Aciel Lutherford datang ke panti asuhan itu dengan segala janji palsu yang ia berikan kepada si lugu Eden yang kala itu tidak tahu apa-apa. Pria itu mengadopsi Eden tanpa alasan yang jelas dan membiarkan Eden hidup tanpa status yang jelas di rumahnya hingga enam tahun lamanya. Setelah enam tahun berlalu, Eden perlahan-lahan mulai berubah menjadi sosok wanita dewasa yang mengagumkan. Usianya yang mulai menginjak dua puluh tahun membuat Aciel yang sebelumnya tidak pernah memperhatikan wanita itu, mulai berbalik untuk mengintai wanita itu dari kejauhan. Hingga suatu hari sebuah peristiwa buruk mengubah segalanya. Wanita polos itu tidak lagi menjadi sesosok angsa putih yang lembut, melainkan telah berubah menjadi sesosok angsa hitam yang selalu memancarkan luka dan lara di kedua mata bulatnya. Dan kini ia pun mulai memiliki ambisi untuk menghancurkan pria bermata coklat itu, pria yang telah membawanya pada penderitaan yang tak bertepi, Aciel Lutherford!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chalista saqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Come Back Home (Thirty Two)
Flashback
“Selamat pagi Eden, bagaimana tidurmu semalam? Kau tampak sangat lelah dengan berbagai
acara dan juga tamu-tamu yang tidak ada habisnya itu.” kelakar nyonya Angela yang sedang membereskan sisa sarapan di atas meja. Hari ini ia bangun kesiangan karena terlalu lelah dengan acara resepsi pernikahannya kemarin. Padahal seharusnya hari ini ia bangun lebih awal untuk memberikan kesan yang baik di depan orang tua Zyan. Tapi hasilnya benar-benar buruk. Ia kesiangan!
“Maaf ibu, aku tidur terlalu lama. Zyan sama sekali tidak membangunkanku dan justru menyelimutiku hingga sebatas dagu.” sungut Eden kesal. Ia merasa lega karena ia memiliki alasan yang sedikit masuk akal untuk menyelamatkan imagenya yang terlanjur buruk hari ini. Cerdas!
“Zyan sudah pergi pagi-pagi sekali untuk melamar pekerjaan di perusahaan makanan ringan. Anak itu berpesan pada ibu untuk jangan membangunkanmu karena kau terlihat kelalahan setelah acara pernikahan kalian kemarin. Oya, ini sarapanmu. Makanlah, bayimu membutuhkan banyak nutrisi dari ibunya.”
Nyonya Angela mengelus lembut perut buncit Eden sambil meletakan sepiring salmon kukus dan salad buah yang terlihat menggiurkan. Kebetulan sekali pagi ini ia memang sangat lapar. Tapi rasanya sangat tidak etis jika ia langsung melahap makanan itu seperti orang rakus setelah bangun kesiangan seperti ini. Bahkan Zyan saja
sudah pergi untuk memperjuangkan kehidupan pernikahan mereka yang baru berumur satu hari. Betapa jahatnya jika ia langsung makan seperti ini, tanpa membantu nyonya Angela membereskan meja maka terlebih dahulu.
“Aku akan membantu ibu membereskan meja makan.”
“Tidak perlu Eden, kau makan saja. Lihat, daging ikan salmonmu akan dingin jika kau tidak segera memakannya.”
Dengan terpaksa Eden duduk di atas kursi dan mulai memakan sarapannya dengan lahap. Ibu mertuanya bersikeras melarangnya untuk melakukan apapun, dan tak ada pilihan lain selain duduk tenang memakan sarapannya yang lezat hari ini.
“Ibu, maafkan aku. Besok aku akan mencoba bangun lebih pagi.”
“Tidak apa-apa, jangan paksakan dirimu jika kau lelah Eden.”
Eden saat ini merasa benar-benar bersalah karena tidak bisa menjadi menantu yang baik seperti harapan ibu Zyan. Dan parahnya, ia justru merusak karir Zyan yang sangat cemerlang di perusahaan Aciel. Ia membuat Zyan harus kembali ke titik nol dan bersusah payah mencari pekerjaan yang baru. Disamping itu, kehidupan pernikahan mereka juga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Zyan jelas tidak bisa menyentuhnya seperti layaknya suami isteri yang telah menikah karena perut buncitnya. Ditambah lagi keluarga Zyan sekarang juga harus menanggung aib dari kehamilannya yang bukan disebabkan karena Zyan. Ia benar-benar menyusahkan
banyak orang. Seharusnya ia tidak melibatkan Zyan terlalu jauh seperti ini. Sayangnya ia terlanjur menerima lamaran pria itu untuk menikah dengannya. Jadi apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki keadaan yang keruh ini? Jujur, ia benar-benar merasa bersalah dengan keluarga Zyan, terutama pada kedua orang tuanya.
“Ibu, kenapa ibu menerimaku sebagai menantu? Bukankah aku ini bukan wanita baik-baik? Aku adalah wanita yang rusak.” ucap Eden sedih. Selalu saja ia ingin menangis saat mengingat lika liku kehidupannya yang rumit. Terkadang ia juga merasa ragu dengan keputusannya untuk meninggalkan Aciel. Tapi entah kenapa pada akhirnya ia memiliki keberanian yang besar untuk memberontak dan lepas dari cengkeraman Aciel. Dan itu semua berkat Zyan yang selama ini selalu mendukungnya dalam berbagai keadaan.
“Karena ibu yakin pada Zyan. Selama ini Zyan tidak pernah mengecewakan ibu. Apapun yang dipilih oleh Zyan selalu berhasil ia pertanggungjawabkan dengan baik. Jadi saat Zyan mengatakan pada kami untuk menikahimu, maka ibu langsung menyetujuinya dan menyuruhnya untuk melamarmu. Tapi kau juga harus tahu Eden, ibu bukanlah wanita yang sempurna. Terkadang dalam hati ibu merasa tidak terima dengan pilihan Zyan. Ibu merasa, seharusnya Zyan bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dan juga terhormat, bukan wanita yang.... kau pasti tahu apa yang kumaksudkan Eden. Namun pada akhirnya ibu hanya mampu mendoakan yang terbaik untukmu dan juga Zyan agar di masa depan kalian dapat menjalankan kehidupan yang lebih baik tanpa dihantui oleh bayang-bayang masa lalu.”
“Ibu... maafkan aku, aku tidak bisa menjadi menantu yang pantas untuk ibu. Aku hanya menjadi aib di kelurga ini.” ucap Eden terisak. Ia sama sekali tidak marah ataupun terluka dengan kata-kata yang dilontarkan oleh ibu Zyan. Ia justru lebih kecewa pada dirinya sendiri karena ia tidak bisa menjadi seorang wanita yang pantas di keluarga Zyan.
“Tidak Eden, kau lebih dari pantas untuk menjadi menantu kami. Sebelum kalian menikah, Zyan sudah sering menceritakan kisah hidupmu pada kami. Ibu merasa bangga dengan kegigihanmu selama ini untuk keluar dari lingkaran setan yang membelenggumu. Dan meskipun saat ini kau sedang mengandung anak dari pria lain, ibu tetap akan menganggap anak itu sebagai cucu ibu sendiri.”
“Ibu... terimakasih banyak.”
Dengan penuh air mata Eden menghambur ke dalam pelukan nyonya Angela dan menangis sesenggukan di bahu kecil nyonya Angela yang hangat. Akhirnya ia dapat merasakan pelukan seorang ibu yang hangat dan juga menenangkan. Menikah dengan Zyan adalah sebuah pilihan yang tepat, karena selain pria itu membebaskannya dari cengkeraman Aciel, Zyan juga memberikannya sebuah keluarga yang selama ini
tidak pernah ia miliki sedikitpun di sisi Aciel.
-00-
Pukul sembilan Eden memutuskan untuk naik ke kamarnya. Setelah membereskan meja makan bersama ibu Zyan dan mencuci peralatan makan bekas makan malam, ia memutuskan untuk beristirahat di kamarnya karena rasa pegal yang mendera punggungnya. Dulu mungkin ia akan merengek-rengek pada Aciel untuk memijat punggungnya dengan berbagai alasan klasik yang menjengkelkan untuk Aciel. Tapi sekarang, ia memilih untuk menahannya dan menikmati kesakitan itu di detik-detik terakhir sebelum waktu kelahirannya tiba. Anggap saja itu adalah kenang-kenangan dari sang buah hati yang sebentar lagi akan beranjak keluar dari rahimnya yang hangat.
“Ahhh...”
Eden refleks bertumpu pada dinding berwarna cream di sebelahnya saat ia merasakan kontraksi yang sedikit intens dari perutnya. Sejak pagi ia memang telah merasakan kontraksi-kontraksi itu beberapa saat, namun kali ini kontraksi yang ia rasakan menjadi lebih intens. Bayinya sepertinya sedang mencari jalan untuk keluar dari rahimnya yang nyaman.
“Tenanglah nak, kau pasti akan segera lahir dengan selamat.”
Eden berusaha tetap tenang sambil mengelus permukaan perutnya lembut. Saat ini kontraksinya sudah sedikit mereda, namun ia merasa ini sudah saatnya ia pergi ke rumah sakit sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada mereka.
“Zy....”
Saat berdiri di ambang pintu kamarnya, Eden berusaha memanggil Zyan sekeras yang ia bisa sambil mencoba menormalkan deru napasnya yang entah kenapa menjadi pendek-pendek. Mungkin karena ia sedang menahan rasa nyeri di perutnya, dan menahan gejolak kontraksi yang kembali ia rasakan beberapa detik yang lalu.
“Ada apa Eden? Kau berkeringat.”
Zyan yang melihat Eden terlihat kepayahan langsung menghampiri wanita itu sambil mengecek suhu tubuh Eden melalui permukaan punggung tangannya. Dan saat Eden memberikan isyarat melalui gesture tangannya, barulah Zyan sadar jika sebentar lagi Eden akan melahirkan.
“Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan keperluanmu.”
“Zy, kku kurasa ketubanku sudah pecah.”
Eden merasakan adanya aliran air yang merembes dari sela-sela pahanya. Tidak salah lagi, sebentar lagi ia akan melahirkan.
“Ya Tuhan, kita ke rumah sakit sekarang Ed!”
-00-
Dengan wajah pucat yang tampak panik, Zyan berlari-lari disepanjang lorong rumah sakit mengikuti para perawat yang sedang mendorong blangkar Eden menuju ruang bersalin. Di atas blangkar itu, Zyan dapat melihat berbagai ekspresi wajah kesakitan yang sedang ditunjukan oleh Eden. Dan Zyan merasa benar-benar terenyuh saat menyaksikan itu semua. Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan ayah kandung bayi itu jika ia melihat sendiri bagaimana perjuangan Eden dalam melahirkan bayinya. Pria itu pasti juga akan merasakan kekalutan yang sama dengan Zyan, dan juga merasakan perasaan terharu yang begitu besar karena ia sebentar lagi akan menjadi ayah.
“Eden tarik napas, kau tidak boleh panik, dan kau harus tenang.”
Zyan memberikan semangat setenang yang ia bisa sambil menggenggam telapak tangan Eden yang dingin erat-erat. Saat ini para suster dan juga dokter telah berkumpul untuk membantu menyelesaikan prosesn persalinan pertamanya yang cukup dramatis.
“Hosh... hoshh... hossh.. Zy... sa sakit...” ucap Eden terbata-bata. Titik-titik keringat sebesar biji jagung tampak berlomba-lomba menuruni kening indah Eden yang menawan. Saat ini tak ada raut licik atau raut arogansi seperti yang selama ini selalu ditunjukan Eden. Saat ini Zyan seperti melihat kembali Eden empat tahun yang lalu, yang manis, dan juga penuh kepolosan.
“Eden dengar aku, kau pasti bisa. Kau harus kuat demi bayimu. Buktikan pada Aciel jika kau bukan wanita yang lemah. Buktikan pada Aciel jika kau bisa menjaga anaknya dengan seluruh kekuatan yang kau miliki saat ini.”
“Zy... Ka kau tahu?” tanya Eden terbata-bata.
“Aku tahu. Bayi itu... bukankah milik Aciel? Sejak awal kau hanya ingin menipunya agar ia kecewa, dan kau dapat melepaskan diri dari cengkeramannya. Sekarang buktinya padanya jika kau adalah wanita yang hebat. Tanpa semua materi miliknya, kau masih bisa berdiri dengan kakimu sendiri, dan sekarang kau juga memiliki aku untuk menemanimu kapanpan kau membutuhkanku. Jadi berjuanglah untuk anakmu Eden, untuk kehidupmu yang lebih baik lagi di masa depan.” bisik Zyan berapi-api. Tanpa sadar air mata Eden meleleh begitu saja saat mendengar setiap kalimat penyemangat yang dibisikan Zyan di telinganya. Pria itu... ia benar-benar jelmaan seorang malaikat yang berhati bersih. Meskipun ia banyak tersakiti dalam kisahnya, namun Zyan masih mampu memberikannya semangat dan dukungan disaat ia benar-benar sudah tak memiliki harapan pada hidupnya sendiri.
“Zy... terimakasih.”
Setelah itu suasana di dalam ruang bersalin itu menjadi lebih ramai dengan suara teriakan dokter, dan juga para suster yang terus menyemangati Eden untuk mengejan dengan kuat. Sebentar lagi akan terlahir seorang bayi dengan darah klan Lutherford yang mengalir deras di setiap nadinya. Dan sebentar lagi penantian panjang Eden akan segera berakhir. Sekarang ia telah resmi menjadi seorang ibu.
“Oeekkkk oeeekkkk...”
Bayi itu menjerit kuat setelah Eden melakukan dorongan panjang yang cukup berat dan juga melelahkan. Dengan tubuh yang masih berlumuran darah dan lendir, bayi mungil itu langsung diletakan di atas dada Eden untuk merasakan kehangatan pertama yang ia dapatkan dari ibunya.
“Selamat Eden, kau melahirkan bayi perempuan yang cantik.”
“Aa aku... aku menjadi seorang ibu?” Bisik Eden penuh haru sambil mendekap anaknya lembut. Ia benar-benar tak percaya jika sekarang ia telah resmi menjadi seorang ibu. Dan rasanya semua ini seperti sebuah mimpi yang begitu indah dan juga menakjubkan.
“Kau sekarang adalah seorang ibu Eden. Kau adalah seorang ibu dari seorang bayi cantik yang sangat menakjubkan ini. Siapa nama bayi mungil ini? Kau sudah menyiapkan nama untuknya?”
“Ciara. Namanya adalah Ciara.”
Dengan mantap Eden menjawab pertanyaan Zyan sambil mengelus lembut punggung putrinya yang masih dipenuhi oleh lendir putih dan juga darah. Untuk kali ini Eden memberikan kesempatan pada Aciel untuk ikut andil dalam menyambut kelahiran anaknya. Ia akan menggunakan nama pemberian Aciel, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pria itu. Meskipun ia memang tidak ingin berurusan dengan Aciel lagi, tapi setidaknya nama itu akan menjadi penanda jika sampai kapanpun Ciara akan tetap menjadi bagian dari seorang Aciel Lutherford.
Flashback end
-00-
“Bagaimana persiapannya? Lima belas menit lagi giliran kita untuk tampil.”
Eden mengecek satu persatu modelnya sambil merapikan tatanan baju mereka agar lebih rapi. Setelah belajar dan mendapatkan banyak pengalaman dari sekolah desain ternama di Perancis, akhirnya Eden mendapatkan kepercayaan untuk memamerkan hasil rancangannya di negara kelahirannya, Las Vegas, Nevada. Cukup sulit baginya untuk sampai di titik ini, namun dengan semua semangat yang ia miliki, akhirnya ia dapat mewujudkan cita-citanya menjadi seorang desainer, dan sekarang ia telah memiliki rumah mode sendiri di Paris.
“Semuanya sudah siap nona. Setelah mereka semua keluar, anda juga harus keluar untuk memperkenalkan diri anda di hadapan seluruh tamu undangan yang telah hadir nona.”
Seketika wajah Eden menjadi pucat, dan ia refleks langsung menggelengkan kepalanya menolak.
“Kau gantikan aku berdiri bersama mereka.”
“Tapi kenapa nona? Bukankah seharusnya anda yang berdiri bersama mereka agar nama anda semakin dikenal oleh seluruh masyarakat pecinta fashion.”
“Tidak, aku.... ada sesuatu yang harus kuurus.”
Secepat kilat Eden berbalik, dan segera pergi meninggalkan back stage untuk berbaur bersama para tamu undangan yang sedang bertepuk tangan riuh, memberi applause pada model terakhir milik desainer asal Jepang yang baru saja menyelesaikan rangkaian peragaan busana mereka. Hari ini sungguh kesialan bagi Eden, karena secara kebetulan ia melihat Jessica sedang berada di back stage bersama para modelnya, dan saat ia hendak menghampiri Summer, ia justru dikejutkan dengan kedatangan Aciel di pintu masuk. Pria itu datang dengan stelan jas hitam, dan wajah datar yang tidak pernah lepas dari image dinginnya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Aciel akan hadir di acara seperti
ini. Namun ia tidak heran dengan hal itu, karena Jessica pasti yang telah mengundang Aciel untuk hadir di acara bergengsi seperti ini.
“Please welcome, Eden Morel’s collection!”
Semua orang langsung bertepuk tangan riuh saat para model yang membawakan pakaian rancangan milik Eden satu persatu masuk ke atas stage. Mereka dengan penuh percaya diri berlenggok-lenggok di atas stage sambil memamerkan baju-baju rancangan Eden yang sangat menakjubkan.
Di ujung paling belakang Eden sedang mengamati hasil kerja kerasnya selama ini dengan tatapan haru. Tak menyangka jika ternyata ia bisa mewujudkan keinginan terbesarnya menjadi seorang desainer sambil memainkan perannya sebagai seorang single parent untuk Ciara. Tidak mudah memang untuk mencapai titik ini, tapi sekarang ia dapat sedikit berbangga diri dengan dirinya karena ternyata ia telah berhasil menerjang berbagai macam rintangan yang selama ini selalu ia temui di setiap langkah kehidupannya yang sulit.
Drrtt drrtt
Eden tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar, ia cepat-cepat berjalan menjauh dari kerumunan para tamu undangan untuk mengangkat panggilan penting dari salah satu staffnya.
“Ya, ada apa?”
“Nona, apa nona yakin tidak ingin memberikan sambutan seperti desainer yang lain? Ini adalah kesempatan nona untuk memperkenalkan diri nona.”
Eden mendesah lemah di ujung telepon sambil memandang nanar stage megah yang kali ini harus ia lewatkan begitu saja. Demi menghindari Aciel dan Jessica, ia rela mengorbankan salah satu kesempatan besarnya untuk dikenal oleh masyarakat pecinta fashion. Benar-benar sangat disayangkan!
“Kau saja yang gantikan aku. Masih adalah beberapa hal yang harus kuurus di sini.”
“Baiklah nona, aku akan menggantikan nona.”
Sambungan terputus. Eden mendesah kecewa sambil tetap memandang nanar kearah stage yang terlihat menggiurkan di depannya. Andai ia bukan seseorang yang pengecut, ia pasti akan berdiri di sana. Berdiri di depan dua orang yang paling ia hindari dengan wajah terangkat, dan senyum yang merekah dengan penuh percaya diri. Sayangnya ia bukanlah wanita sepemberani itu. Keberanian yang sempat ia dapatkan empat tahun yang lalu,
entah kenapa hilang begitu saja seiring dengan kepergian Zyan, dan orang-orang yang berarti dalam hidupnya.
“Ck, aku harus melupakannya...”
Grepp
Eden mematung di tempat, seiring dengan bisikan seringan bulu yang tiba-tiba mengalun mengerikan di indra pendengarannya yang sensitif.
“Eden.... Selamat datang kembali, Eden Morel....”
ah iya, dapat salam dari Mitsuki nih, jangan lupa mampir yaa
JUST THREE DAYS : MITSUKI
sabar ya Ed...
penting babang Ace tetep sayang...