Warning : 21+
Ini karya pertama saya.
Berkisah tentang perjalanan cinta seorang gadis yatim piatu yang sederhana. Hidupnya berubah setelah takdir membawanya menikah dengan seorang Duda beranak satu yang tak lain adalah mantan suami pemilik butik tempatnya bekerja.
Tak disangka takdir menghempaskannya ke jurang kesedihan terdalam ketika dia mengetahui suaminya masih menaruh perhatian pada sang mantan istri, ditambah dengan sebuah insiden tak terduga yang membuatnya harus mengandung anak dari pria yang tak dikenalnya. Dan pria itu tak lain adalah kakak kandung mantan istri suaminya.
Akankah dia berhasil menghadapi takdirnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dessy15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil saja ' Bubu '
Hari ini seluruh rangkaian acara pernikahan telah terlaksana dengan baik dan lancar sesuai rencana. Adit dan Lea beserta seluruh keluarga besar mereka menginap di hotel yang sama. Selain agar mereka bisa langsung beristirahat seusai mengikuti acara resepsi malam itu, papa Tyo bermaksud menjamu keluarga Lea di hotelnya sendiri. Menikmati segala fasilitas premium yang ada di hotel tersebut.
Adit menggendong Rafa yang sudah tertidur dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menggandeng erat tangan Lea membawa sang istri menuju kamar mereka. Mereka berdua sudah sama lelahnya, tapi rasa bahagia masih terpancar jelas dari wajah keduanya.
Ketika memasuki kamar, Lea terpukau melihat kemewahan kamar yang akan di tempatinya. Kamar dengan fasilitas Suite Room itu tampak begitu luas dengan interior yang mewah, luasnya hampir seluas apartemen Adit. Gadis itu diam terpaku di depan pintu. Mengamati setiap sudut ruangan dengan pandangan tak percaya. Adit mengulum senyum menatap ekspresi Lea yang cukup menggemaskan. Mata gadis itu berbinar dengan mulut yang setengah terbuka, tampak gurat kekaguman yang luar biasa terpancar dari wajahnya.
" Mau sampai kapan berdiri di sana, sayang ? " Tegur Adit yang langsung mengembalikan kesadaran Lea. Gadis itu tersipu malu mendengar pertanyaan suaminya.
" Adit, kamar sebagus ini tarif sewanya semalam berapa ? " Tanya Lea polos. Jiwa akuntingnya mulai bangkit.
" Adit yang baru saja membaringkan Rafa di tempat tidur, tersenyum geli sambil berjalan mendekat ke arah Lea.
" Kamu ga perlu tahu. Bisa pingsan nanti kamu kalau aku kasih tahu tarifnya. " Jawab Adit dengan senyum mencibir. Lea langsung cemberut mendengar jawaban Adit.
" Sini aku bantu lepas gaun kamu sama hiasan rambutnya. " Tawar Adit.
Lea berjalan ke arah Adit masih dengan bibir manyunnya. " Modus ! " cibir Lea setelah berdiri di depan Adit. Adit tergelak melihat tingkah istri kecilnya yang cukup menggemaskan. Diambilnya Lea ke dalam pelukannya, rasanya ia masih belum percaya, gadis asing yang dikenalnya tanpa disengaja 4 bulan yang lalu mampu merubah dunianya yang gelap dan dingin menjadi begitu hangat dan penuh warna.
" Katanya mau bantu lepasin gaun sama aksesoris ? " Bisik Lea yang tenggelam di dada bidang Adit. Adit mengurai pelukannya, menatap lembut wajah istri mungilnya lalu mulai membantu menanggalkan aksesoris di tubuh Lea. Lea berbalik memunggungi Adit, meminta Adit untuk melepas pengait di bagian belakang gaunnya. Adit dengan lincah melepas pengait pengait itu.
" Sudah, bisa kamu turunkan gaunmu. " Bisik Adit yang mulai bergerak mendekat, menghapus jarak dari punggung istrinya.
" Aku mau mandi sekalian, biar aku lepas di kamar mandi saja gaunnya. Badanku lengket semua, gerah ga nyaman. " jawab Lea polos tidak paham maksud hati sang suami.
Adit justru melingkarkan tangannya di perut Lea, dan meletakkan dagunya di bahu istri mungilnya itu. " Malam ini biar aku yang mandiin kamu. " Bisik Adit. Lea yang mulai paham dengan maksud suaminya hanya mengulum senyum dengan muka memerah.
Melihat tidak ada penolakan dari sang istri, Adit menarik turun gaun Lea perlahan, sembari menjatuhkan kecupan kecupan hangat di lehar dan punggung gadis itu. Setelah gaun itu terjatuh di lantai, Adit membopong istrinya ala bridal stayl, dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Ini pertama kalinya mereka mandi bersama. Terasa memalukan tapi sangat menyenangkan. Adit dan Lea berendam di dalam bathup besar berisi air hangat yang sudah di campur dengan sabun beraroma vanila yang menenangkan. Kegiatan saling menggosok punggung dan saling menyabuni badan satu sama lain, lambat laun berubah menjadi cumbuan hangat yang semakin lama semakin memanas.
Adit dengan penuh ha srat memagut bibir manis Lea, satu tangannya tak tinggal diam memainkan puncak gunung kembar yang selalu di kaguminya, dan tangan yang lain bergerilya memberi sentuhan pada bagian inti istrinya. Lea begitu menikmati setiap sentuhan Adit. Bibirnya tak tahan untuk tidak me rin tih saat sang suami mulai memasukinya. Kembali Adit memperkenalkan sensasi kenikmatan baru untuk Lea. Pengalaman baru di tempat berbeda dengan kebahagiaan yang tak kalah hebatnya.
Adit tak puas begitu saja ketika telah mendapatkan satu kali kli maks nya di dalam bathup. Dia kembali melancarkan aksinya ketika mereka berbilas di bawah guyuran air shower. Keduanya sama sama terbuai dalam gelombang cinta yang memabukkan. Dan tenggelam ke dalam nikmatnya percintaan.
Rasa kantuk dan lelah mulai menggelayuti sepasang pengantin baru itu setelah acara mandi dan olahraga malam mereka. Lea berbaring di tengah di antara Adit dan Rafa. Hatinya terlampau bahagia malam itu, akhirnya ia bisa bersanding dengan laki laki yang dicintainya. Ditambah lagi dengan bonus tak terduga di luar angannya bahwa suaminya adalah seorang konglomerat muda dengan prestasi yang luar biasa.
Tak bosan Lea memandangi wajah lelah suaminya yang sudah terlelap jatuh ke alam mimpi. Lea tidak pernah berkhayal tentang pria seperti apa yang akan menjadi suaminya, namun saat ini hanya rasa syukur yang memenuhi rongga dadanya karena berjodoh dengan Adit dan Rafa. Dua laki laki yang membuat hidupnya nyaris sempurna. Tak lama Lea pun mulai terbuai masuk ke alam mimpi, menyusul sang suami dan putra sambung kesayangannya.
" Tante....tante...banun ! " Sayup sayup Lea mendengar suara Rafa dan merasakan usapan lembut di pipinya yang membuat ia terjaga dari tidur nyenyaknya. Lea mengerjap ngerjapkan mata mencoba mengumpulkan kesadarannya. Dilihatnya wajah menggemaskan Rafa yang sudah duduk bersila disampingnya.
" Selamat pagi sayangku, anak gantengnya tante sudah bangun ternyata. " Lea bangun dan duduk bersila berhadap hadapan dengan Rafa lalu menunduk untuk menciumi wajah bulat Rafa yang menggemaskan. Rafa tertawa geli karena tangan Lea mulai bergerilya menggelitik badannya.
" Hahahaa.....ampun tante...hahaha...." Teriak Rafa memohon, namun jerit tawa anak itu membuat Lea semakin bersemangat untuk menggodanya.
" Hemmm...iya.. " Tiba tiba terdengar gumaman Adit yang sedang mengigau. Rafa dan Lea secara bersamaan menghentikan tawa mereka, lalu menoleh ke arah Adit, kemudian kembali saling menatap dan tertawa cekikikan menertawakan Adit yang kembali tertidur dengan mulut setengah terbuka setelah mengigau.
" Ayo banunin papi tante. " Ajak Rafa dengan suara setengah berbisik. Lea tersenyum dan mengangguk menyetujui ajakan Rafa. Mereka bergeser ke arah Adit yang tidur miring menghadap ke arah mereka.
" Kita cium papi sama sama ya biar papi bangun. Tapi pelan pelan aja, oke ? " ucap Lea. Rafa mengangguk dengan penuh antusias.
" Satu....dua....tiga. " Lea dan Rafa mulai berlomba menghujani Adit dengan kecupan kecupan lembut di wajahnya. Adit yang mendapat serangan ciuman bertubi tubi pun mulai terjaga dari tidurnya. Adit tersenyum sambil mengerjapkan mata memperjelas pandangannya.
" Selamat pagi papi. " Sapa Lea dan Rafa bersamaan saat melihat mata Adit telah terbuka sempurna. Adit merentangkan kedua tangannya memberi kode kepada keduanya untuk masuk ke dalam pelukannya. Tanpa menunggu aba aba, Rafa dan Lea menubruk tubuh Adit yang setengah berbaring. Mereka tergelak riang bertiga. Adit memeluk erat keduanya lalu membalas ciuman selamat pagi dari anak dan istrinya.
" Papi, kata mommy sekayang Yafa mommyna ada duwa. Mommy Anis syama mommy Lea. " ujar Rafa. Adit dan Lea tersenyum senang karena Anis dengan hati terbuka mau sama sama berbagi peran sebagai orang tua dalam mengasuh Rafa.
" Iya sayang, sekarang tante Lea sudah jadi mommynya Rafa juga. Rafa mau panggil tante Lea apa sekarang ? Mommy Lea atau Mama Lea ?" Tanya Adit kepada putranya.
Rafa tampak berfikir. Adit dan Lea menunggu jawaban Rafa sambil menahan tawa melihat ekspresi serius pria kecil itu.
" Kayo mommy, Yafa syudah ada mommy Anis, kayo mama, nanti syama sepelti mama Yena, badusnya yang ndak syama papi, teyus apa ya ? tanya Rafa dengan wajah bingungnya.
" Kalau bunda gimana ? " Tanya Adit kepada Rafa namun segera di tolak oleh Lea. " Jangan bundalah ya..panggilan itu udah pasaran. Sekarang banyak yang bunda bundaan. " Tolak Lea.
" Teyus apa tante ? " tanya Rafa dengan muka sok serius.
" Panggil ibu saja gimana ? Sederhana tapi manis penuh makna. Ah...jadi kangen sama ibu deh. " ujar Lea.
" Ibu....? Ibu syama sepelti ibu Siti di yumah Yafa dong.." Tolak Rafa lagi dengan muka cemberut. Ia ingat kalau panggilan ibu biasa digunakan Anis untuk memanggil bu Siti, kepala asisten rumah tangganya di rumah.
" Yasudah...karena semua sudah ada yang nyamain...dan Rafa pengennya yang ga sama, Rafa bisa panggil tante Lea 'bubu' aja biar beda. Bubu dari kata Ibu, gimana ? " Tawar Lea yang sudah kehabisan akal.
" Bubu ???! " gumam Adit mengerutkan dahinya menatap Lea.
" Iya..iya...iya...bubu....Yafa syuka...Mulai syekayang Yafa panggilna Bubu....Hoye....Bubu !!! " Rafa berdiri lalu meloncat loncat dengan girang di atas ranjang. Adit dan Lea tersenyum bahagia melihat tingkah Rafa yang begitu gembira menemukan panggilan baru untuk Lea.
" Ehemmm ! Rafa sekarang sudah menemukan panggilan yang bagus untuk mama barunya yang cantik ini. Terus kalau kamu, sekarang mau panggil aku apa ? " Tanya Adit dengan nada sedikit menyindir. Tangannya tak henti memainkan rambut panjang Lea. Lea yang masih setia tidur menindih setengah tubuh Adit pun sedikit bergeser untuk bisa menatap wajah Adit secara langsung.
" Maunya di panggil apa dong ? " Tanya Lea balik dengan senyum menggoda.
" Ya gantian inisiatif istri lah, mau kasih panggilan sayang apa buat suaminya. Kalau aku dari awal udah suka panggil kamu sayang. " jawab Adit dengan muka sedikit kesal.
" Aku panggil papi sayang boleh ? Biar samaan sama Rafa. Kan kita udah ada anaknya. Jadi lebih bagusan kalau panggil papi juga, biar anak anak ngikutin. " ujar Lea yang disambut senyum lebar Adit dan anggukan kepala. Adit kembali merengkuh tubuh mungil Lea ke dalam dekapannya. Dia merasa, sekarang hidupnya telah begitu sempurna. Adit berharap, kebahagiaan dan kebersamaan mereka terus berlanjut hingga akhir usia.
\*
\*
\*
\*
\*
Terimakasih masih setia mengikuti novel ini. Mohon ringankan jari untuk memberikan like dan komennya untuk mendukung novel ini.
lup u all 🤗😘
q menunggu kelanjutannya
semangat author💪👏👏