Arianna Safi mengalami penganiayaan yang membuatnya meninggal. Tidak disangka dia justru masuk ke dalam tubuh figuran antagonis di novel yang dia baca sebelum meninggal.
Figuran antagonis itu bernama Arianna Serafine Wezen yang merupakan kembaran dari antagonis cerita yaitu Catalina Hermione Wezen.
Arianna yang diberi kesempatan untuk hidup pun bertekad untuk merubah takdir agar tidak sesuai dengan alur cerita dimana dia, Catalina dan keluarganya mengalami kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit_vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32: Melihat Masa Lalu?
...-<{ SELAMAT MEMBACA}>-...
"Sebelumnya saya minta maaf jika saya lancang bertanya ini, bukankah yang seharusnya melindungi dalam perang itu Penyihir Agung?"
Yang Arianna tahu dalam narasi komik yang singkat, Penyihir Agung dalam Kekaisaran memang ditugaskan untuk melindungi pihaknya menggunakan kekuatan sihir miliknya.
Suara kasak-kusuk dari beberapa bangsawan jelas terdengar di telinga Arianna yang baru saja mengajukan pertanyaan itu. Tentu saja kasak-kusuk itu memuat kalimat negatif didalamnya.
Kaisar justru tertawa menanggapi pertanyaan Arianna, "Memang benar bahwa itu tugas Penyihir Agung. Akan tetapi, perang kali ini berskala besar karena Kerajaan Helio bersekutu dengan bangsa Elf. Siapa yang akan melindungi Kekaisaran bila Penyihir Agung ikut berperang? Dan jikalau kau lupa, putraku juga seorang Penyihir."
"T-tap-"
"Sudahlah. Aku tidak apa-apa, Anna." potong Ezekiel cepat. Eze menggenggam tangan Arianna, "Sebaiknya kita kembali saja, aku tidak mau kau menghabiskan tenagamu untuk berdebat dengan Pak Tua itu."
Arianna menatap Ezekiel tidak setuju, "Tapi kan kita baru saja menikah, Eze!"
Eze menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa Arianna tidak perlu beradu argumen lagi, "Menurutlah padaku untuk kali ini saja, Anna."
Kalau Ezekiel sudah bicara seperti itu, Arianna hanya bisa pasrah. Arianna membungkam mulutnya rapat-rapat bahkan saat memberi salam pada Kaisar.
Selepas keluar dari ruang singgasana, Ezekiel menahan langkah Arianna. Namun setelah ditunggu-tunggu, Ezekiel tak kunjung bicara apa-apa. Pria itu justru kembali melanjutkan langkahnya sembari menggandeng tangan Arianna.
'Dasar cowok aneh!' maki Arianna dalam hati.
Arianna memandangi sekelilingnya dan tidak tahu hendak dibawa kemana dirinya. Istana Kekaisaran yang dilihatnya sekarang jauh lebih besar dari istana Kerajaan Naveer. Lalu tibalah mereka berdua di depan sebuah bangunan yang tampak usang dan tak terlihat seperti berpenghuni.
Kriet
Ezekiel membuka pintu gerbang yang besar itu hingga berderit nyaring. Selepas membukanya, Ezekiel melirik Arianna seraya menggandeng tangannya lagi. Pria itu mengajaknya masuk ke tempat itu.
"Bangunan apa ini?" tanya Arianna setelah sampai di depan bangunan itu.
Arianna melangkahkan kakinya untuk melihat lebih dekat detail bangunan di depannya yang menurutnya cukup seram. Arianna menduga-duga apakah ini salah satu bagian dari penjara Kekaisaran.
Bangunan ini memiliki bentuk arsitektur yang menurutnya mirip katedral di Eropa yang pernah dia lihat di sosial media. Lalu di sebelah bangunan ini terdapat taman yang sudah lama tidak diurus. Tempat ini benar-benar suram seperti ...
"Ezekiel!" Arianna terkejut saat melihat tubuh Ezekiel diselimuti kabut hitam.
"Astaga! Apa kau baik-baik saja?" Arianna mencoba mendekati Ezekiel dengan wajah panik. Arianna takut kalau-kalau kejadian yang waktu itu terulang lagi, yang mana Ezekiel nampak begitu kesakitan dan dia yang tidak tahu harus berbuat apa.
"Seandainya kau orang lain, mungkin reaksimu justru menjauhiku. Aku yang seperti ini terlihat mengerikan bukan?" ucap Ezekiel lirih.
"Kau ini bicara apa sih!?" sentak Arianna, Arianna mengibaskan tangannya untuk mengusir kabut hitam yang menyelimuti tubuh Eze.
"Anna, sewaktu kecil aku sudah terbiasa seperti ini. Lalu tempat ini adalah penjara mewah yang diberikan Pak Tua padaku."
Arianna menghentikan aktivitasnya yang tidak berguna. Dia terhenyak mendengar cerita singkat Ezekiel. Ternyata sudah lama sekali Eze mengalami diskriminasi.
"Dari dulu hingga sekarang semua orang mengucilkanku, mungkin karena aku memang mengerikan." sambung Eze.
Arianna menggelengkan kepalanya cepat, "Eze yang ku lihat sekarang justru terlihat seperti anak kecil yang ingin dipeluk." Arianna merentangkan tangannya, "Ezekiel yang tampan, butuh pelukan?"
Eze lantas memeluk Arianna erat. Elusan di tangan Arianna di punggungnya membuat Eze tidak ingin melepaskan Arianna.
'Sejak dulu aku bertanya-tanya apa yang ku inginkan? Hingga akhirnya pertanyaanku sudah terjawab.'
Kabut hitam yang menyelimuti tubuh Eze perlahan hilang. Akan tetapi, Arianna tiba-tiba saja merasa pusing dan seketika pandangannya menggelap.
"Anna?" Panggil Eze saat menyadari ada yang aneh dengan Arianna. Dia mengurai pelukannya tanpa melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Arianna.
"Anna!" Ezekiel kalang kabut saat tahu Arianna pingsan, "Sial! Ini pasti karena aku."
Tidak ingin membuat keributan lebih lanjut, Eze membawa Arianna menuju kamarnya.
...🤍🖤🤍...
"hiks"
Arianna membuka matanya saat mendengar suara isak tangis anak kecil. Isakannya terdengar dalam. Namun saat tersadar, Arianna tidak tahu dia ada dimana sekarang.
"I-ibu ..."
Lagi-lagi suara anak itu terdengar, Arianna lantas bangun dan mencoba berjalan di tempat yang gelap tanpa ada penerangan sama sekali. Anehnya, Arianna seolah-olah tahu akan kemana kakinya melangkah.
Arianna terus berjalan menyusuri lorong gelap hingga sampailah dia di sebuah pintu yang mana terdapat sebuah obor di dekat pintu.
Ctar
Jantung Arianna berdegup kencang saat tahu suara apa itu. Karena penasaran, Arianna memberanikan diri untuk membuka pintu itu dan melihat apa yang sedang terjadi.
Saat ingin memegang gagang pintu, Arianna justru hampir tersungkur jatuh ke lantai. Arianna amat sangat terkejut saat tahu dirinya bisa menembus pintu.
Lalu apa yang dilihatnya di dalam kamar membuatnya lebih terkejut lagi. Arianna melihat seorang anak yang berada di tengah lingkaran lilin sedang dicambuk oleh seorang wanita yang tampaknya pernah dilihatnya.
Arianna berlari mendekati anak kecil itu dan ingin menyelamatkannya, sayangnya dia kembali tersadar bahwa dirinya sekarang seperti hantu yang tidak bisa menyentuh apapun.
"Maafkan ibu, Ezekiel, ini semua demi kebaikanmu. Heires Yang Agung akan memberimu kekuatan untuk menjadi Putra Mahkota Kekaisaran yang kuat."
Mata Arianna membulat sempurna. Dia ingin sekali berbicara sebagai ungkapan rasa terkejutnya, akan tetapi tidak bisa. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya benar-benar menyaksikan sosok anak kecil yang diketahuinya bernama Ezekiel.
'Nggak mungkin itu Ezekiel kecil.' Mata Arianna berkaca-kaca kala melihat anak kecil yang bisa dia taksir berusia lima tahun tengah meringkuk bersimbah darah.
Arianna menutup mulutnya dengan tangan dan mengangis dalam diam melihat sosok Ezekiel kecil yang dianiaya langsung oleh ibunya sendiri.
"*Sayangku, Ezekiel ... Setelah ini, kau akan mendapat*kan mana sihir dari Heires Yang Agung. Persiapkan dirimu, anakku."
Wanita itu lantas pergi begitu saja meninggalkan Ezekiel kecil dan berjalan tenang hingga menembus tubuh Arianna.
Saat hendak membuka pintu, wanita itu berhenti, "Andai saja kau terlahir dengan bakat sihir, aku tidak perlu bersusah payah dan kau tidak perlu kesakitan seperti sekarang, Eze."
Selepas mengatakan itu, ibu Ezekiel benar-benar pergi meninggalkan Eze yang terluka parah.
Arianna sungguh ingin menolong Ezekiel kecil yang membuatnya menangis tergugu karena tidak tega. Kemudian pandangan Arianna menjadi terbayang-bayang diiringi rasa pusing yang membuatnya harus memejamkan matanya erat-erat.
Arianna lantas membuka matanya kembali saat rasa pusing itu menghilang. Lalu yang dilihatnya sekarang adalah sosok Ezekiel yang tengah berdiri memandangi sebuah lukisan besar seorang wanita.
"Wanita itu ..." gumam Arianna saat melihat lukisan itu benar-benar mirip dengan wanita yang dilihatnya tadi.
Mendengar gumaman seseorang, Eze yang peka pun berbalik badan dan berjalan cepat menghampiri Arianna.
"Anna!"
Melihat Ezekiel yang tumbuh dewasa menjadi pria tampan dan berdiri di depannya membuat Arianna terharu. Arianna tidak bisa menahan air matanya yang jatuh begitu saja.
"Hei, kenapa menangis? Apa ada yang sakit?" tanya Eze bingung.
"E-eze ... A-apa b-benar itu i-ibumu?" tunjuk Arianna pada lukisan wanita cantik.
Ezekiel menoleh pada objek yang ditunjuk Arianna, "Ya, itu ibuku." Ezekiel kembali memandang Arianna, "Ada apa?"
Arianna ingin bercerita bahwa dia baru saja bermimpi bertemu dengan sosok Ezekiel kecil, namun karena tangisannya membuatnya tidak jadi bercerita.
Ezekiel mengambilkan air minum lalu dia berikan pada Arianna agar berhenti menangis.
"Minumlah dulu, tampaknya pingsan yang kau rasakan membawamu pada mimpi buruk." Ezekiel membantu Arianna minum air putih.
Benar saja, setelah minum Arianna berhenti menangis. Dengan mata bengkaknya, Arianna memandang Eze, "T-tadi aku bermimpi bertemu denganmu."
"Lalu?" tanya Eze sambil duduk di tepi ranjang.
"Di d-dalam m-mimpi, aku melihatmu saat masih kecil." dengan suara seraknya Arianna bercerita, "K-kau menangis kesakitan di lingkaran lilin."
Deg
'Anna bisa melihat masa laluku?'
Bersambung...
Halo semuanyaa😊
Sebelumnya aku mau ucapin maaf yang banyak karena ga bisa update setiap hari☹️ Maap kalo aku keseringan banyak cing cong di akhir chap, karena aku ngerasa seneng kalian mau baca ceritaku😊. Tapi ya itu ... Aku ga bisa update setiap hari dan kadang bisa tiga hari sekali baru update. Sekali lagi maaf ya teman-teman 🙏
Oh iya, jangan lupa mampir ceritaku yang lain yaaa😁, see u next chapter guys 🤍Jangan lupa jaga kesehatan!!!