Amanda Jhonson dijual oleh tunangan dan kakak tirinya pada seorang pria tua untuk membayar hutang,hal itu membuat hidupnya hancur dalam satu malam.
Di malam yang mengerikan,Amanda ditangkap dan dipaksa untuk melayani seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.
Tapi pada malam itu,untuk menjaga kesuciannya Amanda membunuh pria tua itu.
Karena itu,Amanda divonis penjara selama lima tahun karena terbukti telah menjadi pembunuh dengan bukti-bukti yang ada.
Tapi baru saja Amanda menjalani masa tahanannya seorang pria yang tertarik padanya menemui wanita itu dan menawarkan bantuan padanya.
Pria itu juga berjanji akan membantu Amanda bebas dari jeruji besi dan membantu Amanda membalas dendam tapi dengan sebuah syarat.
Apakah Amanda akan menerimanya?
Sekuel dari Hot Mother And The Bos Mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Setelah kembali dari rumah sakit Amanda tampak sibuk didalam dapur untuk membuat makan malam untuk dirinya dan Edward.
Setelah kembali rumah itu tampak sepi, sepertinya Edward belum mengambil pelayan baru untuk membersihkan rumahnya.
Tapi Amanda suka, dia lebih suka tidak ada siapa-siapa dirumah karena dia bisa lebih leluasa melakukan apapun yang dia sukai.
Setelah selesai memasak beberapa menu makanan, Amanda segera meletakkan makanan yang dibuatnya keatas meja, saat melihatnya Amanda tampak begitu puas.
Amanda melepaskan celemek yang dipakainya dan menyimpan benda itu kembali ketempatnya.
Dia segera berjalan menuju kamar Edward, dia tahu pria itu ada disana dan dia ingin mengajak Edward untuk makan malam sebelum makanan yang dibuatnya menjadi dingin.
Saat Amanda masuk kedalam tampak Edward sedang memakai pakaiannya, sepertinya pria itu baru selesai mandi.
"Oh maaf." Amanda memalingkan wajahnya yang merona. Kenapa dia jadi malu sekarang?
Padahal dia sudah melihat seluruh tubuh Edward tapi entah kenapa sejak dari rumah sakit jantungnya berdebar-debar saat melihat Edward, apalagi setelah pria itu menyatakan perasaanya.
Dengan wajah yang merona Amanda berjalan menuju ranjang dan duduk disisinya, dia berpura-pura mengambil ponselnya dan melihatnya.
Setelah memakai pakaiannya Edward segera melangkah mendekati Amanda dan duduk disisinya.
"Maaf aku masuk tiba-tiba." kata Amanda lagi dengan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Amanda, bukankah kau sudah melihat semuanya?"
Wajah Amanda langsung merah padam, dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Menyebalkan, jangan mengatakan sesuatu yang membuatku malu." katanya dengan pelan.
"Apa kau malu?"
"Tentu saja!" Amanda mengangkat kepalanya dan melihat Edward.
Edward tersenyum padanya dan mengusap wajah Amanda dengan lembut, hal itu membuat mata Amanda membulat, baru kali ini dia melihat Edward tersenyum padanya.
"Edward, kau tersenyum." ujarnya kagum.
"Hei memangnya aku tidak boleh tersenyum?" Edward bertanya dengan dingin.
"Tidak bukan begitu, aku baru kali ini melihatmu tersenyum."
"Apa itu Aneh?"
"Tidak, aku suka melihatnya.jadi ayo tersenyum lagi." pinta Amanda.
"Tidak!!" tolak Edward dengan dingin.
"Ayolah." Amanda kembali memelas.
Edward menjawab dengan sebuah gelengan.
Tanpa Edward duga, Amanda langsung mendorong tubuh Edward hingga pria itu tertidur diatas ranjang sedangkan Amanda berada diatas tubuhnya.
"Edward berapa usiamu?" Amanda memainkan jari jemarinya diwajah tampan Edward.
"Menurutmu Amanda?"
"35 atau 40?" tebak Amanda.
Edward tersenyum dan membelai wajah Amanda dengan lembut.
"Usiaku sudah 34 tahun Amanda."
"Hei kenapa kau selalu memanggil namaku?"
"Jadi kau ingin aku memanggilmu dengan sebutan apa, sayang?"
Wajah Amanda kembali memerah, dia segera turun dari atas tubuh Edward dan berbaring disisi pria itu.
"Edward."
"Ya?" Edward membalikkan tubuhnya supaya dia bisa memeluk Amanda.
"Seperti apa keluargamu?"
"Keluargaku sangat baik sayang."
Amanda memejamkan matanya, apa keluarga Edward akan menerimanya yang mantan napi ini?
"Apa mereka tidak keberatan denganku, Edward?"
"Amanda bukankah sudah aku katakan mereka tidak pernah memandang rendah orang lain, bahkan mereka mau menerimaku sampai saat ini."
Amanda mengernyitkan dahinya, dia segera menumpu kepalanya dengan satu tangannya dan melihat Edward dengan lekat. Apa maksud dari perkataan Edward?
"Apa maksudmu Edward?"
"Amanda aku ini hanya anak yang ditemukan oleh ibuku saat aku masih bayi."
Saat mendengar perkataan Edward, wajah Amanda langsung berubah.
"Maaf Edward." katanya dengan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Amanda, bukankah kau akan menjadi istriku? Jadi kau harus tahu tentangku."
"Jadi, apa kau mau menceritakan sedikit tentangmu Edward?"
Edward segera menarik Amanda hingga wanita itu tidur diatas dadanya.
"Waktu aku masih bayi ibuku menemukan aku didepan rumahnya, walaupun aku bukan darah dagingnya tapi ibuku berjuang untukku bahkan berjuang menyelamatkan aku dari ibu kandungku yang hendak membunuhku dan ayah kandungku yang jahat."
"Waktu itu ayahku membantu ibuku untuk memperjuangkan aku, apa kau tahu?"
Amanda mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Edward, dari wajah pria itu tidak terpancar kesedihan sama sekali.
"Walapun begitu Ayahku mau menerimaku dan ibuku, dia bahkan tidak pernah membedakan aku dengan anak kandungnya."
Air mata Amanda tiba-tiba menetes,ternyata dibalik wajah dingin dan datar Edward Jackcon tersimpan masa lalu yang kelam. bisa dia tebak saat itu pasti sulit untuk Edward.
"Maaf Edward, itu pasti sulit untukmu." katanya tidak enak hati.
Senyum Edward mengembang diwajahnya, dengan lembut pula Edward mengusap air mata Amanda.
"Tidak Amanda, waktu itu aku baru berusia 3 atau 4 tahun. Aku malah bersyukur ditemukan oleh ibuku yang sekarang. Jika ibu kandungku tidak membuangku mungkin aku sudah mati ditangannya."
"Jadi percayalah padaku, keluargaku sangat baik, mereka bukan orang yang suka memandang rendah orang lain."
Amanda tersenyum senang,dia senang Edward mau terbuka padanya. Mungkin Edward memang serius berhubungan dengannnya.
"Edward, berapa saudaramu?" tanya Amanda lagi.
"Aku punya dua saudara yang ceria, Amanda."
"Wah, apa mereka tidak sepertimu?"
"Tidak,bmereka mirip dengan ayahku."
"Aku jadi ingin bertemu dengan mereka." ujar Amanda penuh dengan semangat.
"Jadi Amanda sayang."
Edward menyelipkan anak rambut Amanda yang tampak berantakan dan tersenyum padanya.
"Kapan kau akan ikut denganku ke California?" tanyanya.
"Bisa beri aku waktu? Aku sedang menebar jaring untuk Zack. Setelah dia mendapatkan uang yang aku pinta dan masuk kedalam perangkapku maka aku akan ikut denganmu ke California." pinta Amanda.
"Aku tunggu Amanda."
"Tunggulah sebentar lagi Edward, Zack ingin menikah denganku saat dia sudah bergabung dengan proyek yang aku tawarkan padanya, tapi saat dia tahu aku telah menjebaknya aku ingin tahu apa dia masih mau menikah denganku?"
"Aku sudah tidak sabar menantikan kehancurannya dan pada saat itu tiba aku sangat ingin melihat bagaimana dia bisa menyelamatkan perusahaannya." saat mengatakan itu, senyum jahat mengembang diwajah Amanda.
"Sekarang kau tambah pandai Amanda." puji Edward.
"Semua ini karena kau Edward, terima kasih jadi bersabarlah sebentar lagi sampai dia masuk kedalam perangkapku." Amanda segera mendekatkan bibirnya kebibir Edward untuk menciumi bibir pria itu.
Edward segera menyambut bibir Amanda dan me**mat bibir wanita itu dengan buas, tangan Edward mulai masuk kedalam baju Amanda dan membelai punggung Amanda dengan lembut.
"Edward." Amanda berusaha mendorong tubuh Edward.
Edward terus menciumi wajah Amanda,entah kenapa wanita itu paling mudah membangkitkan api gairahnya.
"Jangan, sebaiknya kita makan sebelum makanannya menjadi dingin." kata Amanda disela-sela nafasnya yang sudah memburu.
"Aku ingin memakanmu terlebih dahulu Amanda." jawab Edward.
Amanda mengigit bibirnya saat Edward sudah bermain didadanya.
"Kau buaya lapar menyebalkan." gerutunya.
"Apa kau tidak mau?" Edward menghentikan aksinya.
"Jangan berhenti karena aku tidak akan menolak." kata Amanda tanpa malu.
Mereka kembali berciuman dengan liar dan melakukan permainan panas mereka, mereka memuaskan nafsu mereka terlebih dahulu dan mengabaikan makan malam yang sudah menjadi dingin diatas meja.
waktu amanda dibawa ke penjara dan disidang, bantu pun tidak