NovelToon NovelToon
Young Wife (Wedding Contract)

Young Wife (Wedding Contract)

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:265.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyaeva

Usia Alexius Calandra memang sudah tidak lagi muda. Dan dia dijodohkan dengan seorang gadis yang pemarah dan arogan. Bagaimana cara dia menghadapi gadis muda itu yang punya sikap sangat menjengkelkan menurutnya.

Beberapa kali Sarah dan Alex berusaha menggagalkan perjodohan tetapi selalu gagal karena Ibu Alex sangat pintar dan berpendirian teguh.

Dengan sangat terpaksa akhirnya mereka menikah agar tidak dicoret dari daftar warisan keluarga.

Selalu ada pertengkaran kecil dalam rumah tangga Alex dan Sarah di setiap harinya, tetapi mereka tidak menyadari bahwa hal itu justru semakin mendekatkan hubungan mereka.

Sebuah rahasia terungkap saat Alex mulai mencintai Sarah begitupun sebaliknya. Bagaimana jika tiba-tiba mereka harus bercerai karena anak kandung Adolf Chavali yang hilang telah kembali dan mengambil semua haknya yang dipinjam Sarah selama ini, termasuk perjodohannya dengan Alex.

Bagaimana sikap Alex selanjutnya? Dan akankah kedua orang tua Sarah tetap menyayangi gadis itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pozzi Hunter

🌺🌺🌺

Sarah menunggu kedatangan Hunter dengan cemas, dia takut jika para pria yang berkeliaran di sekitar rumahnya tadi akan segera menemukan dia sebelum bertemu dengan Hunter.

Sarah hanya membawa peralatan dalam tas punggungnya dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Dia mengikuti saran Hunter untuk berpakaian sederhana dan ringan.

Sebuah sepeda motor sport hitam Ducati berhenti di depan Sarah, wanita muda itu sangat ketakutan, tetapi rasa takutnya segera menguap saat si pengendara membuka helm hitam yang ia kenakan.

"Cepat naik!" perintah si pengendara yang ternyata adalah Hunter. Jadi itu kah alasan Hunter menyuruhnya memakai celana panjang dan juga jaket?

"Ap-Apa? Tapi aku belum pernah naik motor, aku takut," gugup Sarah yang membuat Hunter merasa kehilangan akal. Tentu saja si wanita mantan putri keluarga Chavali hanya bisa mengendarai kendaraan roda empat saja.

"Ya Tuhan, kita tidak punya waktu lagi. Aku tidak akan mengambil kesempatan, aku berjanji!" ucap Hunter berusaha meyakinkan Sarah. Bukan tanpa alasan, Hunter memang terbiasa mengendarai sepeda motor dengan alasan bisa lebih cepat dan tidak banyak menghabiskan banyak tempat di jalan raya.

"Bukan begitu! Apa dia akan tetap aman?" tanya Sarah sambil mengusap perutnya.

Hunter merutuki dirinya karena sudah lupa bahwa Sarah sedang hamil, guncangan pada sepeda motor bisa memberi dampak yang kurang baik bagi keamanan calon bayi Sarah.

"Aku … akan berjalan dengan hati-hati, tetapi kita harus cepat!" 

Sarah hanya mampu mempercayai pria tersebut, memangnya mau bagaimana lagi. "Baiklah, aku akan mempercayaimu," jawabnya.

Jalanan lengang cukup membuat Hunter bisa membawa sepeda motornya dengan cepat dan aman tanpa guncangan yang berarti.

Berkali-kali Hunter melirik kaca spion sekadar memastikan keadaan tetap aman tanpa ada yang mengikuti. Sayangnya ketenangan itu terusik saat dia menyadari ada kendaraan lain yang di belakangnya.

Sarah yang tidak pernah terbiasa dengan kendaraan roda dua milik Hunter, hanya bisa berpegangan erat pada sisi jaket pria tersebut. Selain itu dia merasa sulit bernafas serta kepalanya begitu berat karena helm tertutup yang dia kenakan.

"Maafkan aku, kita harus cepat!!" Hunter berucap setengah berteriak, dia meraih tangan Sarah untuk melingkar dan berpegangan erat di perutnya.

Hunter tidak mengatakan pada Sarah bahwa ada yang mengikuti mereka, karena dia khawatir wanita hamil itu akan semakin ketakutan.

Sarah merasa ragu, tetapi dengan terpaksa dia menuruti ucapan Hunter, tidak dipungkiri dia merasa lebih aman dan tidak takut jatuh seperti saat sebelumnya.

Dapat Sarah rasakan kecepatan Ducati milik Hunter semakin bertambah dan melesat di jalan bebas hambatan.

Sarah memang takut terjatuh sampai dia ragu untuk memejamkan mata, angin kencang menerpa tubuhnya karena gesekan udara dan kendaraan yang melaju cepat benar-benar memicu adrenalin.

Rasanya sama seperti saat dia menaiki wahana roller coaster di taman hiburan. Sarah hanya mampu melafalkan banyak doa supaya dia dan Hunter bisa selamat.

Hunter tidak bermaksud mencari kesempatan pada istri dari sahabatnya sendiri, tetapi keadaan mereka saat ini seperti sepasang kekasih yang sedang berkendara dengan mesra.

Sarah yang memeluknya begitu erat dari belakang membuat mereka seperti sedang bermesraan, tetapi jauh dari kenyataan bahwa dua orang tersebut sama sekali tidak memikirkan hal itu. Keduanya justru mencemaskan satu sama lain.

Hunter hanya memikirkan keselamatan Sarah, begitupun Sarah yang mencoba bekerja sama dan memudahkan pekerjaan Hunter.

"Bersabarlah, Sarah! Aku berjanji akan membawamu pada Alex!" Hunter berusaha menenangkan Sarah, dia tahu wanita itu sedang panik sekarang.

Sarah hanya mampu menangis sekarang, dia juga merasa tersentuh oleh ucapan Hunter. Pria itu hanya memikirkan keselamatannya tanpa berpikir tentang dirinya sendiri.

Hunter menanggung beban tanggung jawab untuk menjaga Sarah dan itu membuat Sarah merasa bersalah pada pria tersebut.

"Kau tunggulah di sini aku akan kembali!" Hunter menurunkan Sarah dengan terpaksa, dia harus mengalihkan perhatian dari orang-orang yang mengejar mereka.

"Jangan pergi kemanapun!" perintahnya pada Sarah yang hanya dijawab anggukan oleh wanita muda tersebut.

Hunter meninggalkan Sarah di sebuah panti, pria itu seperti tahu tempat mana saja yang aman, mungkin Hunter sangat mengenal tiap sudut kota, mengingat dia adalah seorang penjelajah saat menjadi seorang petarung jalanan dulu.

Dugaan Hunter benar adanya, dua buah mobil mengejar dan mengikuti. Dengan lincah dia bermanuver dengan sepeda motor yang menunjukkan kecepatan penuh pada spidometer.

Sebuah tembakan mengenai bagian belakang motor Hunter dan itu membuat kendaraan tersebut oleng serta hilang keseimbangan, tetapi Hunter cukup piawai hingga dia tidak terjatuh.

Mungkin jika dia menjadi seorang pembalap, maka dipastikan akan menjadi seorang juara. Pengalaman seperti itu mungkin sering dia alami, kejar-kejaran dengan polisi atau penjahat sekalipun.

Hunter mungkin begitu lincah, tetapi dia juga bisa lengah. Salah seorang pria dari dalam mobil yang mengejarnya itu keluar melalui jendela.

Sebuah senjata dengan peredam mengarah tepat pada punggung Hunter dan satu peluru berhasil mengenainya. Saat timah panas menembus jaket bahkan menusuk ke dalam daging di punggungnya, Hunter hanya bisa menahan nafas untuk menahan rasa sakit

Hunter memacu kembali dengan kecepatan penuh untuk melarikan diri. Akhirnya dua mobil itu tidak bisa mengejar karena terhalang mobil-mobil lainnya di lalu lintas yang cukup ramai. Hunter memang sengaja berlari ke jalan raya utama untuk membuat para anak buah si mafia terkecoh dan sulit untuk menemukannya.

Sarah kembali menunggu, mungkin sekarang dia aman berada di sebuah panti yang isinya hanya kumpulan para wanita dan pria lanjut usia.

Hunter sudah menitipkannya pada seorang pengelola panti yang sudah dikenal pria itu cukup lama.

"Minumlah dulu sebelum temanmu kembali!" ucap seorang pengelola panti yang usianya tidak beda jauh dengan Rose. Wanita itu juga menyambut dengan senang hati kedatangan Sarah yang dititipkan oleh Hunter.

Sarah tersenyum dan menerima suguhan teh hangat dari pengelola panti, dia teringat pada dirinya yang juga berasal dari sebuah panti asuhan. Melihat paran lansia yang tinggal di panti itu membuat dia merasa iba dan prihatin.

"Terima kasih, Nyonya!" jawab Sarah, dia menyesap teh hangat yang mampu menenangkannya dari rasa panik, tapi itu hanya sesaat karena mengingat Hunter yang belum juga kembali.

'Apakah pria itu baik-baik saja?'

Sarah merasa cemas, walaupun mereka baru saling mengenal tapi entah kenapa Sarah percaya pada pria itu. Bukan karena Hunter adalah sahabat Alex, tapi hati Sarah memang berkata demikian.

"Dia memang selalu mampir ke sini jika sedang berkunjung ke Yorkshire," ucap wanita anggun yang lemah lembut pengelola panti.

"Dulu dia selalu datang bersama satu temannya yang lain," lanjut wanita itu.

Sarah hanya terdiam dan mendengar ucapan wanita tersebut. Siapakah satu orang lain yang dimaksud wanita pengelola panti?

"Sejak kapan Anda mengenalnya?" tanya Sarah, sesungguhnya dia tidak ingin berbasa-basi karena suasana hati dan keadaannya sedang tidak baik serta tidak tepat.

"Sudah lama sekali, Hunter dan Alex adalah idola para orang tua di panti ini," jawab wanita tersebut.

Mendengar nama Alex disebut, sudut bibir Sarah tertarik begitu saja membentuk senyuman yang tulus. Ternyata Alex dan Hunter bukan sekedar para pria pembuat onar. Mereka juga suka menanam kebaikan pada orang-orang yang tepat.

Sarah kembali terdiam sambil meng uphembuskan nafas, tatapannya tertuju pada pintu masuk panti, berharap dia menangkap bayangan Hunter yang akan segera muncul. 

Bug … Bug …

Sandsack yang ukurannya lebih besar dari bantal guling menjadi sasaran tidak berdosa dari pukulan serta tendangan seorang wanita yang berpakaian olahraga lengkap, jangan lupakan sarung tinju yang terpasang di kedua tangannya.

"Tengah malam seperti ini kau masih berlatih? Apa keterampilanmu masih belum cukup?" Seseorang menginterupsi kegiatan pukul-memukul si wanita.

"Valerie Bykov, apa kau masih berjuang supaya Papa mengakuimu? Mm, sayang sekali, kau tidak akan bisa karena kau itu lemah," ejek orang tersebut.

"Pergilah, Victoria! Aku tidak butuh ceramah atau pencerahan darimu!" Valerie mengusir wanita bernama Victoria yang berstatus sebagai kakaknya.

"Kau itu lamban, Papa tidak suka karena itu hanya akan menghalangi semua gerakan Papa!" Victoria kembali mengejek sang adik yang tidak berhenti memukul karung pasir tersebut.

"Pergilah!" bentak Valerie, "hanya karena kau selangkah lebih maju, itu bukan berarti kau akan menang!" tukas Valerie 

"Kau mungkin sudah kembali dan mengambil perhatian Papa, tapi itu tidak berarti kau akan berhasil," tambah Valerie.

"Ah, jadi kau siap menghadapi Pozzi Hunter? Aku ragu kau bisa melakukannya," ucap Victoria lagi.

"Itu bukan urusanmu! Misi kita tidak ada hubungannya dengan hal itu, aku hanya perlu mengambil barang-barang Papa yang sudah mereka curi," jawab Valerie, wanita itu berhenti memukuli karung pasir dan duduk di bangku untuk meminum air mineral sebagai penggganti cairan tubuhnya.

"Baiklah! Semoga berhasil, kau akan butuh itu." Victoria melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Valerie di ruangan olahraga khusus yang ada di kediaman Bykov.

Valerie menatap sebal pada pintu yang baru saja dilewati Victoria seolah benda itu berubah menjadi menjijikan dan menyebalkan, membuat Valerie ingin menghancurkannya.

Valerie tidak suka karena sang kakak sudah mengungkit masa lalu yang ingin dia lupakan.

Sarah bernafas lega saat mendengar suara deru motor milik Hunter, selain itu dia juga menangkap bayangan nyata pria itu yang terlihat baik-baik saja, tanpa kurang satu apapun.

"Kau ingin istirahat?" tanya Sarah cemas, dia melihat Hunter yang menggeleng dari balik helm. 

"Kita pergi sekarang setelah kau pamit pada Nyonya Smith!" jawab Hunter, Sarah hanya mengangguk dan segera melakukan apa yang Hunter katakan.

Mereka kembali melakukan perjalanan dengan sedikit tenang. "Apa kau tidak apa-apa?" tanya Sarah lagi, dia terkejut saat menyadari punggung Hunter yang basah dan ada sobekan kecil di jaket hitam milik Hunter.

Mata Sarah membulat saat tangan yang menyentuh punggung Hunter yang basah tadi terkena noda merah dan sedikit bau amis. 

"Hunter, kau terluka?!!" pekik Sarah dengan suara tertahan. "Kita harus pergi ke rumah sakit!" 

"Aku tidak bisa," jawab Hunter.

Suara pria itu terdengar parau, Sarah tidak tega melihat pria itu menderita. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Sarah hanya bisa menyalahkan dirinya yang karena sudah menjadi beban orang lain.

Sarah merasa dirinya begitu lemah dan manja. "Berikan ponselmu padaku!" pinta Sarah setelah sebelumnya dia meminta Hunter untuk berhenti dan menepi ke pinggir jalan.

"Untuk apa?" protes Hunter.

"Aku … akan menghubungi Alex," jawab Sarah.

"Apa kau yakin?" tanya Hunter, wajahnya sudah terlihat pucat dan dipenuhi keringat.

"Aku tidak akan membiarkanmu menderita sendirian!" ucap Sarah yang membuat Hunter tertegun. 

"Tidak perlu, aku tidak terbiasa menerima kebaikan dari siapapun," ucap pria yang masih setia duduk di atas sepeda motor, sementara Sarah berdiri di sisinya.

"Biasakanlah, karena aku tidak akan membiarkan temanku menderita. Jika kau menganggap Alex sebagai teman, maka kau bisa menganggapku sebagai saudarimu," jelas Sarah panjang lebar, lagi-lagi Hunter dibuat terdiam oleh wanita bertubuh mungil di hadapannya.

"Baiklah, Adikku! Tapi kita tidak bisa pergi ke rumah sakit," kilah Hunter.

"Kenapa?" Sarah bertanya penasaran.

"Pihak rumah sakit akan melapor pada pihak kepolisian, dan mereka akan membuatnya menjadi sebuah kasus," jawab Hunter panjang lebar.

Sarah menunduk, tentu saja jika hal itu terjadi maka itu hanya akan menghabiskan waktu saja. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong Hunter yang terlihat sudah semakin pucat.

"Lalu, kita harus bagaimana?" 

"Kita cari penginapan dan besok kita lanjutkan perjalanan," jawab si pria pemilik Ducati.

"Tidak bisa! Kau bisa sakit!" tolak Sarah dengan cepat.

"Aku pernah terluka lebih dari ini. Lagipula kau bisa membantuku mengeluarkan peluru dari punggungku. Benar, 'kan? Adikku?!" Dalam keadaan seperti itu Hunter masih bisa melontarkan candaan pada Sarah.

"Ap-apa?"

Pagi hari yang cukup cerah, tetapi tidak cukup cerah bagi Sarah, wanita muda itu panik karena keadaan Hunter semakin memburuk.

Semalam dia tidak sanggup untuk mengeluarkan peluru dari punggung Hunter, pria itu demam tinggi dan sekarang malah tidak sadarkan diri.

Sarah berharap akan ada seseorang yang datang menolong mereka terutama untuk Hunter.

Seorang wanita muda baru saja turun dari sebuah mobil mewah, kaki jenjang yang beralas sepatu hak tinggi yang cantik membuat penampilannya semakin terlihat modis dan berkelas.

Sierra berjalan penuh percaya diri menuju lift di sebuah gedung perkantoran kota London, langkahnya pasti menuju sebuah ruangan yang dimiliki calon ibu mertuanya--Marina.

Kedatangan sang calon menantu tentu disambut dengan suka cita oleh Marina. Baginya Sierra sangat sempurna sebagai pendamping Alex, penampilan Sierra tidak jauh berbeda dengan para model kelas atas yang terkenal.

"Sierra, Sayang! Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau datang ke sini, itu sangat berbahaya!" ucap Marina ketika menyambut sang calon menantu. Bukan rahasia jika berita penembakan Sierra juga sampai ditelinga Marina.

"Aku baik-baik saja, berkat Alex! Bagaimana keadaan Anda, Nyonya Marina?" Sierra berkata sumringah.

"Hah, kalian memang serasi! Terima kasih, Sayang keadaanku sudah lebih baik," jawab Marina juga dengan raut wajah yang bahagia. 

"Mama mengundang Anda dan Alex untuk makan malam di rumah." Sierra kembali berkata menyampaikan maksud dari kedatangannya.

"Wah, kau sampai datang sendiri ke sini," ucap Marina seolah merasa tersanjung karena sang calon menantu rela meluangkan waktu untuk mengundangnya langsung.

"Jangan sungkan! Bukankah kita akan menjadi keluarga?" Sierra kembali tersenyum. Dua wanita itu larut dalam suasana keakraban. Tentu selanjutnya mereka punya rencana bersama untuk acara pertunangan yang sempat tertunda.

Alex kembali berhadapan dengan Valerie, tapi kali ini bukan untuk bertarung. Alex memang menghubungi wanita muda tersebut untuk melakukan negosiasi.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Valerie sambil menyilang tangan di dada. Saat ini mereka berada di tebing pantai dengan sinar matahari cukup terang dan hangat.

"Hunter terluka, semalam dia menghubungiku, dia ditembak oleh anak buah Valentin Bykov."

Alex menangkap raut terkejut dari wajah Valerie, tetapi wanita muda itu begitu pandai menutupi dengan topeng dingin di wajahnya.

"Itu konsekuensi yang pantas dia terima karena berkhianat," jawab Valerie dengan suara yang berat.

"Kau masih keras kepala? Apa itu akan membuatmu merasa tenang?" geram Alex.

"Lalu kau sendiri? Kenapa hanya diam saja tanpa melakukan apapun? Jika kau merasa dia sahabat baikmu seharusnya kau tidak banyak bertele-tele!" marah Valerie pada Alex.

"Aku butuh bantuanmu! Aku tidak bisa melakukan ini sendiri, dia sedang bersama istriku, dan bisa saja Hunter sudah sekarat sekarang," jawab Alex berusaha menjelaskan pada Valerie, lagipula wanita itu juga pasti tahu bahwa Sarah juga sedang dikejar.

"Aku tidak ada urusannya dengan itu ataupun kalian semua!" tegas Valerie.

"Baiklah, aku akan pergi menemui mereka di Yorkshire, jika kau masih peduli padanya kau bisa ikut aku, atau kau memilih untuk tetap menjadi boneka yang dikendalikan Valentin Bykov."

Valerie terdiam memikirkan ucapan Alex. Memang benar selama ini dia hanya dijadikan boneka yang dikendalikan si ketua mafia asal Rusia tersebut.

Valentin Bykov hanya menjadikan dirinya seperti robot yang harus mematuhi semua perintah pria tambun si penjahat kelas kakap.

"Ikut denganku dan cari jawaban atas segalanya. Sebelum semuanya terlambat!" ucap Alex kemudian pergi meninggalkan Valerie.

Alex memasukkan tubuhnya ke dalam mobil, saat menyalakan mesin mobil, senyum Alex terukir karena seseorang membuka pintu dan duduk di kursi penumpang membuat mobilnya sedikit berguncang karena berat tubuh orang tersebut.

"Bawa aku padanya, karena aku ingin membuat perhitungan!" Valerie berkata dengan suara yang dingin, tetapi Alex menangkap getar suara dengan makna yang berbeda dari ucapan Valerie.

Mobil Alex segera membawa dua tubuh berbeda gender tersebut untuk meninggalkan tebing pantai dengan panorama indah berupa matahari pagi yang sangat indah.

Kisah masa lalu menjadi pemikiran masing-masing. Menjadi mata-mata di kandang Valentin membuat mereka mengenal satu sama lain.

"Anak kesayangan Papamu sudah kembali?" tanya Alex.

Valerie melirik sekilas. "Victoria. Aku sudah ingatkan padamu untuk lebih peka dan tajamkan nalurimu!" ucapnya.

"Apa maksudmu?" tanya Alex penasaran karena dia tidak mengerti pada ucapan mantan rekannya dulu.

"Kau tidak mengenal siapa dia. Kau tahu nama tanpa pernah melihat siapa dia. Licik dan pintar itulah Victoria. Dia bisa melakukan apa saja untuk mendapat yang diinginkan," jelas Valerie panjang lebar.

Dada Alex berdegup kencang setelah mendengar ucapan Valerie, dan satu nama terpikirkan begitu saja. Alex dan Valerie saling menatap.

"Sierra!"

"Sierra!"

Mereka berdua mengucap satu nama di saat yang bersamaan.

TBC

Nah, gimana udah ada pencerahan belum?

Keep wait ya temen² ...

See you next chap ...

I love you all 💕💕💕

1
saleha widjaja
seru kisahnya buat penasaran aja
Ulil Zamhariroh
Baru buka
dan lihat 37 bab
ku pikir
berhenti di tengah jalan atau Hiatus atau pindah ke aplikasi lain nya karena ada tulisan end

eh ternyata emang bener di bab 37 tamat
keren bisa tamat
walaupun hanya 37 bab




semoga bisa berkarya lagi ya Thor 🤲 Aamiin 🤲
Rehta Ta
keren ceritanya😘
Thirta Nata
pikiran mereka sama².keren cerita nya
krisan
lanjut
Aba Bidol
ini bab yang bener2 bikin tegang..., ayoo Lex..bersihkan semua wanita2 ulet keket itu...
Aba Bidol
Karya ke 3 othor yang akhirnya tamat di baca. Cerita yang ringan, singkat dan nggak muter2 berepisode panjang nggao jelas......., sangat menghibur di dunia halu...., Karya yang keren tor...👍👍👍🎉🎉
tetap semangat berkarya yah thor....🤟💪💪💪👍👍👍👍👍🎉🎉🎉🎉
Sri
keren thor ,,, 👍 👍👍
Lilis Ferdinan
ngak ngerti,,,,dng jalan pikiran mamanya alex,,
Lilis Ferdinan
ttp bersama ya,,, bersama akn lbh kuat,, thor jng jahat2 yah, 😇😇
Lilis Ferdinan
indahnya kebersamaan mereka,, smg ngak ada yg mngusik,,,😁
Lilis Ferdinan
smg cinta kefuannya cukup kuat, untk mnhan semua cobaan yg akan dtg,,, hmmmm,,,
Lilis Ferdinan
beneran ikut esmosi nih,,, tu, mamanya sama mertuanya, kgak punya perasaan apa yah,,, emng nikah bs seenaknya ditukar2,gitu,,,, pengen ketok lambungnya tu emak2,biar pada sadar,,, smg kepalsuan sierra segera trungkap,,,😔
Lilis Ferdinan
Greb,,,, nya bang alex bikin kesemsem deh,,jd ngak sabar nunggu keromantisan nya di Paris,,, tp,,, kok takut2 bakal ada yg batalin,,, hiiii☹️
Lilis Ferdinan
kayaknya tebakan alex benar deh,,, sierra penuh tipu muslihat,,,, smg alex ngak berubah, ttp mncintai dan percaya sm sarah,,, haaa,,,, ikutan esmosi nihh,,,, 😁
Lilis Ferdinan
visualnya bikin meleleh,, aihhhh,,,
Lilis Ferdinan
aihhhh,,,, kok udh ngerasa nyesek duluan , sblm konflik,,, ngeri2 gmnnaa,,,,gitu ngebayangin nya,,, 😟
Lilis Ferdinan
makin kesini, smkin suka,,,, bang alex kok esmosi,, situ yg selingkuhhh,,, pengen cubit ginjalnya deh,,, 😌
Lilis Ferdinan
dedegan nih,, ngebayangin gmn sifatnya sierra, jahatkah,,, haduhhhh,,,,, 😌
Lilis Ferdinan
semakin menarik,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!