Leon Harrington seorang hakim yang tegas dan adil, Namun, ia berselingkuh sehingga membuat tunangannya, Jade Valencia merasa kecewa dan pergi meninggalkan kota kelahirannya.
Setelah berpisah selama lima tahun, Mereka dipertemukan kembali. Namun, situasi mereka berbeda. Leon sebagai Hakim dan Jade sebagai pembunuh yang akan dijatuhkan hukuman mati oleh Leon sendiri.
Akankah hubungan mereka mengalami perubahan setelah pertemuan kembali? Keputusan apa yang akan dilakukan oleh Leon? Apakah ia akan membantu mantan tunangannya atau memilih lepas tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
“Le…on… kau juga… akan mati bersamaku…,” ucap Damien dengan suara parau, darah mengalir dari mulut dan lukanya. Matanya membelalak, penuh kebencian yang tak sempat padam. Tubuhnya mulai limbung, dan dalam hitungan detik, ia ambruk dengan keras ke lantai, tewas seketika dengan mata masih terbuka.
Leon, yang nyaris tak mampu berdiri, tetap bertahan. Lututnya gemetar, darah mengucur deras dari dua luka tembak di tubuhnya. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya, tapi tekadnya tak goyah.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia memaksakan diri melangkah, tertatih-tatih mendekati tempat Jade tergantung tak sadarkan diri, terikat pada tali yang tergantung dari besi menempel di tembok. Setiap langkah terasa seperti ribuan jarum menusuk dagingnya, namun ia tak berhenti.
“Kau harus hidup, harus tetap hidup...” batin Leon, matanya tak lepas dari tubuh Jade yang tergantung lemah. Suaranya dalam hati penuh harapan, meski tubuhnya sendiri sudah di ambang batas.
Dengan tangan gemetar, ia meraih tali tersebut. Darah dari telapak tangannya menodai serat kasar tali itu. Ia menggigit bibir, menahan teriakan, lalu perlahan melepaskan ikatan itu satu per satu, sembari menahan tubuh Jade agar tidak jatuh terlalu keras.
“Aaah!” rintihnya pelan, kesakitan luar biasa menyambar tubuhnya saat ia mengerahkan tenaga terakhir.
Akhirnya, ikatan berhasil dilepas, dan dengan perlahan, ia menurunkan tubuh Jade hingga menyentuh lantai. Begitu kaki Jade menjejak lantai, Leon langsung jatuh berlutut, tubuhnya ambruk menyentuh tanah seperti tubuh tanpa jiwa.
Beberapa detik kemudian, suara sirine meraung keras dari luar gudang. Mobil-mobil polisi berhenti mendadak di depan lokasi. Petugas-petugas bersenjata lengkap keluar dan menyerbu masuk ke dalam bangunan.
“Semua diam! Letakkan senjatamu!”
Para pelaku yang masih hidup dan terluka tak punya pilihan. Mereka tersungkur, tak berdaya setelah diserang habis-habisan oleh Leon sebelumnya. Dalam sekejap, situasi terkendali.
Seorang petugas segera menemukan dua tubuh tergeletak tak jauh dari jenazah Damien.
“Panggil ambulans! Cepat! Ini Leon Harrington… dan seorang Jade Valencia… dia masih bernafas!”
Lampu darurat mulai menyala di luar. Suara langkah kaki, perintah keras, dan panggilan radio memenuhi udara yang sebelumnya dipenuhi teror.
Keduanya langsung dilarikan ke rumah sakit terbesar di kota itu. Sirene ambulans meraung memecah malam, membelah jalanan yang dipenuhi rasa panik dan harap.
Para tim medis bergegas memberikan penanganan intensif, mencoba menyelamatkan dua nyawa yang terluka parah dan kehilangan banyak darah. Petugas medis bekerja tanpa henti, berpacu dengan waktu dan takdir.
Di ruang tunggu rumah sakit, Selena dan Jacob berdiri penuh kecemasan. Tatapan mereka tak lepas dari pintu ruang operasi yang belum juga terbuka.
“Mereka benar-benar sangat kompak… Bahkan terluka parah di hari dan waktu yang sama,” ucap Selena lirih, tangannya meremas pergelangan sendiri. Mata beningnya tampak berkaca-kaca.
“Mereka pasti bisa melaluinya,” ujar Jacob, mencoba menenangkan, meski suara hatinya sama kalut.
“Leon… selama ini kau sangat cerdas. Tapi kali ini… aku menganggapmu bodoh,” bisik Selena penuh perasaan. “Demi gadis itu, kau abaikan keselamatanmu sendiri… Apakah itu cinta, atau hanya kegilaan sesaat?”
Tak lama kemudian, layar televisi di ruang tunggu mulai menayangkan siaran berita darurat:
BERITA UTAMA — HAKIM LEON HARRINGTON TERLUKA PARAH SAAT MENYELAMATKAN KORBAN PENYANDERAAN
Dalam sebuah insiden dramatis yang terjadi malam ini, Hakim Leon Harrington, tokoh hukum terkenal yang dikenal atas integritas dan ketegasannya, ditemukan dalam kondisi kritis bersama seorang wanita bernama Jade Valencia. Keduanya menjadi korban dalam aksi penyanderaan yang dilakukan oleh Damien Lennox, pembunuh dari lima korban yang diincar pihak kepolisian selama ini.
Leon Harrington, yang selama ini dijuluki “Hakim Iblis” oleh media karena sikapnya yang dingin dan objektif di ruang sidang, mengejutkan publik karena keberaniannya turun langsung ke lokasi penyanderaan
"Ini bukan hanya tindakan keberanian, tapi juga bentuk pengorbanan luar biasa," ujar Kepala Divisi Kejahatan Besar Kepolisian Los Angeles (LAPD)."
Hingga berita ini diturunkan, keduanya tengah menjalani operasi penyelamatan intensif di
Masyarakat memberikan dukungan penuh melalui media sosial dan berkumpul di depan rumah sakit untuk mendoakan keselamatan sang hakim.
Selena menatap layar televisi dengan mata yang penuh perasaan.
“Kau mengorbankan segalanya, Leon… Tapi tolong, jangan korbankan nyawamu juga…”
Beberapa jam berlalu.
Jam di dinding ruang tunggu seakan berjalan lambat, detiknya terdengar lebih nyaring di tengah kecemasan yang mencekam.
Tim dokter belum juga keluar dari ruang UGD.
Para suster tampak berlarian ke sana kemari, wajah-wajah mereka dipenuhi ketegangan. Beberapa membawa kantong infus, sebagian lagi mendorong peralatan medis menuju ruang operasi darurat.
Selena yang duduk gelisah langsung berdiri ketika melihat seorang suster keluar dengan tangan berlumuran darah. Ia menahan suster itu.
"Suster! Bagaimana dengan mereka?" tanyanya panik, suaranya bergetar.
Suster muda itu menatap Selena dengan cepat sebelum menjawab sambil tetap berjalan tergesa, "Kedua pasien sangat kritis, mereka kehilangan banyak darah. Kami sedang berusaha keras menyelamatkan mereka."
Suster itu kemudian menghilang di balik pintu koridor.
Selena tertegun, tubuhnya lemas seketika.
"Sepertinya mereka butuh banyak darah," ujar Jacob, suaranya dalam dan muram. Ia menatap ke arah lampu operasi yang masih menyala.
"Mereka berdua… terpisah karena ulah seseorang… tapi sekarang sedang berjuang untuk hal yang sama—bertahan hidup," ucap Selena lirih. Tangannya menggenggam erat lengan bajunya sendiri, menahan gemetar yang tak bisa ia hentikan.