NovelToon NovelToon
Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School

Status: tamat
Genre:Horor / Sudah Terbit / Hantu / Misteri / Rumahhantu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:4.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Pipit Otosaka

[ DILARANG COPAS PROMOSI DAN JADILAH AUTHOR YANG JUJUR! ]

Completed!

SINOPSIS:
Pindah sekolah tidak selalunya menyenangkan, lho. Seorang remaja bernama Dennis baru saja pindah ke sekolah barunya. Ia tidak sendiri. Ia bersama dengan adiknya yang bernama Adelia. Mereka pindah ke asrama untuk tinggal selama 2 tahun di sana.

Tapi, dengan kehadiran mereka di asrama itu, telah membuat banyak kejadian aneh yang datang. Hal-hal yang mengerikan mulai muncul dihadapan mereka dan pada akhirnya, hantu dari asrama itu mulai menunjukkan wujudnya dan membuat banyak Terror bagi para murid di dalamnya....

Genre lengkap: Horror, supranatural, misteri, Trhiller, drama, Shounen, Shoujo, Seinen/teen, school, komedi, action

MC: –Dennis Efendy
–Adelia Pertiwi
–Reizal Alfathir

Season 1: Eps 1–26 (Chika's Terror)
Season 2: Eps 29–64 (Diana's Terror)
Season 3: Eps 66–158 (Terror The Death Test)
Season 4: Eps 159–225 (Seven Days)

Author note: Peringatan! Maaf kalau banyak typo yang bertebaran. Novel ini mengandung unsur kekerasan. Bagi yang tidak nyaman dengan hal itu, diharapkan untuk tidak membacanya. Mohon kebijakannya dalam membaca, terima kasih :)

Cover: Buatan sendiri!!

Harap jangan lupa untuk Like,, rate,, dan favorit ya, hehe....

MENULIS NOVEL TIDAK SEMUDAH DENGAN MEMBACANYA!

IG Author: @Pipit_otosaka8

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit Otosaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4– Terbunuhnya Gadis Malang

Noda berwarna merah itu seperti... Darah?

"Ka, Kak Rei!" Dennis menegur Rei sambil menerobos masuk ke kerumunan orang-orang yang berkumpul di sana.

Rei menengok. Begitu juga dengan Yuni yang sempat mendengar suara Dennis memanggil. Matanya melirik ke Dennis yang sedang berusaha untuk mendekati dirinya. "Eh? Dennis? Jangan ke sini!" larang Rei.

Dennis tersentak. "Kenapa?" Dennis masih berjalan maju melewati orang-orang itu sampai akhirnya ia berhasil berada di barisan paling depan.

"Karena..." Rei menundukkan kepalanya. Ia melihat ke bawah kakinya.

Dennis sedikit menelengkan kepalanya bingung. Lalu, matanya melirik ke bawah. Terdiam sejenak, lalu terkejut. Matanya melebar. Di atas lantai yang ia injak, Dennis melihat ada seseorang yang tergeletak di sana. Bersimbah darah. Darahnya terciprat ke mana-mana.

Apa mungkin, noda merah yang Dennis lihat di tembok tadi... adalah darah? Darah dari orang ini?

Mata Dennis melirik ke tembok yang ada bercak darahnya itu. Lalu, kembali melirik ke seorang anak perempuan yang terluka di lantai. Terdapat banyak luka tusuk di sekujur tubuh anak malang itu.

Sepertinya anak itu sudah menjadi mayat. Karena, Dennis mendengar beberapa anak yang ada di sekelilingnya bergumam-gumam kalau anak itu telah meninggal. Entah karena bunuh diri atau karena ada yang membunuhnya, atau itu semua hanya kecelakaan.

Saat ini, Rei dipanggil untuk menyelidiki kematian anak itu. Ia juga sedang berpikir keras untuk menyelesaikan tugasnya. Untung ada Yuni. Rei meminta bantuan Yuni juga untuk membantunya menyelesaikan kasus yang masih menjadi misteri itu.

Pertama, berbagai pertanyaan muncul di benak Rei. Sebenarnya, kematian anak itu disebabkan karena ia bunuh diri? Dibunuh oleh seseorang? Atau karena kecelakaan akibat kecerobohannya sendiri?

"Kalau dilihat dari lukanya... gadis ini ditusuk dengan menggunakan pisau. Ukurannya juga lumayan besar. Apa pisau dapur? Tunggu, kalau bunuh diri, tidak mungkin dia berani menusuk tubuhnya begitu saja, kan? Apalagi luka tusuknya ini lumayan banyak loh." Rei mulai berpikir di dalam hatinya. "Hah, di keramaian seperti ini, aku tidak bisa berpikir jernih."

Rei kembali membuka matanya. Lalu, ia meminta para petugas jaga sekolah untuk membereskan mayat gadis itu. Sedangkan guru-guru yang lainnya akan membubarkan kerumunan murid-murid yang lainnya.

"Mungkin aku harus diskusikan kejadian ini pada yang lainnya?" pikir Rei lagi dalam hati.

"Telah terjadi pembunuhan di sekolah ini?! Tidak mungkin, kan? Kalau memang benar begitu, berarti sekolah ini sudah tidak aman lagi, dong!" ujar Dennis keras pada Rei. Ucapannya itu juga telah membuat Rei kaget bukan main. Karena, di saat dirinya sedang berdiam diri sambil memikirkan sesuatu, tiba-tiba saja Dennis datang dan berbicara keras padanya.

Rei melirik tajam ke Dennis dan berkata untuk menjawab Dennis. "Aku masih belum menganggapnya ini kasus pembunuhan. Karena, aku belum punya bukti yang kuat dan tersangka yang terlibat."

Setelah mengatakan itu, Rei pun pergi dari tempatnya berdiri. Lalu, ia berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dari belakang, Dennis juga mengikuti Rei.

Yuni berjalan mendekati Adel. Saat melihat ekspresi Adel, Yuni sedikit mengangkat sebelah alisnya dan membesarkan matanya. Tapi wajah Yuni masih terlihat biasa saja.

"Kamu kenapa?" Yuni bertanya.

Adel membesarkan matanya. Apalagi pupil matanya itu. Dia terlihat imut sekali. "Yuni? Apa yang terjadi di sini? Aku takut."

"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Sudah. Ayo kita kembali ke kamar." Ajak Yuni dengan nada datar.

"Oh iya! Kita kan harus bersiap pergi ke sekolah!"

"Ini sudah di sekolah, Del."

"Ya, maksudnya ke kelas, hehe... ayo!"

****

Di kamar, Dennis dan Rei sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke kelas mereka. Saat ini, mereka sedang memakai seragam sekolahnya. Hari Rabu. Mereka memakai seragam kemeja polos putih dengan jas berwarna cuklat pucat dan celana kotak-kotak Hitam-Putih.

Saat sambil memakai jasnya, Dennis bertanya soal kematian anak perempuan yang tadi. Sepertinya dia masih penasaran. "Anu... Kak Rei? Anak perempuan yang meninggal tadi itu siapa?"

"Oh, dia Rani dari kelas 3-E." Jawab Rei. "Gadis yang malang."

"Apa kakak sudah tahu penyebab kematiannya?"

"Hmmm... entahlah. Tapi, nanti setelah jam pelajaran ke 2 selesai, ayo kita berkumpul ke tempat biasa, ya?"

"O, oke."

"Sudah, sekarang ayo berangkat. Bel masuk kelas sebentar lagi berbunyi."

Dennis hanya mengangguk. Lalu setelah itu ia terduduk di lantai untuk memakai sepatu. Rei juga melakukan hal yang sama.

Setelah semuanya siap, Dennis dan Rei pergi meninggalkan kamar mereka. Saat membuka pintu kamar, lagi-lagi Dennis dikejutkan oleh sosok gadis berambut putih itu lagi. Tepat di depan pintu kamar, Diana muncul di sana.

"Uwaaa! A, apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Dennis sedikit panik.

"Oh." Gadis itu tersenyum. "Ah, aku hanya ingin menyampar kalian, kok! Ayo kita berangkat bareng, ya?"

"Ah, tidak! Kau duluan saja ke kelas sana!"

"Oh, Dennis? Ada apa ini?" Tiba-tiba Rei muncul di samping Dennis.

"Eh, Kak Rei?"

Mata Rei melirik ke gadis berambut putih yang ada di hadapannya itu. "Hooh... ada Diana? Sedang apa kau?"

"Aku ingin berangkat bareng dengan kalian. Tidak apa, kan?"

"Oke. Tidak apa-apa."

"Kak Reeii?!" Dennis menggerutu pada Rei.

Rei tersentak. Ia mengerutkan keningnya. "Eh, kau kenapa, sih? Memangnya apa salahnya kita berangkat bersama dengannya? Dia juga teman sekelas kita, kan?"

"Eh, bukan itu maksudku... tapi...."

"Ah, sudahlah. Sekarang, ayo berangkat ke kelas. Beberapa menit lagi bel berbunyi!"

Rei keluar dari kamarnya. Meninggalkan Dennis yang masih berdiri di depan pintu dengan Diana. Setelah Rei pergi, secara perlahan Dennis melirikkan matanya ke Diana yang kebetulan ada di sampingnya.

Diana tersenyum manis pada Dennis. Tapi Dennis membalasnya dengan tampang cuek. Lalu, sesegera mungkin, ia langsung berlari mengejar Rei.

Di belakang, Diana lagi-lagi bergumam tentang Dennis. "Cih! Masih belum sadar juga, ya? Huh, padahal dia sudah terkena jebakan pertamaku. Apa aku harus menambahkannya sampai membuat dia kapok? Ya, sepertinya harus begitu." Diana tersenyum miring, lalu ia mengeluarkan tawa kecilnya.

"Eh, apanya yang ditambahkan, kak?"

"Ah!"

Diana terkejut. Tiba-tiba saja adiknya Dennis muncul di sampingnya. Adel juga bersama dengan Yuni yang ada di sampingnya.

"Bukan apa-apa, kok!" Itulah jawaban Diana pada Adel. Lalu setelah itu, ia pun berjalan cepat menuju tangga dan meninggalkan Adel.

"Ah, kakak itu kenapa, ya?" Adel menelengkan kepalanya. Lalu, ia menengok ke arah Yuni. "Oh ya, kata kak Dennis, dia itu anak baru. Memangnya benar, Yuni?"

Yuni hanya mengangguk. Ekspresinya yang datar itu selalu menatap ke depannya. Matanya menatap ke Diana yang sedang berjalan di lorong itu. Lalu, saat Diana menuruni tangga dan hilang dari pandangan Yuni, Yuni baru menengok ke Adel.

"Oh, beruntungnya kakak punya teman baru." Adel menepuk tangannya senang sambil tertawa. "Haha... aku harap di kelas nanti juga ada teman baru."

"Memangnya ada?" tanya Yuni pelan.

"Semoga saja. Nanti kalau ada, kita ajak main sama kita, ya?"

"Ya." Yuni menjawab lalu mengangguk pelan.

Setelah perbincangan itu, mereka berdua pun kembali melangkahkan kakinya untuk pergi ke kelas. Tapi saat berjalan mendekati tangga, tiba-tiba saja Yuni menengok ke belakang.

Karena kaget, Adel pun juga ikut-ikutan menengok seperti Yuni. "Eh, Yun? Ada apa?" tanya Adel.

Yuni hanya diam saja. Lalu Adel memanggilnya lagi. Yuni tetap diam. Lalu, untuk yang ke dua kalinya, Adel kembali memanggil Yuni lagi. Yuni pun akhirnya menengok ke Adel. Dia menaikkan alis kanannya.

"Ada apa?" Adel bertanya lagi.

Yuni menggeleng pelan. "Bukan apa-apa." Jawabnya dingin. Lalu setelah itu, Yuni pun kembali melangkah untuk menginjak beberapa anak tangga sampai ke bawah sana.

Adel jadi bingung dengan sikap teman yang satunya itu. Tapi untuk saat ini, Adel berusaha untuk tidak mempedulikannya. Ia kembali berjalan lagi. Mengikuti Yuni di belakangnya.

Lorong di lantai dua sangat sepi karena semua murid telah pergi ke kelasnya masing-masing. Tak lama setelah Adel dan Yuni pergi, tiba-tiba saja pintu kamar Dennis terbuka sendiri. Lalu pintu kamar Adel juga terbuka.

Tak lama, pintu kamar Adel kembali tertutup dengan sendirinya. Tapi tidak dengan pintu kamar Dennis. Siapa yang telah membukanya?

Eh, tepat di depan pintu kamar Dennis tiba-tiba saja muncul bayangan hitam yang terlihat samar-samar. Lalu, bayangan itu melayang memasuki kamar Dennis. Setelah bayangan itu masuk, pintu kamar Dennis langsung terbanting dengan keras.

*

*

*

To be Continued-

1
Wawa Me
hai
Givenly_Elzivnk🎨🖌️
the best story about ghost and killer
magnusways: Halo kak, yuk mampir di profilku buat kepoin karyaku judulnya "Ghost Area" boleh dibaca dulu semoga suka🤗
total 1 replies
Mpit
kata "Anjing" kena sensor otomatis bjir,, intinya itu isinya yg kena sensor 🗿
dunia cerita
kapan yah terakhir kali ku baca ini kennya dah lama sekali nunggu cerita kedua gak update update akhirnya pindah ke aplikasi sebelah
tapi akhir akhir ini aku baca cerita genre horor jadi inget Ama cerita ini dan langsung download lagi ini aplikasi dan ternyata masih ada dan bahkan dah banyak ceritanya jadi terharu OMG
Mpit: wkwk halooo welcome back
total 1 replies
omTe
dukuuuuuuungg
Aldwiipratama El-syaki
bukan kluarga asli mereka mengarang
Aldwiipratama El-syaki
gara" akhiro Lisa mati
Aldwiipratama El-syaki
tmn Adel si cikha
Aldwiipratama El-syaki
yg w cary" game'y bikin banyak yg mati.....udh baca 3x d hp relmi,Vivo,Oppo sekarang Oppo lg
Echi Oche
agak diluar nalar juga ya sudah tau ada siswa cidera bocor kepala kok tdk dibawa kedokter
biasanya UKS juga ada guru yg menjaga
•サᶳᴺᵀ MUA MU
👏👏👏
Lord
kalian pada ngeship Dennis x Rei

tapi percayalah,, author nya malah ngeship Rei x Leon dari novel author sebelah
zulfaa
.
lontong ayam
pasti mimpi
lontong ayam
kayak adit sopo jarwo tokohnya denis dan adel
human
.
vincent drias
👍👍👍👍👍
Nia Ayu PAD D
Bakal g bisa tidur nih
Oh Dewi
Bagus nih.
Sekalian mau kasih rekomen, novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu juga bagus. Wajib pakek tanda kurungnya ya biar nemu yang gue maksud
amel
Kok bisa Chika punya ruang bermain? maksudnya gimana? atau Chika adlhh anak dari pemilik sklhh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!