"Dewa, sebaiknya kamu menikahi Gita saja. Supaya tidak memutus kasih sayang dari Mamanya yaitu mendiang Tya. Kalau wanita lain, belum tentu dia bisa menyayangi Qinan."
Suara Bu Endang terdengar dan meminta Dewa untuk menikahi adik iparnya sendiri yaitu Gita. Dewa yang baru saja menjadi duda terpaksa Turun Ranjang.
Apakah tragedi turun ranjang ini akan berakhir bahagia? Atau hanya formalitas semata untuk memberikan kasih sayang dan membersamai tumbuh kembang Qinan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan Long Distance Sepekan
Selang beberapa waktu berlalu, Dewa pulang dari kantor dengan wajah muram. Semua itu karena dia harus mengerjakan pekerjaan ke Bintan dan Tanjung Pinang. Selama lima hari, dia harus berada di luar pulau. Memang jarak Batam dengan Tanjung Pinang hanya dipisahkan semenanjung dan dapat ditempuh dengan kapal ferry selama satu jam perjalanan. Akan tetapi, Dewa merasa sedih ketika harus berjauhan dengan Gita.
"Pulang dari kantor kok muram sih, Mas?" tanya Gita dengan membuatkan Teh Susu untuk suaminya itu.
"Yang, hari Senin nanti, aku harus bekerja dulu ke luar pulau. Ke Tanjung Pinang dan Bintan selama lima hari. Gimana?"
Agaknya Gita sedikit tahu dan bisa menerka bahwa muramnya wajah suaminya itu karena Dewa akan bertugas ke Tanjung Pinang. Gita sebenarnya tidak asing dengan pekerjaan suaminya, dia memang dari dulu sudah tahu bahwa Dewa ada kalanya bisa bekerja ke luar pulau. Dulu, saat Dewa bekerja ke Tanjung Pinang, bahkan mendiang kakaknya juga sering menginap di rumah Mama.
"Oh ...."
"Jawabanmu hanya itu?" tanya Dewa.
"Hm, kan memang pekerjaan Mas Dewa begitu. Sejak dulu pun begitu," balas Gita.
"Kali ini aku tidak ingin pergi, Yang. Kamu tahu kenapa kan?" tanya Dewa yang masih terlihat muram.
"Hm, kenapa?"
"Kamu. Ya, alasannya adalah kamu. Kita baru saja membuka diri dan hati untuk satu sama lain, bahkan baru pertama juga kita melakukannya. Jadi, aku pengen memiliki kesempatan lagi berdua. Justru malahan tugas ke luar pulau."
Chandra mengatakan semuanya itu seolah tengah menggerutu. Baru kali pertama juga menyatu dengan Gita. Akan tetapi, dirinya sudah harus bertugas untuk sepekan lamanya.
"Oh, itu."
Dewa melirik Gita. "Kenapa jawabannya cuma Oh saja sih? Padahal aku benar-benar resah."
"Ya, kalau bekerja sebaiknya bekerja dulu saja. Tidak apa-apa. Urusan Qinan percayakan saja kepadaku. Aku akan siapkan kopernya besok yah," balas Gita.
Dewa tanpa permisi kemudian memeluk Gita. Dia masih rindu, dia masih ingin memiliki kesempatan berdua dengan Gita. Sayangnya justru ada pekerjaan ke luar pulau. Rasanya Dewa menjadi kesal dan resah di waktu bersamaan.
"Aku rindu ... dan, mendamba," kata Dewa lirih di sisi telinga Gita. "Aku tidak salah kan? Aku ini pria normal pada umumnya yang menginginkan istriku sendiri," balasnya.
Gita tersenyum tipis. Dia kurang paham hal demikian. Namun, ucapan dan pelukan Dewa yang begitu erat seolah menjadi bukti bahwa Dewa sungguh-sungguh mencintainya.
"Bekerja dulu, aku tunggu Mas Dewa sampai pulang di hari Jumat sore," balas Gita.
"Apa kamu sedingin ini, Ta? Ketika aku mendamba, tapi kamu respons-nya begitu. Ck, kamu ini."
Dewa kemudian mengurai pelukannya, dia mencapit dagu Gita dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Lantas Dewa pangkas jarak wajahnya, inci demi inci dia pangkas, hingga bibirnya hanya tinggal beberapa inci saja bisa mengecup bibir Gita. Akan tetapi, di saat itu Qinan keluar dari kamar bermain dengan merangkak dan mengoceh babbling ke arah Gita dan Dewa.
Refleks, Dewa pun menarik wajahnya dan melepaskan jari-jarinya yang mencoba mencapit dagu Gita. Gita tersenyum, dia mengalihkan wajahnya dan segera memangku Qinan. Tak lupa Gita mengambil tissue untuk menyeka air liur di bibir hingga dagu putrinya itu.
"Mma ...."
Suara Qinan yang keras dan terdengar sedikit cempreng itu memanggil Gita. Rasanya setiap kali Qinan memanggilnya membuat Gita menjadi begitu senang. Bahkan tiba-tiba Qinan berdiri dan mencium pipi Mama Gita.
"Mmaa ...."
Qinan berkata demikian dengan bertepuk tangan. Anak kecil itu begitu menggemaskan. Dewa kemudian membuang napas, dan berkata kepada Gita.
"Bahkan aku kalah dari Qinan."
Gita tersenyum saja. Semakin Dewa membuka dirinya, rasanya banyak sifat Dewa yang baru sekarang Gita ketahui. Bahkan kesalnya Dewa sekarang menjadi hal lucu untuk Gita.
"Apa kamu ikut aku ke Bintan, Yang?" ajak Dewa sekarang.
Gita cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Gak bisa, Mas. Bukannya aku tidak mau, tapi aku juga masih palang merah. Maaf, gak bisa," balasnya.
"Berapa lama?"
"Siklusku bisa tujuh hari, Mas."
Dewa bersandar di sofa dan memejamkan matanya. "Ya Allah, lama banget yah. Sabar Dewa, sabar," balas Dewa dengan menunjukkan raut wajah yang begitu kasihan.
"Ppa," panggil Qinan.
Dewa kembali membuka matanya. "Ya, Qinan Sayang."
Bocah kecil itu berganti duduk di pangkuan papanya. Dewa tersenyum. Rasa kesal dan mendamba teralihkan dengan mengajak bonding Qinan. Sedangkan Gita tersenyum saja, dia memang sedang berhalang sehingga tidak bisa memberikan apa yang dimaui oleh suaminya.
capek bangeeeettt
capek badan ngurus ponakan sekalian hamil
capek hati, terpaksa memaklumi suami yg selalu membanding2kan dg almh sang kk
dih laki bersyukur
tau gitu, rawat aja anaknya ga usah kawinin bapaknya