Kata kunci masuk GC : Siapakah nama paman Almira?
Pernikahan yang dibina Almira selama setahun kandas di tengah jalan. Tomy. suami yang dicintainya menghamili sekertarisnya. Almira yang kecewa dengan suaminya langsung kabur dari rumah untuk menghindari suaminya dan mertuanya.
Tanpa sengaja Almira bertemu kembali dengan Tomy di kantor tempat Almira bekerja, karena atasan Almira adalah teman Tomy. Semenjak itu Tomy kembali mendekati Almira. Almira tidak ingin kembali ke mantan suaminya dan hanya ada satu cara agar Tomy berhenti mengejar Almirah lagi, yaitu menikah dengan atasannya yang bernama Faisal Yudhatama.
Faisal Yudhatama adalah pemilik perusahaan tempat Almira bekerja Faisal adalah seorang duda yang memiliki tiga anak, istrinya meninggal karena sakit kanker yang di deritanya.
Demi menolong Almira dari gangguan Tomy, Faisal meminang Almira. Akankah Almira menerima pinangan Faisal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Menerima Apa Adanya.
Almira turun dari ojol tepat di depan pagar kantor Faisal. Ketika ia hendak masuk ke dalam halaman kantor ada seseorang memanggil namanya.
“Mbak Almira….”
Almira menoleh ke belakang. Seorang laki-laki lanjut usia berlari menghampirinya.
Hadeuh mau ngapain lasi, sih? Nggak ada kapok-kapoknya, gerutu Almira.
“Ada apa Pak Sukri? Kalau di suruh nganterin barang bilang sama Ibu Giatri saya tidak mau terima!” seru Almira.
“Tapi ini….” Laki-laki itu memberikan tote bag serupa dengan yang kemari.
“Bilang sama Ibu Giatri dan Pak Tomy, saya tidak mau menerima pemberian mereka!” kata Almira.
“Mbak nanti Ibu marah,” kata Pak Sukri.
“Saya tidak peduli.” Almira membalikan badannya dan meninggalkan Pak Sukri.
Tiba-tiba Almira berhenti kemudian membalikan badan lagi.
“Oh…ya Pak Sukri tolong sampaikan ke Ibu Giatri dan Pak Tomy, jangan ganggu saya lagi karena saya sudah dilamar orang lain akan segera menikah,” kata Almira.
“Baik, Mbak,” jawab Pak Sukri.
Almira membalikkan badannya lalu berjalan masuk ke dalam kantor.
Seperti biasa Almira melemparkan badannya ke atas kursi.
“Kemarin-kemarin Pak Tomy yang datang, terus Ibunya sekarang Pak Sukri. Nggak tau besok-besok siapa yang datang.” Almira ngegerutu sendiri.
“Lagi ngapain? Sampai-sampai calon suami datang tidak tau,” tegur Faisal.
Almira kaget, tau-tau Faisal sudah berdiri di depan mejanya.
“Loh Mas kapan datangnya?” tanya Almira.
“Baru saja. Kamu lagi asyik ngomel sendiri,” jawab Faisal.
“itu barusan Pak Sukri datang. Di suruh sama Tante Giatri nganterin bingkisan. Tapi sudah saya tolak. Terus saya bilang kalau mereka jangan ganggu saya lagi. Karena saya sudah dilamar orang lain dan akan segera menikah,” kata Almira.
“Berarti lamaran saya diterima dong,” kata Faisal sambil tersenyum simpul.
“Iiiihhh kata siapa? Saya bicara begitu biar Pak Sukri menyampaikan kepada mereka agar mereka tidak gangguin saya lagi,” kata Almira.
“Oh, Mas kirain lamaran Mas sudah diterima.”
“Tapi nanti malan jadikan kita dinner?” tanya Faisal.
“Jadi, kita berangkat setelah sholat magrib,” jawab Almira.
“Oke, Mas tunggu loh.”
“Mas masuk ke ruangan Mas dulu, ya,” pamit Faisal sambil mengusap-usap kerudung Almira.
“Iiiihhh, udah berani usap-usap kerudung,” gerutu Almira ketika Faisal masuk ke dalam ruangannya.
****
Malam harinya sesuai dengan janji Almira mereka pergi setelah sholat magrib.
“Kita mau makan malam dimana nih?” tanya Faisal sambil fokus menyetir.
“Terserah Mas saja,” jawab Almira.
“Oke, kalau terserah saya,” kata Faisal.
Lalu Faisal mengemudikan mobilnya ke suatu tempat.
“Loh kok ke sini sih, Mas?” tanya Almira ketika Faisal memberhentikan mobilnya pada basement sebuah hotel.
“Tadi kan katanya terserah, Mas. Ya sudah, kita makan di restaurant yang ada di hotel ini,” jawab Faisal.
“Ya, tapi bukan di hotel dong, Mas. Kan restaurant masih banyak,” kata Almira.
“Biar lebih private bicaranya,” jawab Faisal.
“Ayo turun.”
Faisal membuka seat belt lalu keluar dari mobilnya. Sedangkan Almira masih tertegun di dalam mobil memandangi suasana basement hotel. Ia takut ada yang melihat mereka.
Tanpa ia sadari Faisal sudah berdiri di samping mobil dan membukakan pintu untuknya.
“Mas, malu nanti ada yang lihat kita ke sini,” kata Almira.
“Malu sama siapa? Kita kan sama-sama single bukan pasangan selingkuh,” jawab Faisal.
“Ayo.”
Akhirnya Almira menurut dan keluar dari mobil. Setelah Almira keluar dari mobil Faisal langsung menutup mobilnya dan merekapun berjalan menuju liff hotel.
Liff yang mereka naiki berhenti di lantai 20 tempat restaurant yang dituju oleh Faisal. Almira menatap takjub interior di lantai 20. Maklumlah ia belum pernah dibawa Tomy ke hotel mewah seperti ini.
“Ayo.”
Faisal membimbing Almira menuju ke sebuah restaurant mewah yang berada di lantai 20.
“Selamat malam, Pak. Sudah reservasi tempat atau belum?” tanya pelayan.
“Sudah, atas nama Faisal,” jawab Faisal.
“Tunggu sebentar, ya Pak.” pelayan itu mencek nama Faisal di buku tamu.
Tak lama kemudian pelayan itu menghampiri Faisal.
“Mari silahkan, Pak.” Almira dan Faisal mengikuti pelayan itu. Sampailah di sebuah meja di samping jendela yang memperlihatkan kota Jakarta pada malam hari.
Setelah Almira dan Faisal duduk pelayan memberikan buku menu.
“Kamu mau makan apa?” tanya Faisal.
“Terserah, Mas deh. Sekali-sekali Mas yang pilihin menunya,” jawab Almira.
Setelah memesan makanan, pelayan itupun pergi.
“Oke sekarang kamu mau bicara apa?” tanya Faisal.
“Apa Mas Faisal tidak pikirkan kembali pinangan Mas Faisal?” tanya Almira.
Faisal mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanya Almira.
“Kenapa?” tanya Faisal.
Almira menarik nafasnya.
“Mas Faisal kan tahu pernikahan saya dan Tomy selama setahun tidak dikaruniai anak,” kata Almira.
“Iya betul, Mas tau itu,” jawab Faisal.
“Apa Mas tidak takut jika nanti saya tidak bisa memberikan Mas seorang anak?” tanya Almira.
“Mira-Mira jadi masalah ini yang kamu khawatirkan?” tanya Faisal.
“Iya, Mas,” jawab Almira.
“Apa kamu pernah diperiksa ke dokter kandungan?” tanya Faisal.
“Pernah, Mas,” jawab Almira.
“Terus hasilnya apa ?” tanya Faisal.
“Kata dokter rahim saya sehat tidak ada masalah apapun. Kata dokter mungkin belum rejeki,” jawab Almira.
“Nah tuh dokter jawab begitu. Terus apa yang kamu takutkan Almira?” tanya Faisal.
“Bagaimana kalau Almira tidak hamil-hamil? Mas pasti kecewa sama Almira,” kata Almira.
“Mira, orang berumah tangga itu harus mau saling menerima kekurangan pasangannya. Lagipula kita belum mencoba, kamu sudah menciut? Siapa tau setelah kamu menikah dengan saya, Akbar dan Amelia mempunyai banyak adik,” kata Faisal dengan senyum menggoda.
“Mas, jangan banyak-banyak anaknya! Nanti kasihan Kakak Naura, tidak diperhatikan oleh kita. Anak sebesar Kakak Naura masih perlu perhatian orang tuanya,” seru Almira.
“Pengertian banget sih calon istri Mas. Jadi pengen cepat-cepat dibawa ke penghulu,” puji Faisal.
“Ada lagi yang ingin dibicarakan lagi?” tanya Faisal sambil memperhatikan Almira yang sedang berpikir.
“Hmm, Mas,” panggil Almira.
“Iya sayang,” jawab Faisal.
“Mengenai pinangan Mas Faisal…..,” Almira menghentikan perkataannya.
“Kenapa dengan pinangan saya?” tanya Faisal penasaran.
“Saya terima pinangan Mas Faisal,” kata Almira dengan suara yang hampir berbisik.
“Apa nggak kedengeran? coba ulangi lagi,” kata Faisal yang pura-pura tidak kedengaran.
“Saya terima pinangan Mas Faisal,” kata Almira sekali lagi.
“Alhamdullilahirobialamin,” ucap Faisal dengan senang.
“Terima kasih, Mira. Kamu sudah mau menerima pinangan saya,” ucap Faisal.
Lalu Faisal merogoh kantong celananya, dan dikeluarkannya sebuah kotak kecil.
“Mira, ini tanda bukti kalau saya serius meminangmu.”
Faisal memberikan kotak kecil itu kepada Almira.
“Terima kasih, Mas,” ucap Almira.
Almira membuka kotak kecil itu. Sebuah berlian yang diikat emas putih.
“Bagus sekali, Mas,” puji Almira.
Almira memasangkan di jari manisnya.
“Pas sekali. Kok bisa?” tanya Almira kaget.
“Bisa dong. Namanya juga pakai felling,” jawab Faisal.
“Suka nggak cincinnya?” tanya Faisal.
“Suka, Mas. Terima kasih, ya,” ucap Almira.
“Sama-sama, sayang,” jawab Faisal.
karena setiap hari ketemu....
pepatah Jawa mengatakan tresno jalaran seka kulino....
mbah putri
uti