Kirana Larasati, menghadapi problema hidup yang sangat berat ketika usianya beranjak 23 tahun. Dia harus menerima kenyataan ketika kekasihnya Darren menikah dengan Tiara kakaknya sendiri, dan di saat yang hampir bersamaan dia juga harus mengetahui bahwa ibu yang sangat dia sayangi ternyata bukanlah ibu kandungnya.
Dengan duka Lara yang datang bertubi-tubi, dia harus mampu melanjutkan hidupnya. Hingga pada akhirnya dia bisa menemukan cinta seorang Joshua, yang ternyata justru lebih menghancurkannya karena kesalahpahaman yang terjadi.
Mampukah Lara menghadapi kisah hidupnya yang seperti roller coaster? Bagaimana akhir kisah cintanya dengan Joshua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanny Tanuwidjaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta buta
Wajah mereka berdekatan, Darren hanya menyisakan jarak setipis mungkin supaya bisa memandang wajah cantik gadisnya yang matanya sedang terpejam itu. Ah dia bukan lagi gadisnya, dia aadalah adik iparnya, kenyataan yang sampai detik ini belum bisa diterimanya. Dihapusnya bulir bening dari mata Lara yang mengaliri tangannya, disapunya lembut pipi putih mulus yang dari dulu sangat menyukai sentuhannya.
"Aku belum sanggup melupakanmu, aku kesulitan menghapus rasa cinta ini. Aku harus bagaimana, La?" Darren mencium dahi Lara dengan lembut.
Lara ingin menolak, tapi sisi lain dirinya menerima kelembutan itu dengan nyaman. Aku sendiri bingung harus bagaimana dengan perasaan ini? Aku juga kesulitan menghapus rasa ini, semakin ingin kulupakan dirimu, bayangmu semakin lekat memenuhi hati dan pikiranku, Lara bermonolog dalam hatinya.
"Tolong jangan seperti ini kak," ujar Lara pada akhirnya.
"Sebentar saja, La. Ijinkan aku mendekapmu seperti ini sebentar saja," Darren memeluk Lara dengan hangat.
Terasa nyaman, berada dalam dekapan orang yang sangat dikasihinya. Lara juga tak ingin mengakhiri kenyamanan ini, dia ingin menikmati kehangatan pelukan Darren. Dia sadar sepenuhnya kalau ini memang salah, dia harus segera melepaskan diri dari pelukan Darren, sebelum semuanya terlambat.
"Kirana, Darren..."
Seruan tertahan berasal dari suara seseorang yang Lara dan Darren mengenalnya, mereka segera mengurai pelukannya dan mendapati Joshua dengan wajah kecewanya. Wajah itu menyiratkan kemarahan, dia tidak terima melihat adegan antara Darren dan Lara.
"Kalian sungguh keterlaluan, berpelukan dengan membiarkan pintu terbuka? Apa yang kalian pikirkan seandainya Tiara yang melihat adegan mesra ini?" serunya lagi sambil menahan emosinya.
"Ko, ini tidak seperti yang terlihat. Aku bisa jelaskan semuanya," Lara mengeluarkan suaranya juga setelah sadar sepenuhnya dengan situasi yang ada.
Joshua memasang wajah datarnya, dia mendengus kesal. Susah payah dia menahan gemuruh di dalam dadanya, rasa cemburu yang membakarnya melihat gadisnya dalam pelukan laki-laki lain. Pembelaan Lara pun sungguh tak berarti untuknya saat ini, dia hanya ingin mempercayai apa yang dilihatnya.
"Bro, kami hanya..."
Belum selesai kalimat Darren, Joshua sudah mengangkat tangannya tanda dia enggan mendengar penjelasan apapun.
"Aku antar kamu pulang, Ki. Berhentilah menjadi pengganggu rumah tangga kakakmu sendiri," ucap Joshua sambil meraih tangan Lara yang masih tak percaya dengan ucapan Joshua yang terdengar pedas di telinganya. "Dan kau Darren, berlakulah baik sebagai kakak iparnya Kirana, hargai perasaan istrimu, bagaimana sakit hatinya begitu melihat suami dan adiknya sendiri berpelukan di depan matanya?"
Dengan emosi yang semakin memuncak, Joshua menarik kasar tangan Lara menuju pintu keluar. Dia tak mempedulikan Lara yang meringis kesakitan dan tertatih berusaha mengimbangi langkahnya, meninggalkan Darren yang sibuk menjambak rambutnya menyalurkan kemarahan pada dirinya sendiri. Dia ingin mengejar Joshua dan Lara, tapi dia juga memikirkan Tiara yang nantinya akan mengajukan banyak perranyaan, sementara dia sendiri tak mampu untuk menjawabnya.
Tiba di lift, Joshua melepaskan pegangannya pada lengan Lara. Dia tersadar melihat Lara yang sedang kacau dan meringis kesakitan, ada rasa iba terselip di hatinya, tapi emosi sedang menguasai hatinya. Setelah tiba di lobi apartemen, Joshua menggiring Lara menuju tempat parkir, tanpa banyak penolakan Lara masuk ke mobil Joshua.
Di dalam mobil Joshua dan Lara lebih banyak diam, berkutat dengan pikiran masing-masing. Dengan ekor matanya Lara melirik Joshua yang fokus menyetir, raut wajahnya masih terlihat marah. Karenanya Lara enggan memulai pembicaraan, meskipun sesungguhnya Lara ingin bertanya. Lara tahu jalan yang ditempuh bukanlah jalan menuju tempat kostnya, tapi karena kebungkaman Joshua, Lara mengurungkan niatnya menanyakan hal itu. Dia hanya menghela nafas, kembali tenggelam dalam lamunannya. Sebelumnya Lara sudah mengirumkan pesan whatsapp pada kakaknya mengenai kepulangannya yang tiba-tiba dan tidak pamit pada Tiara, dia tidak ingin kakaknya kuatir. Dia hanya mengemukakan alasan sedang ada urusan mendadak.
Joshua menghentikan laju kendaraannya di sebuah perbukitan, dia segera keluar dari mobil dan membukakan pintu Lara. Tanpa kata diraihnya lengan Lara, meskipun enggan Lara keluar dari mobil dan mengikuti langkah Joshua.
"Setidaknya kau pikirkan perasaan kakakmu, bagaimana sakitnya dia kalau sampai melihatmu dan Darren seintim tadi?" Joshua membuka suara ketika mereka berhenti di salah satu bukit yang di bawahnya terbentang pemandangan kota di malam hari.
Lara menatap tajam Joshua, ada kemarahan yang siap membuncah karena kata-kata Joshua terdengar sangat pedas dan menyinggung perasaannya.
"Kau tidak berhak berkata seperti itu," Lara berkata sinis sambil terus menatap Joshua. "Pertama, aku tidak akan menyakiti kakakku sendiri. Kedua, aku cikup tahu di mana harus menempatkan diriku sendiri. Dan ketiga, ini yang terpenting, ini urusanku jadi kau tak perlu ikut campur."
Joshua agak terperangah mendengar ucapan Lara yang tajam padanya, dibalasnya tatapan Lara.
"Kukira kamu gadis baik-baik, tapi ternyata sama saja dengan gadis lain diluaran sana yang sibuk mencari kesempatan untuk bercumbu dengan suami orang. Terlebih lagi itu suami kakakmu sendiri."
Plaakkk.
Tamparan keras dari tangan Lara mendarat di pipi kiri Joshua, "Jaga bicaramu."
Air mata sudah menggenangi pipinya, Lara sudah tidak bisa menahan diri lagi, kali ini Joshua sudah sangat keterlaluan menurutnya.
"Kenapa? Toh semua yang aku katakan benar adanya. Cinta membutakanmu, membuatmu cengeng, melukai hati orang-orang di sekitarmu. Sadarkah kisah sedihmu ini seperti tak berujung?"
Perkataan Joshua semakin membuat Lara tersedu, karena pada dasarnya semua yang dikatakan Joshua memang benar adanya. Dia semakin rapuh, berlarut dalam kesedihan tak berujung, kelemahannya adalah Darren.
"Aku juga tak mau seperti ini, aku lelah. Seandainya aku bisa memilih, aku ingin pergi menjauh. Kau tak akan pernah mengerti sakitnya seperti apa, kau hanya bisa menghakimiku. Menyaksikan orang yang kau cintai bersanding dengan orang lain, dan orang lain itu kakakku sendiri. Dan sekarang kau menuduhku bermain di belakang kakakku, tuduhan macam apa itu? Aku pikir kau orang yang paling bisa mengerti aku, ternyata kau sama saja dengan yang lain, semua menyalahkanku. Aku benci."
Lara mengeluarkan semua kemarahannya, dia mengatakan itu semua di sela-sela tangisnya. Dia bersuara selantang mungkin, mengeluarkan semua beban yang menghimpit dadanya selama ini. Kebetulan di atas bukit sini keadaan sangat sepi, jadi Lara bisa berteriak ataupun menangis sekencang munkin, tanpa takut ada yang merasa terganggu.
"Lalu apa namanya kalau bercumbu dengan suami kakakmu sendiri? Di apartemennya pula, kalian sangat tidak beretika," Joshua seperti sengaja memancing kemarahan Lara.
Dengan tatapan nanar sekali lagi Lara mengangkat tangannya ingin menampar Joshua, tapi dia kalah cepat. Joshua seperti sudah siaga dan segera menangkap tangan Lara. Dipelintirnya tangan Lara ke belakang tubuhnya, sehingga gerakan Lara terkunci membelakangi Joshua.
"Cukup nona, tamparanmu tadi masih terasa pedas," bisik Joshua di telinga Lara.
Lara meronta mencoba melepaskan diri, tapi tangannya yang dipelintir ke belakang tubuhnya terasa nyeri pada saat dia meronta.
"Lepaskan aku," teriak Lara kesal.
Sementara Joshua tersenyum dibelakang tubuh Lara, dia memang sengaja memancing kemarahan Lara supaya dia mengeluarkan semua uneg-uneg yang menjadi beban dalam hatinya.
"Dimana hatimu saat kau bercumbu dengan Darren? Apa kau memikirkan perasaan Tiara? Perasaanku?" tanya Joshua sambil tetap menahan posisi Lara seperti tadi.
"Aku tidak bercumbu dengannya, dia hanya memelukku, kubilang jaga bicaramu," Lara kembali berteriak.
"Wow, lalu kau menikmati pelukannya? Merasa nyamankah kau merebut haknya Tiara?"
"Joshua Bramasta, aku membencimu. Kau menuduhku sembarangan, kau pikir aku tidak punya hati?" Lara berhenti meronta. "Aku bahkan membencimu sebelum aku bisa mencintaimu," raungnya pilu.
Joshua mengendurkan kunciannya pada tangan kanan Lara, direngkuhnya dari belakang pinggang gadis itu dengan lembut. Dipeluknya Lara yang masih tersedu dengan isak tangisnya.
"Hei, gadis cengeng. Kau sungguh tidak peka, aku cemburu," Joshua mengecup puncak kepala Lara. "Melihat gadisku berpelukan dengan mantan kekasihnya membuat otakku mendidih, rasanya ingin kubunuh Darren saat itu juga."
Dengan bahu yang masih naik turun karena menangis, Lara tidak membalas perkataan Joshua. Dia merasa lelah setelah sibuk berteriak mengeluarkan isi hatinya. Seperti kehabisan tenaga, Lara hanya mampu menagis tersedu.
"Kau sungguh membenciku?" tanya Joshua menaruh dagunya di bahu Lara.
"Ya, aku sangat membencimu. Kau menyudutkanku, tidak mau mempercayai apa yang kukatakan. Membuatku merasa jadi orang yang paling bersalah," Lara terisak sedih.
Joshua semakin mengeratkan pelukannya. "Maafkan aku sayang, bukankah tadi sudah kubilang kalau aku ini cemburu?"
"Lepaskan aku," pinta Lara pelan.
"Butuh bahuku untuk menangis?" tawar Joshua tanpa melepaskan pelukannya. "Jika kau butuh pelukan, cari aku saja. Jangan cari Darren lagi ya."
Sambil mendengus kesal, Lara menyikut pinggang Joshua. Karena Joshua sedang lengah, akhirnya Lara bisa melepaskan diri dari pelukannya. Joshua tersenyum sambil meringis menahan nyeri, hasil sikutan Lara lumayan menyakitkan pinggangnya.
"Tega kamu, Ki. Tadi ditampar, sekarang disikut."
Lara menatap Joshua datar. "Maaf, ko. Bisa tolong antarkan aku pulang?" Dia kehabisan tenaga untuk berdebat.
Dengan lembut Joshua merengkuh Lara dalam pelukannya, diusapnya pelan punggung Lara.
"Ayo kita pulang."
***
From author :
Vote + like + comment + share
Itu aj request author kali ini ya, lagi males nulis panjang2, keburu ngantuk guys...
Thx all readers, luv u always....
g usah munak..giliran dituduh mencak²... aneh lu
meskipun tiara atau keluarganya sklipun.melihat itu yg sangat gak pantas dipikir klian berdua berselingkuh
itu kan karna kebodohanmu sendiri. kenapa tidak bisa berterus-terang dan menjadi laki² pengecut.
ingat ya.. mgkin menurut orang tua pilihan meraka itu tepat tapi belum tentu terbaik bagi anaknya
ntar jdi bingung bacanya . ribet
Dia memperkosa istri,, melecehkan dg kata2x, berbohong pd istrinya bhw ada kerjaan sampai mbiarkan anak istrinya pdhal berduaan dg mantan,,, apapun alasannya Joshua bkn suami yg baik n penuh cinta,,,, Cinta tdk akan menyakiti fisik maupun mental,,,