Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.34 Amukan sang mafia
Melihat ruang kerja yang porak-poranda dan pesan darah musuh, kendali diri Leon hancur total. Aura dingin yang biasanya ia perlihatkan berganti menjadi kemurkaan murni yang menakutkan. Dengan mata tajam bak sebilah pedang yang siap menghunus mangsanya Leon membaca pesan darah yang tertulis di atas meja kerjanya "Keluarlah, hadapi aku jika kamu benar-benar menginginkan istri dan anak tercintamu kembali utuh kepadamu!!"
Leon mengepalkan tangannya dan memukulkannya dengan penuh amarah ke atas meja kerjanya yang bertuliskan pesan berdarah itu "Kurang ajar! Beraninya dia mengusik keluargaku," ucap Leon penuh amarah yang membuncah di dadanya. Dengan langkah tegap dan memburu Leon keluar dari ruang kerjanya dia berjalan ke arah anak buahnya yang sedang meringkus sisa kaki tangan musuh yang berhasil mereka tangkap tadi sewaktu pertempuran di mansion berlangsung. Dengan wajah yang di liputi amarah yang membara Leon langsung mengeksekusi sisa kaki tangan musuh itu tanpa ampun untuk menggali informasi lokasi penyekapan Luna dan Emily.
Leon melangkahkan kakinya mendekati kaki tangan musuh yang sedang di ikat di kursi oleh pengawalnya. "Katakan di mana mereka membawa istri dan anakku!?" bentak Leon pada sandera musuh itu. "Aku tidak tahu!" ucap sandera itu sambil menatap Leon sinis. Tanpa menunggu waktu lama kaki Leon sudah melambung menghantam tubuh sandera itu hingga dia meringis kesakitan "Cepat katakan!! dimana lokasi kalian?!!" mata Leon mendelik seolah akan keluar dari cangkangnya menatap sandera itu penuh amarah.
Sandera itu tersengal-sengal, memuntahkan darah ke lantai dingin. Ia mendongak, mencoba tertawa mengejek meski sudut bibirnya robek.
Sandera itu batuk terkekeh dengan suara parau "Lakukan sesukamu, Leon... Kau terlambat. Pada saat kau menemukan tempatnya... ratu cantikmu dan putri kecilmu itu... sudah tidak bernyawa..."
DUMM!
Tanpa membiarkan kalimat itu selesai, Leon menyambar kerah baju sang sandera dan menghantamkan kepala pria itu ke meja kayu di sampingnya hingga hancur berkeping-keping. Suara retakan tulang berpadu dengan jeritan kesakitan yang tertahan.
Leon mencengkeram rahang sandera itu erat-erat, suaranya turun satu oktaf begitu dingin hingga membuat pengawal senior di sekelilingnya merinding "Aku tidak bertanya apakah mereka masih hidup. Aku bertanya di mana mereka."
Leon mencabut pisau komando dari sabuk taktis Marco yang berdiri di sampingnya. Tanpa kedipan mata, ia menancapkan mata pisau itu tepat menembus paha sang sandera.
Sandera itu menjerit histeris merasakan sakit luar biasa "AARGHHH! AMPUN! AMPUN!"
Leon memutar gagang pisau itu perlahan, menatap mata sandera tanpa empati sedikit pun "Kesabaranku habis bersamaan dengan detik yang bergulir. Setiap detik kamu mengulur waktu, aku akan memotong satu bagian tubuhmu. Katakan. Di mana?"
Sandera itu pun pucat pasi, napasnya memburu ketakutan, air mata bercampur darah mengalir di pipinya "P-pabrik gula tua... di distrik barat! Di pelabuhan lama! Mereka... mereka membawa mereka ke sana!"
Leon menarik pisaunya dengan sekali sentakan kasar, lalu mengusap bilahnya yang berdarah ke baju sandera "Sebutkan jumlah personel dan senjata di sana."
Sandera itu merintih, tubuhnya gemetar hebat "T-tiga puluh orang... senjata berat... pimpinan kami menunggu di lantai atas... Tolong, aku sudah katakan semuanya, lepaskan aku."
Leon berdiri tegap, memunggungi sandera itu seolah pria itu sudah menjadi mayat.
Leon berbalik menatap Marco, suaranya tegas dan tanpa kompromi "Bereskan tempat ini. Minta tim alpha bergerak ke pabrik gula distrik barat sekarang. Jangan ada satu pun musuh yang tersisa hidup-hidup di sana."
Marco menunduk patuh "Siap, Tuan. Bagaimana dengan helikopter tempur?"
Leon mengisi amunisi pistol intinya dengan bunyi klik yang tajam "Darat dan udara. Kita hancurkan tempat itu sampai rata dengan tanah."
Semua anak buah Leon bergerak dengan cepat sesuai komando kepala pasukan masing-masing sementara Leon yang sudah siap dengan pistolnya juga segera bergegas masuk ke dalam kendaraan taktis yang sudah di siapkan oleh pengawalnya.
Leon mengaktifkan protokol terlarang dan memanggil seluruh divisi tempur utama sindikatnya. Tanpa memedulikan risiko perang terbuka dengan otoritas atau kelompok lain, armada kendaraan lapis baja dan tentara bayaran elit dikerahkan untuk mengepung wilayah musuh
Memanfaatkan sinyal pelacak tersembunyi yang tertanam pada perhiasan pemberiannya kepada Luna yang tak diketahui oleh musuh Marco berhasil mengunci koordinat tempat penyekapan sebuah markas tua yang dijaga ketat di pinggiran kota.
Leon dan anak buahnya bergerak cepat menuju gudang tua yang di jadikan markas kubu musuh itu sesuai informasi dari kaki tangan musuh tadi dan tak butuh waktu lama Leon dan pasukannya sudah tiba di area gudang tua itu yang terpencil jauh dari kota.
"Menyebar sesuai titik-titik yang sudah di tandai tadi dan lumpuhkan satu persatu personel mereka dengan senyap " perintah Leon pada Marco. Dengan segera Marco mengkomando pasukannya sesuai perintah Leon tadi, lewat intercom yang ada di tangannya "Cepat!! bergerak pada posisi masing-masing sesuai rencana awal, lumpuhkan tiap titip penjagaan dengan senyap jangan sampai ada satupun yang tersisa!" perintah Marco pada semua pasukan Leon. "Baik, kami laksanakan!" tanpa menunggu waktu lama semua pasukan Leon dengan perlahan meringsek masuk ke dalam area gudang yang penuh penjagaan ketat itu. Terlihat dua orang penjaga yang sedang berdiri siaga sambil memantau sekelilingnya, salah satu anak buah Leon yang sudah berhasil mendekat ke arah pintu gerbang gudang dengan segera melumpuhkan penjaga itu dengan sekali pukulan di tengkuknya yang membuat penjaga itu langsung jatuh tersungkur di lantai sementara teman dari penjaga itu yang melihat adanya penyusup yang masuk ke area mereka dengan sigap menyerang ke arah anak buah Leon tapi sayangnya anak buah Leon jauh lebih lihai membaca situasi dan akhirnya dengan sekali tendangan mematikan saja pengawal itupun jatuh terjengkang menghantam tembok pos penjagaan dan tanpa menunggu waktu lama anak buah Leon pun mulai melangkah masuk ke area dalam gudang tapi pimpinan musuh yang sudah mencium kedatangan Leon langsung memerintahkan anak buahnya untuk bersiaga dan memperketat penjagaan.
Pimpinan musuh menyeringai culas sembari mengisyaratkan sepuluh algojo terbaiknya untuk membarikade pintu utama gudang. Senjata laras panjang terkokoh rapat, mengarah lurus ke pintu besi yang kini bergetar hebat akibat dentuman dari luar. Di sudut ruangan tersudut, Luna memeluk erat Emily yang terisak pelan, berusaha menutupi telinga putrinya dari dengung bahaya yang makin mendekat.
(DUMMM!)
Ledakan dahsyat menghancurkan pintu besi hingga terlempar puluhan meter. Di tengah kepulan asap mesiu dan kobaran api, sosok Leon melangkah masuk bagai iblis pencabut nyawa. Wajahnya tertutup bayangan dingin, mata elangnya menyapu sekeliling ruangan sebelum terkunci rapat pada figur istri dan anaknya.
"Tembak! Bantai mereka semua!" jerit sang pimpinan musuh histeris.
Hujan peluru pecah seketika, namun tim alpha Leon bergerak presisi bak bayangan malam. Dengan taktik tempur sempurna, anak buah Leon melumpuhkan barisan depan musuh hanya dalam hitungan detik. Senjata demi senjata melayang, jeritan kesakitan membahana memecah kesunyian gudang tua tersebut.
Leon menerobos sisa barikade tanpa rasa takut sedikit pun. Langkahnya konstan, membedil satu per satu musuh yang berani menghalangi jalurnya. Hingga akhirnya, giliran sang pimpinan musuh yang tersudut panik, gemetar hebat menyaksikan seluruh pasukannya lumat di tangan sang penguasa mafia.
Sang pimpinan musuh menyergap Luna secara tiba-tiba, menarik tubuh wanita itu dan menempelkan laras pistol kaliber tinggi tepat di pelipisnya. Emily menjerit histeris dalam dekapan Luna yang gemetar hebat, namun Luna berusaha keras menatap Leon dengan mata penuh ketabahan.
"Langkah satu centi saja, Leon, dan otak istri cantikmu ini bakal berhamburan di lantai!" bentak pimpinan musuh dengan napas memburu dan mata mendelik panik.
Suasana gudang seketika hening mencekam. Hujan tembakan terhenti total. Leon mengisyaratkan anak buahnya untuk tidak menembak. Pria itu menyapu darah musuh di pipinya, lalu melangkah maju setengah langkah tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kamu membuat dua kesalahan besar hari ini," ujar Leon dengan suara begitu dingin hingga mampu membekukan udara di sekeliling mereka.
"Diam! Lepaskan senjatamu!" jerit musuh itu makin histeris, menekan laras pistolnya lebih keras ke kepala Luna.
"Pertama..." Leon mengangkat pistolnya, mengarahkannya lurus ke depan. "...kamu menyentuh keluargaku."
"Dan kedua?" tantang musuh itu dengan bibir bergetar.
"Kamu lupa kalau aku tidak pernah memberi kesempatan kedua untuk bangsat sepertimu."
DORRR!
Tanpa ada kedipan mata, satu tembakan presisi dari Leon melesat menembus tepat di tengah dahi pimpinan musuh melewati sela rambut Luna hanya dalam hitungan milimeter. Mata pria itu melotot sempurna sebelum tubuhnya ambruk kaku ke belakang, melepaskan cengkeramannya dari Luna.
Pistol di tangan pimpinan musuh terjatuh nyaring di atas semen dingin. Sebelum tubuh Luna sempat goyah karena terkejut, Leon sudah melangkah cepat dan merengkuh Luna serta Emily ke dalam pelukan pelindungnya yang kokoh.
"Sudah selesai, sayang," berbisik Leon di antara napasnya yang berat, mengecup dahi Luna dan kepala Emily berturut-turut. "Kalian aman sekarang."