Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 : TUGAS PERTAMA DI LANTAI BAWAH
Pintu lift servis berderit pelan saat terbuka di lantai B3.
Bau lembap dan cairan pembersih murahan langsung menyergap hidung. Clarissa melangkah keluar dengan lutut lemas. Di tangannya, sebuah ember plastik berisi cairan pembersih, sikat bergagang panjang, dan kain pel kusam diserahkan begitu saja oleh petugas pengawas basemen bernama Hardi.
Hardi melempar sebungkus sarung tangan karet tipis ke dalam ember.
"Pakai itu kalau tanganmu alergi bau kaporit," kata Hardi tanpa menatapnya. "Tapi jangan harap kerjamu jadi lebih cepat."
Clarissa menatap sarung tangan murahan itu.
"Pak Hardi," panggil Clarissa, suaranya tercekat. "Apakah saya tidak bisa dipindahkan ke bagian lain? Gudang arsip, misalnya? Atau staf administrasi bawah?"
Hardi tertawa pendek, suara yang terdengar kasar di lorong beton yang sepi.
"Gudang arsip? Kau pikir kau siapa? Nyonya besar?" Hardi mencondongkan tubuhnya, menatap Clarissa tajam. "Surat keputusan dari Pak Hendra jelas. Divisi sanitasi blok C sampai D. Semua lantai toilet pria dan wanita harus bersih mengkilap sebelum jam dua siang. Kalau lantai masih licin atau bau pesing, gajimu minggu ini habis."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian." Hardi melemparkan sehelai kain lap kusam ke dada Clarissa. "Satu jam lagi rombongan teknisi istirahat. Toilet pria di sektor C pasti kotor. Mulai dari sana."
Clarissa menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Ia menyeret langkahnya menuju blok C.
Begitu ia mendorong pintu toilet pria, uap panas dan bau menyengat langsung menusuk hidungnya. Dua orang pekerja bangunan basemen yang sedang mencuci tangan bersiul-siul kecil melihat seragam cleaning service baru Clarissa.
"Wih, petugas baru?" sahut salah seorang pekerja sambil menyeka tangannya di celana. "Cantik juga. Sayang banget diturunkan ke lubang tikus ini."
"Jangan sembarangan," timpal temannya sambil nyengir. "Kata anak-anak logistik, ini perempuan yang kemarin coba-coba main-main sama lift lantai atas. Kena batunya kan?"
Clarissa menunduk dalam-dalam. Ia menjatuhkan ember ke lantai keramik yang kotor, lalu berlutut. Tangannya gemetar saat menuangkan cairan pembersih ke atas ubin yang bernoda pekat.
Di tengah kesibukannya menyikat lantai, sayup-sayup ia mendengar suara dua orang pekerja kebersihan senior yang sedang beristirahat di dekat bilik ujung sambil memegang gelas kopi plastik.
"Eh, lu dengar gosip di atas nggak?" tanya pekerja pertama.
"Gosip apa lagi?"
"Itu... Nyonya Alesha. Katanya sekarang malah hamil anak kedua."
"Serius? Padahal anak pertamanya aja baru mau jalan beberapa bulan."
"Makanya pengawalan di lantai atas ketat banget. Suaminya mana mungkin biarin dia kenapa-napa."
Nama itu lagi. Alesha.
Clarissa menghentikan sikatnya. Hamil anak kedua — bukan hamilnya yang baru, tapi anak keduanya. Itu yang membuat lantai 99 dijaga seperti markas.
Sambil menyikat, kakinya menyenggol pelan gelas kopi plastik milik pekerja itu hingga tumpah sedikit.
"Eh, maaf, Pak," kata Clarissa pelan. "Maaf saYa ceroboh."
"Yah, hati-hati dong!" omel pekerja itu, buru-buru mengangkat gelasnya. Dari saku celananya yang basah, terjatuh sebuah kartu akses visitor warna kuning yang sudah lusuh.
Clarissa dengan cepat mengambil kartu itu.
"Ini jatuh, Pak."
Pekerja itu merebutnya kasar.
Clarissa mengembalikan kartu itu sambil tersenyum kecil.
"Terima kasih, Pak."
Pekerja itu memasukkannya kembali ke saku.
Clarissa menunduk dan melanjutkan pekerjaannya.
B2 ke B1. Dua hari lagi masih berlaku.
Ia tidak perlu melihat kartu itu lagi. Tulisan kecil tadi sudah tersimpan di kepalanya.
"Heh, yang di bilik tiga! Jangan malas!" suara Hardi tiba-tiba menggema dari luar pintu toilet.
"Siap, Pak Hardi!"
Ia kembali menggerakkan kain pel di atas lantai basemen.
B2. B1.
Dua hari.
Clarissa terus bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.
Lalu satu nama melintas di kepalanya.
Rian.