Kekasih yang sangat dicintainya juga meninggal dunia menjelang pernikahan. Dan ahirnya dijodohkan dengan sepupu kekasihnya.
Gimana kisah hidup dan percintaan sigadis cantik, mungil ini?
simak ceritanya aja langsung ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengasingkan diri
Beruntung mereka mempunyai kepercayaan sebaik Bayu. Bayu bekerja bukan menggunakan tenaga saja. Tapi Bayu memang tidak menganggap Firman orang lain. Bukan antara karyawan dan majikan.
***
Satu tahun sudah belalu semenjak kepergian Firman dalam hidupnya. Dia mencoba hidup walaupun hatinya seperti cangkang kosong.
Sofi memilih menenangkan diri ke kampung halaman Paman Sucipto dan Bibi Marwah.
Kedatangan Yasmin dan anaknya yang menemuinya 2 bulan lalu membuat Sofi lebih ceria dari sebelumnya. Dia memaafkan Yasmin dan berdamai seperti tidak terjadi apapun, dan yang paling ajaib, mereka semakin saling menyayangi satu sama lain.
Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan? Setelah mereka berpuluh-puluh tahun berjuang dalam doa meminta keturunan, Paman dan bibi diberi dua anak-anak cantik juga mendapatkan cucu laki-laki yang sangat menggemaskan.
Sesuatu yang dinanti-nantikan Sofi juga. Dia mendapatkan kasih sayang seorang Ayah dan ibu melalui sosok Paman dan Bibinya.
Dia juga punya adik yang sangat penyayang. Yasmin sudah berubah 1000%.
Dia berhijrah menutup badannya dengan pakaian syar'i.
Pov Sofi
_______________________________
Ditempat kecil inilah aku berkumpul bersama keluarga yang pernah terpecah belah. Aku sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Paman dan bibi juga orang tuaku, mereka menganggapku sebagai anaknya sendiri. Meskipun hidupnya serba kekurangan tapi bukanlah alasan untuk tidak bahagia.
Aku harap aku bisa sedikit-demi sedikit melupakannya dan semua cinta yang tersisa.
Meskipun, bayangannya selalu saja muncul didepanku. Aku tidak pernah bisa berharap lagi. Dia sudah terkubur ditanah, aku harus tetap melanjutkan hidupku.
Sedih memang, tidak mudah aku melakukannya. Mengingat tentang gagalnya pernikahan yang sudah didepan mata,
lagi-lagi membuat hatiku sangat sakit.
Kalau saja Tuhan memberi tahuku bahwa aku bukan jodohnya, aku akan memilih untuk tidak mengenalnya. Akan sangat sulit membuatku lupa akan cintanya. Dia terlalu baik, dia baik dan sangat baik. Dia baik bukan denganku saja. Kepada orang lain juga baik.
Aku bangga padanya.
Aku tidak tahu kenapa dia memilihku. Akulah yang dicintanya. Tapi,kasih tak sampai. Mungkin Allah sudah menakdirkanku dengan pilihanNya. Aku tidak tahu sedangkan Dia Maha tau. Aku harus menerima takdirNya.
Bibi dan Paman selalu menasehatiku. Mereka hanya ingin aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Paman dan bibi berinisiatif untuk menjodohkanku. Aku hanya bisa menolak tegas daripada memberi jawaban yang menggantung. Sudah jelas-jelas itu masih sangat sulit!!
"Sebaiknya kamu menikah nduk?supaya kamu bisa melupakan Firman, dia sudah ngga ada nduk? Tidak mungkin bisa kembali, cinta bisa tumbuh nanti setelah menikah"
Nasihat yang baik, iya! aku tau kalian bermaksud baik. Tapi tidak, tolong mengerti aku. Firman cinta pertamaku. Coba kalau kalian berada diposisiku, pasti kalian akan melakukan hal yang sama. Masih untung, aku tidak gila waktu itu.
Aku hampir gila waktu itu. Bukankah kalian juga tau? Menikah bukan perkara yang mudah, jadi tolong... Biarkan aku yang menemukan cintaku sendiri. Cinta yang tumbuh sendiri seperti aku mencintai pria itu.
Umurku saat ini hampir 27 tahun. Sangat jarang diperkampungan seperti ini ada wanita seumuranku masih melajang. Bisik-bisik tetangga sudah mulai terdengar. Beberapa dari mereka mengatakan aku "Prawan tua" !!
Bukankah itu lebih baik daripada menikah trus menjadi janda? Semua tergantung dari sisi mana kita melihat. Aku masih enjoy dan tidak ingin memaksakan diri untuk cepat-cepat menikah.
Umur bukan patokan untuk cepat-cepat menikah. Terserah aku saja. Aku yang menjalanipun merasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang keberatan.
Sudah beberapa hari lalu, aku mengirim pesan pada Bayu untuk memberinya sebuah pekerjaan. Kalau untuk jadi waiters di cafe lagi juga tidak apa-apa. Tapi, Bayu bilang tidak ada dan tidak mau memasukkan aku kesana.
"Mencari pekerjaan sekarang sangat sulit. Dicafe juga sudah banyak. Lagian kamu itu sudah menjadi bagian dari keluarga Ardiansyah. Jangan pernah berfikir untuk memainta bekerja disini. Apa kata Ibu Marry dan suaminya." kata Bayu.
Aku tidak putus asa, aku mengirim lamaran lewat email ke perusahaan, perusahaan dan tempat-tempat lain. Aku memilih yang paling cepat menghubungiku.
Beberapa hari kemudian Bayu menghubungiku lagi, memberikanku sebuah pekerjaan. Mungkin karena kasihan, iba atau apalah aku tidak tahu. Dia begitu peduli padaku. Tapi masih belum tau aku ditempatkan dimana dan bagian apa. Aku percaya saja. Aku yakin dia tidak akan berbuat macam-macam.
Aku diminta untuk datang kesana sore ini. Besok pagi aku bisa langsung interview saja. Kalau diterima syukur kalau tidak ya tidak apa-apa. Aku akan mencari lagi. Kebetulan aku masih mempunyai tempat tinggal disana, pemberian dari Firman untukku, jadi tidak perlu ngontrak lagi.
Aku memberanikan diri untuk melangkah, aku harus bekerja dan mencari nasib disana. Aku tau keuangan bibiku sedang tidak baik, meskipun mereka tidak mengatakannya.
Aku harus membantu mereka, aku harus mengerti. Aku orang yang sehat, hatiku saja yang sakit. Kalau tetap berdiam diri dirumah bibi, tentu kasihan mereka. Aku memaki-maki diriku sendiri.
"Baiklah nduk... kalau itu sudah jadi keputusanmu. Semoga nanti kamu diterima kerja, bibi sebagai orang tua hanya bisa mendoakan"
"Iya Kak... Yasmin sebenernya pengin ikut kerja juga. Tapi sekarang udah ada cindil. Jadi yo rak iso..." kata Ysmin sambil melirik anaknya.
"Apa kamu sudah siap?" kata paman. Sofi tau arah bicara paman kemana, yang pasti siap atau tidak kembali ke kota tempat Firman dulu. Sedangkan, setiap kali mengingatnya saja sudah menangis. Apalagi melihat orang tuanya, belum lagi segala kenangannya.
"InsyaaAllah sofi siap paman...Kalau sudah kerja kan nanti sibuk, jadi bisa untuk nylimbung pikiran. Biar ngga mikirin terus" jawabku yakin.
"Kak... kalau ada yang sholeh, ganteng, tajir, kenalin aku yah...!"
"Hallah itu wae pikiranmu Yas, kalau nemu ya buat aku sendiri toh moso dikasihkan ke kamu..." ucapku sambil menjitak kepalanya.
"Aduh sakit ih...!!! Ya udah semoga kakak menemukannya yah, hihiyyy kakak dah move on. Aku senang...!!"
"Aamiin, aamiin....! Semoga begitu"
"Kalau Yasmin disini aja, disini udah tenang kan. kalau ikut ke sana takutnya masih dicari-cari mantan suaminya. Lagian bibi sudah tua, bibi minta tolong ditemani, kan sekarang sudah sering sakit beyekan. Paman juga begitu, bibi juga sudah sayang banget sama sicucu Yas....." ucap Bibi
"Begini saja Yas, nanti kakak kirimkan uang tiap bulan untuk biaya sehari-hari si dede. Sama insyaallah... Kalau rezekinya kakak baik, akan kakak rehab rumah ini. Jangan khawatirkan tidak punya uang. Nanti ada saja rezeki mah" ucapku
"Ya sudah kak, Yasmin manut saja kak... Sekarang Yasmin sudah punya anak jadi mau fokus aja sama dede"
"Biar kakak yang menafkahimu Yas" ucapku.
Aku tau betul Yasmin sangat tidak enak padaku. Dia merasa datang-datang hanya merepotkan. Tapi ini harus, ini kewajibanku. Dia adikku, aku bahunya sekarang.
Bohong kalau aku tidak benci padanya.
Aku membencinya. dia begitu jahat. Semua yang pernah dilakukannya sudah sangat melewati batas.
Tapi rasa sayangku lebih besar daripada rasa benci itu. Kau tetap adikku, kita satu darah.
TO BE CONTINUED
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu