Zefanya Emanuella, seorang gadis cantik nan periang, namun harus menjalani hari-hari yang begitu berat setelah kehilangan identitas di Bandara. Berniat untuk menemui om nya, namun justru malah membuatnya hilang dan tersesat.
Di saat dirinya frustasi, Zefanya di pertemukan dengan seorang nenek di Bandara yang sedang terpisah dari cucu nya. Berniat membantu, namun justru kesalahpahaman yang dia dapat. Zefanya terpaksa menjadi seorang pembantu di rumah nenek tersebut karena ancaman dari sang cucu.
Seorang nona muda yang terpaksa harus menjadi pelayan di rumah orang asing. Bagaimana kisah Zefanya selanjutnya. Dapatkah ia bertemu dengan keluarga nya? Atau dirinya justru terperangkap dalam rumah majikan barunya?
Jangan lupa follow akun
IG @Mommy_ar29 dan
Tiktok @Mommy_ar95 🥰🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau kemana?
...~Happy Reading~...
“Mau kemana lo?” Langkah kaki Zefanya langsung terhenti kala mendengar suara Badai yang entah sejak kapan kini sudah berada di belakang nya.
“A—aku mau ... “
“Mau kemana?” tanya Badai sekali lagi namun kini di sertai dengan tatapan yang cukup tajam hingga membuat gadis itu langsung menelan saliva nya.
“A—aku mau ke supermarket! Mau beli roti tawar!” jawab Zefanya yang tak sepenuhnya berbohong, tapi juga tak sepenuhnya jujur.
Zefanya memang ingin ke supermarket untuk membeli kebutuhan nya. Karena beberapa barang nya yang ia tinggal di rumah Batara, membuat nya terpaksa harus membeli yang baru lagi. Tapi, selain dirinya membeli roti tawar, ia juga akan pergi untuk makan siang bersama Batara.
“Roti tawar? Lo siang siang mau makan roti?”
Zefanya menghela napas nya dengan sedikit berat, “Roti untuk cewek. Anty Kara tidak punya itu,”
“Roti cewek? Sejak kapan roti di bedakan untuk cewek dan cowok?”
“Kamu itu mau kemana? Mau ke kampus? Atau kemana? Lewat supermarket kan? Kalau gitu aku numpang sampai supermarket, nanti aku bisa pulang naik taksi. Daripada ribet jelasin ke kamu!” kata Zefanya pada akhirnya karena sudah malas menjelaskan kepada Badai.
“Sumpah, gak jelas banget lo! Buruan!” Walau pun malas dan enggan, tapi karena kini di rumah itu sedang ada kedua orang tuanya, dengan sangat terpaksa Badai mau mengantarkan Zefanya untuk pergi ke supermarket.
Padahal, dulu ketika Badai belum mengetahui perasaan Zefanya. Tanpa di minta, pasti Badai akan dengan senang hati untuk mengantarkan gadis itu kemana pun setiap kali liburan ke Indonesia. Tapi, itu dulu dan kini hanyalah tinggal kenangan semata.
Zefanya hanya diam mendengar gerutuan dan umpatan Badai. Mungkin, jika yang mengumpat nya adalah Batara, Zefanya dengan spontan akan selalu bisa membalas dan malah menggoda laki laki itu agar semakin marah padanya.
Tapi, entah mengapa jika dengan Badai, Zefanya seolah kaku dan tidak bisa berkata apa apa. Dirinya terlalu lemah jika dengan Badai, ia takut akan semakin membuat laki laki itu marah dan membenci nya.
Mungkin karena rasa bersalah nya karena sudah mengikat Badai, membuat Zefanya tidak bisa bergerak bebas dan selalu ingin terlihat terbaik di mata Badai. Sedangkan dengan Batara, ia selalu bisa menjadi dirinya sendiri, bahkan ia tidak perduli jika Batara akan membenci nya atau bahkan meninggalkan nya.
“Nih!” Badai mengulurkan tangan nya untuk memberikan sebuah kartu kepada Zefanya.
“Gak usah, aku masih pegang uang!” tolak Zefanya menggelengkan kepala nya.
“Uang mana yang lo punya? Ini Indonesia, kalau lo lupa!” kata Badai mendengus.
“Uang rupiah, Badai. Meskipun tidak sebanyak isi kartu kamu, tapi uang ku cukup untuk beli roti tawar ku sendiri. Dan jangan lupa, kalau sebelumnya aku pernah kerja, jadi aku punya uang!” jawab Zefanya di sertai helaan nafas panjang.
“Cih, sombong! Gaji pembantu berapa sih emang? Sok banget nolak duit dari gue!” cetus Badai lalu kembali memasukkan kartu nya ke dalam dompet nya lagi, “Bahkan gue gak yakin, artis pelit kaya dia ngasih gaji cukup ke lo!”
“Kamu mau kuliah kan? Jalan gih, aku mau masuk dulu!” zefanya melepaskan helm nya dan bergegas hendak masuk ke dala supermarket, namun tiba tiba langkah nya terhenti saat Badai menahan tangan nya.
“Langsung balik!”
Glek!
Zefanya langsung menelan saliva nya kala melihat tatapan mata Badai yang begitu tajam. Ini bukan hanya perintah tapi juga ancaman, karena sangat terlihat dengan jelas bagaimana mata elang itu menatap nya seolah siap untuk menerkam jika dirinya tidak mau mendengarkan perkataan nya.
“I—iya ... “
“Satu jam dari sekarang! Kalau lo belum di rumah, lo akan tahu akibat nya, Zef!” bisik Badai begitu mengerikan di telinga Zefanya, hingga membuat tubuh gadis itu seketika langsung meremang.
...~To be continue ......