Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.
Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belilah Dia
POV Sekar
"Hei, cantik, bangun. Dari kemarin tidur terus," kata seorang pria.
"Kamu siapa? Aku di mana?"
"Tenang, Manis. Kita bersenang-senang sebentar dulu, nanti baru kujawab pertanyaanmu."
"Kamu mau apa? Lepaskan aku..." Aku menjerit putus asa.
"Hei, jangan kebablasan, ya?" tegur seorang perempuan. "Menyingkir dari situ. Dia barang segelan, kalau kamu sentuh, kamu celaka."
"Serius? Padahal aku pengin banget membuka segelnya. Tapi tenang saja, nanti kusambangi kamu di rumah bordil mana pun kamu dikirim." Ia menyeringai licik.
"Pergi sana. Aku mau mendandani dia untuk lelang." Pria itu mengangguk dan keluar.
"Dengar, Nak. Sebelum kamu menanyakan seribu hal, kujawab sekalian. Kamu dijual ke sindikat perdagangan manusia oleh seorang perempuan. Kurasa ibumu, atau bibimu, entahlah... Pokoknya karena kamu perawan, kamu akan masuk lelang. Siapa yang membelimu akan membawamu pergi, mengambil keperawananmu, lalu menaruhmu di rumah bordil. Jadi siapkan dirimu, rumah bordil biasanya penuh sesak, dan karena kamu masih sangat muda dan cantik, ketidakberpengalamanmu lebih menarik laki-laki. Jadi, Sayang, mulai besok akan begitu banyak pria yang menjamahmu sampai jalanmu pasti miring. Sekarang bangun, kamu harus makan supaya aku bisa mendandanimu. Dan jangan coba-coba kabur, kalau tidak, nasibmu jauh lebih buruk."
Aku mendengar kata-kata perempuan itu dan bahkan tak sanggup menjawab. Aku terpukul dengan apa yang sanggup dilakukan bibiku padaku. Aku menuruti kata-katanya, memakan makanan yang menjijikkan itu, dan membiarkan dia mendandaniku seperti pelacur, yang memang akan kujadi sekarang. Tapi aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan memperjuangkan kebebasanku. Bibi tersayang dan Kakak Sepupuku tidak akan lolos dariku... Dan akhirnya, inilah aku, menerima nasibku.
Lelang...
POV Ratna
"Nak, Ibu mau kalung itu dan lukisan itu..."
"Terjual satu kali, terjual dua kali..." seru pembawa acara.
POV Hendra
"Rp 15 miliar untuk masing-masing." Semua orang terkejut dengan tawaranku dan tak ada yang berani bersuara.
"Terjual kepada Tuan Hendra Wirakusuma. Silakan ambil barangnya dan lakukan pembayaran..."
POV Ratna
"Terima kasih, Nak," kataku sambil tersenyum. Saat kami hendak keluar,
"Selamat malam semuanya," seru seorang perempuan di panggung. "Sekarang kita mulai bagian terbaik. Malam ini kita punya barang istimewa. Terkejutlah... DIA PERAWAN!" Semua orang bersorak. "Bawa masuk barangnya."
POV Sekar
Aku diseret seperti benda ke tengah ruangan yang penuh pria-pria mengerikan, yang menatapku seolah akan melahapku di tempat itu juga.
"Mulai penawaran..." kata perempuan itu.
"Bu, kenapa berdiri di situ? Ayo pulang," kata Hendra.
POV Ratna
"Nak, belilah gadis itu." Mataku tak lepas dari anak itu.
"Ibu tahu aku tidak melakukan hal begitu."
"Tolonglah, Sayang. Dia ketakutan, pasti dia ada di sana bukan atas kemauannya. Apalagi dia masih suci."
"Jangan tertipu, Bu. Mereka selalu bilang begitu dan perempuan-perempuan itu selalu pura-pura."
"Kamu tahu Ibu tidak pernah salah menilai orang, Hendra, dan kamu juga tahu perdagangan perempuan itu nyata... Tolong, belilah dia." Aku hampir menangis.
"Aku bisa keluar dari sini tanpa uang gara-gara cerita ini, dan untuk apa aku membeli makhluk itu?"
"Jangan drama. Uangmu tidak habis dipakai tiga kali hidup. Jadikan dia pembantumu, tapi keluarkan dia dari sini, tolong. Kalau perlu kembalikan kalung dan lukisannya, tapi belilah dia."
"Terjual satu kali..." seru perempuan itu.
POV Hendra
"Rp 150 miliar..."
Kali ini semua orang menatapku dengan terkejut dan penuh kebencian, karena mereka hampir saja berebut sampai adu jotos demi membawa perempuan itu.