Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31 - Ujian dari Bu Lilis
Bu Lilis datang ketika Nadia sedang menghitung obat Raka.
Ia tidak mengetuk pagar lama-lama. Hanya dua kali, pendek dan keras, seperti orang yang sejak awal sudah yakin pintu harus dibuka untuknya.
Raka yang duduk di ruang tengah langsung menoleh.
"Mbak Lilis," katanya pelan.
Nadia menutup botol obat. "Kamu duduk saja."
"Kalau dia mulai bicara soal keluarga besar, jangan kamu telan sendiri."
"Aku tidak suka menelan sesuatu yang pahit tanpa air."
Raka sempat tersenyum, tapi batuk kecil memotongnya.
Nadia mengambil gelas air hangat, menaruhnya di dekat tangan Raka, lalu baru membuka pintu.
Bu Lilis berdiri dengan rantang susun dan tas kain. Kerudungnya rapi, wajahnya juga rapi. Justru karena terlalu rapi, Nadia tahu perempuan itu datang bukan hanya membawa makanan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Masuk, Bu."
Bu Lilis melangkah masuk. Matanya menyapu teras, jemuran, meja kecil berisi gunting kain, lalu berhenti pada botol obat di ruang tengah.
"Raka sudah minum obat?"
"Belum waktunya."
"Jam berapa?"
"Setelah makan malam. Dokter bilang jangan sebelum perut terisi."
Bu Lilis menatap Nadia sejenak.
"Kamu hafal?"
"Saya yang menemani kontrol."
"Saya yang mengurus dia bertahun-tahun."
Nadia mengangguk. "Itu sebabnya saya tidak membuang catatan lama. Semua masih saya pakai."
Jawaban itu membuat Bu Lilis diam sebentar. Ia mungkin berharap Nadia membantah, atau tersinggung, atau menunjukkan diri sebagai istri baru yang merasa paling tahu.
Raka dari dalam berkata, "Mbak, duduk dulu."
Bu Lilis masuk ke ruang tengah. Ia membuka rantang. Ada sup ayam, perkedel kentang, dan sambal terasi.
Nadia langsung memindahkan sambal ke ujung meja.
Bu Lilis melihat gerakan itu.
"Raka suka sambal."
"Sekarang lambungnya belum kuat."
"Sedikit tidak apa-apa."
"Kalau sedikit itu membuat dia muntah malam-malam, yang membersihkan bukan Ibu."
Ruangan mendadak sepi.
Raka menunduk menahan senyum. Bu Lilis menatap Nadia seperti baru saja ditampar dengan kain basah.
"Kamu berani sekali."
"Saya hanya tidak mau Mas Raka sakit lagi."
"Mas Raka?" Bu Lilis mengulang pelan. "Dulu kamu memanggilnya Om Raka."
"Dulu saya belum jadi istrinya."
Sendok di tangan Bu Lilis berbunyi ketika menyentuh mangkuk.
"Itulah yang ingin saya bicarakan."
Nadia duduk di kursi seberang. Ia tidak mengambil posisi di samping Raka. Ia tahu Bu Lilis akan membaca itu sebagai sandiwara manja. Lebih baik ia duduk tegak dan membiarkan semua kalimat datang.
"Kamu menikah dengan Raka karena apa?" tanya Bu Lilis.
Raka mengangkat wajah. "Mbak."
"Aku tanya istrimu."
Nadia menjawab sebelum Raka sempat menahan lagi.
"Awalnya, karena keluarga Wiratmaja berutang tanggung jawab pada saya. Arman merusak lamaran, Bella mengambil posisi saya, dan semua orang ingin saya diam. Mas Raka memberi jalan keluar yang tidak membuat saya diinjak."
Bu Lilis tersenyum tipis.
"Jadi benar. Kamu memilih Raka karena marah."
"Marah membuat saya berdiri. Tapi saya tetap tinggal karena saya tahu dia tidak busuk seperti yang lain."
Wajah Raka berubah.
Bu Lilis juga mendengarnya. Matanya bergerak ke adik iparnya, lalu kembali ke Nadia.
"Raka bukan laki-laki sehat. Kamu tahu itu dari awal."
"Saya tahu."
"Dia mudah lelah. Batuknya bisa kambuh. Banyak hal yang tidak bisa dia lakukan seperti laki-laki lain."
"Saya menikah dengannya, bukan membeli tenaga kuli."
Bu Lilis menarik napas tajam.
"Mulutmu itu yang membuat orang takut."
"Orang takut karena saya menjawab. Biasanya perempuan disuruh diam supaya terlihat baik."
"Kamu pikir semua diam itu tertindas?"
"Tidak. Tapi banyak yang disuruh diam supaya kebusukan orang lain tetap wangi."
Raka meletakkan gelasnya perlahan. "Nadia."
Nadia berhenti. Ia tahu batas. Ia tidak datang ke rumah tangga ini untuk memenangkan setiap kalimat. Ada saatnya tajam cukup sekali, lalu diam.
Bu Lilis menutup rantang.
"Arman dan Bella akan pindah ke rumah kontrakan setelah akad. Uang mereka belum cukup. Pak Hendra bilang kita bantu sedikit."
Nadia menoleh pada Raka.
Raka tidak tampak terkejut, hanya lelah.
"Bantu dari mana?" tanyanya.
"Tabungan keluarga."
"Tabungan keluarga atau tabungan kontrolku?"
Bu Lilis mengeras.
"Jangan bicara seperti itu. Selama ini semua orang juga ikut repot mengurusmu."
"Aku tahu," kata Raka. "Karena itu aku tidak mau namaku dipakai lagi untuk menutup kesalahan Arman."
Bu Lilis memandang Nadia. "Ini pasti karena kamu."
Nadia hampir tertawa.
"Bu, Mas Raka sudah bisa berpikir sebelum menikah dengan saya. Dia hanya terlalu sering tidak diberi ruang untuk bicara."
"Kamu mengajarinya melawan keluarga."
"Saya mengajarinya menanyakan uangnya dipakai untuk apa."
Kalimat itu jatuh tepat di tengah ruang.
Bu Lilis membuka tas kain, mengeluarkan amplop cokelat, lalu meletakkannya di meja.
"Ini catatan biaya obat Raka tiga tahun terakhir. Kalau kamu memang istrinya, kamu harus tahu beratnya mengurus dia."
Raka langsung pucat. "Mbak, jangan."
Nadia mengambil amplop itu.
Bu Lilis menatapnya tajam. "Baca. Supaya kamu tidak hanya pandai bicara manis."
Nadia membuka lembar pertama. Ada kuitansi puskesmas, klinik, obat batuk, biaya rujukan, catatan bensin. Beberapa jumlahnya kecil, beberapa cukup besar. Di sisi kanan, ada tulisan tangan Bu Lilis yang rapi.
Di beberapa lembar, ada catatan lain: "Arman minta uang seragam", "Bella pinjam untuk acara", "Pak Hendra tutup dulu".
Nadia berhenti di sana.
Ia tidak mengangkat wajah, tapi Bu Lilis sadar bagian itu terbaca. Jarinya bergerak hendak mengambil kertas, lalu tertahan karena Raka melihat.
"Itu catatan rumah," kata Bu Lilis cepat.
"Saya belum tanya."
"Kamu pasti berpikir macam-macam."
"Saya hanya membaca tulisan Ibu."
Raka mengulurkan tangan, tapi Nadia menggeleng pelan. Bukan untuk menolak dia. Untuk meminta dia tidak menyelamatkan siapa pun dari rasa tidak nyaman yang memang harus muncul.
Nadia lanjut membuka lembar berikutnya.
Di sana ada kuitansi obat Raka yang nilainya kecil, diselipkan di antara pengeluaran pesta ulang tahun Arman dan cicilan motor. Selama ini keluarga selalu bicara seolah sakit Raka menghabiskan semua tenaga mereka. Kertas di tangan Nadia menunjukkan hal lain: sakit Raka sering dipakai sebagai alasan untuk menutupi lubang yang dibuat orang sehat.
Ia membaca sampai halaman ketiga, lalu menutupnya.
"Saya simpan?"
Bu Lilis tampak tidak menyangka.
"Kamu tidak takut?"
"Ini biaya sakit, bukan dosa."
Raka menatap Nadia.
Nadia melanjutkan, "Mulai bulan ini, semua biaya Mas Raka saya catat sendiri. Kalau keluarga ingin membantu, saya terima. Kalau tidak, jangan jadikan bantuan lama sebagai tali di lehernya."
Bu Lilis berdiri.
"Kamu benar-benar merasa sudah punya hak."
"Saya tidak merasa. Buku nikah kami ada."
Bu Lilis tersentak, tapi tidak bisa membantah.
Di ambang pintu, ia berhenti.
"Jangan buat saya menyesal membiarkan Raka menikahimu."
Nadia menjawab pelan, "Saya lebih takut membuat Raka menyesal menikahi saya."
Bu Lilis tidak menoleh lagi.
Setelah pagar tertutup, Raka masih diam. Nadia mengumpulkan piring, memindahkan sambal lebih jauh, lalu menaruh sup di mangkuk kecil.
"Makan dulu," katanya.
Raka tidak mengambil sendok.
"Kamu tahu biaya sakitku sekarang."
"Aku tahu kamu pernah sakit. Itu bukan hal baru."
"Angkanya besar."
"Harga hidup memang tidak murah."
"Bukan hanya obat," kata Raka pelan. "Ada nama Arman di situ. Ada banyak hal yang selama ini aku pura-pura tidak lihat."
Nadia duduk di depannya.
"Pura-pura tidak lihat itu kadang cara bertahan."
"Dan kamu?"
"Aku sudah selesai bertahan dengan cara itu."
Raka menatap amplop cokelat. "Kalau aku meminta Pak Hendra membuka semua catatan, rumah itu akan ribut."
"Rumah itu sudah ribut. Bedanya, selama ini suaranya ditutup pintu."
"Aku tidak ingin kamu ikut terseret."
Nadia menggeser mangkuk lebih dekat.
"Mas Raka, aku masuk keluarga ini bukan untuk menjadi hiasan di buku nikah. Kalau namamu dipakai, aku ikut. Kalau tubuhmu dijadikan alasan, aku ikut. Kalau kamu mau diam karena lelah, aku boleh bicara. Tapi kalau kamu mau bicara sendiri, aku akan berdiri di samping."
Raka tertawa pendek, tapi matanya merah.
"Kamu tidak perlu membayar masa laluku."
Nadia meletakkan sendok di tangannya.
"Aku tidak membayar masa lalumu. Aku sedang menjaga masa depan suamiku."
Di luar, suara motor Bu Lilis menjauh.
Di meja, amplop cokelat itu masih terbuka. Bukan ancaman lagi. Bagi Nadia, itu daftar perang yang harus ia menangkan pelan-pelan.
Dan malam itu, untuk pertama kali, Raka makan sup tanpa menunggu keluarganya memutuskan seberapa banyak ia boleh hidup.
🤣🤣🤣