NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Mereka tidak kembali ke dalam gua.

Jayengrana memimpin kelompoknya menuruni lereng yang berlawanan dengan arah datangnya pria bertopeng. Tanah longsor kecil masih terjadi di beberapa titik, memaksa mereka berjalan hati-hati. Kabut belum sepenuhnya hilang, dan bau api legam masih samar-samar tertinggal di udara.

Istri Jayengrana berjalan di sampingnya, sesekali melirik ke lengan kiri suaminya yang tadi tersapu api itu. Kulit di sana tidak terbakar, tetapi warnanya sedikit lebih gelap, seolah bekas panas yang tidak biasa.

“Masih terasa?” tanyanya pelan.

Jayengrana menggerakkan jari-jarinya. “Dingin. Bukan sakit.”

Pengemis Tua yang berjalan di belakang bergumam, “Itu bukan dingin biasa. Api itu meninggalkan jejak di dalam, bukan di luar. Semakin sering terkena, semakin mudah ia menemukanmu lagi.”

Jaka yang selama ini diam tiba-tiba berbicara. “Aku melihatnya tadi. Saat kalian bertarung. Api itu… seperti punya mata.”

Jayengrana menoleh sebentar. “Jangan terlalu lama memandangnya lain kali.”

Anak itu mengangguk, tetapi matanya masih tampak gelisah.

Mereka berjalan tanpa berhenti hingga matahari mulai condong ke barat. Hutan di wilayah ini lebih jarang, digantikan oleh lereng berbatu dan semak rendah. Jejak kaki mereka mudah terbaca di tanah yang lebih keras. Jayengrana tahu itu. Itu sebabnya ia beberapa kali memaksa kelompoknya melewati aliran sungai kecil, berharap air bisa menghapus setidaknya jejak fisik.

Namun jejak yang ditinggalkan pria bertopeng bukan hanya jejak kaki.

Di dadanya, tanda perjanjian berdenyut pelan. Bukan peringatan bahaya langsung, melainkan semacam getaran yang terus-menerus, seperti sesuatu yang sedang dihitung.

Suara Penunggang akhirnya muncul lagi, lebih rendah dari biasanya.

*“Ia sudah menandai kalian semua. Bukan hanya kau.”*

Jayengrana menjawab dalam hati, “Bagaimana cara menghapusnya?”

*“Tidak bisa dihapus dengan air atau jarak. Hanya dengan keputusan.”*

“Keputusan apa?”

Penunggang tidak menjawab.

Menjelang senja, mereka menemukan celah di balik deretan batu besar yang cukup untuk berlindung sementara. Tidak sebaik gua sebelumnya, tetapi cukup untuk beristirahat sebentar dan mengatur napas. Pengemis Tua langsung memeriksa sekeliling, sementara Jayengrana memaksa istrinya dan Jaka duduk.

“Kita tidak bisa terus seperti ini,” kata istri Jayengrana pelan. Wajahnya lelah, tetapi matanya masih tajam. “Anak kita masih di luar. Semakin lama kita lari, semakin jauh kita darinya.”

Jayengrana duduk di seberangnya. “Aku tahu.”

“Lalu kapan kita berhenti berlari dan mulai mencari?”

Pertanyaan itu menggantung. Jayengrana tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya sendiri. Sisa dingin dari api legam masih terasa di bawah kulit. Saat ia mengepalkan tangan, untuk sepersekian detik, ujung jari-jarinya tampak gelap, seolah bayangan api hitam sempat menyusup keluar sebelum menghilang lagi.

Ia mengendurkan genggaman.

“Segera,” jawabnya akhirnya. “Tapi bukan dengan cara yang membuat kita semua mati sebelum menemukannya.”

Pengemis Tua kembali ke dekat mereka. “Ada desa kecil setengah hari ke utara dari sini. Bukan tempat perlindungan seperti Watu Ireng. Hanya desa biasa. Kita bisa mendapatkan makanan dan informasi di sana. Setelah itu, kita harus memutuskan arah.”

Jayengrana mengangguk. “Kita bergerak lagi sebelum benar-benar gelap.”

Sementara yang lain menyiapkan barang, Jayengrana berdiri sedikit menjauh, menatap ke arah hutan yang sudah mulai menghitam. Ia mengangkat tangan kanannya, mencoba memanggil lagi sensasi yang tadi sempat muncul di ujung jarinya.

Tidak ada api.

Hanya getaran samar di bawah kulit, seperti bara yang belum menemukan kayu.

Di dalam benaknya, Penunggang berbicara sekali lagi.

*“Kau sudah mulai merasakannya. Api itu bukan milik lawanmu saja.”*

Jayengrana menurunkan tangan.

“Aku tidak akan memakainya sampai aku tahu harganya,” jawabnya pelan.

Penunggang diam. Kali ini diamnya terasa seperti senyuman yang tidak terlihat.

Dari kejauhan, di antara pepohonan yang bergoyang, tidak ada cahaya kemerahan yang menyala. Namun perasaan diawasi tidak pernah benar-benar hilang.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju utara, meninggalkan lereng dan gua di belakang. Di atas, langit mulai menampakkan bintang-bintang pertama, sementara di bawah, jejak yang tidak bisa dihapus terus mengikuti langkah mereka—pelan, sabar, dan tidak pernah benar-benar jauh.

》》》》》》》》》》

Desa itu muncul di balik kelokan jalan setapak saat matahari hampir tenggelam. Hanya deretan rumah kayu dengan atap ilalang, beberapa kandang kambing, dan asap dapur yang naik tipis ke udara sore. Tidak ada pagar tinggi. Tidak ada pos jaga. Hanya kehidupan biasa yang seolah belum tersentuh oleh bayang-bayang yang mengejar mereka.

Jayengrana menghentikan langkah beberapa ratus depa sebelum gerbang desa yang tidak berdaun pintu. Ia menatap istrinya dan Jaka.

“Topeng Jiwa masih aktif,” katanya pelan. “Di sini aku tetap Saka. Jangan sebut namaku yang lama.”

Istrinya mengangguk. Jaka hanya menatap desa itu dengan mata yang terlalu tenang.

Pengemis Tua sudah menarik tudungnya lebih dalam. “Desa ini tidak punya perlindungan gaib. Jika jejak kita masih kuat, mereka bisa datang kapan saja. Jangan tinggal lebih dari satu malam.”

Mereka masuk dengan langkah biasa. Beberapa penduduk yang sedang duduk di beranda menatap penasaran, tetapi tidak waspada berlebihan. Seorang laki-laki tua yang sedang mengasah parang mengangguk singkat ketika Jayengrana lewat. Seorang perempuan yang menjemur kain menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu melanjutkan lagi.

Jayengrana memilih sebuah warung kecil di pinggir jalan desa. Pemiliknya, seorang ibu paruh baya, menyajikan nasi, sayur, dan ikan asin tanpa banyak bertanya. Mereka makan dalam diam. Jaka menghabiskan makanannya lebih cepat dari biasanya, seolah tubuhnya baru sadar betapa laparnya.

Sementara itu, Jayengrana memperhatikan sekeliling. Naluri Niat menangkap rasa penasaran yang ringan dari beberapa penduduk, tetapi tidak ada permusuhan. Tidak ada ketakutan yang berlebihan. Untuk sementara, tempat ini masih bersih.

Setelah makan, Pengemis Tua menghilang sebentar ke belakang warung, berbisik dengan pemiliknya. Ketika kembali, ia membawa kabar singkat.

“Ada rombongan pedagang yang lewat dua hari lalu. Mereka bilang di wilayah timur sedang ramai pemeriksaan. Pasukan mencari seseorang yang wajahnya tidak jelas, tetapi tingginya dan caranya berjalan mirip Senopati yang sudah mati.”

Istri Jayengrana menegang. “Mereka masih memakai namanya?”

“Bukan namanya,” jawab Pengemis Tua. “Hanya ciri-ciri. Dan kabar bahwa siapa pun yang membantu akan dianggap pengkhianat.”

Jayengrana meletakkan mangkuknya. “Kita tidak tinggal sampai pagi. Cari informasi tentang anak-anak yang dibawa paksa dalam beberapa bulan terakhir, lalu kita pergi.”

Ibu pemilik warung yang kebetulan mendengar bagian akhir itu menatap mereka dengan ragu. Kemudian, dengan suara sangat pelan, ia berkata,

“Ada anak laki-laki yang dibawa lewat sini sekitar dua bulan lalu. Dijaga ketat. Tidak menangis. Tidak berteriak. Hanya menatap lurus ke depan. Mereka bilang anak itu dibawa ke kompleks dekat ibu kota. Bukan untuk dijadikan budak… melainkan untuk ‘disimpan’.”

Jayengrana menajamkan perhatian. “Disimpan di mana?”

Perempuan itu menggeleng. “Aku tidak tahu lebih banyak. Tapi salah satu prajurit sempat bilang kata ‘Gedung’ dan ‘Utara’ sebelum dihentikan temannya.”

Keheningan menyelimuti meja mereka.

Gedung Utara.

Tempat yang sudah mereka tinggalkan. Tempat di mana istri Jayengrana sempat ditahan.

Istri Jayengrana menatap suaminya. Matanya berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap terkendali. “Kalau anak kita ada di sana sejak awal…”

“Maka kita sudah pernah berada sangat dekat,” selesaikan Jayengrana pelan. Rahangnya mengeras. “Dan kita meninggalkannya.”

Tanda perjanjian di dadanya berdenyut lebih kuat dari biasanya. Kali ini bukan sekadar getaran. Ada panas samar yang merambat ke arah bahu dan lengan kanannya. Di bawah kulit, sesuatu seperti bara kecil menyala lalu padam lagi.

Penunggang berbisik, hampir tidak terdengar.

*“Kemarahanmu… mulai membuka jalan.”*

Jayengrana mengepalkan tangan di bawah meja. Ia memaksa napasnya tetap teratur. Ia tidak ingin api itu muncul di tempat sebanyak ini orang.

Malam sepenuhnya turun ketika mereka meninggalkan warung. Pengemis Tua sudah mendapatkan persetujuan untuk meminjam sebuah gudang kosong di pinggir desa sebagai tempat istirahat singkat. Tidak ada yang bertanya nama. Tidak ada yang menuntut bayaran lebih.

Di dalam gudang yang gelap, Jaka akhirnya berbicara lagi.

“Anak yang mereka bawa itu… aku pernah melihatnya di mimpi. Wajahnya mirip denganmu.”

Jayengrana menoleh tajam. “Kau yakin?”

Jaka mengangguk pelan. “Bukan mimpi biasa. Seperti… diingatkan.”

Istri Jayengrana menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya bergetar sekali, lalu ia kuasai kembali.

Jayengrana berdiri. Ia berjalan ke pintu gudang yang terbuka, menatap gelapnya jalan desa. Di kejauhan, anjing menggonggong satu kali, lalu diam.

Ia mengangkat tangan kanannya. Di ujung jari, untuk pertama kalinya malam itu, api hitam-kemerahan yang sangat kecil menyala. Hanya sebesar ujung jarum. Tidak mengeluarkan panas yang terasa, tetapi cukup untuk membuat bayangan di dinding bergeser.

Api itu bertahan tiga detak jantung, lalu padam ketika Jayengrana menutup kepalan tangannya.

Di dalam benaknya, Penunggang tidak berkata apa-apa.

Namun diamnya kini terasa seperti menunggu.

Jayengrana menatap ke arah selatan, ke tempat di mana ibu kota dan Gedung Utara berada jauh di balik gelap.

“Kita tidak akan lari lagi setelah ini,” gumamnya pelan, hanya untuk dirinya sendiri. “Setelah aku memastikan anakku masih hidup… aku yang akan datang kepada mereka.”

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!