Prolog
Bidadari adalah anak tunggal keluarga Pak Joko. Sebenarnya Bidadari yang bernama lengkap Bidadari Jini. Bidadari artinya makhluk yang sangat cantik, sedangkan Jini adalah perpaduan nama dari Joko dan Rini. Rini adalah namanya bu Joko.
Bida tumbuh tidak seperti anak pada umumnya. Bida sesekali bisa merasakan kehadiran makhluk halus tak kasat mata bahkan beberapa kali melihatnya. Namun Bida tidak terlalu memusingkan hal tersebut. Bida sudah kenyang dengan cemoohan teman-temannya dengan mengatakan bahwa Bida pembohong. Saat masih sekolah TK, Bida berjalan beriringan dengan kedua temannya pulang ke rumahnya yang jaraknya tidak jauh bahkan tidak sampai 100 meter, karena paginya ibunya berpesan bahwa ibu tidak bisa menjemputnya. Di tengah perjalanan, Bida melihat ada nenek tua sedang duduk bersandar di sebuah pohon waru besar dengan menselonjorkan kakinya dan tampak lelah. Kedua temannya yang bernama Sindi dan Ani berjalan sambil bergurau dan menyepak kerikil dan hampir mengenai wajah nenek tersebut. Otomatis Bida segera menegur teman-temannya.
" Kalian ini, hati-hati! kasihan nenek itu." Bida mendekat ke nenek tersebut yang tampak terkejut dengan kedatangan Bida. Sedangkan Sindi dan Ani saling pandang tidak memahami maksud Bida, kemudian mengarahkan pandangan mereka mengikuti Bida. Bida semakin mendekati nenek tersebut yang menggunakan kebaya warna hitam yang sudah lapuk dengan jarik lurik yang juga sudah lapuk. Bida berjongkok, tepat di hadapan nenek.
" Maafkan teman Bida ya nek, mereka tidak sengaja." Sindi dan Ani merasa heran dan mengira Bida bersandiwara karena tadi di sekolah mereka bermain drama Kancil dan Buaya. Sindi pun memiliki ide usil, ia memungut kerikil lalu mendekati Bida dan dengan sengaja melempar kerikil tersebut hingga mengenai punggung Bida. Sindi dan Ani pun tertawa terpingkal-pingkal.Bida pun terkejut begitu juga nenek. Nenek tersebut, matanya berubah merah, raut wajah ya yang tadi tampak lelah menjadi marah. Bida juga kaget dengan perubahan tersebut dan kembali meminta maaf karena mengira bahwa temannya masih mainan kerikil dan tanpa sengaja mengenai dirinya.
" Maaf nek, tolong maafkan teman-teman Bida." Nenek menatap Bida, kemudian raut wajahnya tampak heran menatap Bida. Ia tidak menyangka, bahwa gadis kecil di depannya bisa melihat keberadaannya bahkan berbicara padanya.
Bida pun berdiri, " Nek, maaf kami pamit." Sebenarnya Bida masih penasaran dengan nenek tersebut, mengapa ia duduk disana. Apakah ia tersesat, dimana keluarganya, namun karena kuatir ibunya menunggu kepulangannya, maka Bida setengah menyeret teman- temannya.untuk segera pergi. Teman-temannya sedang mematung sibuk dengan pikiran masing-masing. Tadi mereka sempat tertawa terpingkal-pingkal ketika kerikil yang dilempar Sindi tepat mengenai punggung Bida. Namun perkataan Bida berikutnya membuat mereka heran, Sindi mulai ketakutan hingga tidak bisa berkata apa-apa. Rumah Bida sudah terlihat, Bida mempercepat langkahnya sedangkan Sindi dan Ani rumahnya juga tidak jauh fari rumah Bida.
Ani menghentikan langkah Bida dengan berdiri di depannya. "Bida, nenek siapa yang kau maksud tadi?". Ani yang pemberani masih penasaran, sedangkan Sindi ketakutan dan ingin melupakan kejadian tersebut.
"Pasti nenek hantu, untunglah aku ndk kelihatan." batin Sindi.
Bida kaget dengan pertanyaan Ani. " Apa kau tidak melihatnya tadi? nenek yang pakai kebaya hitam dan duduk bersandar di pohon waru besar itu. Ani mengernyitkan dahinya.
"Kamu sengaja ya mengarang cerita, karena kamu tahu jika Sindi penakut, tidak ada siapa-siapa tadi. Kamu bisa saja membohongi Sindi tapi aku tidak semudah itu dibohongi.
" Bida jadi tersadar, bahwa ini sudah kesekian kalinya Bida melihat yang orang lain tidak melihatnya. Bapak dan Ibu sudah menasehatinya agar tidak langsung menyampaikan apa yang ia lihat. Tapi tadi Bida spontanitas karena kerikil tersebut hampir mengenai nenek tersebut. Bida hanya diam, sedangkan Sindi semakin ketakutan. Bida hanya diam karena Bapak dan Ibunya sudah berpesan agar tidak menjelaskan lagi jika ada yang menanyakan penglihatannya kepada orang lain.
Diamnya Bida membuat Ani yakin bahwa Bida memang pembohong. " Jangan diulangi lagi! besok aku akan adukan kepada bu guru, biar kamu diberi hukuman karena berbohong!"
Bida diam tidak mengucapkan sepatah katapun. Bida hanya bisa menatap kedua temannya yang pergi mendahuluinya. Sejak itu, Bida berusaha tegar dan hanya fokus pada dirinya sendiri.
Bida menjalani hidupnya sewajar mungkin. Bahkan Bida tidak berani berdekatan dengan lawan jenis. Entah seperti apa jodohnya nanti. Yang terpenting Bapak dan Ibunya bersamanya, selalu mendukung dan mempercayainya.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Menil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeruk makan jeruk
Bu Dewi mamanya Levi baru selesai menemui klien nya. Beliau hendak kembali ke ruangannya.
"Kak Dewi!" Bu Dewi mengenal suara itu. Benar saja, Mira adik iparnya sedang menghampirinya.
"Kak, ada yang ingin aku bicarakan dengan kak Dewi. Yuk kita ke ngobrol di ruangan kakak saja."
Ada apa lagi? Mira baik bahkan sangat baik. Sayangnya aku tidak suka kebaikannya. Ia adalah Janda mati adik iparku. Dia terlalu lebay. Dia selalu saja ikut campur soal anak-anakku. Sebenarnya aku kasihan terhadapnya. Ia ditinggal pamannya Levi di usai yang masih cukup muda. Paman Levi mengalami kecelakaan, setelah sempat di rawat selama 3 hari. Ia meninggalkan Mira, sedangkan mereka belum dikaruniai seorang anak meskipun sudah menikah belasan tahun. Maka itu anak-anakku selalu dia coba kuasai. Dia selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Saat Levi dan Lina ulang tahun, dia selalu yang pertama memberi ucapan selamat.
Mereka berdua memasuki lift. Bu Dewi masih diam.
"Kak, kok diam? Ndak kangen sama aku. Lina saja kangen sama aku. Kemarin Lina telfon."
"Oh ya. Lina juga telfon aku kemarin." Sayangnya Lina telfon ketika aku sedang rapat jadi aku hanya ngobrol sebentar.
"Aku dan Lina ngobrol lama, hampir setengah jam. Menyenangkan sekali, Lina menceritakan banyak hal lucu tentang teman-temannya di sana."
Mulai lagi. Kamu selalu membanggakan hubunganmu dengan anakku. Lina itu anakku. Aku yang melahirkannya. Kamu selalu bertingkah seolah kamulah ibu kandungnya.
Memang hubungan Anak-anakku dan Mira sangat dekat karena Mira yang mengasuh anak-anakku selama aku bekerja di hotel. Saat itu Mira belum sibuk seperti sekarang. Mira hanya mendesain baju sekedar hobi. Namun sejak pamannya Levi mengalami kecelakaan, Mira yang saat itu masih berusia 39 tahun, mengepakkan sayapnya di dunia fashion. Ia belum menikah lagi, baginya suaminya adalah satu-satunya dalam hidupnya. Ia yakin suaminya menunggunya di surga. Hal itu memberinya nilai sempurna di hati Levi dan Lina. So Sweet kata Lina.
Keluar dari lift. Staf bu Dewi berdiri membungkukkan badan sambil tersenyum.
Mira menggandeng tangan Bu Dewi masuk ke ruangan.
Ini kan kantorku, mengapa justru Mira yang menggandengku mengajak masuk. Mira ini memang baik tapi... entahlah mengapa aku kurang menyukainya.
"Sini, Kak Dewi! Mira duduk di sofa dalam ruangan itu.
Harusnya aku yang mempersilahkannya duduk, ini kan kantorku. Bu Dewi akhirnya duduk di samping Mira.
"Kau tahu kesalahanmu?" Mira mulai bernada serius.
"Salah apa?"
"Kamu ibu yang egois. Kamu mendoktrin Levi agar terus belajar dan belajar. Belajar dan bekerjalah dengan keras, jangan dekati perempuan, jangan sakiti perempuan, hati-hati, ibu dan kak Lina juga perempuan!"
"Loh memangnya aku salah. Semua orang tua pasti ingin anaknya sukses dan bermartabat."
"Tapi tanpa sadar, kau telah menjerumuskan Levi. Lihat Levi sekarang seperti apa?"
"Levi sukses di usia muda, nilainya juga bagus. Apanya yang salah?"
"Dengar baik-baik ya. Diana adalah satu-satunya teman Levi. Levi kadang menemani Diana di beberapa even. Diana itu sangat cantik tapi Levi sama sekali tidak melihatnya. Juga kepada perempuan lainnya."
"Apa urusanmu? Sekarang bukan jamannya perjodohan. Kamu mau menjodohkan Levi? Mungkin saja Levi sedang dekat dengan seseorang yang lebih menarik dibanding Diana." Suara Bu Dewi ketus.
"Oh ya? Jadi kamu tahu, tapi kamu diam saja. Diana cerita bahwa Levi dekat dengan asistennya, bahkan malam haripun jika Diana menelfonnya, maka asistennya yang akan menjawab telfonnya. Asisten itu laki-laki mbak. Tidak sadarkah kamu? Levi dekat dengan laki-laki bukan perempuan." Mira terisak....
"Aku tidak rela, Levi seperti ini. Harusnya aku yang melahirkan anak sehebat Lina dan Levi, bukan kamu kak Dewi." Mira bangkit dari kursinya dan keluar ruangan sambil mengusap air matanya.
*****
# Sore hari di rumah Pak Joko
Roni meninggalkan Jodi, Miki dan Deni masuk rumah hendak menemui Levi. Tiing Tiing HP Roni berbunyi. Roni melihat HP nya ada panggilan masuk dari nomer tidak dikenal lagi. Nomer yang lain sudah diblokirnya. Sekarang ada nomer tak dikenal yang lain. Roni menerima telfon tersebut.
"Hallo".
"Hallo, saya mamanya Levi. Awas jangan diblokir lagi. Ini nomer saya yang satunya. simpan kedua-duanya."
Sejak pertemuan dengan Mira beberapa waktu lalu. Bu Dewi mamanya Levi mencari informasi tentng Levi. Lalu diingatnya bahwa Levi pernah meminjam telfon asistennya ketika menelfon dirinya.
"Maaf jika anda memang mamanya Levi, mengapa tidak langsung menghubungi Levi?
"Oh Ngelamak kamu ya (sebutan untuk orang yang kurang sopan terhadap orang yang lebih tua). Kamu manggil Levi lagi. Kamu harus manggil mas."
Roni ingat nada bicaranya. Itu benar suara mamanya Levi. Levi duduk di ruang tamu.
"Maaf bu, saya tidak bemaksud tidak sopan. Saya hanya jaga diri. Maaf apa yang perlu saya bantu. Saya akan panggilkan mas Levi."
"Eh jangan, dengar ! Aku akan bertanya, kamu jawab yang jujur, jangan banyak alasan dan jangan bertele-tele!" Bu Dewi, mamannya Levi berkata di telfon seolah Roni ada di depannya.
"Ya bu." jika saya bisa akan saya jawab.
"Apakah Levi dekat dengan Diana?" Bu Dewi mulai investigasinya.
"Tidak." Dekat bagaimana, telfon saja harus aku yang mengangkatnya.
"Apakah Levi cerita bahwa ia sedang jatuh cinta kepada seseorang ?" .
"Tidak." Levi tidak pernah mengatakannya tapi kelihatannya sedang jatuh cinta kepada Bida
"Siapa orang yang paling dekat dengan Levi.?"
"Saya."
"Maksudku dekat sekali hingga sering bersama dan berdekatan selama beberapa jam."
"Iya. Saya dan mas Levi sangat dekat."
Deg... Bu Dewi memegangi dadanya.
"Jelaskan kedekatanmu dalam hal apa!"
"Saya tidur dengan mas Levi hampir sebulan ini."
Apa ? Bu Dewi menegakkan posisi duduknya.
"Tidur seranjang?"
"Ya."
Jawaban Roni membuat Bu Dewi melihat wajah Mira seolah duduk di depannya sambil menatapnya.
"Apakah kalian pernah bersentuhan ketika tidur bersama?" Kali ini Bu Dewi bertanya dengan suara lemah.
"Ya. Mas Levi kadang memperlakukan saya seperti guling." *M*emang mas Levi suka berantakan tidurnya. Kakinya suka menendang seenaknya.
"Kamu tidak suka kepada Levi kan?"
"Tentu saya suka. Saya sangat suka mas Levi." Pertanyaan apa ini? Apa maksudnya? Mau mempengaruhi mas Levi agar memecatku ya?
"Apakah Levi tampan menurutmu?"
"Ya. Mas Levi sangat tampan, badannya juga atletis." Pertanyaan yang makin aneh. Ibu kan mamanya pasti melihat anaknya yang paling ganteng kok masih minta pengakuanku.
"Kamu pernah lihat badan Levi?"
"Ya. Kami kan sekamar jadi saya sering melihat mas Levi ganti baju."Aku sering melihatnya ketika ganti baju. Meski masih memakai kaos singlet tapi bahu dan lengannya tampak kekar.
"Jika ada wanita yang menggodamu, apakah kamu akan meninggalkan Levi?"
"Tentu saja tidak, saya akan tetap disamping mas Levi." Aku sudah memutuskan agar aku tetap menjalin kerja sama dengan mas Levi meski bagi sebagian orang menganggap aku pembantunya.
"Apakah levi pernah mengatakan I Love you akhir-akhir ini ?"
"Tidak, tapi ketika tidur. Mas Levi pernah mengatakan, Kamu cantik sekali? ketika saya coba menanyakan lagi, mas Levi terlihat malu." Anakmu itu bukan hanya berantakan ketika tidur tapi juga suka mengigau. Sekarang anak kebanggaanmu itu sedang gila mendekati gadis di bawah umur.
"Apakah menurutmu, Levi termasuk cowok pemalu atau sedikit.... mesum? Bu Dewi bertanya dengan sangat lirih seolah kuatir ada yang menguping kalimatnya, padahal oq sedang ada di ruangan kerjanya yang kedap suara.
"Tentu saja mesum,.." Roni langsung bungkam, ia telah kebablasan, bayangan Levi keluar dari kamar Bida membuatnya keceplosan. *Bagaimana ini, pasti bu Dewi marah.
Tut tut* Bu Dewi tidak sanggup bertanya apa-apa lagi. Air matanya sudah menetes membasahi pipinya. Ia merasa menjadi ibu yang salah. Ia terisak mengingat mendiang suaminya.... Ia merasa tidak sanggup memikirkan ini sendirian.