Jihan wanita yang mencintai suami Anita. Tapi, Ia mendekati Anita untuk mencari tahu, apa sebab Angga bisa menyukai dirinya. Lama kelamaan, Jihan dan Anita justru bersahabat, dengan sebuah rahasia yang rumit.
Anita yang tak mengetahui posisi Jihan, begitu senang ketika mendapatkan seorang sahabat baru. Yang bahkan, satu server ketika mengobrolkan mengenai kekasih dan suami mereka.
Bagaimana ketika Anita tahu, ketika pria yang Jihan cintai adalah suaminya? Dan bahkan tanpa sadar, Anita mendukung Jihan untuk mendapatkan lelaki itu untuk menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pov Author.
Anita terbangun dari tidurnya. Jam menunjukan pukul Sebelas malam, dan Angga belum juga terdengar pulang.
Tangan Anita merayap mencari Hpnya, lalu mencoba menghubungi sang suami. Tapi belum juga ada jawaban, di panggilan ke Sepuluh.
"Tumben, biasanya cepet diangkat. Apa ketiduran di kantor?"
Tangan Anita pun beralih mencari nomor Salsa, sang sekretaris yang memang Ia simpan di Hpnya.
"Iya Bu, ada apa?"
"Sa, maaf mengganggu. Bapak udah pulang apa masih di kantor?" tanya Anita.
"Bapak udah pulang dari Jam Delapan, Bu. Tapi sepertinya, Ia masih akan bertemu dengan beberapa rekan dari luar. Itu yang saya tahu."
"Owh, mungkinlah. Belum pulang sampai sekarang, di hubungi belum ada jawaban."
"Ibu faham, kalau laki-laki kumpul seperti apa." ucap Salsa.
"Iya sih. Maaf ya, udah ganggu malem-malem begini."
"Iya Bu, ngga papa. Saya juga belum tidur, soalnya masih banyak pekerjaan yang harus saya garap."
Percakapan selesai, dan Anita mematikan teleponnya. Agak sedikit tenang ketika mendapat kabar dari Salsa.
Ia pun membuka Wa dan mengirim pesan untuk Angga, agar segera menghubunginya ketika sudah tak terlalu sibuk.
" Setidaknya memberi kabar, agar aku tak khawatir." gumamnya, sembari kembali menaruh Hpnya di nakas.
***
"Gimana, Mas? Enak makanannya?" tanya Jihan pada Angga, yang tengah makan bersama.
"Enak dong, masakan kamu sendiri 'kan?"
"Iya, tadi masak sendiri. Agak dingin sih, soalnya ini makan tengah malem." ucap Jihan, dengan membuat raut wajah lucu untuk Angga.
"Tadi katanya mau curhat? Curhat apa? Mas akan dengarkan."
Jihan pun memulai ceritanya. Menceritakan tentang rasa trauma yang kembali Ia ingat setelah sekian lama Ia lupakan. Ketika Ia kembali menangis, setelah sekian lama air matanya kering.
Dan ternyata, jawaban Angga sama persis seperti apa yang di katakan Anita padanya. Hanya sedikit berbeda, ketika Anita ingin menemani, dan Angga tidak.
"Jadi intinya, harus berdamai dengan masa lalu 'kan?" tanya Jihan.
"Ya, seperti itulah kira-kira. Karena jika seperti ini terus, kamu akan selalu sakit."
"Gimana dengan Mas sendiri? Tidakkah, Mas ingin berdamai dengan masa lalu?" tanya Jihan.
"Gimana?"
"Kak Ita? Mas ngga merasa terjebak dengan dia? Atau memang sudah sangat mencintainya?" tanya Jihan.
"Jee, Mas ngga mau bahas itu. Demi apapun, Mas ngga akan pernah tinggalin Anita. Mas ngga akan bisa hidup tanpa dia. Dan... Mas ngga bisa tanpa kamu." jawab Angga.
"Mas... Aku capek." ucap Jihan. Tapi ucapannya tak terjawab, karena Angga menerima pesan dari Anita.
"Aku nelpon Ita dulu." ucap Angga, dan meminta Jihan agar diam sementara.
Angga menelpon Anita, tanpa sedikitpun beranjak dari Jihan. Ia memanggil sayang pada Anita di depan Jihan. Ia pun begitu mesra pada Anita di depan Jihan. Dan Jihan, hanya dapat mendengarkannya dengan diam.
"Lihatlah Tuan, Gadis bodohmu ini sungguh tidak tahu diri. Sudah sangat lantang dan jelas, jika Anda sulit di gapai. Tapi Ia masih bertahan dan bermimpi bisa mendapatkanmu." batin Jihan.
Kemesraan kekasih dan istrinya itu selesai. Dan Angga kembali menatapnya yang tepat di hadapannya.
" Mau bilang apa tadi? "tanya Angga.
"Engga... Ngga ada apa-apa. Pulanglah, Kak Ita sudah menunggumu di rumah."
"Jee, katakan apa yang mau kamu katakan. Jangan suka memendam rasa, ngga baik buat kesehatan."
"Ya, aku tahu. Nanti, ada waktunya perasaan ini tertumpah. Kamu tunggu aja waktunya. Aku pasti ngomong." jawab Jihan.
Angga mengerenyitkan dahinya, memandang aneh pada maksud ucapan Jihan. Sementara itu, Jihan hanya diam, dan membantu Angga mempersiapakan jas dan tasnya untuk di bawa kembali pulang.
"Serius ngga papa?" tanya Angga lagi.
"Iya, ngga papa. Nanti ada waktunya aku cerita. Kamu pulang dulu sekarang."
ortu tuh gk perlu ikut campur urusan rmh tangga ank.
bs kacau.
pdhl kn ita tersiksa yo tertekan.
angga kudu tegas wlwpun itu mama nya.
akoh s7 sm sifat angga...👍
mpe kapok ogah pijetan lg...
trs pasrah aj dah..
ank tuh kn rezeki..
eh..hamil ternyta..wlw lama tp hamil jg kok...
stlah sekian purnama akoh lewati...😊
br nemu crita mu lg thor..✌
ttp mndukung semua karyamu thor..
sehat2 yo..💪👍