"Lo jahat!"
Elvan menatap Aleta bingung. Gadis yang tiga tahun ini dia rindukan itu sangat berbeda. Kini rambut Aleta menjadi sebahu dengan wajah lebih dewasa dan semakin cantik. Dia menangis.
"Why? Gue balik karena pengen jadi yang terbaik buat lo."
"Lo tinggalin gue saat gue butuh!" teriak Aleta kemudian meninggalkan Elvan begitu saja.
"Dan sekarang gue kembali buat perjuangin lo," teriak Elvan menatap punggung Aleta yang semakin menjauh.
"Semoga saja belum terlambat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elvan 2- 032
032
Kemunculan Marco Kembali
Lo harusnya paham tentang apa itu rasa sakit.
.....
"Kenapa harus besok?" kesal Elvan saat Aletar memberitahukan bahwa dirinya baru diperkenankan pulang besok.
Aleta yang sedang mengupas jeruk tersenyum geli. "Ya sesuai sama kondisi kamu dong, Sayang. Masih belum pulih juga."
Elvan memanyunkan bibirnya. Pemuda itu kemudian mengotak-atik ponselnya dengan tekanan berlebih.
Aleta tertawa kecil saat melirik sang kekasih. Elvan bisa selucu itu ketika marah. Aleta pun mendekat sambil membawa piring berisi jeruk dan anggur yang sudah dibersihkan. Gadis itu duduk di sebelah Elvan dengan wajah tenang.
"Sabar aja. Kamu nunggu tiga tahun bisa sabar, masa cuma nunggu besok gak bisa?" Aleta menyerahkan satu bagian jeruk kepada Elvan.
Elvan membuka mulutnya, kemudian mengunyah jeruk itu masih dengan wajah kesal. "Yaw gimawnaw?" Elvan menelan jeruknya. Untung saja jeruk itu tidak berbiji. "Aku pengen banget nemuin pelaku itu secepatnya."
Aleta tersenyum mengerti, gadis itu kembali mengulurkan buah jeruk kepada Elvan.
"Semua udah diatur, Van. Kalau waktunya terungkap pasti terungkap. Lagi pula kita udah punya beberapa terduga."
Elvan mengangguk. Pemuda itu memencet satu foto yang dikirim Gavin. Dia memperlihatkan kepada Aleta foto itu. Foto berisi list terduga yang akan mereka awasi.
"Marco?" gumam gadis itu. Mungkin untuk list nama selain Marco dapat Aleta mengerti, namun untuk pemuda itu ... seperti tidak mungkin.
"Iya," kata Elvan sambil menarik ponselnya. "Dia hilang tanpa jejak setelah kamu tolak. Dan pelaku ini juga incar kamu."
Aleta membuka dan menutup mulutnya, dia tak sanggup untuk setuju ataupun menolak dugaan yang mereka berikan.
"Dan dia juga gak pernah datang saat ada kumpul The Charmer. Kalau masalahnya sama kamu, harusnya dia tetap berteman sama kita."
"Bisa aja, bisa aja dia balik kampung? Atau mungkin masih menenangkan diri?"
"Kita udah cari di tempat dia tinggal, gak ada. Aksa juga gak dapat balasan saat dia menanyakan keberadaan Marco."
Aleta menunduk, tangannya mengambil buah anggur dan menyuapkannya pada Elvan. "Aku masih gak percaya. Dia baik, mungkin memang sedikit keras waktu itu."
"Sabar aja. Ini baru dugaan."
.....
"Selamat ya udah jadian sama Elvan."
Aleta berbalik tak jadi membuka pintu mini market yang ada di dekat rumah sakit. Gadis itu terkejut saat Marco-lah yang baru saja mengucapkan selamat.
"Ma-mar-Marco?" gugup gadis itu.
Marco tersenyum perih menatap Aleta. "Iya ... ini gue."
"Kenapa, kenapa lo hilang?" tanya Aleta terbata.
Marco melangkah mendekat, pemuda itu menatap Aleta dengan sorot penuh luka. Bibirnya yang membentuk lengkung ke bawah dengan mata berkaca-kaca.
"Gue ... cuma punya waktu sedikit."
"Mar-"
"Ssttt, dengerin gue," potongnya dengan telunjuk di depan bibir Aleta.
"Gue cuma diberi waktu sedikit. Gue cuma perlu peringatin lo tentang Dia yang incar Elvan dan lo. Dia ada begitu dekat, gue gak boleh kasih tahu dia siapa meskipun gue tahu. Gue cuma mau bilang kalau hati-hati. Orang yang gak lo duga bisa aja pelakunya, termasuk ... gue, sahabat lo."
Mata Aleta melebar. Dengan cepat gadis itu menghempas tangan Marco dan mundur beberapa langkah. Tubuhnya bergetar menatap Marco yang terdiam kaku.
"Jadi ... dugaan mereka, benar?" tanya gadis itu dengan bergetar.
Marco terkejut, dia tak menyangka jika mereka menjadikan dirinya terduga. Namun, itu tak bertahan lama. Marco justru tersenyum sekarang.
"Gue gak peduli soal dugaan mereka. Pilihan benar atau salah ada di tangan lo, Ta. Yang jelas gue udah kasih tahu lo, Dia orang yang tak terduga."
......
"Gimana?"
Gavin mendudukan diri di sebelah Aksa. Aksa menoleh kemudian menggeleng. "Belum ketemu. Dia gak bisa dihubungin."
"Sial. Jadi kita mulai dari Hendra?" tanya Gavin yang dibalas anggukan oleh Aksa.
Gavin langsung mengeluarkan ponselnya, mencari nomor Kavin dan segera menghubungi pemuda itu.
"Kita pindah haluan, awasi Hendra!" katanya.
"Gue sama Alam aja. Lo sama yang lain cari cewek itu di kampus."
Gavin menatap Aksa yang mengangguk. "Oke."
Gavin mematikan telponnya. Pemuda itu langsung menatap Aksa yang sudah mengotak-atik ponselnya.
"Udah gue hubungin, langsung meluncur ke sana aja," kata Aksa.
......
"Mereka belum tahu?"
"Belum."
"Bagus. Buat mereka semakin terjebak," kata pria bertopeng itu. Kini dirinya sedang melakukan panggilan bersama pria berhoodie merah.
"Bos, soal orang tambahan bakalan datang bulan depan."
Pria itu menurunkan ponselnya, mengangguk mengerti. "Kau sudah memastikan?"
"Iya."
"Bagus."
Si anak buah mengangguk kemudian menunduk. "Maaf bos, tapi ... bagaimana caranya bos membujuk dia bergabung?"
Pria yang menjadi bos pun tertawa keras. "Tentu saja negosiasi yang pandai. Padahal dia pun akan menjadi korban."
......
Suasana ruang rawat Elvan kembali ramai. Canda tawa kembali hadir karena kedatangan Herman dan Vela yang menjenguknya. Mereka bercerita dan tertawa bersama.
"Ya begitulah. Sebentar lagi kamu juga pulang 'kan?" tanya Herman.
Elvan mengangguk. "Ya begitu Om. Alhamdulillah sih udah boleh pulang."
"Besok siapa yang jemput?" tanya Vela.
Elvan tersenyum tipis. "Temen Tante, nanti juga sama Aleta. Iyakan?" tanya Elvan menatap Aleta. Namun, Aletanya sibuk melamun.
"Ta?" panggil Elvan pelan. Herman dan Vela juga ikut memperhatikan Aleta.
"Aleta?" panggil Elvan sekali lagi dan berhasil membuat Aleta terkejut.
"Apa? Kamu butuh sesuatu?"
Elvan tersenyum tipis, sedangkan Herman dan Vela merasa tak enak.
"Ada apa? Kamu kaya gak fokus gitu?"
Aleta tersenyum canggung. "Enggak apa-apa. Cuma kaya pusing dikit," kilahnya. Padahal dia sedang kepikiran soal perkataan Marco.
Wajah Elvan langsung berubah cemas, begitupun dengan Herman dan Vela. "Kecapekan karena jagain aku? Kamu juga harus kuliah dan bolak balik ke rumah."
Aleta panik, gadis tu cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak bermaksud membuat Elvan merasa bersalah seperti sekarang. Dia hanya membuat pengalihan jawaban agar Elvan tak tahu tentang Marco.
"Bukan... aku sama sekali gak capek kok. Mungkin emang cuaca aja yang bikin pusing."
"Ta?" panggil Elvan. Wajahnya jelas tak percaya dengan alasan sang kekasih.
"Aku pulang dulu ya? Biar Ayah sama Mama yang jaga kamu sebentar. Boleh, Yah?"
Herman tak langsung menjawab. Pria itu lebih dulu menatap Elvan sebelum akhirnya memberikan anggukan.
......
"Tumben udah pulang!" kata Aksa yang akan pulang, namun berhenti ketika melewati rumah Aleta dia melihat gadis itu.
Aleta yang baru saja menutup gerbang pun mendongak. "Pusing. Mau mandi bentar," jawab Aleta.
Aksa pun turun dari motor, dia mendekati Aleta. "Boleh ngomong berdua?"
Aleta mengangguk. Gadis itu kembali membuka gerbang agar Aksa masuk. Setelah itu kembali menutup gerbang dan berjalan bersamaan memasuki rumah.
"Lo duduk aja dulu, gue mandi bentar!" kata Aleta yang dibalas anggukan oleh Aksa.
Tanpa menunggu lama, Aleta langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Aksa menatap gadis itu sampai dia benar-benar menghilang. Lalu berdiri menuju dapur untuk membuat minum. Matanya terus menjelajah memperhatikan dapur milik Aleta. Setelah selesai, Aksa pun kembali menuju ruang tamu dengan 2 gelas teh hangat.
Cukup lama Aksa menunggu Aleta, tehnya pun sudah setengah terminum. Namun, Aleta belum juga turun. Aksa mengembuskan napasnya pasrah. Terlebih saat tak sengaja menatap foto gadis itu yang terpajang jelas di dinding ruangan. Dia jadi teringat bahwa sahabatnya kini telah kembali dengan Elvan. Mungkin dia terlihat baik-baik saja kemarin, tapi nyatanya hatinya remuk.
"Maaf lama ya?" tanya Aleta yang baru saja menuruni tangga.
Aksa mendongak dengan gelengan kepala dan tersenyum tipis. "Enggak papa. Gue hapal lo suka mandi lama-lama."
Aleta tertawa kemudian duduk di hadapan Aksa.
"Tuh teh panas jadi dingin kayanya," kata Aksa sambil menunjuk teh yang ada dihadapan Aleta.
Aleta meringis dengan menggaruk tengkuknya. "Maafin ya?"
"Iya, minum dulu baru kita bicara."
Aleta pun mengangguk. Gadis itu akhirnya meminum teh buatan Aksa dengan pelan. Setelahnya, kembali meletakan gelas di atas meja.
"Enak. Kaya biasa." Aleta tersenyum manis.
"Iya dong, Aksa!" bangga pemuda itu.
Aleta tertawa bersama Aksa.
"Oiya, mau ngomongin apa?"
.....
aajahajaha
masih ada nggak kelanjutannya Thor
pembacamu masih menunggu nih 😊🤗
up lg thor..up lg