Dewa dan Sassy menikah setelah mama Sassy yang sakit keras ingin melihat putrinya menikah sebelum ia meninggal dunia. Tapi tidak ada yang mengetahui bahwa sebenarnya keduanya telah menyimpan cinta mereka dengan dalam, dalam waktu yang sangat lama.
Apakah penyatuan yang tiba-tiba membuat semuanya berjalan mulus dan bahagia begitu saja? Tidak!
Perbedaan status yang sangat jauh membuat Sassy menjauhi Dewa hanya karena dia merasa tidak pantas!
Lalu apa yang akan dilakukan oleh Dewa untuk mengejar istri cantiknya yang berusaha kabur setiap hari?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_OK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Setelah kejadian di ruangan Dewa hari itu, Saskia tidak pulang ke rumah. Tetapi pergi ke rumah sakit. Dia dengan sengaja menyayat pergelangan tangannya untuk memaksa orang tuanya menyetujui permintaannya. Saskia dimanjakan sejak ia masih kecil. Dia hampir tidak pernah terluka. Jadi dia adalah tipe gadis yang takut pada rasa sakit sekecil apapun. Namun demi memenuhi ambisinya, ia akan melakukan apapun. Dia juga takut mati, sehingga dia hanya menggores pergelangan tangannya dengan sangat tipis. Yang hampir tidak mengeluarkan darah.
Saat Derry dan Rina datang, Saskia sudah tidur. Membiarkan Risa mengambil bagiannya.
Derry dan Rina sakit hati melihat wajah pucat putrinya. Lebih sakit lagi melihat tangan putrinya yang terbalut perban dengan noda merah cerah merembes di atasnya. Tentu saja itu bukan darah Saskia sendiri. Karena luka yang dibuatnya tidak mengeluarkan banyak darah, untuk lebih mendapatkan efek yang dia inginkan, ia mengeluarkan banyak uang untuk menyuap dokter untuk bekerjasama dengannya. Dokter itulah yang dengan sengaja memberikan darah dari kantong darah yang sama uang digantung di tiang di samping tempat tidurnya untuk lebih meyakinkan.
Tidak mendapat penjelasan dari Saskia yang tertidur, Rina berbalik dan menarik Risa masih menunggu di sana dengan gugup. Melihat istrinya keluar dari ruangan bersama dengan Risa, Derry mengikuti.
Di dalam ruangan, Saskia yang ditinggalkan sendiri membuka matanya yang sebelumnya menutup rapat. Tersenyum sinis di sudut bibirnya.
"Risa kamu selalu bersama nya kan? Kamu pasti tahu apa yang terjadi. Katakan padaku sekarang!" Rina bertanya dengan tidak sabar. Ia memegang lengan asisten putrinya saat ia bertanya. Derry yang diam di samping juga menunggu jawaban dari asisten yang diperintahkan oleh nya untuk mengikuti putrinya. Tidak lupa, ia memberi sedikit tekanan agar Risa tidak akan mengkhianati nya.
Risa menatap Rina yang panik. Melirik Derry dari sudut matanya dan segera meyakinkan dirinya sendiri. Setelah itu mulai menceritakan apa yang terjadi di kantor Dewa.
"Apa?! Jadi Saskia belum melepaskan obsesinya pada tuan Dewa?" Rina terkejut mendengar jawaban Risa. Setelah beberapa waktu berlalu tidak ada kelakuan aneh pada Saskia yang menunjukkan bahwa dia benar-benar telah menyerah pada obsesinya. Membuat nya menghela napas lega. Namun dia tidak menyangka jika diamnya putrinya saat ini hanyalah kamuflase yang membuat ia dan suaminya lengah untuk sementara waktu.
Bukan hanya Rina yang terkejut, Derry juga terkejut. Namun ia masih bisa memeprtahankan ketenangannya.
"Sayang, tunggu di sini dulu menemani Saskia, aku akan pergi menemui dokter." ucap Derry tenang sebelum berbalik dan pergi.
Derry kembali ke ruangan setelah menemui dokter untuk menanyakan kondisi putrinya. Karena sebelumnya dokter sudah disuap oleh Saskia, tentu saja dokter akan mengatakan jika kondisi Saskia yang buruk dan bahkan hampir kehilangan nyawanya jika mereka terlambat sedikit saja. Mendengar penjelasan Dokter, Derry mengerutkan keningnya. Dia sudah tahu jika Putrinya ini memang keras kepala, tetapi dia tidak menyangka jika dia akan sampai melakukan hal seperti ini untuk mendapatkan keinginannya.
Melihat suaminya kembali, Rina segera menghampirinya dan menanyakan k3adaan putri mereka. Derry mengulangi apa yang dikatakan dokter padanya tanpa menyembunyikan apapun darinya. Rina menutup mulutnya untuk menahan suara isak tangisnya mendengar keadaan serius sangat putri yang telah ia manjakan sejak masih kecil.
Tepat ketika Derry menyelesaikan ucapannya, Saskia perlahan menggerakkan tangan kirinya yang terluka. Lalu meringis saat merasakan perih.
Melihat gerakan kecil di atas ranjang, Rina segera bergegas. Menghampiri putrinya dengan panik. Menghiburnya dengan senang hati. "Tidak apa-apa sayang. Mama dan papa sudah ada di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu."
Derry tidak mengatakan apapun. Tetapi matanya yang penuh kekhawatiran menjelaskan bahwa bawa dia juga peduli pada keadaan sang putri.
"Mama, kenapa Dewa tidak mau menerimaku? Hiks hiks..." Saskia langsung menangis saat melihat mata khawatir mamanya. Mengutarakan keluhannya dengan jelas.
"Sayang lupakan tuan Dewa, oke? Dia adalah pria yang sudah beristri. Tidak baik mengejarnya seperti itu." Rina menasehati putrinya tanpa daya. Meski ia sakit hati melihat putrinya seperti ini, ia masih tidak boleh membiarkan putrinya semakin dalam terjerat dalam ambisi yang salah.
Melihat mamanya masih tidak tergerak, Saskia sedikit panik. Ia berpikir cepat dan memutuskan bahwa hari ini dia harus berhasil melancarkan rencananya apapun yang terjadi.
"Tidak! Semua salah wanita ja-lang itu. Apa yang dia miliki yang tidak aku miliki? Dia hanyalah wanita biasa yang sangat tidak cocok dengan Dewa. Hanya akulah yang cocok. Aku yakin Dewa sebenarnya juga menyukaiku, hanya karena wanita itulah Dewa menolakku. Aku percaya itu. Mama bantu aku... " Saskia merengek.
"Saskia jangan melewati batas. Jangan mempermalukan keluarga kita dengan menjadi pihak ketiga dalam hubungan orang lain." Derry menggertakkan giginya.
"Papa, aku tidak peduli. Aku harus mendapatkan Dewa. Papa dan mama harus membantuku!" Saskia memegang lengan Derry dengan erat. Menatap matanya dengan matanya yang berlinangan air mata.
"Saskia jangan membuat masalah." Derry menatap Saskia tegas.
"Papa memang tidak menyayangi ku lagi. Lebih baik aku ma-ti saja!" saat ia berbicara, Saskia berbalik. Turun dari ranjang. Melepas selang darah yang membuat darah segar dalam kantong mengalir keluar. Pemandangan ini terlihat sangat menakutkan. Tidak memberikan waktu semua orang bereaksi, ia segera mengambil pisau buah di atas nakas di samping ranjang. Mengarahkan pisau itu di pergelangan tangan kirinya yang tertutup perban.
“Jangan!" Rina berteriak panik melihat Saskia yang mengambil pisau. "Sayang jangan impulsif. Semuanya bisa dibicarakan dengan baik. Letakkan pisaunya ya?" lanjutnya dengan maju selangkah, menggerakkan tangannya dengan hati-hati. Berusaha mengambil pisaunya.
Saskia tentu saja tidak akan membiarkannya berhasil. Ia mengelak dengan cepat. Menggeser tubuhnya menghindari tangan Rina. Membuat gerakan tangan yang bersiap menyayat pergelangan tangannya.
"Jangan mendekat atau aku akan menyayat tanganku sendiri!" ancam Saskia.
"Saskia letakkan pisaunya. Papa tahu kamu hanya ingin memaksa kami kan?" Saskia tertegun sejenak saat mendengar papanya mengekspos nya tanpa ampun.
"Papa kira aku tidak berani? Aku sudah melakukannya sekali. Tidak masalah melakukannya lagi." Saskia menekan pisau itu.
"Jangan!" teriak Rina panik. "Sayang jangan ya. Mama akan bicara sama papa." setelah berbicara, Rina berbalik dan memegang lengan Derry.
"Pa setujui saja. Saskia putri kita satu-satunya. Apa papa mau sesuatu terjadi pada Saskia. Jangan sampai kita menyesal." bujuk Rina.
Derry berhenti sebentar untuk berpikir sebelum menghela napas dan mengangguk pelan. Rina melihat suaminya akhirnya memutuskan untuk menuruti keinginan Saskia menghela napas lega. Saskia melihat papanya setuju dan tersenyum penuh kemenangan.
*
*
🍀Bos, Sekretaris Anda Melanggar Aturan_32🍀
Terima kasih sudah mampir 😘
Jangan lupa Like, vote dan komen ya...👍
Follow juga akun Author nya.
☘️Queen_OK☘️
katanya dia kekurangan cinta kamu. dewa ga tau aja cintanya sassy untk deqa sudah ada sejak lama. makany sassy jujur aja deh.
aku sih berharap kisah mereka, bener2 kisah mereka, jangan ada.pelakor dan pebinor, bosan sama cerita2 yang kayak gitu, lebih banyakan makan ati nya daripada menghiburnya.