Ini bukan kisah tentang seseorang yang jatuh pada pandangan pertama. Tapi kisah dua insan yang merakit cinta seumur hidupnya dan tak menyadari cinta itu telah tumbuh begitu besar diantara keduanya.
°°°°°
Jika aku merasa sesuatu itu hilang adalah saat aku tak lagi melihatnya tersenyum. Segalanya akan tenggelam dalam kegelapan dan aku akan menunggunya untuk kembali memberikanku cahaya
- Nathan -
Apa yang harus aku lakukan? Apabila bagian terbaik dari hidupku adalah dia.
- Marienne -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tearose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL - BONUS CHAPTER
Suara dentang march pengiring pengantin terdengar memenuhi aula gereja. semua undangan berdiri menyambut datangnya pengantin wanita yang sedang berjalan selangkah demi selangkah menuju ke altar dimana sang pengantin pria sedang menunggu dengan senyuman lebar diwajahnya.
taburan bunga putih mengiringi jalannya gadis cantik bermata hijau itu. senyumnya begitu menawan, hari ini ia begitu memikat hati bak seorang bidadari. sesaat ketika ia hampir menuju altar, ia menoleh kearah orang tuanya berada. Orang tuanya terharu ketika melihat puteri semata wayangnya akan menikah, terlebih lagi ia diantarkan oleh dua kakaknya ke altar.
"Jangan menoleh begitu, Suamimu kan didepan sana!" Bisik James dari sisi kirinya.
"Bila kau jatuh karena menginjak gaunmu, aku akan tertawa paling keras." Imbuh Jacques.
terdengar cekikikan para undangan karena tingkah tiga bersaudara ini. Dalam keadaan yang sangat sakral pun mereka masih bisa melucu.
Sesaat kemudian, mereka telah sampai telat didepan sang pengantin pria yang begitu gagah dibalut setelan serba putih. Ia mengulurkan tangannya untuk menerima tangan Jeanette. Akan tetapi, James tidak segera memberikan tangan adiknya itu.
"James... sshh James! cepat berikan tangan Jeanette!" Bisik Mary yang duduk paling depan diantara barisan undangan.
"Bagaimana aku bisa melepaskan tangan adikku satu-satunya?" Katanya dengan sendu.
"Jangan main-main! cepatlah!" Imbuh Nathan.
"Tapi ayah, hidupku akan kesepian tanpa Jeanette," Jacques mendukung saudara kembaranya, yang membuat seisi ruangan tertawa.
"Halah, biasanya kau hanya menjahiliku!" Timpal sang pengantin wanita. tawa di aula semakin kencang.
"Sudah-sudah, James, Jacques, sekarang Jeanette akan menjadi istriku, jadi kumohon kalian mundur dulu, sana, sana." Tidak sabar Christian meraih tangan Jeanette, merebutnya dari James. "Ayo pendeta, kita bisa mulai." Ujarnya.
"Dia tidak sabar sekali," Decak Jacques kemudian ia merangkul James untuk berjalan ke samping orang tuanya.
"Kalian ini, bahkan di saat penting masih bercanda!" Omel Mary pada kedua puteranya.
"Karena dia sangat cantik hari ini, jadi sayang jika dilewatkan." Jawab James sembari menyenggol bahu Jacques meminta dukungan.
"Jeanette memang cantik, mirip denganmu dulu." Bisik Nathan.
"Jadi sekarang aku tidak cantik?" dengan kilat, Nathan menciun pipi Mary, "kau masih cantik, sama seperti saat aku melihat ekspresi panikmu mendengar aku sekarat dulu," kemudian kembali khidmat mengikuti acara pernikahan puteri semata wayangnya itu. Nathan tersenyum dengan sangat tulus, matanya berkaca-kaca ketika mendengar puterinya mengucapkan sumpah perkata yang membawa semua kenangan dimasa lalunya kembali.
Tangan Nathan saat itu tak bisa berhenti gemetar, perasaan takut dan cemas bercampur menjadi satu menimbulkan irama detak jantung yang begitu cepat hingga terasa nyeri. Sepanjang waktu, dia gelisah, Mary berada dalam ruang operasi setelah pendarahan dan tidak sadarkan diri.
Sedangkan dokter mengatakan kemungkinan terburuknya, hanya ada satu yang selamat, antara ibu atau bayinya. Dunia yang begitu kejam sudah menghantam Nathan menggunakan palu Mjolnir milik Thor. Ia ingin Mary selamat, tapi dia juga ingin melihat bayinya sehat.
Operasi berjalan cukup lama, dan semakin lama Nathan menunggu, semakin ia merasa gelisah. Akhirnya ia pun tak bisa menahan lagi bendungan airmatanya. Dengan menutup wajahnya, Nathan terisak. Bayangan Mary meninggalkannya sendiri di dunia ini membuat dirinya hancur perlahan.
"Tenanglah, Mary pasti akan baik-baik saja. Aku tahu dia gadis yang kuat," suara Jaime berusaha menenangkan Nathan.
"Aku sangat bersalah, seandainya saja aku tidak datang, mungkin dia tidak akan mengalami hal buruk seperti ini." Ucap Nathan.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Nathan." Olivia menyahut, ia merasa iba melihat Nathan yang begitu kacau. "Kedatanganmu adalah hal yang paling ditunggu oleh Mary."
Sesaat kemudian pintu ruang operasi terbuka. Sejumlah dokter dan perawat keluar melalui ruang operasi itu. Melihat mereka, Nathan dan Jaime langsung berdiri dan menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan Mary dan bayinya, Dokter?"
"Ibu dan bayinya selamat, bayi kembar laki-laki. akan tetapi keadaan Ibunya masih belum stabil, begitu juga bayinya. kami akan terus memantau perkembangannya."
Nathan termangu ditempatnya. Ia seolah mendapatkan keajaiban yang sangat sulit untuk dipercaya. Mary selamat, dan bayinya kembar, KEMBAR! akhirnya seulas senyum pun tergambar diwajahnya, meski ia masih cemas dengan kondisi Mary dan bayinya.
"Selamat, Nathan! Selamat!" Kata Olivia kemudian memeluk Nathan dengan bahagia. Jaime pun menepuk punggung Nathan dan memberikan selamat.
Setelah Mary dipindahkan dari ruang operasi ke ruang rawat, Nathan menunggunya disana. Dia dengan sabar, merawat Mary, membersihkan tubuh Mary dan segala hal yang diperlukan Mary.
Nathan bukan orang yang religius, akan tetapi karena Mary yang tak kunjung sadarkan diri ia menjadi lebih sering berdoa meminta kepada Tuhan untuk tetap menjaga Mary. Ia pun tak lupa untuk mengunjungi tempat bayi-bayinya dirawat.
Saat pertama kali melihat mereka, Nathan merasa sangat luar biasa. Ia tak percaya bahwa ia sudah menjadi seorang ayah dari dua bayi mungil yang berada di inkubator. Nathan meneteskan airmata bahagianya, dalam hatinya ia berjanjin akan selalu menjaga Mary dan anak-anak mereka.
Setelah kurang lebih satu minggu, Mary akhirnya terbangun. Pertama kali hal yang dilihatnya saat matanya terbuka adalah sosok Nathan yang memunggunginya sedang menggendong bayi dilengganya. Mary takjub melihat pemandangan didepannya, ia tidak menyangka bahwa sahabatnya yang tumbuh dengannya kini menggendong anaknya.
"Nat...." Suara Mary serak dan lemah ketika ia berusaha memanggil Nathan. Mendengar suara tersebut, Nathan pun menoleh.
"Mary kau sudah sadar?" Seru Nathan, ia pun segera menghampiri Mary dengan membawa kedua bayi dilengannya.
"Lihatlah, mereka begitu tampan. Mirip denganku," katanya penuh percaya diri. mendengarnya Mary hanya bisa tersenyum, ia masih merasakan sengatan dibagian perut bekas operasinya.
"Ah sebentar, aku akan memanggil perawat." Ujar Nathan, saat ia hendak keluar pintu kamar rawat terbuka.
Rupanya semua orang datang kemari, ada Diana, Jaime, Olivia, Marcus, orang tua Mary dan juga kakek.
"Wah kalian sudah disini, kalau begitu aku akan panggil dokter sebentar." Kata Nathan yang langsung saja di tahan oleh Jaime.
"Disini saja, akan kupanggilkan dokter." Jaime pun keluar untuk memanggil dokter. Sementara Jaime memanggil dokter, semua orang berebut untuk menggendong si bayi dan mengusulkan nama untuk si bayi.
Doktet telah memeriksa Mary dan menurut dokter kondisi Mary sudah membaik. Harus lebih banyak beristirahat, ia pun sudah di persilahkan untuk pulang kerumahnya.
Disisi yang lainnya, Jaime meminta untuk berbicara empat mata dengan Nathan. Mereka bicara diluar kamar Mary.
"Jadi kau akan kembali? Secepat ini?" Tanya Nathan yang cukup terkejut karena Jaime yang mendadak akan pergi.
"Banyak pekerjaan yang sudah kutinggalkan, lagipula sekarang kau sudah kembali ke sisi Mary. Tidak ada yang perlu ku khawatirkan lagi." Tutur Jaime. Meski dengan berat hati, Jaime harus segera pergi dari Inggris untuk kembali menjalankan perusahaan ayahnya.
"Tapi aku belum tahu apa yang dipikirkan Mary," Nathan tampak lesu sekali. Jaime menepuk pundak Nathan.
"Tunggu saja, aku tahu dia sangat mencintaimu, dan masih akan mencintaimu begitu besar." Nathan mempercayai Jaime dan menunggu Mary.
Setelah beberapa hari, akhirnya Mary keluar dari rumah sakit. Ia tidak langsung menuju ke Manchester akan tetapi ke rumah kakeknya. Tidak baik juga bagi bayi baru lahir untuk bepergian jauh. Jadi ia tetap memutuskan untuk tetap tinggal di Cornwall untuk sementara waktu.
Anehnya, saat Mary keluar dari rumah sakit orang yang biasanya selalu ada disisinya mendadak tidak muncul. Olivia melihat gelagat Mary yang mencari-cari sosok Nathan.
"Tadi pagi aku meminta Nathan membereskan kamar untuk si kembar, dia tidak akan pergi kemana-mana." Kata Olivia sembari tersenyum kepada bayi digendongannya.
"Siapa yang mencari Nathan?" Tanya Mary dengan wajah bersemu.
"Tidak perlu berbohong lagi, sedari tadi kulihat kau celingukan. Kau seperti anak ayam kehilangan induknya."
"Siapa? Aku? Haha!"
Olivia menghela nafasnya, kemudian ia duduk disamping Mary. Olivia menatap Mary mencoba mencari kebenaran dalan mata hijau Mary.
"Tidak perlu menyembunyikan apapun, kau sangat mencintainya, dan begitu juga dengan Nathan, kau tahu dia yang menunggumu disini selama kau tidak sadar, tidak sedetikpun ia meninggalkan kamar ini. Sampai tubuhnya sangat bau! Itu hanya untukmu!" Tutur Olivia, mendengarnya hati Mary menghangat.
"Kau harus mengungkapkan isi hatimu, sebelum menyesal." Lanjut Olivia lagi, dan sesaat setelahnya pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka. Sosok Marcus muncul dari balik pintu, terlihat sangat panik.
"Ada apa Mark? Kenapa panik begitu?" Tanya Olivia.
"Nathan," Suara Marcus tercekat, ia hampir tak bersuara saat mengucapkannya.
Mendengar nama Nathan di sebut, tubuh Mary langsung tegang ditempatnya. "Ada apa dengan Nathan?"
"Dia," Marcus tampak ragu untuk mengatakannya, Mary yang tidak sabar langsung turun dari ranjangnya lalu menghampiri Marcus.
"Katakan, ada apa dengan Nathan?!"
"Nathan kecelakaan saat perjalanan dan dia sedang berada di UGD, kondisinya sangat parah, mungkin tidak akan selamat"
"Tidak mungkin," Gumam Mary tidak percaya. Matanya tak berkedip meski air matanya tumpah. Jantungnya serasa berhenti, ia begitu terkejut. "Dia tidak mungkin meninggalkanku!"
"Itulah yang dokter katakan," balas Marcus.
Mary beranjak pergi, akan tetapi Marcus menghalanginya. Karena keadaan Mary masih lemah, dengan pergi terburu-buru akan memperburuk kondisi bekas operasinya.
"Jangan halangi aku Marcus! Aku harus pergi kesana!"
"Mary, Kita akan kesana, akan kuambilkan kursi roda ya?"
"Tidak!" Mary begitu keras kepala, "Aku harus melihatnya! Dia harus mendengarku! Dia tidak boleh pergi sebelum mendengarkan aku! Marcus, kumohon."
Marcus tetap menghalangi Mary, ia tahu bahwa ia tak bisa membiarkan Mary ke UGD sendirian dengan kondisi pasca operasinya.
"Baiklah, tenang dulu. Kau harus tenang dulu. Akan kuambilkan kursi roda, sebentar oke?"
"Marcus, aku tidak bisa kehilangan Nathan!! Jadi biarkan aku menemuinya, kumohon, kumohon!" Pinta Mary dengan tangis yang tak terbendung.
Akhirnya Marcus melepaskan Mary, dan Mary segera berjalan kearah pintu lalu membukanya dengan trrgesa-gesa. Perasaan takut kehilangannya begitu besar.
"Aku juga tidak bisa kehilanganmu, Mary." Sosok Nathan berdiri di depan pintu dengan membawa sebuah buket tulip berwarna putih ditangannya. Tubuh Mary membeku ditempatnya, ia mengedipkan matanya untuk melihat dengan jelas sosok yang ada dihadapannya itu.
"Apa kalian berbohong padaku?" Tanya Mary sembari menoleh kebelakang untuk mendapatkan jawaban dari Marcus dan Olivia, "Aku pikir akan kehilanganmu selamanya! Tapi kau bersekongkol untuk mengerjaiku?" Tangis Mary semakin menjadi, ia berjongkok dan menutup wajahnya.
Nathan yang khawatir, lalu ikut berjongkok. Ia tahu, pasti Mary sedang merasa sakit dibagian pasca operasinya.
"Aku minta maaf karena berbohong, tapi jika tidak begitu, aku tidak akan tahu bagaimana perasaanmu, sekarang ayo kembali ke ranjang?"
Mary mendongak, sesaat tadi ia merasa dunianya akan runtuh saat mendengar Nathan sedang sekarat, ia takut jika harus kehilangan orang yang paling dicintainya. Tapi melihat Nathan baik-baik saja, ia begitu lega.
Nathan mengangkat tubuh Mary untuk kembali ke ranjang. Lalu memberikan bunga tulip yang dia bawa kepada Mary.
"Jangan pernah bercanda seperti itu lagi!" Ujar Mary dengan cemberut.
"Dengan satu syarat," balas Nathan dengan senyum jahil diwajahnya.
"Apa? Mengapa harus ada syarat?"
"Hanya dua pertanyaan, kau harus menjawab dua pertanyaanku saja, lalu aku akan menurut padamu seumur hidupku."
"Apa kau serius?" Tanya Mary, dan Nathan mengangguk. "Apa? Apa pertanyaannya?"
"Apa kau mencintaiku?"
Mary tertawa, pertanyaan itu sudah diketahui jawabannya oleh Nathan. Tapi Mary tetap akan menjawabnya.
"Aku sangat mencintaimu." Jawab Mary dengan tawa yang belum hilang dari wajahnya. "Lalu mana pertanyaan yang kedua?"
Nathan merogoh saku celananya, ia kemudian mengeluarkan kotak beludru kecil berwarna hitam lalu membukanya, terdapat sebuah cincin dengan satu permata diatasnya.
"Apa kau bersedia menikah denganku Marienne Arshen?"
Kali ini tawa itu lenyap seketika dari wajah Mary. Ia terpana mendengar pertanyaan Nathan. Sesuatu yang tidak pernah ia impikan sepanjang masa. Ia berpikir tidak mungkin baginya akan menikah dengan Nathan, karena pria yang ada dihadapannya adalah sahabatnya sejak dia masih bayi. Tapi, semua itu kini ada dihadapannya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Ayo jawab Mary!" Suara Olivia membuyarkan lamunan Mary. Lalu Mary menatap mata Nathan, ia hanyut akan birunya mata itu.
"Ya! Aku bersedia!"
Prosesi pemberkatan pernikahan Jeanette dan Christian pun selesai. Setitik airmata keluar dari pelupuk mata Mary. Ia menatap suaminya Nathan yang menepati janjinya dulu, bahwa akan selalu menuruti kemauan Mary. Sampai sekarang Nathan masih begitu, menuruti Mary, dan selalu mencintai Mary begitu besar dan masih sama besarnya dari dahulu
"Paling tidak, Christian tidak membuat prank untuk membuat Jeanette menikah dengannya." Bisik Mary membalas ucapan Nathan.
"Dia tidak seromantis aku," Bisik Nathan di telinga istrinya.
_____________________________________________