Bagaimana perasaanmu ketika dibersamakan dalam ikatan halal bersama ia yang mengagumimu dalam diam?
Ini tentang kisah mereka yang saling terkagum dalam diam dan do'a. Tak berani mendekat dengan sesama, melainkan mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Hati terlebih dahulu.
Karena Allah tak pernah ingkar dengan janji-Nya. Bagi mereka lelaki baik untuk perempuan baik, dan bagi mereka lelaki tidak baik untuk perempuan tidak baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elisa_nafiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30-MASA SMA- Mengikhlaskan
Ada cerita yang belum selesai, tapi terpaksa harus diselesaikan
Ada hati yang masih berharap, tapi terpaksa harus berhenti berharap
Karena perihal yang tak tertakdir
Harus tersingkir
✿✿✿
Aku menghela nafas dengan bahu menurun lemas. Memilih berbalik badan dan melangkah pergi menuju aula tempat acara.
Sesampainya di aula aku mengambil duduk dibagian belakang Zaskia. Rasanya untuk saat ini aku tak ada mood untuk berbicara. Diamku nyatanya membuat Laili peka, sejak tadi ia memang memandangku dengan wajah yang seolah mewakilkan beribu pertanyaan yang akan dilempar padaku.
"Sa, gimana?" tanya Laili pada akhirnya membuka suara. Ia menghadapkan tubuhnya padaku yang duduk di sampingnya. Aku menoleh dan mengulas senyum diikuti gelengan kecil bertanda tidak apa-apa.
Beberapa pertunjukan untuk membuka acara ternyata sudah ditampilkan sejak tadi.
"Lo... ketemu sama siapa akhirnya?" tanya Laili kembali tak mau menyerah. Aku menarik nafas dalam dan menghadap penuh pada Laili.
"Aku lagi ga mau bahas untuk saat ini. Maaf ya, Li," ucapku terang membuat Laili mengatupkan bibirnya diam mengerti dan segera mengangguk.
"Iya, Sa. Gue paham kok, maaf ya gue maksa banget," balasnya menepuk bahuku sesaat.
Kami terfokus kembali ke depan. Aku mencoba menikmati serangkaian jalan acara. Sampai pada akhirnya Umah akan mengumumkan juara lomba cerpen dan KIR.
Aku tidak merasa khawatir ataupun gugup, karena sejak tadi pikiranku tak terlalu fokus pada acara ini.
"Dan acara selanjutnya yaitu kita akan mengumumkan juara lomba KIR dan cerpen yang telah diwakili oleh 6 siswa dari sekolah ini dengan ratusan pesaing dari sekolah lain." Umah dengan segala keaktifannya sebagai MC akan menyampaikan siapa yang menjuarai lomba tersebut.
"Yaaa... kita sambut mereka...." Umah seolah sedang mempertegang suasana, tapi tidak bagiku. Sungguh biasa.
Tapi ya sedikit deg-degan.
Hanya sedikit!
Aku menautkan kedua bibir menunggu sesekali menghela nafas, melirik kecil Laili yang sejak tadi bergumam melantunkan do'a katanya berharap namaku dipanggil.
Aku tersenyum mendengarnya. Ia bahkan hampir berkaca-kaca saking khusuknya.
"Kita panggil dia yang mewakili sekolah mengikuti Karya Ilmiah Remaja yaitu...
Muhammad Ali Irsyad!"
Mataku melebar mendengar nama itu disebut. Tak sadar kedua tanganku terangkat memberikan tepuk tangan dengan riang dan sangat senang.
Mataku menyorot seisi ruangan, menemukan lelaki tersebut berjalan menuju panggung dengan senyum melebar bahagia.
Begitupun kedua ujung bibirku juga terangkat merasa kagum sekaligus bangga.
Ali berdiri di sisi kanan Umah dengan senyuman melebar sampai menampakkan deretan gigi rapinya. Sampai pada akhirnya pandangannya ku rasa jatuh tepat padaku, membuat aku sontak melebarkan mata kaget. Tapi bukannya merunduk, senyuman yang diberikan Ali padaku membuat aku refleks membalas senyumnya juga.
Aneh, perasaanku menjadi meringankan begitu saja. Mendadak lupa dengan kejadian beberapa jam lalu.
"Dan kita panggil pemenang lomba cerpen, dia itu salah satu peserta yang mengirimkan naskahnya dengan jalan cerita yang unik. Bisa membuat pembacanya penasaran, gregetan, pokoknya menggemaskan. Dan itu salah satu point penting. Bitiway dia berhasil meraih juara 2 nasional lohhh," kata Umah menjelaskan hampir dengan kedetailannya.
Aku terkekeh, mengira yang disebutkan ciri-cirinya itu adalah adek kelas yang memang juga mengikuti lomba tersebut selain aku.
"Mau tau siapa dia?" tanya Umah mencoba mencairkan suasana yang semula diam menunggu jadi bersorak riuh gemas ingin segera diumumkan siapa pemenangnya.
"MAUUUUU!" sorak seisi ruangan dengan semangat termasuk orang di sebelahku. Siapa lagi kalau bukan Laili? Dia paling bersemangat.
"Yap. Baiklah, kita panggil dia yaitu... Elisa Rahmadhani Syakilla dari kelas 11 MIPA 2."
Aku terdiam mendengar nama itu, masih berpikir apakah nama tersebut adalah namaku.
"Siapa tadi yang dipanggil?" tanyaku tak percaya.
"LO LISA, LO!" teriak Zaskia heboh tak seperti biasanya.
Ah iya, satu lagi kepribadian Zaskia yang tak pernah ia tampakkan yaitu kehebohannya. Dia melakukan hal tersebut mungkin di bawah alam sadar.
"HURRAYYYY, AKHIRNYA DO'A GUE TERKABUL!" girang Laili langsung memeluk tubuhku senang. Melompat-lompat kecil di sampingku.
Aku masih ternganga tak percaya dan mengerjap-ngerjap kecil. Bahkan Zaskia, Nadya, dan Syifa juga segera memelukku bangga.
"Untuk Kak Elisa Nadira, bisa menuju ke panggung, Kak?" tanya Umah meminta.
Aku tersenyum saat sadar karena memang itu adalah diriku yang dipanggil.
"Sa, congrats Sa!" pekik Zaskia yang tak kalah hebohnya dengan Laili, Nadya, dan Syifa.
"Cepet maju ih cepet!" suruh Laili dengan menggebu-gebu semangat.
Aku masih terkekeh.
Mau maju tapi masih ditarik-tarik sama dipeluk heboh gini, gimana bisa menyeruak?
"Eh, Lisa mau maju. Tapi kalian masih heboh meluk dia, gimanasih?!" tegas Syifa menghentikan aksi mereka bertiga.
"Ah, oh iya," celetuk Zaskia dan Laili bersamaan lalu melepaskan pelukannya.
Aku berjalan menuju panggung dengan iringan tepuk tangan meriah yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Semua mata yang menyorot memperhatikan dengan ulasan senyum bangga.
Begitupun aku yang mengedarkan pandangan pada ibu terlihat haru bangga.
Alhamdulillah.
Setidaknya hal ini bisa membanggakan ibu.
Aku menghela nafas, masih mendengar suara tepuk tangan riuh. Aku mengambil posisi berdiri di sebelah Ali yang berjarak.
Mataku mengarah ke depan, memandangi banyak orang yang mengisi aula ini. Tempat duduk yang berbentuk tangga layaknya berada dalam bioskop.
Sampai pada akhirnya mataku terjatuh tepat pada barisan belakang tempat laki-laki duduk.
Mengarah tepat pada lelaki berahang tegas dengan mata yang juga mengarah padaku. Aku terdiam, sebelum pada akhirnya sama-sama melengos mengalihkan pandangan.
Fariz Muhammad.
Dengan aku ingin berterimakasih padamu, setidaknya kamu telah menjadi penginspirasi ide dari jalan cerpen yang ku buat sampai aku bisa menjuarai tingkat nasional.
"Baik, untuk Bapak Kepala Sekolah yang terhormat, perwakilan salah satu guru, serta ketua OSIS. Saya persilakan untuk menyampaikan beberapa kalimat pada kedua orang yang mewakili sekolah kita menjuarai KIR dan Cerpen."
Umah begitu semangat.
Kini Kepala Sekolah yang bername tag Sudoko Fauzan berjalan naik ke atas panggung. Memberi sebuah kesan dan pesan untuk kita semua.
Dilanjut sampai pada akhirnya Andra si Ketua OSIS sopan dan terlihat berkarisma. Berbeda disaat dia di luar jam kerja OSIS, dia sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat. Ia juga memberikan kesan dan pesan.
Ia berdeham kecil, mengatur pita suaranya dan memperbaiki posisi berdirinya. Tangannya terjulur mendekatkan mic pada mulutnya yang berjarak minim.
"Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh," salamnya pertama kali.
"Waalaikumsalam warahmatullaahi wabarakatuh," jawab serempak orang yang berada di aula.
Ia memberikan sambutan-sambutan dan berakhir mengucapkan kesan pesannya, serta ucapan salam penutup.
"Alhamdulillah, baiklah itu serangkaian pesan dan kesan dari ketua OSIS SMA N 1 ini. Oh ya semuanya, mau tau gak gimana sekelebat kisah cerpen yang ditulis sama Kak Elisa? Dan juga mau tau gak apa yang dibahas Kak Ali dalam KIRnya sampai bisa menjuarai tingkat nasional itu?" tanya Umah pada peserta yang ya jelas jelas akan mengucapkan kata MAU.
Aku melotot tak percaya saat Umah tak main-main dengan ajakannya itu, menyuruhku menceritakan cerpen yang ku kirim dan berhasil meraih peringkat 2. Cerpen dengan tema mengagumi tapi tak tahu dikagumi balik atau tidak.
Dan taukah kalian? Aku harus membacanya di atas panggung, didengarkan dan dilihat oleh banyak orang termasuk dia tokoh utama dalam cerpen yang ku buat?!
"Kak Elisa maukan? Ga perlu semuanya kok diceritain, sinopsisnya aja atau inti dari kisah cerpen kakak," pinta Umah dengan menyerahkan mic padaku.
"Hm?" Aku bergumam kecil sebelum pada akhirnya mengangguk mengiyakan dengan terpaksa.
Aku maju selangkah, meraih mic dengan tangan yang mendadak dingin dan jantung yang berdebar cepat sejak tadi.
Demam panggung?
Sedikit. Setidaknya karena lebih sering presentasi di depan kelas sekaligus pernah menjadi MC sekali membuat aku jadi terbiasa.
Aku mengedarkan pandangan menyorot satu persatu, mencoba menguasai diri. Lebih mendebarkan lagi saat tatapanku kembali tertuju padanya.
Fariz tersenyum.
Ku ulangi sekali lagi, ia tersenyum.
Tapi tersenyum ke arahku atau ke arah siapa?
Aku semakin gugup.
Aku mencoba menarik nafas dalam, mencari oksigen sebanyak-banyaknya.
Aku kembali merunduk sebelum mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salamku pertama kali sembari menatap mereka yang duduk di depanku.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka kompak dan serempak.
Aku menggembungkan pipi sebentar.
Bismillahirrahmanirrahim.
Aku menghembuskan nafas.
"Saya di sini hendak menceritakan sekilas cerpen yang saya tulis serta kirim sehingga bisa meraih juara 2 tingkat nasional."
Aku berhenti sejenak, memperhatikan mereka yang tampak menunggu kelanjutan dari pembicaraanku.
"Dalam cerpen itu, saya mengisahkan seorang perempuan yang mengagumi seorang lelaki dalam diam. Baginya lelaki itu telah menjadi inspirasinya menjadi lebih baik. Ia hanya bisa mengagumi dan meminta lelaki tersebut kelak akan menjadi imamnya. Tapi perempuan itu tak melulu memikirkan lelaki yang dikaguminya, ia berusaha memperbaiki diri. Memfokuskan dirinya dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang pelajar muslim," kataku mulai bercerita, sejenak mengulum bibir ke dalam.
"Jadi teman-teman, kesimpulan serta amanat yang bisa diambil yaitu kita boleh mengagumi seseorang, bahkan mencintai seseorang. Tapi jangan membuat angan-angan kita hanya dipenuhi tentangnya. Kita tetap harus mencintai Allah melebihi apapun. Jadi disaat orang yang kita kagumi tidak disandingkan dengan kita, percayalah Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik. Sekian dari saya, maaf jika ada kesalahan dalam penyampaian seklumit cerpen saya. Dan terimakasih atas perhatiannya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Tepuk tangan riuh mendominan seketika disertai jawaban salam yang ku beri. Aku merasa lega begitu saja, apalagi pria itu dengan semangat menggebu saat bertepuk tangan tertawa riang.
Ya Allah, aku ingin mengikhlaskannya.
Aku tersenyum, aku menyadari dia hanya sebagai tokoh yang sekadar lewat dalam kisahku. Bukan sebagai pemeran dari awal sampai akhir.
Setidaknya aku merasa bersyukur, mengenalnya membuat aku mengerti bagaimana rasanya mengagumi dan memperjuangkan melalui do'a, tak lupa melibatkan Allah di atas segalanya. Rasanya lebih tenang, lebih diberi banyak petunjuk dia yang terbaik atau bukan untuk ku.
✿✿✿
Assalamu'alaikum 😃
Ceritanya belum selesai kok, jangan pada suudzon dulu ya temen-temen 😂
Disepertiga malamku
terima kasih sebelumnyaa😉