NovelToon NovelToon
Bukan Salah Jodoh

Bukan Salah Jodoh

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:256.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Alzanabuq

( Tahap Revisi)

Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.

Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.

laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.

Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.


Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.

Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?



Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Adik Ipar

Kak Riz, ini buat apa?” Taani menunjuk tiga kantong plastik besar di hadapannya.

Aku nggak laper ya!

Dan siapa juga yang akan  menghabiskan makanan sebanyak ini?

Keduanya sedang berdiri di parkiran rumah makan sederhana yang mereka kunjungi beberapa menit yang lalu.

Yang ditanya hanya tersenyum, kemudian membantu seorang pria untuk memasukan kantong plastik ke dalam bagasi mobil taksi online yang di pesannya. “Kamu akan menyukai hal ini, An.”

Menatap istrinya yang masih terlihat bingung.

Oh Ibu, kenapa dia terlihat mengemaskan sekali.

“Ayo, kamu penasaran kan?” Rizwan memakaikan helm di kepala istrinya. Taani hanya manut, diam tak menolak.

“Hari ini, kamu akan melihat wajah wajah surga yang akan menyejukkan hatimu, An."

Taani mengerjap, seketika matanya membulat “Oh, aku tahu. Panti, kita akan ke panti kan?”

Bertanya antusias.

Rizwan hanya tersenyum, “Ayo naik, keburu malam” membetulkan helm di kepalanya. Sepeda motor Rizwan perlahan melaju meninggalkan halaman rumah makan sederhana itu.

“Kak Rizwan, harusnya kita beli gulali dulu Kak.” Taani menepuk pundak Rizwan. Sedikit berteriak, semakin malam jalanan semakin ramai kendaraan.

Sepeda motor Rizwan masih melaju menuju tempat yang entah kemana, di ikuti taxi yang membawa nasi kotak pesanannya.

“Di wana, nggak ada yang suka sama permen, An” matanya masih fokus melihat ke depan menatap jalanan.

“Ih, Bima sama anak anak yang lain kan suka banget.” Taani mengernyit, bibirnya sudah sempurna ditekuk.

Tangannya terasa gatal, ingin sekali mencubit lengan pria yang sedang mengemudi sepeda motor di hadapannya ini.

“Apa kamu kedinginan, An." Rizwan bertanya, mengalihkan topik pembicaraan.

“Kamu mau turun, pindah ke mobil?” sepeda motornya masih melaju perlahan.

“Nggak, lagian kita mau kemana sih?” Taani semakin penasaran.

Rizwan hanya tersenyum, kembali mempercepat laju sepeda motornya, sudah tidak sabar ingin melihat wajah wajah yang sudah beberapa minggu dirindukannya.

.

.

.

“Kak Riz..”  Taani  mengguncang lengan Rizwan, mencengkeramnya kuat. Bertanya dengan sorot matanya.

Rizwan memalingkan wajahnya, menatap Taani “Ayo ikut, kamu penasaran kan?”

Keduanya berjalan beriringan, dengan Taani yang mencengkram lengan Rizwan kuat.

Tempat apa ini?

Suara kendaraan yang melintas terdengar jelas di telinga, karena posisi mereka saat ini berada di bawah jembatan.

Bau sampah begitu menyengat di hidung, lalat berterbangan, karena memang itu tempat mereka juga.

“Kak Rizwan.” berbisik, sebenarnya Taani sudah bosan menanyakan apa maksud laki laki di sampingnya ini.

Bukankah dia mengajakku untuk datang ke panti, tapi ini apa?

“Sebentar, An." Rizwan melepaskan cekalan tangan istrinya perlahan. Membuka jaket yang dikenakannya. ” Semakin malam udaranya semakin dingin” membetulkan letak jaket yang di pakaikan di tubuh Istrinya.

“Ayo, agar rasa penasaranmu terobati” Rizwan menggenggam jemari Taani lembut, tersenyum. Dia bahagia, sampai saat ini hubungannya dengan Taani semakin berkembang. Istrinya sudah tidak menolak saat di sentuh olehnya dan juga keduanya sudah berani beradu pandangan ketika berbicara.

Suasana di tempat itu sepi, seperti tidak ada kehidupan.

Eh, apa itu?

Taani mengernyit saat matanya menatap beberapa orang tidur hanya beralaskan kardus dan kain tipis yang dijadikan selimut.

“Bang Rizwan” seorang pemuda tanggung, berlari menghampiri Rizwan. Memeluknya dengan erat.

“Kenapa lama sekali Bang? aku dan yang lain hampir setiap malam menunggu Abang ke sini. Tiara sama Emak nggak mau makan kalau bukan Abang yang mengirimnya lang-” ucapan pemuda itu terhenti saat Rizwan membekap mulutnya.

“Abang, kenapa sih?” melepaskan tangan Rizwan dengan kesal.

“Maafkan aku li, baru menyempatkan ke mari” tersenyum menatap tajam pemuda di hadapannya itu, memberikan isyarat dengan matanya agar berhenti berbicara, karena di sampingnya saat ini ada istrinya yang menatap mereka dengan bingung.

Taani hanya diam mendengarkan obrolan keduanya, dan juga matanya terus memperhatikan pemuda di hadapannya itu.

Seorang pemuda tanggung, tapi dengan postur tubuh yang hampir mensejajari Rizwan itu menggunakan pakaian yang sudah tidak terlihat aneh lagi menurutnya.

Kaos yang digunakannya begitu lusuh, celana jeans dengan beberapa robekan di bagian lutut, dan dengan rambut yang dibiarkan panjang hampir sebahu. Taani pernah beberapa kali melihat orang orang seperti ini di terminal atau di jalan ketika dirinya hendak pergi ke kampus dulu.

Apa dia ini pengamen?

Tapi, apa hubungannya dengan kak Rizwan?

“Bang.." melirik perempuan di samping Rizwan, “siapa?” kedua sudut bibirnya sudah tertarik melengkung tersenyum jahil, biasanya Rizwan datang seorang diri.

Yang ditanya hanya menjawab dengan senyum dan mengangkat kedua alisnya.

“Apa ini…?” Menunjuk Taani kemudian netra pemuda itu membulat ketika Rizwan menganggukkan kepalanya.

“Ya Tuhan!” Pemuda itu berteriak, kembali memeluk, dan menepuk pundak Rizwan dengan keras. "Akhirnya Abang ajak juga kakak ipar ku ke sini." Melepaskan pelukannya, pandangannya beralih pada perempuan di samping Rizwan.

“Hai kakak ipar, kenalkan namaku Ali. Aku adik ipar mu, dan masih banyak adik iparmu yang lain di tempat ini, mereka sudah lama sekali ingin bertemu dengan mu kak” membukukan badannya sopan, kemudian kembali menatap Rizwan, tersenyum hangat.

Taani hanya tersenyum canggung, pikirannya masih sibuk mencerna maksud dan tujuan Rizwan mengajaknya ke tempat ini.

“Mari kakak ipar, aku tunjukan tempat favorit kami” pemuda itu berjalan ke belakang untuk mengambil dua bungkusan besar yang di simpan Rizwan di samping sepeda motornya. Melakukan tugas seperti biasanya.

“Kau duluan saja li." Rizwan menahan bahu istrinya lembut, “An, apa kamu baik baik saja?” menatap netra pekat istrinya

“Kamu, mau ikut?” menatap jam di pergelangan tangannya. “Hanya sebentar.”

Taani berdehem, kemudian mengangguk, semakin cepat maka akan semakin terjawab juga rasa penasarannya.

"An, kal-"

“Bang, aku duluan ya, kita tunggu di sana." suara pemuda bernama Ali memotong pembicaraan Rizwan,ia mengangkat kedua plastik besar di tangannya. “Aku duluan kakak ipar.” Tubuhnya berbalik, meninggalkan Rizwan dan Taani.

“Ayo!” Rizwan menggenggam jemari istrinya yang terasa dingin. Sementara tangan yang satunya lagi menenteng satu plastik besar yang berisi makanan.

Ibu, aku tidak terlalu berlebihan kan bu?

Aku hanya ingin menepati janjiku pada mereka.

Bersambung..

1
agus ali
Kecewa
agus ali
Buruk
Tathya Aqila
seperti film sharukan ya gak si 😁
Rini Haryati
mksh
Rini Haryati
ceritanya bagus banget
sukses
semangat
Venny
menarik
vi
ceritanya bagus Thor, no hard conflict. aq suka
Lovely Shihab
Ngapain mempertahankan perempuan egois. Cantik saja tidak cukup nona, diluar sana bertimbun2 perempuan yg lebih cantik, lebih pintar, lebih baik, berkarier dan yang utama perempuan yg bisa menghormati suami. Perempuan kayak kamu, bagusnya dimasukin tong sampah. Kasihan Rizwan..cinta dengan perempuan yg tidak bisa apa2. cuma modal cantik doang
DEva Vis
kenapa ga terusin cerita Tania SMA rizdwan KA seruuu bgttttttt
Lilis Yuanita
lnjut k buru lupa
Daru Widyanto
mantap cerita'y seruuuuu
Daru Widyanto
dalam kehidupan itu masalah pasti datang silih berganti tinggal kita cari solusinya agar lebih dewasa dalam menyikapi'y
Daru Widyanto
hebat author cerita'y bikin penasaran aja
Daru Widyanto
alur cerita'y mirip dengan kisah hidupku,di jodohkan seiring berjalan'y waktu,dari acuh karena perhatian dan kesabaran istriku aq menerima dia dan endingnya bahagia sampai sekarang
Daru Widyanto
cerita yg inspiratif
ceava
yuhuu semngt di tunggu
Nadia Laili
sy termasuk ibu beruntung,bisa merasakan melahirkan Caesar dengan rasa sakit Krn Sdh bukaan 9 tapi si abangi gak mau turun,dan merasakan sakitnya full melahirkan normal buat si adek
Nadia Laili
senang bisa membaca karya yg nampak real di tengah karya yg selalu tokoh nya orang kaya se...se...nomer satu tapi nampak halu,, semangat thor
Nadia Laili
padahal bagus Lo cerita nya alurnya jelas gak bertele-tele,tata bahasa nya pun menunjukkan author nya gak alay, sayang like kok sedikit ya
Andi Sam Sam
Adakahhhhhhhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!