Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.
Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.
Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Boi Si Militan
"Boi .... Boi .... Ckckck," Aku mengelus kepala Boi. Sejak semalam dia berbaring terus tak mau makan dan minum.
Christ dan Dion termenung di sampingku. Sama sepertiku, kedua adik ku itu berharap Boi mau minum dan makan.
"Minum susu Boi," bujuk Dion. Piring seng penuh susu hangat di sodorkannya ke mulut Boi. "Gak mau minum mas, bilang bapak supaya Boi dibawa ke dokter," ujarnya lagi dengan nada sedih.
"Dah kalian sekolah dulu sana. Nanti biar Ibu yang urus Boi."
Melihat kami masih sibuk mengurusi Boi, Ibu membujuk kami untuk berangkat sekolah.
"Yuk kita berangkat dulu. Nanti kalau Bapak pulang, Boi pasti dibawa ke dokter." Aku membujuk kedua adikku untuk meninggalkan Boi.
Selesai perploncoan dan Penataran P4 di sekolahku, ini hari pertamaku masuk ke kelas. Sayangnya hari baru yang tak sabar kujalani terganggu Boi anjing kami yang sakit.
Kata Bapak yang kebetulan belum pulang dari Semarang, Boi sudah tua. Umurnya sudah lebih dari lima belas tahun sejak menemani kami.
"Pras .... Cepat ajak adikmu berangkat ! Sudah siang loh."
Teguran Ibu serentak membuat kami meninggalkan Boi.
Aku lekas mengeluarkan motor bekas kesayanganku yang dibelikan Bapak. Bersiap mengantar Christ dan Dion sebelum menuju sekolahku.
Motor Suzuki FR'80 dua tak yang kupakai itu cukup mumpuni membawa beban kami bertiga yang kebetulan satu arah.
Begitu menghidupkan mesinnya, Christ dan Dion menyusul ku ke depan rumah.
"Hati-hati Pras, gak usah ngebut !" Ibu masih rewel mengomentari caraku mengendarai si FR.
"Ya Bu." Tak mau membantahnya, Aku berangkat memboncengkan dua adikku setelah mengucap salam.
***
Setelah menurunkan Christ, kini Aku tinggal mengantar Dion sebelum menuju sekolahku. Begitulah rutinitas baruku setelah Bapak semakin sibuk dengan pekerjaannya.
"Ngebut mas !" Dion yang membonceng di depanku mulai berbuat ulah.
"Ahahaha brisik Boncel !" Aku terkekeh mendengar permintaan Dion yang biasa ku panggil Boncel, "jalan ramai begini mana bisa ngebut," kataku lagi.
Adikku sepertinya sudah melupakan si Boi. Naik motor di depan membuatnya senang setelah biasanya kami berjalan kaki pulang pergi sekolah.
Sebentar-sebentar dia memanggil temannya yang kebetulan searah dengan kami.
"Dah, sekolah yang bener. Nanti tunggu mas di tempat biasa ya," kataku setelah sampai di gerbang sekolahnya.
"Ok mas," jawabnya riang.
Tak menunggu lama seperti kebiasaannya, bocah itu langsung ngeloyor ke arah gerombolannya yang memanggilnya.
***
"Ehem motor baru nih."
Belum juga beranjak dari gerbang sekolah Dion, suara teguran di belakangku membuatku menunda menjalankan motor tuaku.
"Ah kamu Liz," ucapku girang saat mengetahui siapa yang barusan menegurku.
"Hihihi .... Gimana kabarmu ?"
Bertemu lagi dengan Eliza setelah libur panjang dan satu mingguan sibuk dengan acara Penataran P4 plus perploncoan tentu saja menyenangkan hatiku.
"Baik Liz .... Kamu sendiri baik-baik saja kan ?" Aku membalas jabat tangannya yang terulur ke arahku. 'Eh dah ketemu Erwin belum ?" Aku menyinggung Erwin.
"Erwin kawan SD kita ?"
"Yups .... Dia bareng lagi di SMA kita loh."
"Wah sohib tengik mu balik ke Purwokerto lagi toh," Eliza terkekeh, "aku malah baru tahu dia satu SMA dengan kita .... Eh si Arin juga bareng kita lagi," lanjut Eliza lagi.
"Ya .... Aku tahu saat dia bersamamu jadi bidadari kakak kelas." Aku mulai menggodanya.
"Bidadari apaan .... Sialan tuh kakak kelas Pras .... Belum apa-apa dah pada genit dan bergaya." Kali ini Eliza menggerutu teringat acara perploncoan kemarin.
Aku terbahak mendengar gerutunya. Ternyata bukan Aku saja yang merasa kesal di acara itu.
"Sudahlah yuk kita ngobrol di sekolah."
"Yuk,' jawab Eliza. Dia mulai menjalankan motor Astrea Star yang masih baru di depanku.
Mengikutinya di belakangnya. Aku tak sabar melanjutkan obrolan dengannya lagi sambil berharap bisa satu kelas dengannya.
Jika dulu dia mengantar jemput adiknya yang bareng Christ, rupanya kini Eliza mengantar jemput keponakannya yang baru pindah SD bareng Dion adikku.
***
"Ke kantin sekolah yuk Pras," ajak Eliza begitu kami menaruh motor di parkiran sekolah.
"Wah, mending kita duduk di sana Liz, sambil nunggu pembagian kelas kita," tanganku menunjuk bangku panjang di bawah pohon kelengkeng besar dekat pintu masuk parkiran. "Lagipula Aku malas ketemu kakak kelas kalau kita ke kantin," ujarku lagi.
"Hihihi ... Kamu masih kesal Pras ?" Eliza terkekeh mendengar kata-kataku yang terakhir.
"Ah sudahlah. Yuk kita ngobrol lagi di sana." Aku bergeser menuju bangku panjang yang ku maksud tadi
Eliza sepertinya menyetujui usulanku. Dia berjalan mengikuti ku.
"Suit suit suiiiit ... !"
Mendengar suara suitan itu, Aku dan Eliza kompak menoleh ke arah belakang kami.
"Wah si Tengik rupanya !" Eliza tertawa mengenali Erwin yang ribut bersuit dengan bibirnya.
"Hai cantik .... Muaaach ...." goda Erwin sambil memonyongkan mulutnya ke arah Eliza.
Tak menunggu lama, Erwin main selonong duduk di samping Eliza
"Nyoh ....Muaaach !" balas Eliza. Tangannya mengepal menunjuk mulut monyong Erwin.
"Jangan begitu cantik. Nanti kamu nyesel loh berbuat semena mena ke Arjunamu," Erwin yang ikut bergabung mulai kumat isengnya.
"Arjuna kok jabrik pethakilan kayak Cakil !" Eliza terus membantah keisengan Erwin.
Aku yang tak tahan dengan perdebatan keduanya berusaha menenangkan mereka
"Sudah-sudah .... Duduk yang anteng .... Kalian itu brisik terus," kataku. "Pagi-pagi dah bikin puyeng," semprotku di tengah perbantahan keduanya.
Seperti dulu, jika Aku mulai berkomentar dua kawan kecilku itu akhirnya mulai duduk anteng .... Walau paling cuma sebentar ....
"Nah gitu kan enak," kataku setelah keduanya diam.
"Eh tuh si Arin datang." Tiba-tiba Eliza menunjuk ke arah mobil yang barusan menurunkan penumpang di dekat pintu gerbang sekolah tak jauh dari kami duduk.
"Geser Liz ... Geser .... kasih tempat biar aku bisa bersebelahan dengannya." Menyadari pujaan hatinya datang, Erwin mulai ribut lagi dengan Eliza setelah perdebatan yang barusan terjeda.
"Geser kepalamu ! .... Enak aja ngatur-ngatur !" Eliza sengit tak mau bergeming dari duduknya.
"Plis Liz ... Plis !" Erwin terus memohon.
"Plas plis plas plis ... Cuplis kali ... Gak ada geser-geseran duduk," ujar Eliza ketus.
Seperti dugaanku, belum lima menit dua bocah itu mulai bertengkar lagi.
Aku membiarkan Eliza dan Erwin yang terus berdebat masalah duduk. Toh nanti mereka akan anteng lagi kalau sudah bosan bertengkar.
"Ariiiin ... !" Aku melambaikan tangan ke arah bocah perempuan tinggi langsing yang kulihat mulai berjalan masuk ke halaman sekolah.
"Praaas ...!" balas bocah itu girang. Tangannya melqmbai membalas lambaian tanganku. "Liiiiiz ... !" serunya lagi setelah melihat Eliza yang duduk bersamaku.
Erwin mendadak anteng memperhatikan langkah gemulai Arin. Pengusik hatinya terus berjalan mendekat ke arah kami.
"Lah aku kok gak disebut ya ?" gumaman Erwin tak pelak membuat Aku dan Eliza terbahak.
"Kapok, makanya anteng," kataku sambil terus mentertawakan Erwin.
Arin ku perhatikan semakin cantik setelah duduk bergabung bersama kami. Seperti kata Erwin dia mirip banget dengan bintang filem Sophia Latjuba. Pantaslah si jabrik itu puyeng dengan pesonanya.
"Kamu siapa ya ? Kayaknya pernah kenal .... Bogi ya ?" Arin membalas jabat tangan Erwin yang mendahului uluran tangan ku dan Eliza.
Entah sengaja atau bagaimana, Arin malah ikutan menggoda Erwin setelah kami saling berjabat tangan.
"Wah jangan pura-pura lupa Rin. Bukankah kita pernah pada ruang putih biru yang sama. Tenang tanpa gangguan para bedebah ini," Erwin tak mau kalah membalas godaan Arin. Melemparkan kekesalan akrabnya kepada Aku dan Eliza yang tertawa ngakak.
"Hihihi ... Gimana Rin. Betah kan di SMA ini, kakak kelas kita ganteng-ganteng kan." Kali ini Eliza membalas Erwin. Sepertinya dia mulai tahu perasaan Erwin kepada Arin saat Aku memberi kode dengan mencolek tangannya.
"Wah .... Pokoknya aku senang Liz. Kakak kelas kita baik dan gagah seperti katamu. Aku jadi pengin kenal mereka lebih jauh," jawab Arin sambil melirik ke arah Erwin.
"Gagahan si Boi .... Militan dan tangguh." Tiba-tiba saja Erwin nyeletuk menyebut nama anjingku dengan nada jengkel mendengar ucapan Eliza dan Arin yang terus memojokkannya.
"Si Boi siapa Win ?" Eliza akhirnya menghentikan godaannya. Penasaran dengan nama yang barusan disebut Erwin.
"Sun dulu doong sini," bocah jabrik itu malah memulai lagi pertengkaran dengan menyorongkan pipinya ke arah Eliza, lalu ngeloyor pergi meninggalkan kami.
"Dah aku cari Firman dulu, terlalu lama dengan kalian bikin darah tinggi ku kumat !' teriaknya dari jauh sambil menggoyangkan pantatnya ke arah kami.
"Oh dasar gemblung !" celetuk Eliza sambil terkekeh setelah ku ceritakan siapa si Boi yang dimaksud Erwin.
Begitulah hari pertamaku di SMA yang menyenangkan .... Sampai akhirnya sepulang sekolah Aku kemudian tahu si Boi ternyata mati tua tepat di hari itu ....
***
* Pethakilan : urakan gak bisa anteng.
*Cakil : Raksasa dalam Mahabharata versi Jawa.