Hidup mati setiap Manusia sudah digariskan oleh sang pencipta, meskipun kita tahu kapan kita mati namun kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda dengan kita. Meskipun nyawa taruhannya, semuanya akan ku lakukan demi mendapatkan cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
"Kamu mau kemana nak?" tanya Bi Darsih
"Aku mau pamit Bi, sepertinya aku tidak bisa lagi tinggal di sini lagi, daripada Om Garra yang pergi dari rumah ini lebih baik aku saja yang pergi, jadi tolong sampaikan padanya untuk segera pulang." jawab Tiwi
"Tapi kamu mau tinggal dimana?"
"Aku mau kost bareng temen-temen Bi. Saya minta maaf kalau sudah merepotkan bibi selama ini, aku pamit ya bi, assalamualaikum." Tiwi kemudian mencium punggung tangan No Darsih melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Tidak lama kemudian Bramantyo datang ke rumah Garra.
"Kenapa rumah ini begitu sepi, dimana Garra?" tanya Bram
"Tuan Garra sedang pergi ke suatu tempat, mungkin dia belum bisa pulang dalam waktu dekat ini," jawab Bi Darsih
"Aku dengar ada seorang gadis kecil tinggal di rumah ini, dimana dia sekarang?" tanya Bram lagi
"Nona Tiwi baru saja pergi dari rumah ini, dia memutuskan untuk tidak tinggal lagi di sini," jawab Darsih
"Apa kau tahu dimana dia tinggal?"
"Saya tidak tahu Tuan, tapi coba saja tuan datang ke tempat kerjanya jika ingin bertemu dengannya," Darsih kemudian memberikan secarik kertas berisikan alamat restoran tempat Tiwi bekerja.
"Terima kasih Bi," jawab Bram menyunggingkan senyumnya
Akhirnya aku menemukanmu juga benda pusaka ku,
Bram segera melesatkan mobilnya menuju ke restoran pizza tempat Tiwi bekerja.
Setibanya di tempat itu Bram langsung di sambut langsung oleh pemilik restoran.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" sapa sang pemilik Restoran
"Apa benar ada karyawan disini yang bernama Tiwi?" tanya Bram
"Betul Tuan,"
"Kalau begitu aku ingin bertemu dengannya,_ jawab Bram
"Maaf Tuan Bram, kebetulan Tiwi sedang mengantar pesanan, jadi mungkin beberapa jam lagi dia baru kembali,"
"Kalau begitu aku pesan semua menu spesial di restoran ini dan tolong antar ke rumahku. Dan ingat aku mau Tiwi yang mengantarkannya," ujar Bramantyo memberikan kartu kreditnya
"Baik Tuan," sahut pemilik Restoran dengan ramah
"Wah Si Tiwi itu pakai pelet apa sih, kok bisa kenal banyak orang-orang tajir. Kemarin dia deket sama Rayyan sampai di kabarkan jadi pacarnya, sekarang Bramantyo sang Crazy reach Indonesia datang ke sini untuk bertemu dengannya dan juga minta pesanannya diantar oleh dia, duh... gue jadi iri," bisik karyawan lainnya
"Benar, kira-kira berapa tips yang ia terima dari dua pesohor itu ya??" sahut yang lainnya
Sementara di tempat berbeda Tiwi terlihat lesu setelah seharian berputar-putar Jakarta mengantarkan pesanan.
"Fiuh, akhirnya kelar juga pesanan hari ini," ujar gadis itu kemudian berjalan gontai menyambangi motornya yang terparkir di seberang jalan.
*Ciiittt!!!
Rayyan segera mengerem mendadak motor sportnya begitu melihat ada orang menyebrang di depannya.
"Anj*r hampir saja gue nabrak orang, untung gue ganteng jadi bisa Lo bisa selamat. Kalau mau bunuh diri jangan di sini mba!" seru Rayyan geram
Ia segera turun dari sepeda motornya dan menghampiri seorang wanita yang masih berdiri sambil menutupi wajahnya.
"Ciluk Ba!" seru Rayyan dengan senyum termanisnya saat gadis itu membuka tangannya
"Astoge Syntia!" pemuda itu begitu terkejut melihat sosok wanita di depannya, ia segera merangkulnya dan mengajaknya menepi.
"Ada apa denganmu, apa kau dalam kesulitan?" tanyanya lirih
"Aku gak papa, aku cuma lelah saja," jawab Tiwi
"Jangan bohong, gue tahu lo sedang merindukan seseorang, itu terlihat dari pancaran sinar matamu. Sebagai seorang pecinta sejati gue tahu apa yang Lo rasain," ucap Ray memeluk gadis itu
"Kalau Lo butuh teman cerita, gue siap kok buat dengerin semuanya. Lo jangan khawatir, Ray yang ganteng ini akan selalu jadi pendengar setia mu dan selalu mendukungmu," imbuhnya
"Thanks Ray, kalau boleh minta tolong, bisa gak kau lepaskan pelukanmu," bisik gadis itu
Ray segera melepaskan pelukannya, "Maaf jika sudah membuat mu tidak nyaman," jawab pria itu
"Hmmm, kalau begitu aku pamit dulu, maaf sudah merepotkan mu," ucap Tiwi
"Kau tidak pernah merepotkan aku Syntia, justru aku akan sangat senang jika bisa membantu mu," ucap Rayyan mengikuti gadis itu
"Sebaiknya kau menjauh dariku, agar tidak ada lagi gosip yang mengabarkan kita pacaran lagi," jawab Tiwi
"Kenapa kau selalu menolak ku Syntia, padahal seumur hidupku aku belum pernah di tolak oleh cewek manapun keculi dirimu. Itulah yang membuat aku menyikaimu," ucap pemuda itu mendekatkan wajahnya kearah Tiwi,
"Jangan macam-macam Ray, atau aku akan menghajar mu!" ancam Tiwi mengepalkan tangannya kearah pemuda itu.
"Anj*r, kenapa gue selalu gagal kalau mendekati cewek satu ini," keluh Rayyan
"Syntia awas!" serunya.
Ia segera menarik gadis itu kedalam pelukannya, ketika sebuah sepeda motor hampir menabraknya.
Keduanya saling bertatapan cukup lama membuat Rayyan begitu terpesona melihat kecantikan Tiwi dari dekat.
Ternyata kau lebih manis jika dilihat dari dekat,
"Maaf," ucap Rayyan melepaskan pelukannya
"Sekali lagi terima kasih Ray, sudah tolongin aku hari ini," ucap Tiwi merapikan penampilannya
"Kembali kasih honey, kalau gitu biar aku yang akan mengantarmu ke pulang," jawab Rayyan
"Gak usah, lagipula aku masih kerja, terima kasih atas bantuannya," Tiwi segera memakai helmnya dan meluncur meninggalkan Rayyan
"Gagal lagi!" seru Rayyan
Setibanya di Restoran Tiwi langsung duduk di mezanin untuk melepaskan penat dan meneguk segelas air dingin.
"Aaahh, segarnya!!" ucapnya kemudian membaringkan tubuhnya ke sofa
"Wi, ada satu lagi pesanan yang harus kau antar sebelum pulang kerja," ucap Fanny menghampirinya.
"Kenapa harus aku sih, memangnya tidak ada yang lain!" seru Tiwi
"Orang itu maunya kamu yang mengantarkan pesanannya," sahut Fanny
"Jangan bilang aku harus mengantarkan pesanan kepada konsumen bermasalah lagi seperti kemarin,"
"Tidak kok, kali ini konsumennya baik," Jawa. Fanny
"Ok, kalau gitu sekalian aku pulang saja," Tiwi segera mengambil tasnya di loker dan bergegas menuju ke rumah Bramantyo.
"Gak salah nih rumahnya," ucap Tiwi memastikan lagi alamatnya
Ia kemudian mengambil ponselnya dan menelpon nomor yang tercantum dalam daftar pesanannya.
"Halo dengan bapak Bramantyo...."
"Iya saya sendiri, ada perlu apa?" tanya lelaki itu
"Saya Tiwi dari Restoran Pizza Buana mengantarkan pesanan bapak. Dan sekarang saya udah ada di depan rumah bapak,"
"Kalau begitu masuk saja," jawab Bram menyeringai
"Sekarang kau sudah masuk dalam jebakan Anak manis," lelaki itu kemudian berjalan menuju ke depan pintu rumahnya.
Sementara itu Tiwi segera mengambil kotak makanannya dan berjalan memasuki pelataran rumah Bramantyo.
"Rumah ini sangat besar, tapi kenapa begitu sepi," gadis itu mempercepat langkahnya dan Bram langsung menyambutnya dengan senyuman manisnya.
"Ini pesanannya bapak, selamat menikmati," gadis itu menyodorkan kotak makanan itu padanya
"Terima kasih, kalau tidak keberatan aku ingin berbincang sedikit dengan mu, apa kau tidak keberatan?" tanya Bram
"Oh tidak masalah Tuan, lagipula jam kerjaku sudah selesai, silakan tanyakan saja apa yang ingin anda tanyakan padaku," jawab Tiwi
"Rasanya tidak elok jika kita berbincang sambil berdiri, kalau begitu silakan masuk, agar kita bisa berbicara dengan santai di dalam," Bram mempersilakan gadis itu duduk dan menyuruh asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman untuknya.
"Ahh, tidak perlu repot-repot Tuan," ucap Tiwi
"Hanya minuman, silakan diminum dulu, kau pasti lelah setelah bekerja seharian," sahut lelaki itu
Tiwi langsung meneguk air putih itu tanpa rasa curiga sedikitpun.
*Bruuugghhh!!!
Tidak lama gadis itu langsung tergeletak tak sadarkan diri di depan Bramantyo.