Anjani, seorang aktris multitalenta yang terpaksa menerima pinangan kakak angkatnya atas perjodohan yang diatur orang tua. Sekian tahun menikah, tak ada sentuhan apapun yang terjadi. Pria bernama Mahaka Wiratama itu sibuk dengan wanita yang ia cintai.
Di tahun ke 5 pernikahan, Anjani nekat kabur dan hidup sendiri. Semua itu berkat bantuan Devan, sahabat Mahaka, tetapi masalah baru justru hadir dalam hidupnya.
Hampir setiap malam ia merasakan kehangatan seorang pria dalam tidurnya. Ia bahkan harus kehilangan mahkotanya, tapi Anjani tak pernah tahu siapa yang melakukannya.
Semuanya semakin rumit saat dirinya dinyatakan hamil dan vidio asusilanya dengan seorang pria misterius tersebar di jagad maya. Hidup Anjani hancur dalam sekejap, lalu apa yang akan ia lakukan demi bisa memperoleh harga dirinya kembali.
Follow Instagram El khiyori
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Anjani mendesah pelan.
"Aku hanya ingin dia menyadari kesalahannya padaku, tapi sepertinya Mahaka Wiratama tak semudah itu bisa mengerti," ujarnya kemudian.
"Aku tahu itu, tapi sekitar empat bulan lagi kau akan melahirkan. Aku takut kau akan merasa sedih jika tak ada sosok ayah di samping putramu nanti."
Melly mencoba menjelaskan rasa kekhawatirannya.
Sebagai sahabat ia cukup tahu bagaimana kondisi Anjani saat ini. Meski di luar terlihat kuat dan tegar, Anjani pasti menyimpan kesedihan yang tak bisa ia ungkapkan pada siapapun. Dari caranya mencari kesibukan sudah nampak jelas kalau itu untuk mengalihkan pikirannya.
Melly sudah pernah hamil. Ia tentu tahu bagaimana kondisi wanita saat hamil. Sudah pasti sangat membutuhkan seseorang di sampingnya, sementara Anjani benar-benar tak punya siapapun. Itu pasti sangat berat apalagi Anjani bukanlah tipe orang yang bisa terbuka.
"Aku percaya bisa melewati semuanya sendiri. Untuk saat ini aku benar-benar belum bisa memaafkan Mahaka. Aku tahu betapa egoisnya pria itu. Kalau sampai dia tahu aku ada di sini, dia pasti akan kemari lalu memaksakan kehendaknya padaku tanpa peduli pada perasaanku."
Saat berkata demikian tanpa sadar bulir bening merembes keluar dari kedua sudut mata Anjani.
Membicarakan Mahaka hanya akan membuatnya begitu sakit hati. Meski waktu terus berganti dan kehamilannya semakin besar, Anjani tetap yakin ia bisa melewati semuanya seorang diri, lain halnya dengan Mahaka yang justru semakin hancur.
Malam ini saking frustasinya ia bahkan nekat menyewa seorang wanita. Tujuan utamanya sudah pasti untuk melupakan Anjani. Seorang wanita cantik berpakaian minim kini sudah berdiri di hadapannya. Sebenarnya wanita itu tak kalah cantik dibanding Anjani. Penampilannya bahkan jauh lebih menggoda.
Sayangnya meski sudah menghabiskan beberapa botol minuman beralkohol ternyata Mahaka masih sadar sepenuhnya. Bayangan Anjani tetap berkelebat dalam benaknya.
Cukup lama Mahaka terdiam sebelum akhirnya ia berhasil meyakinkan diri untuk menikmati indahnya malam bersama dengan wanita pilihannya, namun saat wanita itu mulai menggoda Mahaka justru merasakan keanehan pada tubuhnya, apalagi saat mencium aroma wangi yang menguar dari tubuh wanita itu.
Sebenarnya tak ada yang aneh karena yang wanita itu kenakan adalah parfum mahal yang memancarkan aroma lembut, namun bagi Mahaka itu justru terasa menusuk. Rasa mual tak bisa ia pertahankan lagi. Serta merta ia pun mendorong wanita itu hingga terjatuh ke lantai, membuatnya menjerit karena terkejut sekaligus kesakitan. Meski begitu Mahaka tak peduli. Ia tetap berlari meninggalkannya untuk menuju ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi dalam perutnya.
Hal itu membuat sang wanita merasa terhina dan tak terima. Sikap Mahaka menunjukkn kalau dirinya seolah-olah adalah sesuatu yang menjijikkan apalagi setelah itu Mahaka mengusirnya begitu saja.
"Kenapa anda mengusirku Tuan?! Saya tidak terima anda memperlakukan saya seperti ini!!" seru sang wanita yang sebenarnya sudah sangat tertarik dengan ketampanan seorang Mahaka, apalagi setelah melihat keperkasaan pria itu. Dada bidang yang kekar tentu sangat menggodanya.
"Apa yang membuatmu tak terima? harusnya kau bersyukur sudah menerima uang tanpa perlu bekerja!!" sahut Mahaka dengan angkuh.
"Tapi saya datang untuk memuaskan anda Tuan bukan hanya untuk uang .... "
"Omong kosong, uangnya sudah ku transfer ke rekeningmu. Pergi sekarang atau .... "
Tanpa melanjutkan ucapannya Mahaka mengambil sesuatu dari laci nakas. Tatapan matanya tampak dingin, sementara tangannya mengambil sebuah senjata api dan bersiap membidikkannya, membuat wanita di hadapannya ketakutan setengah mati hingga akhirnya buru-buru pergi dari sana.
Ternyata semua usaha yang Mahaka lakukan untuk terlepas dari bayang-bayang Anjani benar-benar gagal total. Semakin berusaha melupakannya yang ada hatinya justru semakin menginginkannya. Tangannya mengambil ponsel untuk mengecek berapa bulan kandungan Anjani saat ini.
Begitu tahu kalau usia kandungan Anjani sudah memasuki bulan ke 5, rasa penasaran membuat Mahaka iseng berselancar di internet untuk mengetahui bagaimana kondisi janin dalam kandungan saat berusia lima bulan.
Setelah cukup lama menyaksikan beberapa gambar serta vidio, untuk pertama kalinya rasa bersalah terucap dari bibir Mahaka.
"Maaf kalau selama ini aku menyakitimu Anjani, demi Tuhan aku tak sanggup lagi. Aku ingin bertemu denganmu, dan juga anak kita .... "
Mahaka tergugu seorang diri. Sayangnya semua ucapan itu hanya ditelan angin malam karena Anjani tak ada di sampingnya. Tak disangka semenjak hari itu kesehatan Mahaka perlahan menurun. Pola makan yang tak teratur membuat tubuhnya sedikit kurus hingga akhirnya menyita perhatian kedua orangtuanya.
Setelah mendapatkan laporan dari orang kepercayaannya, pak Arga mulai mengatur jadwal untuk kembali ke Jakarta, apalagi hingga sekarang Mahaka masih sangat membatasi interaksi dengannya. Walau bagaimanapun Mahaka adalah putra satu-satunya yang ia miliki. Mendengar semua itu membuatnya merasa khawatir.
Semenjak pak Arga dan Bu Martha memintanya untuk kembali ke Jakarta, Mahaka memang sangat kecewa hingga membatasi komunikasi diantara mereka sampai saat ini.
"Memangnya menurut dokter Mahaka sakit apa hingga harus rutin cek up?" tanya Pak Arga penasaran saat orang yang ia tugaskan menjaga putranya kembali menghubungi.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa mencaritahu sejauh itu karena dokter juga sangat merahasiakannya. Sepertinya itu memang sudah perjanjiannya dengan Tuan Mahaka."
Mendengar itu Pak Arga semakin tak tenang. Malam ini juga ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta, sedangkan Mahaka yang siang itu masih berada di kantor, kembali dibuat emosi karena lagi-lagi orang suruhannya tak berhasil menemukan nama Anjani di negara yang Mahaka kira menjadi tempat tinggal istrinya itu.
BRAKKK ....
Suara benda-benda yang berserakan kembali menggema di ruang kerja mewah itu, disaat yang bersamaan rasa sakit mendera di bagian perut atasnya.
"Arghhh .... " rintih Mahaka sambil memegangi bagian itu. Dengan tangan gemetar ia pun meraih botol air mineral dan meneguknya, namun tak ada perubahan.
Ia tetap merasa kesakitan hingga akhirnya menyerah dan meminta tolong untuk diantar ke rumah sakit. Meski tak sampai kehilangan kesadaran, Mahaka tetap tak berhenti mengaduh karena rasa sakit luar biasa benar-benar menyiksanya saat ini, disaat yang sama Anjani terus teringat pada Mahaka.
"Ayolah Anjani, kau pasti bisa melupakannya .... " ucapnya pada diri sendiri, tapi tiba-tiba nafsu makannya juga hilang. Pikirannya terus gelisah dan tertuju pada Mahaka hingga akhirnya ia berpikir untuk menghubungi pria itu dengan nomor asing yang tak Mahaka ketahui.
"Setidaknya kalau diangkat itu artinya dia baik-baik saja karena tak biasanya aku seperti ini," gumam Anjani pada diri sendiri, tapi ternyata teleponnya tak diangkat meski sudah kesekian kali ia mencoba.
"Apa jangan-jangan dia kenapa-kenapa, tapi mana mungkin seperti itu, paling juga dia sedang bersenang-senang atau mungkin sedang bersama dengan wanita .... "
Memikirkan semua itu membuat Anjani semakin tak tenang. Ia menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir Mahaka dari pikirannya sebelum akhirnya menutup telepon.
Padahal yang terjadi saat ini Mahaka sedang berada dalam penanganan dokter. Tatapan matanya kosong. Ia sungguh menyesal karena terlambat mengakui perasaannya terhadap Anjani. Ia bahkan tak peduli dokter mengatakan apa, karena semakin lama Mahaka semakin putus asa.
🤣🤣🤣🤣🤣
*seorang berstatus istri tapi berhubungan dengan pria lain bahkan sampai serius mau menikah padahal dia masih berstatus istri orang
*memberi harapan dan membohongi pria lain
*berbohong pada suami untuk menemui pria lain
*menuduh suami
*istri berhati batu setelah melakukan kesalahan pada suami bukan nya minta maaf malah dia merasa paling benar
baru beberapa episode saja aku baca tapi kelakuan laknat pemeran utama wanita sudah banyak, dan membuat novel miris dan tidak bermoral adalah karena author membela dan membenarkan semua kesalahan pemeran utama wanita
😄😁ahtor nya galak jg😄😄
ngatain pembaca galak, kan yg bikin galak pembaca ahtor nya😄😄 di bikin marah jengkel gemes lucu penasaran
kapok perempuan sombong angku keras,sok percaya diri ,
orang yg terlalu pede,berakhir dgn ,masalah
kalian lagi happy pasti ga nyadar kalau bahaya mengintai siap" salah faham lagi ribut lagi Weh Weh