Jin Fei fan harus menerima pemegang takdir sang penjaga berikutnya. Dia harus berjuang lebih keras untuk pantas menjadi sang penjaga dan agar dapat berjumpa dengan kedua orang tuanya yang dia ketahui berada di dimensi berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neneng selfia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil harta Karun
Melihat itu, mereka semua terutama anak-anak yang diselamatkan tercengang. Mereka tidak menyangka bahwa kekuatan Wei Yan sebesar itu.
"Ternyata walaupun tidak terlalu fokus latihan, kemampuan Wei lebih kuat dari aku." gumam Fei fan.
"Apakah anak-anak itu sudah diberi penawar racun?" tanya Wei Yan melihat Fei dan yang lainnya.
"Sudah Wei." saut Fei fan.
"Sebaiknya kita segera kembali agar tidak membuat paman Jendral dan yang lainnya lebih cemas." saran Yuan li.
"Ya, apa yang kak Yuan li benar. Anak-anak itu pasti sangat merindukan keluarga mereka. Kita harus segera membawa mereka kembali." ucap Fei fan.
Mereka segera meninggalkan tempat itu Fei fan dan Wei Yan lagi-lagi membantu mereka menyebrangi rawa dengan mudah. Di seberang sana, Jendral Ning sangat bersemangat melihat anak-anak itu kembali.
"Apakah semuanya sudah berakhir?" tanya jendral Ning.
"Dalang di balik semua itu memang sudah kami basmi hingga tuntas. Tapi, kami tidak bisa menyelamatkan semua anak yang diculik karena mereka sudah terlanjur dijadikan tumbal." ucap Wei Yan.
"Apa yang kalian lakukan sudah sangat membantu. Anak-anak itu sudah hilang cukup lama. Masih ada yang bisa selamat dari mereka sudah sangat kami syukuri karena tanpa kalian, jangankan anak-anak ini, bahkan anak-anak lainnya akan menjadi korban juga." ucap Jendral Ning.
"Aku juga ingin meminta maaf karena aku hanya menjadi beban bagi kalian sebelumnya." tambahnya.
"Itu bukan masalah paman Jendral. Kalian sebaiknya segera kembali. Kakak-kakak yang lainnya akan mendampingi selama perjalanan." ucap Wei Yan.
"Maksud tuan muda apa?" tanya Huang hu.
"Aku dan Fei fan masih ada sedikit urusan di sini. Kalian kembali saja dulu. Kami akan segera menyusul." jawab Wei Yan.
"Tidak perlu khawatir kakak-kakak semua. Kami pasti berhati-hati dan kami mampu menjaga diri." ucap Wei Yan.
"Apa yang perlu dikhawatirkan dari nona dan tuan muda kita? Mereka berdua tidak akan ada yang bisa melukai mereka. Jika mereka tidak ingin kita bersama mereka melakukan sesuatu itu, itu artinya kita tidak akan sanggup memberikan bantuan apapun. Sebaiknya jangan jadi penghalang mereka." ucap Huang si.
"Kalian bukan penghalang bagi kami. Tapi, ya memang benar kami takut kalian terluka jika kalian ikut dengan kami kali ini." ucap Wei Yan.
"Jangan khawatir kak Yuan, kak Yang, kami sangat paham batas kemampuan kami dan kami tidak akan melakukan hal yang berbahaya bagi keselamatan kami ." ucap Fei fan melihat kekhawatiran mereka.
"Baiklah, hati-hati dan cepat kembali. Kita harus segera melanjutkan perjalanan ke tujuan utama kita." ucap Yang ruo.
"Baik." saut Fei fan dan Wei Yan bersamaan.
Mereka akhirnya berpisah, Fei fan dan Wei Yan menyusuri tepi rawa mengikuti petunjuk dari roh pedang. Mereka tiba di suatu tempat dengan pemandangan sebuah gua yang cukup besar. Di depan gua itu ada seekor ular raksasa yang sedang tertidur pulas.
"Sepertinya ular raksasa itu sudah berada di tingkat bumi level 4. Kalian berdua harus berhati-hati karena hewan roh jenis ini jauh lebih kuat dan ganas karena memiliki jenis racun yang mematikan." ucap roh pedang.
"Dimana benda pusaka yang kau maksud kakek tua?" tanya Wei Yan.
"Benda itu ada di dasar kolam yang ada di depan ular itu. Sedangkan tumbuhan spiritual yang aku maksud ada di dalam gua itu." jawab roh pedang.
"Sebaiknya kita berdua masing-masing mengambil dua harta itu secara terpisah. Karena tumbuhan spiritual lebih aman jika kau yang mengambil maka kau yang mengurus tanaman itu sedangkan aku kebal terhadap racun maka aku yang akan mengambil pusaka racun itu." ucap Wei Yan.
"Baiklah." ucap Fei fan.
Mereka bergerak perlahan masing-masing menuju tempat pusaka dan tanaman spiritual berada. Mereka berusaha untuk tidak membangunkan ular raksasa yang sedang tertidur pulas di depan gua itu.
Fei fan berhasil melewati ular raksasa itu lalu segera memasuki gua. Di dalam gua itu, energi spiritual sangat kental membuat Fei fan merasa bahkan hanya dengan bernafas saja kekuatan spiritual miliknya bertambah.
"Itu sepertinya adalah tanaman yang dimaksud kakek tua itu." gumam Fei fan.
"Dum dum dum." suara berdentum terdengar dan tanah agak bergetar bahkan beberapa batu dan tanah di dinding dan atas gua berjatuhan.
"Ular raksasa itu sepertinya sudah bangun." gumam Fei fan.
"Aku harus segera mengambil tanaman itu lalu membantu Wei di luar sana." gumamnya lagi lalu segera mencabut tanaman itu lalu memasukkan nya ke dalam batu dimensi.
"Telur apa itu?" gumam Fei fan melihat sebutir telur yang cukup besar tertanam di tempat dia mencabut tanaman itu.
"Aku simpan saja dulu. Kakek tua di dalam pedang itu pasti tahu telur apa ini." gumam Fei fan lalu memasukkan telur ke dalam batu dimensi.
"Beres, sebaiknya aku membantu Wei sekarang. Ular raksasa itu pasti merepotkan." gumam Fei fan lalu segera keluar dari gua.
"Hiat... Buk bak buk." saat mendekati pintu gua, Fei fan mendengar suara perkelahian.
Ternyata Wei Yan bertarung melawan ular raksasa itu. Dengan sigap Fei fan membantu menyerang ular raksasa itu.
"Syut... syut syut." ular raksasa itu menyemburkan cairan racun namun berhasil dihindari oleh keduanya.
"Ces... ces...ces..." cairan racun itu ternyata dapat membuat apapun yang disentuhnya meleleh.
"Apakah kau sudah berhasil mengambil pusaka itu Wei?" tanya Fei fan.
"Belum aku baru saja akan memasuki kolam dan ular raksasa itu sudah menyadari keberadaan aku." jawab Wei Yan sambil terus melawan ular raksasa itu.
"Kalau begitu, selesaikan dengan cepat ular raksasa itu. Kita harus segera kembali." ucap Fei fan.
"Duar...."
"Huft beruntung aku cepat menghindar ucap Fei fan yang hampir terkena serangan energi dari ular raksasa itu.
"Kekuatan spiritual ular raksasa itu lebih kuat dari pada hewan roh lainnya. Kita harus lebih hati-hati." ucap roh pedang.
"Pasti karena tanaman spiritual itu." ucap Fei fan.
"Tekanan spiritual yang sangat kuat." ucap Wei Yan karena mereka kini tidak bisa bergerak.
"Sepertinya kau harus menggunakan aku bocah." ucap roh pedang.
"Tidak, tekanan ini tidak pantas untuk aku menggunakan bantuan." ucap Wei Yan.
Mereka berdua lalu fokus mengumpulkan kekuatan jiwa lalu seketika cahaya putih keluar dari tubuh mereka.
"Duar..." tekanan spiritual yang menekan keduanya hancur.
"Ingin kabur heh." Fei fan menebas kepala ular raksasa yang hendak kabur karena kalah itu menggunakan pedang Phoenix api es miliknya.
Dia mengambil inti spirit ular raksasa itu sedangkan Wei Yan segera turun ke dalam kolam untuk mengambil pusaka racun yang dia inginkan. Setelah Wei Yan berhasil mengeluarkan pusaka itu, kabut beracun yang mengalir ke rawa itu menghilang.
terhura aq thor.....