( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Adik Ipar
Kak Riz, ini buat apa?” Taani menunjuk tiga kantong plastik besar di hadapannya.
Aku nggak laper ya!
Dan siapa juga yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini?
Keduanya sedang berdiri di parkiran rumah makan sederhana yang mereka kunjungi beberapa menit yang lalu.
Yang ditanya hanya tersenyum, kemudian membantu seorang pria untuk memasukan kantong plastik ke dalam bagasi mobil taksi online yang di pesannya. “Kamu akan menyukai hal ini, An.”
Menatap istrinya yang masih terlihat bingung.
Oh Ibu, kenapa dia terlihat mengemaskan sekali.
“Ayo, kamu penasaran kan?” Rizwan memakaikan helm di kepala istrinya. Taani hanya manut, diam tak menolak.
“Hari ini, kamu akan melihat wajah wajah surga yang akan menyejukkan hatimu, An."
Taani mengerjap, seketika matanya membulat “Oh, aku tahu. Panti, kita akan ke panti kan?”
Bertanya antusias.
Rizwan hanya tersenyum, “Ayo naik, keburu malam” membetulkan helm di kepalanya. Sepeda motor Rizwan perlahan melaju meninggalkan halaman rumah makan sederhana itu.
“Kak Rizwan, harusnya kita beli gulali dulu Kak.” Taani menepuk pundak Rizwan. Sedikit berteriak, semakin malam jalanan semakin ramai kendaraan.
Sepeda motor Rizwan masih melaju menuju tempat yang entah kemana, di ikuti taxi yang membawa nasi kotak pesanannya.
“Di wana, nggak ada yang suka sama permen, An” matanya masih fokus melihat ke depan menatap jalanan.
“Ih, Bima sama anak anak yang lain kan suka banget.” Taani mengernyit, bibirnya sudah sempurna ditekuk.
Tangannya terasa gatal, ingin sekali mencubit lengan pria yang sedang mengemudi sepeda motor di hadapannya ini.
“Apa kamu kedinginan, An." Rizwan bertanya, mengalihkan topik pembicaraan.
“Kamu mau turun, pindah ke mobil?” sepeda motornya masih melaju perlahan.
“Nggak, lagian kita mau kemana sih?” Taani semakin penasaran.
Rizwan hanya tersenyum, kembali mempercepat laju sepeda motornya, sudah tidak sabar ingin melihat wajah wajah yang sudah beberapa minggu dirindukannya.
.
.
.
“Kak Riz..” Taani mengguncang lengan Rizwan, mencengkeramnya kuat. Bertanya dengan sorot matanya.
Rizwan memalingkan wajahnya, menatap Taani “Ayo ikut, kamu penasaran kan?”
Keduanya berjalan beriringan, dengan Taani yang mencengkram lengan Rizwan kuat.
Tempat apa ini?
Suara kendaraan yang melintas terdengar jelas di telinga, karena posisi mereka saat ini berada di bawah jembatan.
Bau sampah begitu menyengat di hidung, lalat berterbangan, karena memang itu tempat mereka juga.
“Kak Rizwan.” berbisik, sebenarnya Taani sudah bosan menanyakan apa maksud laki laki di sampingnya ini.
Bukankah dia mengajakku untuk datang ke panti, tapi ini apa?
“Sebentar, An." Rizwan melepaskan cekalan tangan istrinya perlahan. Membuka jaket yang dikenakannya. ” Semakin malam udaranya semakin dingin” membetulkan letak jaket yang di pakaikan di tubuh Istrinya.
“Ayo, agar rasa penasaranmu terobati” Rizwan menggenggam jemari Taani lembut, tersenyum. Dia bahagia, sampai saat ini hubungannya dengan Taani semakin berkembang. Istrinya sudah tidak menolak saat di sentuh olehnya dan juga keduanya sudah berani beradu pandangan ketika berbicara.
Suasana di tempat itu sepi, seperti tidak ada kehidupan.
Eh, apa itu?
Taani mengernyit saat matanya menatap beberapa orang tidur hanya beralaskan kardus dan kain tipis yang dijadikan selimut.
“Bang Rizwan” seorang pemuda tanggung, berlari menghampiri Rizwan. Memeluknya dengan erat.
“Kenapa lama sekali Bang? aku dan yang lain hampir setiap malam menunggu Abang ke sini. Tiara sama Emak nggak mau makan kalau bukan Abang yang mengirimnya lang-” ucapan pemuda itu terhenti saat Rizwan membekap mulutnya.
“Abang, kenapa sih?” melepaskan tangan Rizwan dengan kesal.
“Maafkan aku li, baru menyempatkan ke mari” tersenyum menatap tajam pemuda di hadapannya itu, memberikan isyarat dengan matanya agar berhenti berbicara, karena di sampingnya saat ini ada istrinya yang menatap mereka dengan bingung.
Taani hanya diam mendengarkan obrolan keduanya, dan juga matanya terus memperhatikan pemuda di hadapannya itu.
Seorang pemuda tanggung, tapi dengan postur tubuh yang hampir mensejajari Rizwan itu menggunakan pakaian yang sudah tidak terlihat aneh lagi menurutnya.
Kaos yang digunakannya begitu lusuh, celana jeans dengan beberapa robekan di bagian lutut, dan dengan rambut yang dibiarkan panjang hampir sebahu. Taani pernah beberapa kali melihat orang orang seperti ini di terminal atau di jalan ketika dirinya hendak pergi ke kampus dulu.
Apa dia ini pengamen?
Tapi, apa hubungannya dengan kak Rizwan?
“Bang.." melirik perempuan di samping Rizwan, “siapa?” kedua sudut bibirnya sudah tertarik melengkung tersenyum jahil, biasanya Rizwan datang seorang diri.
Yang ditanya hanya menjawab dengan senyum dan mengangkat kedua alisnya.
“Apa ini…?” Menunjuk Taani kemudian netra pemuda itu membulat ketika Rizwan menganggukkan kepalanya.
“Ya Tuhan!” Pemuda itu berteriak, kembali memeluk, dan menepuk pundak Rizwan dengan keras. "Akhirnya Abang ajak juga kakak ipar ku ke sini." Melepaskan pelukannya, pandangannya beralih pada perempuan di samping Rizwan.
“Hai kakak ipar, kenalkan namaku Ali. Aku adik ipar mu, dan masih banyak adik iparmu yang lain di tempat ini, mereka sudah lama sekali ingin bertemu dengan mu kak” membukukan badannya sopan, kemudian kembali menatap Rizwan, tersenyum hangat.
Taani hanya tersenyum canggung, pikirannya masih sibuk mencerna maksud dan tujuan Rizwan mengajaknya ke tempat ini.
“Mari kakak ipar, aku tunjukan tempat favorit kami” pemuda itu berjalan ke belakang untuk mengambil dua bungkusan besar yang di simpan Rizwan di samping sepeda motornya. Melakukan tugas seperti biasanya.
“Kau duluan saja li." Rizwan menahan bahu istrinya lembut, “An, apa kamu baik baik saja?” menatap netra pekat istrinya
“Kamu, mau ikut?” menatap jam di pergelangan tangannya. “Hanya sebentar.”
Taani berdehem, kemudian mengangguk, semakin cepat maka akan semakin terjawab juga rasa penasarannya.
"An, kal-"
“Bang, aku duluan ya, kita tunggu di sana." suara pemuda bernama Ali memotong pembicaraan Rizwan,ia mengangkat kedua plastik besar di tangannya. “Aku duluan kakak ipar.” Tubuhnya berbalik, meninggalkan Rizwan dan Taani.
“Ayo!” Rizwan menggenggam jemari istrinya yang terasa dingin. Sementara tangan yang satunya lagi menenteng satu plastik besar yang berisi makanan.
Ibu, aku tidak terlalu berlebihan kan bu?
Aku hanya ingin menepati janjiku pada mereka.
Bersambung..
sukses
semangat