Kalau saja jatuh cinta itu bisa memilih, Aruna tidak akan pernah menjatuhkan pilihan pada Rafaresh Emerald William, atau pun pada Ziko Elvano William. walaupun mungkin dia sudah terjerat pada pesona kedua tuan muda keluarga William itu, yang memang tak terbantahkan.
karena menurut Aruna, jatuh cinta pada seorang pewaris tahta, tidak akan pernah mudah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 Batasan Yang Tak Boleh Dilanggar
Tuan muda Erald, akhirnya memilih diam. Meski arti diamnya saat ini bukan berarti dia sepenuhnya menerima di tempatkan pada posisi yang salah. Hanya saja, ia mengakui bahwa semua yang dikatakan oleh mamanya, itu benar. Jika dia memang bermaksud menolong Aruna, ada banyak cara yang bisa dilakukan, cara yang sesuai standart menolong seseorang, tanpa adanya interest pribadi, atau pun maksud tersembunyi. Bukan dengan cara yang dipilih oleh Erald saat ini, yang bisa mengarah pada hal-hal yang negatif dan syakwa sangka yang tak bisa dipungkiri.
Akan tetapi, Erald juga tak setuju jika akibat dari kesalahan yang tak terniatkan ini, dirinya harus dihadapkan pada pertanggungjawaban besar seperti apa yang dicetuskan oleh Aura--sang mama- tercinta.
Begitu juga dengan Aruna, keputusan Aura padanya dan Erald dinilai terlalu berlebihan. Bahkan keduanya bukan hanya tak saling bersentuhan, tapi juga sama-sama menjaga jarak, meski pun berdua saja dalam kamar. Dan jangan tanyakan soal perasaan, Aruna jelas terlalu paham, kalau seorang Rafaresh Emerald William, tak mungkin akan menyukai seorang Aruna Syifabella. Pun juga dengan dirinya, meski pesona seorang tuan muda Erald begitu menjerat, dan mungkin hanya butuh satu langkah saja, untuk gadis hijab itu merasa terjerat, tapi, bukan berarti itu bisa dijadikan dasar memutuskan kalau Aruna menyukai Erald, apalagi sampai berkesimpulan kalau mereka saling menyukai seperti apa yang diputuskan oleh Aura Aneshka dalam akhir interogasinya.
Kenapa setiap orang kaya raya dan punya kuasa itu selalu memutuskan sesuatu dengan semena-mena terhadap orang yang ada di bawahnya? Demikian pertanyaan Aruna yang hanya tercetus dalam diamnya saja.
Pintu kamar diketuk dari luar. Aura yang bergegas membukakan. Terdengar suara dari seseorang yang datang. "Apa aku datang terlambat, Sayang?"
"Tidak. Kau datang tepat waktu. Suamiku" Itu jawaban Aura. Perbincangan singkat yang menampilkan kesan kemesraan yang cukup melekat itu membuat Aruna sedikit terdongak, untuk mencuri lihat, siapa kiranya yang datang. Ternyata seorang lelaki matang yang sangat tampan. Siapa lagi kalau bukan Damaresh William, ayahanda Rafaresh Emerald William.
"Keputusan apa yang sudah dibuat oleh istriku sekarang?" Begitu pertanyaan Damaresh saat sudah duduk tak jauh di depan Aura. Dan setelah ia menatap pada putra serta gadis berhijab yang duduk tak jauh di samping istrinya.
"Menikahkan putra sulung kita dengan gadis ini. Namanya, Aruna Syifabella."
Damaresh terlihat memicingkan mata mendengar ucapan istrinya. Dan sekali lagi ia menatap pada Erald yang diam saja, juga pada Aruna yang tertunduk dengan meneteskan air mata.
"Alasan mereka harus menikah?" Damaresh kembali bertanya pada istrinya.
"Untuk melindungi mereka dari fitnah, karena ketahuan berduaan saja di kamar hotel. Dan alasan lebih spesifiknya lagi, agar mereka terjaga dari hal-hal yang tak disukai Tuhan."
Kalau sudah jawaban seperti ini yang diberikan oleh istrinya, Damaresh sepertinya tak punya lagi sanggahan. Kecuali satu pertanyaan yang ia ajukan.
"Apa mereka setuju untuk menikah?"
"Papa bisa tanyakan sendiri pada mereka."
"Baiklah. Papa akan tanyakan, karena tak baik jika memaksakan sebuah pernikahan ..."
"Lebih tak baik lagi, jika kita membiarkan anak kita terjerumus ke dalam kesalahan, Papa," sahut Aura segera.
Damaresh menghembuskan napasnya pelan. Istrinya, yang senantiasa lembut dan penurut, serta selalu siap siaga di sampingnya, akan berubah menjadi pribadi yang tak bisa dibantah, jika itu berkaitan dengan hukum kebenaran dan kebaikan. Tapi, Damaresh sangat merasa beruntung tentang hal itu. Karena ia seakan punya tombol pengingat secara otomatis bila ia terjerumus melakukan kesalahan dan ketidakbenaran.
"Bagaimana, Erald?" Damaresh langsung bertanya pada sang putra sulung, yang terlihat tak sedikit pun berniat untuk bicara.
Pemuda itu menghembuskan napasnya berat. "Saya akan temui keluarga Aruna, untuk ... meminta ijin, menikahi putrinya." Erald pun mematuhi peraturan ibunya. Sebenarnya, jauh sebelum kejadian malam ini ada. Telah berlaku sebuah aturan yang ditetapkan oleh Aura untuk ketiga putranya, terkait masalah pergaulan dengan perempuan. Secara tersirat, ia bukan melarang putranya untuk menjalin kedekatan dengan perempuan. Apalagi di jaman sekarang, dan di kalangan keluarga kaya raya seperti keluarga William, hal itu adalah satu hal yang pasti amat sulit untuk ditentang. Tapi, Aura juga memberi batasan yang tak boleh dilanggar.
Dan batasan tersebut, yang malam ini terjadi pada Rafaresh Emerald William. Yaitu Sekamar, bersama seorang perempuan. Hal mana, secara tak langsung, Erald telah melanggar batasan yang diterapkan oleh ibunya, maka wajib pula baginya untuk menjalankan sangsi dari peraturan yang telah ditetapkan. Yaitu, menjalani pernikahan dengan perempuan yang kedapatan sekamar dengannya. Dalam kasus ini, adalah Aruna.
Damaresh bukan tak tau tentang hukum itu, bahkan ia juga memberikan restu. Tapi, malam ini, saat ia mengetahui adanya fakta ini, tak pelak hatinya ingin mengingkari, karena masih banyak tugas yang akan ia bebankan pada Erald nanti. Dan menikah di usia muda, bukanlah bagian dari tugas yang ingin ia beri.
"Tapi ..." Erald jelas memperlihatkan ketidaksanggupannya. "Jika dalam dua hari ini, saya menemukan siapa yang telah menjebak Aruna, hingga ada di kamar saya, apakah pernikahan bisa dibatalkan?"
"Bisa. Jika Aruna juga setuju," sahut Aura dengan tegas.
"Baiklah, terima kasih, Mama." Erald memperlihatkan senyuman singkat. Besar harapannya untuk membuktikan bahwa sampai saat ini, ia tetap putra kebanggaan Damaresh dan Aura yang pantang melakukan perbuatan tak pantas dengan seorang wanita.
"Mama benar-benar rela, putra sulung kita menikah di usia muda?" tanya Damaresh, mereka kini hanya berdua saja dalam mobil yang melaju pesat menuju mansion Pramudya.
Aura tak menjawab, ia hanya memperdengarkan deru napas lembutnya.
"Peraturan dibuat untuk dijalankan, bukan untuk dilanggar. Papa, yang selalu mengatakan demikian." Aura merubah posisi duduknya, sedikit mencondongkan tubuh ke arah suaminya. "Erald terlalu muda, belum sepenuhnya tau, apa saja tugasnya dalam berumah tangga. Tapi, di sini, aku hanya ingin mengajarkan anakku untuk bisa bertanggung jawab dalam setiap tindakannya."
"Kalau aku boleh menyesal, Pa. Aku ingin menyesali kenapa aku membuat peraturan demikian dulu pada ketiga anakku. Jika kini, malah terjadi pada Erald begini. Tapi, aku ingat pada niat awal ketika membuat peraturan. Dan pasti, Papa juga ingat." Aura melayangkan tatapan tanpa lepas pada sang suami.
Damaresh mengangguk. "Ya, kau ingin menanamkan jiwa penuh tanggung jawab pada anak-anak kita," ujarnya.
"Seorang lelaki itu harus memiliki pondasi utama sebagai seorang pemimpin. Karena setiap lelaki itu pasti akan jadi pemimpin. Dan pondasi utama seorang pemimpin, adalah tanggung jawab." Wanita berhijab itu menambahkan. "Aku tak ingin, karena hidup serba berkecukupan, anak-anak kita jadi lalai, dan tidak tau batasan," ujarnya lagi dengan tatapan sendu yang membentur wajah pria tampan di depannya itu.
"Terima kasih, Sayang. Tanpa wanita hebat sepertimu di sampingku, aku tak akan sampai di titik ini." Damaresh meraih wajah sang istri, dan memberinya ciuman sayang berkali-kali.
Sukses, dan kaya raya, itu hal yang biasa. Sukses dan kaya raya itu, bahkan sudah melekat pada Damaresh William, sebelum ada Aura. Tapi, sukses dan kaya raya serta punya hati nurani, itu baru luar biasa. Dan yang nomor dua ini, baru ada dalam hidup Damaresh, setelah adanya Aura sebagai istri.