NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031: Demo yang Hampir Dicuri

Kevin tidak menghabiskan buburnya.

Sendoknya berhenti di tengah mangkuk setelah telepon Hendry berakhir. Di seberangnya, Meilin masih memegang sendok yang sama dinginnya. Mama Zhu tidak bertanya lagi. Dia hanya berdiri, mengambil kotak makan dari lemari, lalu mulai memasukkan lauk sisa semalam dengan gerakan pelan.

"Kalian pulang hari ini," katanya.

Kevin menatap ibunya. "Mama tidak perlu..."

"Perlu." Mama Zhu menutup kotak pertama. "Kalau di Jakarta mereka menyentuh pekerjaanmu, kamu harus pulang. Tapi jangan pulang dengan perut kosong."

Meilin menelan rasa sesak di tenggorokannya.

Sebelum berangkat, Mama Zhu menyelipkan dua kotak makan, satu botol teh hangat, dan satu kantong kecil berisi jahe kering ke tas Kevin.

"Untuk Meilin kalau perutnya tidak enak," katanya.

"Tante," Meilin hampir menangis lagi. "Terima kasih."

Mama Zhu menepuk punggung tangannya. "Telepon kalau sampai. Bukan hanya Kevin. Kamu juga."

Di kereta kembali ke Jakarta, Kevin membuka laptop tapi tidak mengetik apa pun selama hampir dua puluh menit. Meilin duduk di sampingnya, membaca ulang folder dokumen legal YunMei Tech dari ponsel. Akta. NIB proses. Surat notaris tentang permintaan salinan. Watermark demo. Semua terasa seperti tameng tipis, tapi setidaknya tameng itu ada di tangan mereka.

"Kamu lapar?" tanya Kevin tiba-tiba.

"Baru dua jam lalu kita makan."

"Mual?"

"Tidak."

"Pusing?"

Meilin menutup ponsel. "Ko, aku di sebelahmu."

Kevin diam.

Baru setelah itu Meilin sadar. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar kebiasaan menjaga. Sejak Halim Group menyentuh YunMei, sejak Raymond muncul sebagai nama baru, tubuh Kevin seperti terus memeriksa apakah sesuatu sudah hilang.

Meilin meraih tangannya di bawah meja lipat.

"Aku di sebelahmu," ulangnya lebih pelan.

Kevin menggenggam balik, kuat sebentar, lalu melonggarkan.

Senin pagi, mereka bertemu Hendry di kafe dekat kantor calon klien. Wajah Hendry terlihat kurang tidur, tapi kemejanya tetap rapi dan file di tabletnya tersusun seperti prajurit.

"Mereka belum batal," kata Hendry tanpa pembuka. "Mereka menunda. Itu beda."

"Siapa yang datang dari Halim Group?" tanya Kevin.

"Bukan orang inti. Konsultan luar yang membawa nama Halim Group. Mereka menawarkan sistem gratis enam bulan dan menyebut YunMei Tech mungkin bermasalah secara legal karena direktur bukan developer utama."

Meilin menarik napas.

Hendry menatapnya. "Bu Meilin, mereka akan menguji posisi Anda."

"Bagus," jawab Meilin.

Kevin menoleh.

Meilin merapikan map tipis di tangannya. "Kalau mereka menguji, berarti kita jawab. Kalau aku hanya nama di akta, mereka benar. Kalau aku direktur, aku harus bicara."

Sesuatu di wajah Kevin berubah, kecil tapi jelas. Bangga yang tidak dia ucapkan.

Ruang meeting calon klien berada di lantai dua gedung ruko modern. Tidak terlalu besar, tapi cukup rapi. Di dalam, tiga orang menunggu. Direktur operasional, kepala gudang, dan admin finance. Mereka sopan, namun wajah mereka menunjukkan keraguan yang tidak disembunyikan.

Setelah basa-basi singkat, direktur operasional langsung membuka pembicaraan.

"Kami tertarik dengan solusi Pak Kevin. Tapi kemarin ada pihak yang menyampaikan informasi bahwa status legal YunMei Tech belum stabil. Kami tidak ingin data gudang dan sales kami masuk ke perusahaan yang belum jelas."

Kevin hendak bicara.

Meilin menyentuh ujung map, memberi tanda halus.

Kevin berhenti.

Meilin membuka map itu dan menggeser beberapa lembar dokumen ke tengah meja.

"Terima kasih sudah menyampaikan langsung," katanya dengan suara yang lebih tenang daripada yang dia rasakan. "Saya Meilin Tan, direktur YunMei Tech. Ini salinan dokumen pendirian, bukti proses NIB, surat notaris terbaru yang menyatakan tidak ada perubahan kepemilikan, dan draft perjanjian pilot yang membatasi akses data."

Admin finance langsung mengambil dokumen.

Meilin melanjutkan, "Untuk tahap pilot, kami tidak meminta akses penuh ke seluruh data perusahaan. Hanya sample data yang Bapak dan Ibu setujui. Semua file demo diberi watermark, dan tidak ada data yang dipindahkan ke pihak ketiga."

Direktur operasional menatapnya. "Maaf, Bu Meilin. Kalau Pak Kevin yang membuat produknya, kenapa direktur utamanya Anda?"

Pertanyaan itu membuat ruangan sedikit diam.

Meilin bisa merasakan Kevin menoleh, tapi dia tidak mengambil alih. Itu saja sudah memberi Meilin keberanian.

"Karena produk ini bukan hanya soal kode," jawabnya. "Ada kontrak, uang masuk, izin pemakaian data, dan batas risiko. Pak Kevin bertanggung jawab pada produk. Hendry pada operasi. Saya bertanggung jawab memastikan perusahaan ini tidak memakai data klien sembarangan dan tidak menandatangani hal yang tidak kami pahami."

Dia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Kalau ada pihak yang mempertanyakan legalitas kami, saya justru senang Bapak menanyakan langsung di ruangan ini. Itu lebih sehat daripada mempercayai rumor."

Kepala gudang yang sejak tadi diam mengangguk kecil.

Hendry menyambung dengan angka, jadwal, dan alur komunikasi. Kevin baru bicara setelah itu, menunjukkan prototype yang belum cantik tapi langsung menjawab masalah mereka. Stok yang hampir habis ditandai warna kuning. Order yang bertabrakan muncul di satu layar. Prediksi reorder tidak memakai istilah rumit, hanya rekomendasi sederhana: beli sekarang, tahan, atau cek gudang.

Kepala gudang yang sejak awal paling skeptis akhirnya condong ke depan.

"Kalau ini bisa pakai file Excel kami sekarang?"

"Bisa," jawab Kevin. "Formatnya saya rapikan dulu. Tim Bapak tidak perlu ganti sistem di hari pertama."

"Kalau internet putus?"

"Data terakhir tetap bisa dibuka. Sinkron saat koneksi kembali."

Pertanyaan terus datang. Kevin menjawab tanpa meninggikan suara. Meilin memperhatikan wajah orang-orang di seberang meja berubah sedikit demi sedikit. Dari takut membeli masalah, menjadi takut melewatkan solusi.

Di akhir meeting, direktur operasional menutup map.

"Kami tetap mau lihat demo minggu depan. Tapi kami minta klausul legal dan data protection diperjelas."

Hendry langsung mengangguk. "Kami kirim revisi hari ini."

Meilin menahan napas sampai mereka keluar dari ruangan.

Begitu pintu lift menutup, dia baru bersandar sedikit ke dinding.

"Aku bicara terlalu cepat?" tanyanya.

"Tidak," kata Hendry.

Kevin menatapnya. "Kamu bicara seperti direktur."

Wajah Meilin panas.

"Aku cuma membaca dokumen yang semalam kamu suruh aku baca tiga kali."

"Dan kamu mengerti."

Kalimat itu lebih manis daripada pujian apa pun.

Mereka keluar dari gedung ruko menuju area parkir. Udara Jakarta panas, bau aspal naik dari bawah sepatu. Hendry sedang menerima telepon saat sebuah Alphard hitam berhenti di depan mereka.

Pintu tengah terbuka.

Seorang pria berjas abu-abu turun lebih dulu. Dia bukan Bryan. Rambutnya hitam rapi, wajahnya tenang, dan senyumnya terlalu tipis untuk disebut ramah.

Dia menatap Kevin, lalu Meilin.

"Pak Kevin Halim," katanya sopan. "Pak Raymond ingin bicara sebentar."

Dari dalam mobil, seseorang tertawa pelan.

"Atau harus saya panggil Chengyu di depan semua orang?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!