Perpisahan Denan Al fatan dan Akia Rinjani di masa kecil. Akhirnya di pertemukan lagi lewat sebuah pekerjaan. Dimana Denan Al Fatan adalah CEO tempat Akia bekerja mencari uang.
Kisah cinta mereka banyak di taburi perselisihan, kesalah paham dan juga masalah keluarga.
Penyatuan cinta yang penuh warna-warni dalam sebuah kehidupan yang menjadikan mereka kuat dan tegar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Bos Aneh
Setelah Revan pergi, Akia pun menatap kearah Denan yang duduk didekatnya. "Maaf, Bos, saya sudah merepotkan Bos gara-gara ini," ucapnya. Ia merasa dirinya telah menyusahkan Denan.
"Untuk apa minta maaf, bukankah dengan sesama kita harus saling membantu?" Balas Denan yang memutar balikkan pertanyaan sambil mengetuk-ngetukkan ujung sepatu kelantai.
"Ya, Untuk hari ini Bos sudah menyelamatkan aku. Dan Aku merasa punya hutang budi sama Bos," ungkapnya lagi seraya mengigit bibir bawah.
Denan menyunggingkan senyum tipis. "Heh, aku kasih tau ya. Memang setelah ini kamu harus membayar semuanya dengan mahal."
Pernyataan Denan, membuat Akia meleguk salivanya. "Sepertinya Bos tengah menjiplak kata-kata yang sering ku gunakan ya," sindir Akia yang yakin Denan mengcopy senjata nya untuk menyerang balik.
"Sudah ku duga kau tahu, tentu saja, Kata-kata mu masih ku rekam jelas di sini," tunjuk Denan pada keningnya. "Ingat tidak, bukankah kau meminta bayaran demi harga diriku itu gara-gara 3 syarat yang ku langgar. Maka sekarang aku menyelamatkannya. Seharusnya sudah kita Impas kan ya, aku telah melunasinya. Kalau begitu kembalikan uangku." Denan menengadahkan tangan di iringi senyuman kecil.
"Ah, si Bos. Gak gitu juga aku bayarnya. Uang itu sudah habis aku kirim ke kampung ku," ujar Akia yang jadi kesal.
"Hem, oke. Aku punya syarat lain kalau begitu."
"Apa itu Bos?" Akia was-was, takut Denan meminta sesuatu. Denan malah melebarkan senyum yang hanya seutas itu membuat wajahnya sangat manis hingga menambah daya tarik yang menghipnotis.
(Aduh, Kenapa senyum itu menyihir ku) Gumam Akia dalam hati, membuat jiwa perempuannya meleleh seketika.
"Hem.... aku tahu isi otakmu. Kau pasti memuji ketampanan ku bukan?" Ucap Denan yang asal menebak. Begitu percaya dirinya Ia berkata begitu.
"Ha, tidak Bos, aku gak ngomong-ngomong apa-apa kok. Dari mana Bos tahu aku memikirkan itu. Oh iya jangan-janhan Bos ini punya mata batin ya," elak Akia yang sedikit mencebikkan bibir. Ia pun mengalihkan pandangannya, untuk menutupi rasa malu terhadap Denan.
"Ya ampun, Kau tak mau mengaku juga ya, padahal tuduhan itu sama artinya kau mengakui kenyataan sebenarnya kalau aku itu menebak dengan benar," decih Denan kembali menyeringai.
Akia membulatkan mata. "Mengaku, apa Bos. Itu tidak benar, aku gak mikir gitu kok. Aku mikirnya kenapa kok yang nyelamatin aku harus Bos Denan, bukan orang lain saja."
"Apa? Jadi kau, Akia... mana rasa terima kasihmu. Akui saja, Kalau kau sedang mengagumi ketampanan ku," ucap Denan dengan tampang sangat kesal.
"Yeh, percaya diri sekali sih Bos," rutuk Akia tak mau kalah.
"Tapi kenyataannya begitu kan?" Denan kembali menatap dengan senyuman mautnya. Lagi-lagi membuat Akia terpukau. Sengaja Denan lakukan itu untuk membuktikan kenyataan kalau Akia hanya berbohong.
(Oh Tuhan, kenapa senyumnya selalu menghipnotis ku) Batin Akia lagi dalam hati. Ia bahkan meneguk liur nya dengan susah payah saking sukanya melihat Denan kalau tersenyum begitu. (Ah, sepertinya aku sudah gila, mana mungkin dia menyukai ku) Batin Akia berikutny. Perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan mimik wajah berubah-rubah membuat Denan menjadi heran.
"Heh, aku jadi curiga deh dengan, apa yang sedang kau pikirkan?" Tilas Denan sambil memainkan jari telunjuknya di dibibir. Ia yakin tebakannya tak pernah salah. Karena signal yang di perlihatkan Akia begitu adanya. Kalau gadis itu tengah menyimpan sebuah rasa kagum terhadap ketampanan yang di milikinya. Siapa sih cewek yang gak suka sama cowok seperti dia asalkan dia mau membuka hati.
"Oh... gak ada Bos, itu perasaan Bos aja kali," elak Akia lagi. "Bos itu jelek, sombong ,angkuh dan arogan," dengus nya menambahi lalu membuang muka kearah lain. Mana mungkin Akia mengaku, mau di taruh dimana mukanya kalau semua orang tahu. Bisa-bisanya OG menyukai seorang Bos CEO yang punya kesempurnaan segala-galanya.
"Biarin, supaya kamu itu tau dirilah." Denan memutar bola matanya, lengannya menggaruk-garuk pelipis yang tiba-tiba terasa sangat gatal.
"Is, dasar angkuh," gumam Akia kesal.
Denan tak menggubris ucapan Akia yang sebenarnya didengarnya itu. Ia hanya senyum-senyum sendiri menatap langit-langit sembari menggoyang-goyangkan kedua kaki nya dengan santai.
"Bos, ini makanannya," Tukas Revan yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dan meletakan plastik bungkusannya diatas meja.
Denan membelalakkan matanya akan aksi asistennya.
"Hey...!" suara Denan menggema hingga Revan terkejut dibuatnya. Padahal Ia merasa tidak melakukan kesalahan sama sekali.
"Iya Bos...." Revan menundukkan kepala, mendapati Bosnya itu menatap tajam seolah bola mata yang dimilikinya hendak keluar.
"Kamu sadar tidak dengan kesalahan yang sering kamu lakukan itu ha?" bentak Denan semakin lantang.
"Kesalahan? kesalahan apa sih Bos?" Revan tak mengerti, Ia merasa tidak melakukan hal apa pun selain masuk dan meletakan bungkus nasi.
"Kenapa tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" jengah Denan masih belum berhenti menatap Revan.
Revan pun tercengang dan menoleh menatap pintu, sampai replek memukul keningnya. "Astaga, Maaf Bos saya kan sudah terbiasa begitu," ucapnya sadar.
"Jangan ulangi, bagaimana kalau aku masih ciuman sama Akia kan bahaya!" Kali ini suara Denan melambat.
"Apa? Bos jangan ngawur dong. Ngapain cium aku," timpal Akia tak suka.
Denan mengacuhkan gadis itu lalu meraih isi kotak nasi dalam kantong kresek. "Kenapa cuma dua?" Sentak Denan lagi setelah tahu jumlahnya.
"Emang minta berapa Bos?" Tanya Revan lagi-lagi harus bingung.
"Mana untuk mu?" Tanya Denan yang ternyata memikirkan dirinya..
"Hehehe... ternyata begitu. Saya sudah makan ditempat Bos," jawab Revan dengan wajah konyolnya, seraya cengar-cengir tanpa merasa kalau tindakannya sangat amat menjengkelkan hati Denan.
Dug!
Kaki pemuda itu dengan gampang melayang ke betis asistennya sebagai bentuk kemarahan. Revan cukup kaget tapi hanya meringis menahan sakit yang tiba-tiba terjadi tanpa kesiapan.
"Beraninya Kau, seharusnya makan lah setelah majikan mu selesai. Awas kalau sampai itu terjadi lagi. Aku akan menghukummu sampai kau menjadi kurus kerempeng lalu di tinggalkan dengan pacar mu yang cantik itu, " oceh Denan panjang lebar.
"Aduh, jangan Bos. Maaf saya kan khilaf saking laparnya. Lagian sembari menunggu di bungkusi juga kan. Dari pada diam tanpa melakukan apa-apa mending mengisi perut kan?"
"Apa...?" Denan ingin menyempar kaki Revan lagi tapi kali ini pemuda melompat dan berlari keluar.
"Hey, jangan kabur. Lihat saja, aku akan memotong gajimu setiap bulan selama satu tahun," pekik Denan masih sangat kesal hingga mengganda jadi berkali-kali lipat karena asistennya itu berbuat kurang ajar.