Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Langkah Cepat Sang Perwira
Di markas militer yang sibuk, Radit dipanggil untuk menghadap ke ruangan pimpinan tertingginya. Langkah tegap sang perwira membawanya masuk ke sebuah ruangan besar bernuansa militer yang kaku. Di balik meja besar, duduk sang Komandan, pimpinan tertinggi kesatuan Radit yang berwajah tegas namun memiliki sorot mata kebapakan.
Radit segera berdiri tegap dan memberikan hormat militer yang sempurna. "Lapor, Komandan. Perwira Radit Mahesa Laksmana melaporkan diri kembali ke kesatuan setelah berhasil selamat dari insiden di wilayah perbatasan kemarin."
Sang Komandan menurunkan dokumennya, menatap Radit dengan senyum lega. "Silakan duduk, Radit. Kami semua sempat cemas saat kehilangan kontak denganmu di hutan perbatasan."
Radit mengambil tempat duduk di depan meja kerja pimpinannya. Wajahnya seketika berubah sangat serius. "Terima kasih, Komandan. Saya harus melaporkan bahwa memang ada aktivitas yang sangat aneh dan mencurigakan di wilayah perbatasan tersebut. Namun, saat saya mencoba bergerak lebih dalam untuk mencari tahu, pertahanan saya lengah hingga akhirnya saya celaka terkena perangkap besi."
"Kecerobohan yang jarang kau lakukan, Radit. Tapi yang terpenting kau kembali dengan selamat," sahut Komandan sembari mengangguk-angguk.
Setelah menyelesaikan laporan formal mengenai situasi perbatasan, di dalam ruangan berangsur-angsur mencair menjadi lebih santai. Sang pimpinan menyandarkan punggungnya, menatap berkas dokumen sipil yang baru saja diserahkan oleh Radit sebelumnya.
"Jadi... laporan formal sudah selesai. Sekarang, mari kita bahas dokumen pribadi ini," ujar Komandan dengan nada bercanda. "Catatan pernikahan dengan seorang gadis bernama Vina Darmawati. Kudengar, dia yang menyelamatkan nyawamu saat kau celaka?"
"Siap, benar Komandan," jawab Radit tegas, meskipun ada sedikit rona canggung di wajahnya.
Raut wajah Komandan mendadak berubah menjadi lebih serius, memberikan wejangan hukum militer yang sangat ketat. "Radit, kau harus tahu satu hal yang sangat penting. Jika catatan pernikahan sipil ini sudah resmi dimasukkan ke dalam administrasi dan catatan militer negara, maka kau tidak akan bisa menikah lagi dengan wanita lain seumur hidupmu. Aturan kita sangat ketat. Kau hanya bisa menikah sekali seumur hidup. Jika suatu hari nanti kau bercerai, kau harus melakukan tugas khusus yang sangat jauh dan berbahaya selama lima tahun penuh di perbatasan terluar, baru setelah itu kau diizinkan untuk menikah lagi. Apa kau sudah memikirkan ini baik-baik?"
Mendengar aturan militer yang begitu berat itu, tidak ada rasa ragu sedikit pun di dalam sorot mata elang Radit. Ia menjawab dengan kelantangan seorang pria sejati yang telah mengunci takdirnya. "Siap, Komandan. Saya tidak ragu sama sekali. Saya memilih untuk tetap mencatatkan pernikahan ini sekarang juga."
Sang Komandan terperangah sejenak, lalu tawa renyahnya pecah memenuhi ruangan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menepuk meja. "Luar biasa! Bagaimana bisa seorang perwira dingin yang biasanya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang perempuan, tiba-tiba bisa memutuskan untuk menikah secepat kilat seperti ini?"
Radit hanya bisa berdeham keras, menundukkan kepalanya sedikit karena mendadak diserang rasa malu.
Namun, sang Komandan tampaknya belum puas menjahili anak buah kesayangannya itu. Ia memajukan tubuhnya dengan cengiran jahil. "Lalu, bagaimana dengan malam pertamamu kemarin setelah sah? Apa semuanya berjalan dengan lancar atau tidak?"
Wajah tegap Radit seketika memerah sempurna mendengar pertanyaan sensitif itu. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menutupi rasa malu yang teramat sangat. "Siap, Komandan... mohon maaf, saya tidak ingin membahas masalah urusan ranjang di sini."
Komandan kembali tertawa terbahak-bahak melihat sang perwira tangguh mendadak mati kutu. Namun, tawa itu terhenti saat ponsel militer di atas saku seragam Radit bergetar pendek.
Radit meminta izin dengan isyarat tangan, lalu mengambil ponselnya untuk membaca pesan yang baru saja masuk. Begitu matanya membaca deretan kalimat di layar ponsel, raut wajah Radit seketika mengkerut tajam. Rahangnya mengeras seketika, dan sorot mata elangnya berubah menjadi sangat dingin dan berbahaya.
Radit langsung berdiri tegap dan memberikan hormat secara terburu-buru. "Komandan, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ada urusan mendesak yang terjadi di rumah saya. Saya mohon izin untuk pulang lebih awal sekarang juga!"
Melihat perubahan ekspresi Radit yang mendadak sangat panik, Komandan langsung paham ada situasi darurat pribadi. "Baiklah, izin diberikan. Pergilah!"
Namun, sebelum Radit benar-benar membalikkan badannya untuk berlari keluar, Komandan kembali berteriak dari mejanya, "Oh, satu lagi, Radit! Kau juga boleh mengambil cuti izin resmi untuk berbulan madu bersamanya nanti! Kapan saja kau mau mengambilnya akan aku terima,"
Mendengar kata 'bulan madu', Radit yang sedang panik tetap tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Ia keluar dari ruangan pimpinan dengan wajah yang memerah padam, lalu setengah berlari menuju pelataran markas dan langsung melompat naik ke atas mobil jip hijaunya. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat jip militer itu melaju kencang membelah jalanan kota menuju mansion Laksmana dengan perasaan tidak tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di dalam kamar ganti mewah milik Nyonya Laksmana, wanita tua itu sedang duduk santai di atas sofa empuk sembari mengunyah beberapa camilan mahal. Ia sengaja mengulur-ulur waktu berganti pakaian agar Vina semakin tersiksa berlutut di luar.
Tiba-tiba, seorang pelayan kepercayaannya berjalan masuk dengan langkah yang terburu-buru dan wajah yang panik. "Nyonya... Nyonya Besar, gawat!"
Nyonya Laksmana menghentikan kunyahannya, mengerutkan dahi kesal. "Ada apa? Jangan berisik."
"Saya baru saja melihat dari jendela luar... Tuan Muda Radit sudah pulang, Nyonya! Mobil jipnya baru saja memasuki pelataran rumah lebih awal dari jadwal biasanya!" lapor pelayan itu dengan suara berbisik panik.
Mendengar laporan mengejutkan itu, Nyonya Laksmana seketika tersentak kaget hingga camilan di tangannya hampir terjatuh.
"Apa?!"
Ia langsung bangkit berdiri dari sofanya dengan tergesa-gesa, merapikan pakaiannya dengan panik, lalu buru-buru melangkah keluar menuju ruangan tempat Vina berada.
Di dalam kamar utama, Vina rupanya masih setia berada pada posisi semula—bertekuk lutut di atas lantai marmer yang dingin dengan kedua tangan yang masih kokoh mengangkat cangkir porselen berisi teh.
Nyonya Laksmana berdehem dan melangkah mendekat dengan ekspresi wajah yang mendadak diubah drastis, berpura-pura tidak tahu apa-apa dan bersikap seolah baru saja selesai berganti baju. Ia mengulurkan tangannya, mengambil cangkir teh dari genggaman Vina yang ternyata isinya sudah mulai mendingin karena ditinggal terlalu lama.
Vina mendongak, menatap ibu mertuanya dengan tatapan yang lelah namun tetap sopan. "Ibu... maaf, tehnya sudah terlanjur dingin karena menunggu terlalu lama. Sebaiknya aku membawa teh ini kembali ke bawah untuk memanaskannya, dan akan aku antarkan lagi ke kamar Ibu seperti ini."
Mendengar tawaran tulus Vina, Nyonya Laksmana yang ketakutan aksi jahatnya ketahuan oleh Radit langsung menolak dengan gugup. "Ah... tidak perlu, kau—"
BRAKKK!
Kalimat Nyonya Laksmana terputus seketika oleh suara hantaman keras. Pintu kamar utama itu didorong terbuka secara kasar dari luar hingga membentur dinding dengan keras.
Sosok Radit berdiri kokoh di ambang pintu dengan napas yang memburu dan penampilan yang dipenuhi aura mengintimidasi. Matanya langsung menyapu seisi ruangan, berkilat tajam saat mendapati Vina baru saja bergerak dari posisi berlutut di lantai.
Radit melangkah lebar mendekati istrinya, mengabaikan keberadaan ibunya sendiri.
"Vina! Kau tidak apa-apa?" tanya Radit dengan nada suara yang sarat akan kecemasan, langsung membantu memapah tubuh Vina untuk bangkit berdiri.
Nyonya Laksmana yang melihat kedatangan putranya yang mendadak itu langsung tersenyum kaku menutupi kegugupannya. "Radit... kau kenapa sudah kembali jam segini? Bukankah seharusnya kau masih bekerja di markas militer dan harus menyelesaikan laporanmu?"
Radit tidak langsung menjawab. Ia merapikan rambut Vina yang sedikit berantakan dengan lembut, memastikan tidak ada luka pada tubuh istrinya. Setelah itu, ia membalikkan tubuhnya dan melayangkan tatapan mata elangnya yang sangat dingin, melirik tajam ke arah sang ibu.
"Aku pulang lebih awal karena aku mendadak merasakan ada hal aneh yang sedang terjadi di rumah ini, Ibu. Jadi, aku memutuskan untuk segera pulang," jawab Radit dengan nada menyindir yang sangat telak, membuat Nyonya Laksmana seketika bungkam dan salah tingkah.
Untuk mencairkan keadaan yang mendadak berubah menjadi sangat tegang itu, Radit kembali menoleh ke arah Vina dengan tatapan yang jauh lebih lembut. "Oh, iya... sepertinya masakan bekal sarapan yang kau buatkan untukku tadi pagi habis dimakan bersama oleh teman-temanku di markas. Jadi... sekarang perutku terasa sangat lapar. Apa bisa..."
Vina terperangah, menatap wajah suaminya dengan polos. "Apa? Jadi kau sendiri belum memakannya sedikit pun, Mas?"
Radit menganggukkan kepalanya dengan wajah yang dibuat seolah-olah sedang merajuk kelaparan di depan istrinya.
Melihat suaminya kelaparan setelah lelah bekerja, insting seorang istri di dalam diri Vina langsung bangkit. Ia mengulas senyum manisnya yang tulus. "Baiklah kalau begitu, aku akan segera turun ke dapur dan memasakkan makanan baru yang enak untukmu sekarang juga."
Sebelum melangkah pergi, Vina menoleh sopan ke arah ibu mertuanya yang masih berdiri mematung di samping ranjang. "Ibu... apa boleh aku izin ke bawah untuk memasak sarapan Radit?"
"I-iya... tentu saja boleh, turunlah sekarang," jawab Nyonya Laksmana dengan nada suara yang gagap dan senyuman yang dipaksakan.
Setelah memastikan Vina berjalan mendahuluinya ke bawah, Radit memberikan satu tatapan peringatan terakhir yang sangat dingin kepada ibunya sebelum akhirnya ia melangkah pergi menyusul sang istri ke dapur.
Setelah punggung tegap Radit dan langkah kaki Vina benar-benar menghilang di balik lorong tangga, Nyonya Laksmana seketika merosot duduk di atas sofa kamarnya. Ia mengembuskan napas panjang yang sangat lega, seolah baru saja lolos dari maut.
Ia menoleh ke arah pelayan kepercayaannya dengan wajah yang dipenuhi kekesalan yang mendalam. "Sial... aku sebenarnya berniat penuh untuk menjahati dan memberi pelajaran pada si Vina itu hari ini. Tapi kalau ada Radit yang selalu pasang badan melindunginya seperti itu, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa!"