NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:723
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 Keluarga Baru, Harapan Baru

"Terkadang Tuhan tidak langsung menghapus luka yang kita rasakan. Namun, Dia menghadirkan orang-orang baik yang perlahan mengajarkan bahwa kita masih pantas untuk dicintai."

Langkah kecilku memasuki rumah itu terasa begitu pelan. Aku menggenggam tangan Ucaluna erat-erat, seolah takut jika sewaktu-waktu kami harus kembali pergi. Rumah yang selama ini hanya bisa kupandangi dari balik pagar sekolah akhirnya benar-benar menjadi tempat yang akan kutinggali.

Dari dekat, rumah itu tampak jauh lebih indah daripada yang selama ini kubayangkan. Halamannya dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran dengan warna yang beragam, sementara sebuah kolam ikan dengan air yang begitu jernih berada di tengah halaman. Ikan-ikan berenang tenang seolah menyambut setiap orang yang datang. Sejak pertama kali melihat rumah itu dari luar, aku sering membayangkan betapa menyenangkannya jika suatu hari nanti bisa tinggal di sana. Aku tidak pernah menyangka bahwa doa sederhana seorang anak akhirnya dijawab dengan cara yang begitu indah.

Hari itu menjadi awal kehidupan baru bagiku dan Ucaluna.

Pada awalnya kami masih memanggil pasangan suami istri yang tinggal di rumah itu dengan sebutan Kakek dan Nenek. Kami belum tahu harus memanggil mereka dengan sebutan apa, sementara mereka pun tidak pernah mempermasalahkannya. Setiap kali kami memanggil seperti itu, mereka hanya tersenyum dengan penuh kehangatan.

"Nak, sini dulu," panggil Nenek sambil membuka pintu sebuah kamar.

Aku dan Ucaluna segera menghampiri beliau.

"Mulai sekarang ini kamar kalian. Kalian tidur di sini bersama kakak."

Aku memandangi kamar itu dengan rasa kagum. Kamar tersebut memang sederhana, tetapi terasa begitu nyaman. Sebuah tempat tidur telah tertata rapi, sementara sebuah lemari berdiri di sudut ruangan.

Aku dan Ucaluna membuka tas kecil yang kami bawa, lalu menyusun pakaian dengan hati-hati di dalam lemari. Jumlah pakaian kami tidak banyak, tetapi saat itu aku merasa seperti sedang memulai kehidupan yang benar-benar baru.

Malam pertama di rumah itu menjadi pengalaman yang tidak akan pernah kulupakan. Aku tidur bersama kakak perempuan yang pertama kali kulihat sedang memasak di dapur ketika kami datang beberapa waktu sebelumnya. Rambutnya yang panjang tergerai rapi, dan senyumnya selalu membuat siapa pun merasa nyaman. Sejak hari pertama kami bertemu, ia memperlakukan kami seperti adik kandungnya sendiri. Sikapnya yang lembut perlahan menghilangkan rasa malu dan canggung yang sejak tadi memenuhi hatiku.

Keesokan paginya aku terbangun ketika matahari belum terlalu tinggi. Dari dapur sudah tercium aroma masakan yang menggugah selera. Di luar rumah terdengar suara sapu yang menyapu halaman, berpadu dengan kicauan burung yang bertengger di pepohonan. Aku keluar dari kamar dan memperhatikan setiap sudut rumah. Semua orang tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang menyiram bunga, ada yang membersihkan halaman, ada yang bersiap mengenakan seragam sekolah, sementara yang lain menyiapkan sarapan di dapur.

Tidak ada yang saling menyuruh. Seolah-olah setiap orang sudah memahami tanggung jawabnya masing-masing.

Ketika aku memasuki ruang makan, mataku langsung tertuju pada meja yang telah dipenuhi berbagai macam makanan dan kue. Pemandangan seperti itu masih terasa asing bagiku. Selama ini aku belum pernah melihat meja makan yang selalu terisi setiap pagi.

Nenek sangat memperhatikan urusan makan seluruh anggota keluarga.

"Ayo makan dulu, Nak," ucapnya sambil tersenyum.

Aku dan Ucaluna segera duduk. Namun, setiap kali kami berkata sudah kenyang, beliau selalu menambahkan lauk ke piring kami.

"Makan lagi sedikit. Nanti sakit kalau berangkat sekolah dengan perut kosong."

Aku dan Ucaluna saling berpandangan sambil tersenyum kecil. Dalam hati aku sempat berpikir bahwa jika setiap hari makan sebanyak itu, mungkin suatu saat tubuhku benar-benar akan menjadi gemuk.

Perhatian sederhana itu perlahan membuatku merasakan sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.

Aku mulai merasa diperhatikan, disayangi, dan dianggap sebagai bagian dari keluarga.

Hari demi hari berlalu. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenal seluruh anggota keluarga yang tinggal di rumah itu. Anak bungsu mereka saat itu masih duduk di kelas tiga SMA. Ia sangat ramah dan sering mengajak kami berbincang sehingga kami cepat merasa akrab dengannya. Sementara kakaknya yang sedang kuliah memiliki wajah yang terlihat lebih tegas dan pendiam. Pada awalnya aku merasa sedikit takut kepadanya, tetapi setelah mengenalnya lebih dekat, aku menyadari bahwa ia sebenarnya adalah sosok yang baik dan penyayang.

Suatu hari aku mendengar mereka bertanya kepada Nenek.

"Bu, mereka berdua siapa?"

Nenek tersenyum sambil memandang ke arah kami.

"Mereka anak Ibu."

Kedua anak laki-laki itu tampak saling berpandangan.

"Anak Ibu?"

Nenek kemudian menceritakan bagaimana aku dan Ucaluna akhirnya bisa tinggal di rumah itu. Setelah mendengarkan cerita tersebut, mereka menganggukkan kepala sambil tersenyum.

"Oh... jadi mereka tinggal bersama kita sekarang?"

"Iya," jawab Nenek. "Mulai sekarang mereka tinggal bersama kita."

Aku hanya menundukkan kepala. Dalam hati aku sempat bertanya-tanya apakah kehadiran kami akan merepotkan mereka. Namun semua keraguan itu perlahan menghilang ketika salah seorang dari mereka tersenyum lebar dan berkata,

"Wah... sekarang kita punya dua adik perempuan."

Mendengar kalimat itu, aku perlahan mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah itu, aku benar-benar merasa diterima. Bukan sebagai tamu, bukan pula sebagai orang lain, melainkan sebagai bagian dari keluarga mereka.

Malam itu aku tidur dengan hati yang jauh lebih tenang. Untuk pertama kalinya setelah kehilangan begitu banyak hal, aku merasa tidak sendirian lagi. Kehangatan yang kutemukan di rumah itu perlahan mengobati luka yang selama ini kusimpan. Namun, aku belum mengetahui bahwa kehidupan baruku di rumah itu baru saja dimulai.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!