Surinala Maharani atau biasa dipanggil Nala. Dia seorang gadis yatim piatu, dan hanya tinggal bersama bibinya.Kehidupannya yang berat membuat dia harus bekerja banting tulang.
Pertemuan tidak disengaja Nala dengan pria bernama Akira membuatnya harus menurut pada pria itu karena hal berharga Nala telah diambil secara tidak sengaja pula oleh Akira.
Akira berjanji akan bertanggung jawab dan menikah Nala, tapi Nala tidak tau jika semua itu adalah suatu rencana besar yang sedang Akira jalankan, dan mirisnya, dia membawa Nala dalam rencananya itu.
Nala yang mengetahui rencana Akira memilih menjauhi pria yang sudah membuatnya jatuh cinta. Nala memilih pergi dari kehidupan Akira dan dia pergi dengan membawa buah cintanya dengan Akira yang tidak Akira ketahui.
Akankah Akira menyesal sudah membuat wanita yang mencintainya pergi? Dan bagaimana reaksinya saat tau wanita yang sudah dia nikahi itu pergi dengan membawa calon bayinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Lagi
Nala sudah membantu mempersiapkan semuanya, beberapa jam kemudian, Orlaf sudah pulang dari sekolahnya, dia kembali bertemu dengan Nala.
"Nona Nala, Nona Nala mau pulang?" tanyanya.
"Iya, Orlaf. Tugasku di sini sudah selesai, dan aku mau pulang. Apa kamu membutuhkan sesuatu? aku bisa membantu kamu sebelum pulang?" tanya Nala semangat.
"Aku ada pekerjaaan rumah, dan aku tidak bisa mengerjakan, apa kamu bisa membantunya?"
"Bisa, tentu saja bisa. Aku mau membantu kamu mengerjakannya."
"Kalau begitu, kita ke kamarku saja, aku mau berganti baju, lalu mengerjakan tugasku." Nala menyanggupi dan mereka masuk ke dalam kamar. Orlaf masuk ke walk in closet dan berganti baju, sedangkan Nala duduk di ruang belajar yang ada di kamar Orlaf, bahkan kamar pria kecil itu sangat besar, lebih besar dari kontrakan Nala.
"Nona Nala, apa kamu sudah makan siang?" tanyanya.
Nala menggelengkan kepalanya. "Aku belum lapar, nanti saja di rumah, lagian aku jarang makan siang, langsung makan malam, lebih hemat," tutur Nala.
"Lebih menghemat?" kedua alis mata pria kecil itu mengkerut. "Maksud kamu apa?"
Terkulas senyuman dari bibir Nala. "Sudah jangan dibahas lagi masalah itu, kita mulai sekarang?"
"Kita makan dulu, Nona Nala. Apa kamu mau?"
"Kamu lapar?"
"Iya, kita makan di sini saja, sandwich buatan Nona Nala masih ada, dan aku mau makan dengan kamu di sini." Orlaf mengambil kotak makannya dan membukanya, dia memberikan sepotong roti sandwichnya pada Nala dan satu untuknya, satu lagi roti sandwichnya sudah habis dia makan di sekolah.
"Kenapa tidak dihabiskan, Orlaf? kamu tidak suka?" lagi-lagi Nala mengkerutkan kedua alis matanya.
"Suka, snagat suka, tapi tidak aku habiskan karena takut kalau aku ingin makan lagi sandwich buatan kamu ... tidak bisa, karena Nona Nala kan tidak selamanya di rumahku."
Terdengar kekehan dari mulut Nala, dia tidak menyangka jika Orlaf bicara seperti itu. "Kalau kamu mau, aku bisa membuatkan kamu sandwich, kamu tinggal bilang sama bibi Anjani."
"Kamu saja bekerja di sini, mommyku bisa memberikan gaji yang lebih besar untuk kamu Nona Nala. Dan kamu tidak harus bekerja di dua tempat."
Sebenaranya pembicaraan mereka dari tadi di dengar oleh mommy Kei dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. "Maaf ya, Orlaf. Aku sudah menjelaskan sama kamu, bukan hanya mengenai gaji yang banyak, tapi aku sudah berjanji kepada adik dari teman aku, dan aku juga punya tanggung jawab di tempat kerjaku. Kita belajar saja kalau begitu, kamu kan belum menyelesaikan ini semua."
Orlaf akhirnya menghabisakan sandwich itu berdua dengan Nala dan akhirnya mereka mengerjakan pekerjaan rumah Orlaf sampai sore hari. Orlaf juga meminta Nala untuk membacakan dongeng untuknya, Nala pun menyanggupinya, Orlaf tidak lama tertidur lelap.
"Nyonya Kei, saya izin pulang dulu. Pekerjaan saya sudah selesai."
"Nala, terima kasih, Ya. Tadi aku melihat semua yang kamu lakukan pada Orlaf, sebenarnya saya butuh pengasuh untuk Orlaf, dan dia sepertinya menyukai kamu, tapi kamu sayangnya tidak bisa."
"Iya, maafkan saya, Nyonya Kei."
"Tidak apa-apa, kamu gadis yang bertanggung jawab sama apa yang kamu lakukan, aku senang mendengarnya. Ya sudah, ini ada uang untuk kamu, terima kasih kamu sudah membantu di sini." Kei memberikan amplop berwarna putih dan Nala menerimanya.
"Terima kasih, saya permisi dulu kalau begitu, kalau masih ada yang perlu saya bantu, saya siap membantu, kebetulan saya sedang libur."
"Tidak perlu, kamu beristirahatlah, kamu besok kan punya pekerjaan lainnya."
"Nala, kamu pulang saja, bibi nanti masih di sini karena pekerjaan bibi belum selesai."
Nala akhirnya izin pulang. Nala berjalan santai di jalanan menuju gerbang utama, dia kembali berpapasan dengan mobil hitam dan Nala tau siapa yang ada di dalam mobil itu. Nala mencoba menghindar, tapi mobil itu seolah-olah ingin mendekati dia saja.
"Kamu mau apa, Sih?!" Nala menghentakkan kedua kakinya bergantian kesal.
Mobil itu berhenti dan seseorang keluar dari dalam mobil itu, pria itu berdiri dengan angkuh dan sombongnya di samping pintu mobilnya. Terlihat senyuman miring pada sudut bibir pria tampan itu.
lanjuut
lanjuutt