Dijodohkan sejak bayi, kemudian sempat dekat bahkan pacaran, sebelum akhirnya terpaksa memilih berpisah, Calista tidak menyangka jika pada akhirnya, ia akan kembali bahkan menikah dengan Sabiru, pria berusia 33 tahun yang sempat membuatnya sibuk menghindar.
Sebab demi melindungi Calista yang usianya terpaut enam tahun lebih muda darinya, Sabiru yang selalu bertaruh segalanya asal Calista baik-baik saja, berakhir mengalami patah tulang kaki maupun tangan kanan, selain pengusaha muda sangat bertanggung jawab itu yang juga sampai terkena cacar. Keadaan tersebut membuat Calista dan Sabiru harus secepatnya menikah, agar Calista bisa merawat Sabiru dengan leluasa, seperti yang Calista harapkan.
Menjalani pernikahan karena keadaan yang memaksa, dengan sosok yang pernah ada rasa dan selalu menjadikannya sebagai satu-satunya cinta. Ingin menghindar, tapi rasa peduli apalagi rasa sayang makin lama jadi makin besar. Semua itu membuat Calista menjalani setiap detik waktu yang dimiliki dengan dada berdebar-debar. Terlebih, sekadar menatap saja, Sabiru selalu melakukannya penuh cinta.
💗Merupakan bagian novel : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia & Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam 💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 : Kode Mengerikan Dari Anak-Anak
“Mbak sama mas Sabiru lagi berantem? Masa iya, mendadak nangis kejer gitu?” Suara ibu Chole terdengar berat khas orang baru bangun tidur.
Karena kedua anaknya tak kunjung berhenti menangis, Calista memang menghubungi mamahnya.
“Enggak, Ma. Enggak ada yang berantem. Tiba-tiba aja si kembar nangis enggak berhenti-berhenti,” yakin Calista sambil sesekali menoleh ke belakang. Di sekitar tempat tidur sana, ibu Azzura masih berusaha menenangkan Gemilang, sementara Sabiru melakukan hal yang sama kepada Gemintang.
“Tapi sudah dicek ke mama Azzura juga? Takutnya sakit apa gimana?” sergah ibu Chole yang kemudian terdengar membangunkan pak Helios.
Meski tahu orang tuanya tak mungkin melihatnya mengangguk, Calista refleks mengangguk. “Sudah, Mah. Sudah dicek. Mama Azzura bilang, semuanya normal. Terus, papa Excel juga bantu doa-doa. Namun semuanya belum mendapatkan hasil. Gemilang dan Gemintang, tetap saja nangis.”
“I-ya, Mbak. Ini Papa sama Mama ke sana, ya. Kamu yang tenang, coba tenangkan pikiran kamu. Karena ibaratnya, pikiran maupun suasana hati orang tua apalagi seorang ibu, bisa nyetrum ke anak,” ucap pak Helios terdengar sangat buru-buru.
Sekitar satu jam kemudian, orang tua Calista sudah sampai rumah orang tua Sabiru. Kedua cucu mereka sudah bisa tidur, tapi masih sesenggukan. Para orang tua membagikan kekhawatirannya melalui obrolan lirih. Sementara Sabiru berangsur mengajak sang istri untuk tidur.
“Enggak apa-apa lah, Mas. Takut mereka nangis lagi. Ini asi aku banjir karena dari tadi, mereka enggak mau nenen. Aku pompa dulu,” ucap Calista yang segera menyiapkan keperluan pompa asi miliknya.
“Kalau gitu, aku siapkan teh hangat sama sup dulu,” pamit Sabiru masih jadi suami sekaligus orang tua siaga.
Calista mengangguk-angguk. Kemudian fokus Calista tertuju kepada sang papah yang menghampirinya.
“Besok kan Papa mau ke Kalimantan, jadi besok malam mama tidur di sini. Harusnya sih semuanya baik-baik saja,” ucap pak Helios.
“Kok ke Kalimantan, Pah?” tanya Calista.
Untuk sejenak pak Helios terdiam, dan memang bingung harus membalas apa.
“I-ya, kan memang ada acara,” lembut pak Helios yang kemudian memeluk Calista.
“Tapi Papa di sini saja. Kalau ada apa-apa lagi gimana?” rengek Calista merasa sangat nelangsa. Terlebih jika ia ingat ketika kedua anaknya kompak menangis tak mau berhenti.
“Enggak ada apa-apa, di sini aman. Ada papa Excel juga. Mama Chole dan mama Azzura juga ada. Apalagi suamimu sesayang itu kan. Sabiru selalu siaga,” lembut pak Helios masih meyakinkan.
“Tapi lusa mas Bi ke Bandung. Berangkatnya subuh-subuh, pulangnya malam. Memang hanya sehari sih,” ucap Calista.
“Jangan boleh! Papanya anak-anak jangan boleh pergi jauh-jauh dulu. Selama tujuh hari ini, usahakan jangan pergi-pergi dulu. Kerja pun dari rumah saja.” Pak Helios berucap tegas.
Perubahan emosi pak Helios yang begitu tragis, menjadi kekhawatiran tersendiri untuk Calista.
“Pantas anak kamu nangis-nangis heboh, mereka kan masih sensitif banget,” lanjut pak Helios berangsur menyudahi pelukannya terhadap Calista.
“Maksud Papa apa? Mas Sabiru kan pergi buat urus kerjaan. Memang mau buka cabang di Bandung, dan rencananya pun sekalian bikin rumah di sana. Biar pas ada urusan di sana, papanya anak-anak bisa sekalian boyong kami,” Calista menjelaskan dengan sangat hati-hati di tengah tatapan seriusnya yang menatap serius kedua mata sang papah.
Calista yakin, ada maksud lain dari ucapan papanya. Malahan, alasannya ingin orang tuanya khususnya papanya datang menemui Gemilang dan Gemintang, agar papanya yang memiliki indra keenam, memeriksa keadaan secara teliti.
Setelah menghela napas dalam, pak Helios yang juga masih menatap kedua mata sang putri penuh pengertian berkata, “Anak-anak belum siap berpisah dengan papanya. Emang enggak bagus sih kalau Sabiru pergi besok. Nah lihat, ... Papa sampai merinding!”
Merinding, Calista juga sudah langsung mengalami itu ketika menyaksikan bulu kuduk sang papa kompak berdiri.
“Ya sudah deh Pa, nanti aku bilang ke papanya anak-anak,” ucap Calista.
“Iya, nanti Papa juga bilang ke suami kamu. Atau kalau enggak, Papa ke Kalimantannya kalau Gemilang dan Gemintang, sudah tujuh hari saja. Setelah puputan bayi saja,” ucap pak Helios mendadak mengubah rencana bahkan pikirannya.
Ketika akhirnya Sabiru datang, pembahasan jadwal Sabiru yang diwajibkan tetap di rumah selama tujuh hari ke depan, membuat semuanya bertanya-tanya. Kebanyakan dari mereka khawatir, terlebih jika mengaitkannya dengan tangis si kembar yang benar-benar membuat mereka merinding.
“Kalau gitu, besok yang pergi Papa saja,” ucap pak Excel dan pak Helios sudah langsung menyarankannya agar memakai motor.
“A-duh, Opanya si kembar. Apa aku masih sanggup perjalanan jauh pakai motor?” lirih pak Excel sambil menatap sedih sang sahabat yang kini sudah menjadi besannya. Namun, pak Helios malah menertawakannya.
“Ya sudah, besok aku antar pakai helikopter!” ucap pak Helios di sela tawanya.
“Memang siapa sih, yang mau macam-macam ke keluarga kita terlebih Sabiru? Masa iya, Yasnia masih main guna-guna?” tanya pak Excel penasaran.
“Kurang paham, tapi para bayi sudah kasih kode,” ucap pak Helios.
Diam-diam, Sabiru dan Calista yang masih menyimak di tempat tidur menjadi sibuk merinding. Namun, Sabiru meminta Calista fokus memompa asi sambil menerima suapan darinya.