Siapa sangka jika pria yang membuat gue naik pitam adalah lelaki yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tua kami sejak dulu. No way. 😬 (Fiza)
Siapa sangka si tomboy yang gue jadikan rival dalam menebar pesona ke cewek - cewek klub adalah calon istri gue. 😑(Aksa)
Siapa sangka seseorang yang gue sangka babang hensem dan sempat gue taksir adalah calon kakak Ipar. kyaaaa 😱😱 (Yuna)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eeeewy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksa : Sedihmu Juga Sedihku
Sudah dua hari om Bani belum tersadar dari masa kritisnya. Penyebab jatuhnya om Bani memang bukan karena serangan stroke, tapi murni karena terpeleset. Kepalanya sempat terbentur dan menimbulkan pendarahan.
Mengenai keterlambatan dibawa ke rumah sakit juga bukan alasan. Pak Imam yang seorang mantri sudah bertindak benar dalam memberikan penanganan. Karena kebanyakan orang yang terjatuh di kamar mandi adalah akibat stroke. Supaya tidak terjadi kelumpuhan, korban tidak bisa asal ditolong dengan digotong, tetapi diperlukan tindakan pencegahan untuk menghindari dari kelumpuhan.
Selama dua hari itu pula gue selalu mendengar ratap tangis pilu Fiza. Ah iya, semenjak hari dimana om Bani jatuh, gue sudah tidak memanggil Fiza dengan sebutan Ranma lagi. Apalagi rambutnya sudah mulai panjang dan berantakan, yang di mata gue justru membuat Fiza terlihat girly dan semakin manis. Sayangnya wajah cerianya yang kini terlihat sendu itu membuat gue ikut sedih.
Gue duduk merenung di kantor sambil menatap jendela. Dua hari ini gue absen meminum kopi pahit buatan Fiza yang entah mengapa sudah biasa di lidah gue. Gue juga tidak mendengar suaranya. Duh..., kok jadi rindu ya?
Suara ketukan pintu membuat gue menoleh. Pasti sekretaris gue. "Ya masuk!"
Dua raut wajah muncul dari balik pintu. Kanjeng mami dan kanjeng papi datang. Tumben? Setelah masuk ke dalam, mereka pun duduk di sofa dengan wajah diliputi kesedihan. Sepertinya ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan dengan gue
"Le, rene lungguh kene!
(Nak, kemari duduk di sini!)
Gue melangkah mendekati kedua orang tua gue dengan patuh, kemudian duduk di dekat mereka.
"Sa, kami sudah mengurus surat pernikahan antara kamu dengan Fiza. Besok kalian menikah. Kamu bersedia kan, Nak," ucap kanjeng mami dengan hati - hati.
"Menikah? Memangnya om Bani sudah sembuh?" Gue terkejut dengan ide kedua orang tua gue. Bukannya gue tidak mau menikahi Fiza. Jujur gue sudah mulai sayang dengan asisten pribadi gue itu. Tapi gue kan masih mempunyai urusan dengan Lanang dan Arneta. Menurut gue ini terlalu mendadak.
"Melihat kondisi om Bani, kita harus siap jika sewaktu - waktu beliau pergi. Meskipun di hati kami yang paling dalam, kami ingin beliau segera sembuh."
Tentu saja, tidak ada orang yang ingin salah satu anggota keluarganya meninggal. Semua pasti ingin anggota keluarganya berumur panjang, sehat, dan bahagia.
"Le, kita ini orang Jawa. Ada larangan bagi sebuah keluarga menikahkan anak setelah keluarga tersebut mengalami kesripahan. Apalagi yang meninggal orang tuanya. Kita harus menunggu setahun."
Gue mendengarkan dengan cermat.
"Fiza sudah tidak mempunyai kerabat. Jika om Bani meninggal, dia akan hidup sebatang kara di dunia. Mami tidak mau Fiza hidup sendiri. Minimal sudah ada kamu yang menjadi suami sehingga bisa melindungi dan mengayomi."
Fiza kan sedang berduka? Apa dia mau tiba - tiba dinikahkan dengan gue? Gue merasa sangsi. Apalagi sekarang, dia sedang dekat dengan Arneta dan Fiza juga sedang pedekate dengan Lanang.
"Ya, Nak! Mau ya." Kanjeng mami memohon sambil terisak. Melihat mami gue menangis dan mendengar ratap pilu Fiza setiap gue menemani berjaga di rumah sakit, membuat gue tidak sanggup menolak. Gue pun mengangguk mengiyakan.
Kanjeng papi memeluk gue. "Terima kasih, Sa. Maafkan keegoisan kami. Tapi kami sangat menyayangi keluarga om Bani. Dia satu - satunya sahabat Papi yang tulus berteman dengan Papi. Karena itu Papi ingin sekali menolongnya."
Ucapan papi gue benar. Sejak dari gue kecil, gue tidak pernah melihat om Bani datang untuk menjilat papi gue. Maksud gue, om Bani tidak seperti teman - teman papi gue yang lain. Datang berkunjung karena ingin mendapat bantuan finansial mengatas namakan pertemanan. Om Bani itu berbeda. Beliau tidak pernah muncul untuk minta dibantu, meskipun beliau sendiri sedang mengalami kesulitan.
Gue jadi ikut kalut, Sob. Sampai ajakan Arnet untuk makan siang bareng pun terpaksa gue tolak. Gue sengaja berbohong jika saat ini sedang keluar kota mengunjungi kerabat yang sedang sakit.
Lalu ada juga telpon dari Lanang yang menanyakan tentang Fiza. Kenapa selama beberapa hari ini gadis itu tidak bisa dihubungi.
"Lan, sorry. Gue harus ingkar janji." Lidah gue terasa kelu.
"Ingkar janji apa'an?"
"Gue dan Fiza, besok akan menikah."
"#$%#$%#$%#$%......."
Segala macam sumpah serapah terucap dari bibir Lanang. Gue hanya diam dan mendengarkan. Untung saja dia sedang mendampingi Annoying tour ke luar Jawa. Setidaknya gue bisa aman tidak dihadiahi bogeman oleh Lanang.
Beberapa saat kemudian Lanang diam. Sepertinya ia sudah selesai mengabsen seluruh penghuni kebun binatang. Karena gue no respon, akhirnya dia capek sendiri.
"Lo udah marahnya, baiklah sekarang gue akan jelasin mengapa gue harus menikahi Fiza." Gue pun menjelaskan panjang dan lebar. Gue tidak peduli Lanang menyela ucapan gue dengan cacian plus makian. Kalau mau jujur, gue juga tidak ingin menikah dalam kondisi emergency seperti ini. Gue ingin semua masalah antara Lanang, dan Arneta gue selesaikan lebih dulu. Tapi apa boleh buat, kami juga tidak tahu kalau urusannya jadi serumit ini?
കകകകക
Keesokan harinya, pukul sembilan pagi. Petugas dari KUA sudah hadir. Begitu pula dengan pak Imam dan Pak ketua RT yang didaulat menjadi saksi.
Adik gue sengaja membolos untuk menghadiri pernikahan gue. Dengan dibantu mami dan bu Imam, Fiza didandani sedikit supaya rapi. Supaya petugas dari KUA tidak mengira pernikahan kami adalah pernikahan sejenis, Fiza memakai kerudung sederhana.
Fiza tampak manis meskipun wajahnya terlihat kusut. Dari semalam dia menangis, bahkan tatapannya tampak kosong. Gue jadi merasa tidak tega.
Ijab qobul sudah akan berlangsung ketika tiba - tiba seseorang masuk dengan tergesa - gesa.
"Maaf! saya belum terlambat kan?" Rupanya Lanang sengaja datang dengan penerbangan paling awal dari Palembang untuk bisa menghadiri pernikahan kami. Sebenarnya gue tidak mengundangnya sih. Lanang sendiri yang berinisiatif untuk hadir.
"Mas Lanang!" Yuna berteriak kencang karena terkejut, lalu menarik tangan Lanang untuk duduk di sebelahnya. Maklum, adek gue kan sudah tahu kalau Lanang itu naksir calon mbak iparnya.
"Nggak boleh mengacau ya!" ancam Yuna yang dibalas oleh cengiran Lanang.
"Nggak janji," ucapnya sambil menatap gue tajam. Sedangkan Fiza hanya tertunduk.
"Baiklah, bisa segera kita mulai?"
Gue dan para tamu yang hadir mengiyakan. Berkutnya bapak petugas dari KUA mulai membaca doa untuk memulai acara inti.
Gue berhasil mengucapkan ijab qobul dengan lancar, dan semua yang hadir mengucap sah. Kecuali Lanang. Seandainya pernikahan ini bukan di rumah sakit, gue yakin Lanang akan mengacaukan pernikahan gue.
Selesai menandatangani surat nikah, memasang cincin, salim tangan dan cium tangan gue, plus cium kening Fiza. Bapak Modin membacakan doa untuk kami. Setelah pembacaan doa selesai, gue dan Fiza pun sungkem. Diawali dengan sungkem ke orangtua gue. Kemudian gue dan Fiza berdiri di dekat ranjang pak Bani.
"Pak, saya mohon restunya. Mulai hari ini saya berjanji akan menjaga dan melindungi Fiza. Saya akan selalu bersama saat suka maupun duka. Bapak tidak usah memikirkan hal yang berat - berat supaya Bapak segera sembuh," ucap gue kepada pak Bani yang sekarang sudah resmi menjadi ayah mertua.
"Bapak, Fiza sudah menikah. Bapak cepat sembuh ya. Katanya Bapak ingin menimang cucu bapak kan?" Fiza menciumi punggung tangan ayahnya sambil menangis sesenggukkan. Dan seolah seperti keajaiban. Mata pak Bani terbuka. Beliau sadar.
Semua yang berada di dalam ruangan ikut terharu menyaksikan pak Bani tersadar. Dokter pun segera dipanggil untuk memeriksa pak Bani. Tapi pak Bani menggeleng. Dengan isyarat matanya ia meminta gue dan Fiza tetap berada di dekatnya.
Dengan sisa - sisa kesadaran yang dimiliki pak Bani, beliau menumpukkan telapak tangan gue diatas telapak tangan Fiza. Kemudian menindih telapak tangan kami dengan telapak tangan beliau sendiri.
"Nek.. ngene. aku.. wes.. lego."
(Kalau begini aku sudah lega) ucap beliau lirih dan terbata - bata.
"Allah... Allah... Allah..... !"
Bibir pak Bani bergetar memanggil nama Allah. Kemudian beliau tertidur untuk selama - lamanya dengan bibir yang menyunggingkan senyum bahagia. Bapak mertua gue sudah berpulang.
"Inna lillahi wa inna illaihi rojiun."
Suara doa itu serempak terucap dari seluruh tamu yang hadir di pernikahan gue. Dan kemudian terdengar suara mami, bu Imam, dan Yuna yang merasa panik karena melihat istri gue pingsan.
Tbc
bayikk pikir ini crta tntang anak betawi ...ehh ternyata ada campuran jawax ...keren
klamaan tinggal di kalimantan kangen jg potongan2 bahasa kramanya