sebuah kisah dua orang asing yang ditakdirkan menjadi keluarga. tanpa tau bahwa pertemuan mereka akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zean amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 29
3 hari berlalu,.. sejak kematian ayahnya.
Zean sekarang bersiap siap untuk pergi sekolah. ia masih belum bisa menerima kenyataan ini, tapi Zean tidak bisa terus begini.
"Ayah. Zean akan sekolah kembali. aku akan menunjukkan pada ayah bahwa semua kerja kerasku tidak sia-sia. Aku akan mendapatkan nilai terbaik... seperti yang selama ini Ayah harapkan" ucapnya di depan foto ayahnya.
ia membahas tentang ujian nasional lalu,. ia lupa menanyakan nya pada Arine dan Faris.
hasilnya akan diumumkan di web online. dan Zean tak punya hp:(
ia sudah siap, dan berangkat...
...
Zean sudah berada di depan gerbang sekolah. ia tidak banyak melihat anak anak. yah, mungkin ia terlalu pagi...
ia kemudian berjalan untuk menuju ke kelasnya.
tapi, ia merasa aneh. anak anak disana melihat dirinya.
'ada apa? ' batin Zean bingung.
tapi ia tak ingin ambil pusing, ia mengabaikannya.
sesampainya di kelas, ia dapat melihat teman temannya yang ada di kelas itu melihat ke arahnya.
"ah, Zean. kamu akhirnya masuk. aku turut berduka untuk ayahmu ya" ucap salah satu siswi mencairkan suasana disana.
"terima kasih" hanya itu yang dapat Zean katakan. karena jujur, ia masih sedikit bingung.
waktu terus berjalan,.. dan Faris, ia akhirnya datang.
'aku akan bertanya pada Faris. apa yang sebenarnya terjadi'
"eh, Zean? lu dah masuk? kok masuk dah? " ucap Faris sedikit berlari kearah mejanya.
"huh? memangnya kenapa aku ga boleh masuk? " bingung Zean.
"eh, ahaaha. ga ada kok" jawab Faris.
"Pinjem bukunya. aku mau nyatet selama 3 hari lalu"
setelahnya, Faris langsung memberikan bukunya.
Zean fokus mencatat. dan Faris tiba-tiba dicolek🤭teman sebelah nya.
"Faris. kenapa dia masuk? sekarang masih ga aman" ucapnya berbisik
sssuutttt,..
beberapa menit kemudian, guru pertama masuk ke dalam kelas itu.
seperti biasa ia menyapa murid murid nya. ingin memulai pelajaran, ia berhenti. ia terkejut melihat Zean.
tetapi, ia tak memperpanjang nya. ia kemudian memulai pelajaran. tetapi, saat sedang kbm ada suara kericuhan diluar.
Zean mengerutkan kening. tidak biasanya sekolahnya ini berisik. beberapa anak di kelas itu menoleh ke arah jendela.
"lihat. mereka datang lagi. apa yang mereka mau sih? kan udah diberi penjelasan, kok ngeyel" ucap siswi disana.
Zean kemudian menoleh. dan, dapat ia lihat beberapa wartawan ada di luar gerbang. kebetulan, kelas Zean dekat dengan gerbang sekolah.
"pak biarkan saya masuk. saya harus bertanya langsung padanya" riuh disana.
bahkan, ada beberapa siswa dan siswi keluar dari kelas mereka.
"Mereka berulah lagi. tenang semua.. " ucap guru itu menenangkan muridnya yang sudah ingin turun ke bawah juga.
"bapak akan pergi kebawah. kalian tetap di dalam kelas" ucapnya, setelah itu ia kemudian pergi.
"Ck. ini semua gara-gara lu Zean. coba kalo mau curang yang pro dikit" celetus salah satu siswa disana.
"Heh, jaga mulut lo ya" bela Faris.
"Apa? emang bener coba. lagian lo juga udah liat kan 3 hari lalu. gue tau dia temen kesayangan lo. tapi, ga harus buta juga kali. curang tetep curang" sambung siswa yang lain.
"Sialan. sini lo" ucap Faris dan akan memukul siswa itu.
"eh, ngapain kalian. hey, jan berantem wehhh" teriak siswi siswi dikelas itu. dan berusaha mencegah Faris.
"Apa yang terjadi? " tanya Zean kemudian, setelah diam untuk mencerna semua nya. tapi tak bisa.
"Lo. gara-gara lo sekolah kita ga tenang gini. lu mungkin ga tau dan fine aja karena lu 3 hari ini cuti seenaknya" teriak siswa itu lagi.
"Jaga UCAPAN LO YA" Faris sudah hilang kesabaran.
dan ia langsung melayangkan pukulan ke wajah siswa itu.
"woyyy.... pegangin weh. bantu"
"iya, lerai mereka, aaa"
teriak disana, melihat perkelahian Faris dan 2 siswa itu.
Zean terdiam, dia benar-benar bingung. apa yang sebenarnya terjadi?
tepat saat Faris ingin menghajar lagi, seorang guru datang melerai mereka.
"SUDAH SUDAH. berhenti. " ucapnya.
"Ga pak. mereka cari masalah pak. "
"nyari masalah apa? gue cuman bilang fakta "jawab siswa itu.
" SUDAH CUKUP. " teriak guru itu keras. dan seketika, mereka semua terdiam.
"Kalian bertiga ikut keruangan saya. (guru itu beralih menatap ke arah Zean yang kebingungan itu. ia merasa sedih melihat nya, dia seperti orang yang ling lung) Zean, kamu pergi ke ruangan kepala sekolah. dia ingin berbicara dengan kamu" ucapnya. setelah itu, mereka kemudian pergi.
Zean menatap punggung Faris yang menjauh darinya.
tiba-tiba, ada sebuah tangan di bahunya.
'ah' Zean kaget.
"maaf. hari pertama masuk kembali lu harus liat ini Zean" ucap siswa disana.
"Zean. apapun masalahnya, kami akan tetap mendukung kamu. kami percaya sama kamu. jangan merasa sendirian, ada kami disini. " ucap seorang siswi disebelah Zean.
"benar Zean. " jawab yang lainnya.
Zean tidak bisa merespon apapun. ia hanya berjalan menjauh dari mereka untk pergi ke ruangan kepsek itu.
di sepanjang lorong, banyak yang melihat tak suka kearahnya. dan bahkan, tanpa malu mereka berbisik bisik.
...
Zean mengetuk ruangan itu, setelah mendapat titah untuk masuk ia kemudian masuk ke ruangan itu.
dapat ia lihat ibu kepala sekolah nya itu duduk di sebuah kursi dengan memijit pelipisnya.
duduk Zean, ucapnya...
Zean duduk di salah satu kursi di depan ibu itu.
ibu itu kemudian mendongak dan ada helaan nafas lelah darinya.
"sebelumnya, ibu ingin meminta maaf tidak bisa melayat ke pemakaman ayah kamu. itu karena, situasi di sekolah ini tak aman belakangan ini" ucapnya.
"tidak apa-apa bu. jika bisa saya bertanya, sebenarnya ada masalah apa bu? saya benar-benar bingung" ucap Zean.
ibu kepsek itu lalu menceritakan semuanya.
"setelah pengumuman hasil ujian nasional itu, sekolah menjadi kacau. pulang tidak pada waktunya, kbm terganggu, dan bahkan pihak sekolah harus menghadapi banyak pertanyaan dari wartawan yang berdatangan untuk mencari tahu kebenaran mengenai dugaan kecurangan tersebut."
"kecurangan? " Zean mengerutkan kening.
"iya. kamu divonis melakukan kecurangan dalam ujian itu. ibu mengatakan di vonis, karena bukti sudah kukuh dan kami pihak sekolah maaf... tak tau lagi harus berbuat apa. " ucapnya.
Zean menggepalkan tangan nya dibawah meja.
"tapi saya tak melakukannya bu" ucap Zean.
"iya ibu tau.. tapi semua bukti mengarah padamu Zean. dan sudah diambil keputusan juga jika tahun depan kamu tak bisa mengikuti ujian itu lagi. dan tahun ini kamu dinyatakan gagal dan melakukan kecurangan Zean" ucapnya.
Zean, ia terkejut...
"Maafkan ibu Zean. ibu tak bisa berbuat apa-apa. kami sudah mencoba memberika nilaimu, hasil belajarmu, tapi mereka tak percaya. bukti itu terlalu kuat. pihak sekolah kewalahan" lanjutnya.
"bukti apa yang mereka punya bu? mengenai tuduhan itu" tanya Zean.
"pihak atas saat memeriksa komputer yang kamu gunakan 3 hari lalu, mereka menemukan beberapa file yang berisi soal dan jawaban disana" ucap Ibu itu.
"saya bahkan baru belajar menggunakan komputer itu" jawab Zean menunduk.
"Nak. saya mengerti itu. ibu juga tidak percaya dengan itu. kami sudah mewanti wanti mengatakannya, tapi nihil. sekolah ini tak punya kuasa besar menanganinya"
"bahkan, prestasi dan kejuaraan yang kamu peroleh juga dipertanyakan oleh mereka" lanjutnya
Zean sudah tak bisa berkata apa-apa lagi.
"jadi bu, apa yang harus saya lakukan? " final Zean lelah..
..
diruangan lainnya...
"Pak saya tidak melakukan kesalahan apapun. saya memukulnya, karena dia mengatai Zean bapak" ucap Faris.
"benar itu? " tanya gur itu.
"Saya hanya mengatakan yang sebenarnya pak. lagipula, toh dia enak aja ga masuk. gatau klo disini kacau dibuat olehnya" ucap siswa itu.
kemudian, guru itu menjawab dengan sedikit mengeras.
"Ayah Zean meninggal 3 hari yang lalu"
seketika, ruangan itu menjadi sunyi.
...
Zean keluar dari ruangan itu, dan akan kembali ke kelasnya. tapi, ia menghentikan langkahnya saat salah satu wartawan lolos dari satpam dan berhasil menemukannya.
"Tunggu. Benarkah kamu melakukan kecurangan dalam ujian itu?" tanya wartawan wanita itu.
Zean terdiam.
"Pihak sekolah sudah menyatakan bahwa bukti yang ada cukup kuat. Apa kamu masih menyangkal tuduhan tersebut?"
Beberapa wartawan lain yang menyusul mulai mendekat.
"Kalau memang kamu tidak curang, lalu bagaimana kamu menjelaskan bukti-bukti yang sudah ditemukan? " pertanyaan demi pertanyaan ditujukan pada Zean.
saat Zean sedikit terpojok, Faris datang dan menyuruh mereka untuk pergi.
"Apa apaan kalian Huh? pergi. " ucapnya. dan ia beserta 2 siswa itu membawa Zean pergi sari sana.
mereka ga mau pergi, yaudah Zean aja yang mereka bawa.
sebelum pergi, Zean mengatakan satu kalimat dan itu membuat wartawan itu terdiam.
"Saya tidak pernah melakukan hal itu. semua yang saya peroleh itu benar-benar hasil usaha saya" setelahnya, merekapun meninggalkan wartawan itu.
"Hiks.. " Zean menangis.
mereka membawa Zean ke atap sekolah, supaya tenang.
"Zean. hey, Zean. jan kayak gini cok. lu harus kuat" ucap Faris memeluk Zean.
2 siswa itu menunduk, dan merasa bersalah. mereka ikut terpukul melihat Zean seperti ini. dalam keadaan benar-benar hancur.
kehilangan ayahnya, dan ia divonis melakukan kecurangan. masa depannya terancam, jika kasusnya ini tidak secepatnya diredakan.