wanita bernama Ayu yang hidup dalam kemiskinan setelah menikah dengan suaminya yang bernama Sugi.
Sugi sang suami hanyalah pekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu, sehingga membuat Ayu mengambil jalan pintas dengan melakukan pesugihan yang mana mengorbankan anak atau anggota keluarganya.
Bagaimanakah kisah perjalanan Ayu, ikuti kisah selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Berhati
"Ayo, pulang," ajak Laila dengan berhati-hati.
Seketika Bagas tersentak kaget. "Juni," ucapnya dengan tatapan penuh kecemasan. Ia menatap sang kakak, dan tanpa menunggu lama ia beranjak keluar dari mushola dan tanpa mengenakan alas kaki ia berlari kembali pulang.
Laila merasa bingung dengan apa yang dulakukan oleh adik lelakinya itu, tetapi ia tak memiliki asumsi apapun, dan menyusul sang adik dengan membawa sendal jepit yang belum pernah diganti meskipun kini sang ibu bergelar sebagai orang terkaya didesanya.
"Bagas, tunggu!" teriak Laila yang mencoba menyeimbangi langkah Bagas yang terlalu cepat.
Saat bersamaan, ia berpapasan dengan sang bapak yang saat ini mengendarai motor baru yang dibeli sang ibu dengan jalan sesatnya.
"Bagas, balik kamu!" titah Sugi yang menepikan motornya diseberang jalan. Perlahan Bagas melihat jika sang Bapak bukan sedang mengendarai motor yang bagus, tetapi motor dengan wujud tubuh adik bayi mereka yang penuh lumuran cairan darah yang menggenangi kendaraan tersebut. Suara mesin motor itu terdengar seperti suara tangisan bayi yang memilukan.
Bocah laki-laki itu menatap sang Bapak dengan tatapan penuh kebencian. Ia tak menyahuti ucapan bapaknya, tetapi memilih untuk pergi menuju pulang, bukan karena perintah Sugi-bapaknya melainkan karena mengkhawatirkan Juni yang ia rasa akan ada sesuatu yang sangat mengerikan sedang terjadi.
Sugi menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat sikap Bagas yang semakin hari bersikap memberontak.
"Bagaimana Ayu tak geram padanya, sebab ia semakin hari semakin terus berani melawan," guman Sugi kesal yang melihat perubahan sikap anak lelakinya.
Sugi kembali mengendrai motornya untuk mencari ustaz Guntur. Dari arah depan, ia melihat Laila yang juga berlari dan sepertinya mengejar Bagas. Namun belum sempat ia menyapa puteri sulungnya, gadis itu justru tak berhenti dan terus berlari menegejar Bagas.
Sugi tak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu, ia harus segera menemukan ustaz Guntur untuk menyempurnakan fardhu kifayah untuk Juni.
Bagas tiba dirumah. Namu terlihat sunyi, tak ada sesiapapun. Sangat hening, bahkan suara cicak juga tidak terdengar, benar-benar lengang.
"Kemana semuanya?" Bagas mukai merasakan sesuatu yang tidak baik sedang terjadi. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, dan dengan hati-hati memasuki kamar, lalu membukanya dengan sangat begitu pelan.
Saat ia membukanya, ia tak mendapati jasad Juni dan kedua adiknya yang lain.
"Astaghfirullah, kemana jasad Juni? Lalu Meli dan Nisa?" gumannya dalam wajah penuh ketakutan.
"Kak Bagas," sapa Meli dan juga Nisa yang tengah membawa banyak jajanan dan juga makanan yang enak-enak.
Bagas tersentak kaget. Lalu menoleh ke arah sang adik yang sedang menyapanya.
"Alhamdulillah, Meli dan Nisa masih aman," gumannya dalam hati. Ia melihat Meli akan memakan jajanan itu, tetapi dengan cepat Bagas membuangnya.
"Jangan dimakan, ini ada racunnya," ucap Bagas asal, dan menampik makanan itu dari tangan Meli, lalu merampas kantong kresek yang dibawa oleh Nisa dan dengan kasar.
"Kak, kembalikan jajan itu!" Nisa tampak marah.
"Tidak, ini ada racunnya, kalian jangan memakannya," ucap Bagas.
Saat bersamaan Laila tiba dirumah dan melihat perdebatan antara Nisa dan Bagas.
"Kak, bawa Meli pergi dari sini ke rumah ustaz Guntur, nanti aku menyusul, tapi ingat, jangan sampai ketahuan bapak, cepatlah, dan kamu Nisa ikutlah bersama kak Laila," titahnya pada sang adik.
"Tetapi mengapa, Gas?" tanya Laila penasaran.
"Nanti aku jelasin lagi disana, yang terpenting kita harus pergi dari rumah ini," Bagas menimpali ucapannya.
Laila menganggukkan kepalanya dan menggendong Meli meskipun tubuhnya sangat ringkih dan.kurus, tetapi ia tidak mungkin membiarkan Meli berjalan, apalagi rumah ustaz Guntur berjarak satu kilo meter dari rumah mereka. Meskipun nafasnya masih tersengal, ia harus kembali untuk menyusuri jalanan. Meskipun ia tidak tahu apa rencana sang adik, namun entah apa hatinya mencoba mempercayai sang adik.
"Ayo, Nis, ikut kakak," ajak Laila pada sang adik.
"Gak, ah..., aku mau dirumah ini, ini sangat bagus dan disini aku jadi sangat bangga menjadi orang kaya," sahut Nisa.
"Tidak, kamu harus ikut kak Laila sekarang!" ucap Bagas.
Nisa menatap tajam. "Eh, kak Bagas, jangan sok ngatur, Nisa mau tetap disini," sahut sang adik yang memiliki sikap keras kepala sama seperti ibunya.
Kreeeeeek....
Terdengar suara pintu kamar dilantai dua terbuka, itu tandanya jika sang ibu akan keluar dan menuju ke lantai dasar.
"Kak, cepatlah. Ini ada uang hasil aku membersihkan mushola dan diberi oleh ustaz Guntur, kakak beli saja roti dan minuman kalau merasa lapar," titahnya sembari memberikan uang selembar lima puluh ribu rupiah.
"Laila yang terlalu penurut mengangguk cepat dan menggendong Meli meskipun dalam kesusahan karena tubuhnya yang terlalu ceking.
"Kak, ingat jangan sampai ketahuan bapak," bisiknya, lalu menatap sang kakak pergi meninggalkan rumah.
Ia mendengar langkah sang ibu turun dari anak tangga dengan tertatih menuju lantai dasar.
Bagas melihat sang ibu membawa banyak perhiasan dan juga tumpukan uan yang cukup banyak sehingga membuatnya terlihat sangat kepayahan.
Ia bahkan tak menghiraukan kehadiran Bagas dan juga Nisa yang menatapnya dari jarak sepuluh meter.
"Ibu, wah.. Aku mah pakai saru, Bu," teriak Nisa yang tidak mengerti itu akan apa yang sebebanrnya terjadi.
"Eh, Nisa, mana adikmu," tanya Ayu dengan sumringah karena mendapatkan begitu banyak harta benda dari sang iblis.
"Em, lagi minta jajan sama Kak Laila, sahut Bagas dengan cepat, sebelum Nisa menyambutnya.
Ayu menatap geram pada anak lelakinya yang ternyata sudah kembali setelah membuatnya kesal.
"Nisa,kamu mau kalung ini?" tanya Ayu yang kini beralih pandangannya pada sang puteri tengah.
"Mau,Bu, mau...," jawab Nisa tak sabar.
"Coba kamu pilih yang mana kamu inginkan," Ayu menawarkan, yang ini, Bu, yang ini," Nisa seolah merasa ingin semuanya.
"Ayo ke kamar, kita pilih disana," Ayu menarik pergelangan tangan Nisa ke dalam kamar.
Saat itu Bagas melihat jika semua itu adalah berasal dari bagian-bagian tubuh Juni yang terlihat seperti uang dan perhiasan.
Bagas ingin mencegah sang adik, tetapi ibunya lebih memiliki kuasa. Bagas tercenung dan meratapi nasibnya.
"Juni, dimana dia?" gumannya dalam lirih.
Ia mengingat jika ibunya pernah membawa jasad adik bayi mereka ke belakang dekat gudang, maka ia menuju ke arah sana.
Bocah itu membukan pintu belakang. Lalu mengendap-endap menyelinap layaknya maling.
Ia mengamati sekitarnya. Lalu melihat sesuatu yang mencurigakan baginya. Sepandai-pandainya menykmpan bangkai, pasti akan ketahuan juga. Sepertinya itulah yqng kini berlaku bagi Ayu sang ibu.
Bagas melihat ada seretan darah yang mengering menuju safety tank. Ia mengamatinya dan mencoba membuka penutup cor-an yang sudah rusak.
Ia menutup hidungnya karena itu sangat bau. Lalu ia dikejutkan dengan jasad Juni yang mulai mengapung karena jasad itu sudah hampir semalaman.
Air matanya mengalir deras, hatinya hancur namun oa tak sempat berduka untuk saat ini.
Bocah itu mencari tali yang akan ia gunakan untuk menjerat kepala Juni, hanya itu yang dapat ia lakukan.
Melihat tali jemuran, ia bergegas mengambilnya dan mengingat bagaimana cara bang Yudi saat menangkap ular sanca didekat mushola waktu itu.
Setelah berhasil menjeratnya, ia menariknya dengan mengikat ujung tali ditiang jemuran agar ita tak tertarik ke dalam lubang tersebut.
Usahanya tak sia-sia, ia berhasil mengangkatnya dan membersihkan jasad sang adik dengan keran air yang digunakan Buk RT waktu itu untuk menyiram kebun belakangnya.
"Abang tidak akan membiarkan jasadmu terhina, kita akan keluar dari sini dan kau akan disempurnakan," peluknya dengan sangat lirh.
Ia mencari karung goni, lalu memasukkan jasad itu kedalamnya. Maafin abang, ini terpaksa," ucapnya lirih, lalu mencari tangga dan menyeret jasad itu melewati tembok pagar dan menjatuhkan jasad itu ke dalam semak.
untuk yang Mega J episode nya gak banyak jadi enak untuk dibaca
sampe baca 2x
oh aku ingat pelajaran Sugi yang cinta mati pada istrinya walaupun sudah tahu akan sipat nya
hidup Sugi
baru kali ini ana baca novel gini amat
Akhy Sugi kayaknya yang akan mendapatkan piala Oscar 2030 mendatang
Sugi genius
Sugi prosesor
Sugi
Sugi
Sugi
sugi.sugi
Sugi
Sugi cerdas