datang dulu,” kata Bibi Ratna pelan.
“Dulu?” tanyaku.
“Iya. Sebelum kecelakaan, sebelum Tuan berubah.”
Aku memegang cangkir teh hangat itu, tapi tidak langsung minum.
“Bi… mereka dulu sangat dekat ya?”
Bibi Ratna berpikir sebentar sebelum menjawab. “Sangat dekat. Semua orang pikir mereka pasti menikah.”
Dadaku terasa sedikit tidak nyaman mendengarnya, meskipun aku sudah tahu itu.
“Tuan dulu berbeda kalau dengan Vanessa. Lebih banyak tersenyum,” lanjut Bibi Ratna.
Aku menunduk sedikit.
“Lalu setelah kecelakaan?” tanyaku pelan.
Bibi Ratna menghela napas kecil. “Setelah kecelakaan, Vanessa masih datang beberapa kali. Tapi Tuan berubah. Dan Vanessa juga… lama-lama tidak datang lagi.”
Aku tidak bertanya lebih jauh.
Kadang cerita yang tidak diceritakan justru lebih mudah dimengerti daripada yang dijelaskan panjang lebar.
—
Malamnya Adrian pulang seperti biasa. Aku sedang duduk di ruang tengah membaca buku saat dia masuk.
“Kamu sudah pulang,” kataku sambil berdiri.
“Iya.”
Aku mendorong kursi rodanya masuk ke dalam seperti biasa. Rutinitas kecil yang sekarang terasa sangat normal bagiku.
Kami makan malam seperti biasa. Sampai akhirnya aku berkata pelan,
“Vanessa datang tadi.”
Adrian berhenti makan sebentar, lalu melanjutkan lagi seperti tidak terlalu terkejut.
“Apa yang dia mau?” tanyanya.
“Dia bilang dia ingin bertemu aku,” jawabku jujur.
Adrian menghela napas pelan. “Apa yang dia katakan?”
Aku ragu sebentar, tapi akhirnya berkata jujur,
“Dia bilang… dia dulu orang yang paling penting di hidupmu.”
Adrian berhenti makan. Kali ini benar-benar berhenti.
Beberapa detik ia tidak bergerak, lalu ia meletakkan sendoknya pelan.
“Itu dulu,” katanya singkat.
Aku menatapnya. “Sekarang?”
Ia menatapku balik.
Pertanyaan itu keluar dari mulutku tanpa aku rencanakan. Begitu saja. Jujur. Tanpa berpikir panjang.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia menatapku cukup lama sampai aku mulai merasa gugup dengan pertanyaanku sendiri.
Aku langsung menunduk sedikit. “Maaf. Aku tidak seharusnya bertanya seperti itu.”
Namun Adrian berkata pelan,
“Sekarang hidupku tidak punya banyak orang.”
Aku menatapnya lagi.
Ia melanjutkan,
“Dulu hidupku penuh orang. Teman, relasi, acara, perjalanan. Setelah kecelakaan, satu per satu hilang. Sekarang hidupku lebih sederhana.”
Ia berhenti sebentar, lalu berkata pelan,
“Sekarang hidupku hanya berisi beberapa orang yang tetap tinggal.”
Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa jantungku berdetak lebih cepat.
“Bibi Ratna,” lanjutnya.
“Dokterku.”
“Beberapa orang di kantor.”
Ia berhenti sebentar.
Lalu menatapku.
“Dan kamu.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Ia melanjutkan dengan suara tenang,
“Aku tidak tahu siapa orang yang paling penting. Aku tidak pernah mengurutkan orang seperti itu. Tapi yang jelas… kamu ada di hidupku sekarang. Dan aku tidak berencana mengubah itu.”
Kalimat itu sederhana.
Tidak romantis.
Tidak manis.
Tapi sangat Adrian.
Dan entah kenapa, justru itu yang membuat hatiku terasa hangat.
Aku menunduk sedikit, menyembunyikan senyum kecilku.
“Vanessa mengundang kita lagi ke acaranya,” kataku pelan.
“Aku tahu.”
“Kita benar-benar harus datang?”
“Iya.”
Aku menghela napas kecil. “Sepertinya dia ingin mengujiku.”
Adrian langsung menjawab, “Dia memang akan mengujimu.”
Aku kaget. “Kamu tahu?”
“Iya.”
“Lalu kenapa kamu tetap ingin datang?”
Ia menatapku lurus-lurus.
“Karena aku ingin semua orang tahu kamu istriku.”
Aku terdiam.
Ia melanjutkan,
“Aku tidak suka menjelaskan sesuatu berulang-ulang. Kalau kita datang bersama, semua orang akan mengerti.”
Jantungku berdetak lagi. Kali ini lebih cepat.
“Tapi dunia Vanessa dan dunia sosial itu… bukan duniaku,” kataku pelan.
Adrian menjawab tenang,
“Kalau kamu berdiri di sampingku, itu sudah cukup. Kamu tidak perlu menjadi seperti mereka.”
Aku menatapnya.
Ia menambahkan satu kalimat lagi—
“Karena aku tidak menikah dengan mereka. Aku menikah denganmu.”
Dan untuk beberapa detik,
aku tidak bisa berkata apa-apa sama sekali.