Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RIAK YANG DIAM-DIAM BERISIK (2)
Hampir satu jam Naya selesai bersih-bersih dan bersiap pulang. Langit pun telah berubah warna menjadi keorenan khas matahari menjelang tenggelam. Lampu-lampu sekeliling sekolah telah dinyalakan. Ia keluar dari gedung klub kolam renang dengan menghela napas panjang membayangkan perjalanan panjang pulang ke rumah. Sepertinya ia akan nekad melanggar aturan orang tuanya jajan di luar dengan mampir sebentar ke TA-Mart membeli sesuatu untuk menggajal perutnya yang lapar setelah latihan berenang sambil menunggu jemputan.
“Kuyu amat wajahnya?” Sapaan Nara di hadapan Naya mengejutkan gadis itu.
“Kak Nara?” Naya yang sangat familiar dengan suara itu mendongak kearah sang pemilik suara. Naya terdiam sebentar kemudian mengerutkan dahinya penuh kecurigaan, “Kak Nara ngapain di sini?”
Pertanyaan itu membuat Nara menoleh ke arah Ekky, seolah berharap temannya memiliki jawaban yang lebih baik. Namun, Ekky hanya tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya.
“Aku diajak teman,” kata Nara akhirnya. “Katanya mau refreshing otak. Alasan aslinya cuma random dan iseng.”
Naya tersenyum sedikit sinis. “Ke klub renang cuma karena iseng? Apakah agenda kegiatan Kak Nara kurang padat sehingga iseng berkunjung ke klub renang?”
“Setiap Jumat kegiatan di klub kami memang dibuat landai.” Bela Ekky yang melihat Nara sedikit mati gaya setelah terserang kata-kata sarkastik dari juniornya itu.
“Oo, begitu.” Angguk Naya dan terus melanjutkan langkahnya menuju pintu gerbang bersama Nara dan temannya.
“Perkenalkan, namaku Ekky, teman paling sabar dan pengertian dalam menghadapi Nara serta satu klub basket dan sekelas dengan Nara di Kelas XII-A.” Ekky mengulurkan tangan kanannya kearah Naya dan disambut oleh Naya.
“Naya, dari Kelas X-C.” Ucap Naya pendek.
“Jangan kelamaan pegang-pegang tangannya.” Entah mengapa Nara merasa tidak suka dengan keakraban yang dilakukan Ekky kepada Naya.
“*I*ssh, dasar pelit maunya dimonopoli sendiri.” Protes Ekky.
“Berisik!” Potong Nara.
“Kalian ini sedang ngomong apa sih?”
“Bukan apa-apa Nay, kerandoman yang hanya kami miliki berdua.” Jawab Ekky.
“Kamu ternyata lanjut ikut klub renang disini.” Nara berusaha mengalihkan pembicaraan. “Kupikir hanya mengisi waktu luang.”
Naya tersenyum. “Iya. Menjawab ucapan Kak Nara sebelumnya, aku masuk ke sekolah ini karena alasan ini. Jadi jangan salah paham lagi ya Kak.”
Ekky berusaha menahan kekehannya melihat baru pertama kali ada orang yang tidak terpesona dengan kharisma yang dimiliki Nara dan tentu saja mendapat sikutan dari Nara.
“Pantas kelihatannya jago.” Lanjut Nara.
“Enggak juga.” Naya tertawa kecil. “Tadi malah beberapa kali membuat kesalahan.”
Nara menggeleng. “Dari tribun tadi kelihatannya bagus.”
“Terima kasih atas pujiannya.” Naya membungkuk dengan tulus hingga tak terasa langkah kaki mereka sudah berada di depan gerbang sekolah.
Tiin-Tiin!
Suara klakson dari sebuah mobil SUV berwarna silver memecah komunikasi mereka bertiga. Naya melihat Mamanya melambaikan tangan kearahnya.
Naya menoleh kearah Nara dan Ekky untuk izin berpamitan pulang. “Jemputanku sudah datang, aku izin pulang dulu Kak Nara, Kak Ekky.”
“Hati-hati di jalan.” Ekky membalas.
Sepasang sahabat itu memperhatikan mobil yang dinaiki oleh Naya hingga menghilang dari pandangan.
“Tak kusangka seleramu begitu ya, cute, tinggi sedang, dan langsing.” Ledek Ekky. “Kukira kamu akan hidup selamanya sambil memeluk bola oranye rupanya masih punya selera normal bisa menyukai manusia.”
“Sembarangan!” Nara memutar balik tubuhnya menuju parkiran mobil miliknya.
“Jadi, hari ini lanjut pulang atau nongkrong di café sepupumu seperti biasanya untuk belajar bisnis?” Ekky merangkul pundak Nara.
“Yang kedua, kamu tahu sendiri alasannya.” Nara memasuki tempat duduk supir dan menyalakan mesin mobil sedan hitam miliknya. Sebuah mobil sedan yang jika dilihat brand-nya menunjukkan bahwa Nara berasal dari background yang tidak biasa.
“Susah ya jadi pewaris.” Ledek Ekky.
“Susah ya jadi pendamping pewaris.” Balas Nara tak mau kalah. Ayah Ekky adalah salah satu bawahan kepercayaan dari keluarga besar Nara.
“Sialan!” Protes Ekky kemudian masuk di kursi penumpang. “Aku punya kebebasan tidak harus mengikuti jejak Ayahku.”
“Dan lucunya, pewaris ini yang menjadi supir sang pendamping pewaris.”
“Itu namanya privilege seorang Ekky Adiputra.” Ujarnya pura-pura sombong padahal ia bersyukur diberi kesempatan menjadi sahabat Nara.
“Terserahlah…”
Dalam perjalanan menuju café, udara malam terasa lebih dingin. Lampu-lampu kendaraan berpendar di sepanjang jalan. Tetapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Ia masih mengingat suara percikan air. Ia masih mengingat bagaimana Naya meluncur dari ujung kolam dengan indahnya . Ia masih mengingat ekspresi acuh tak acuh gadis itu ketika menyadari keberadaannya di tribun.
Nara tidak tahu apakah perasaan kagum tersebut akan bertahan lama atau hanya menjadi bagian kecil dari Jumat yang tidak biasa. Ia juga tidak tahu apakah pertemuan itu akan membawa mereka pada percakapan lain di masa depan. Namun, satu hal menjadi jelas baginya. Di balik sosok gadis kecil yang pernah ditemuinya secara kebetulan, ada seseorang yang mampu menikmati dunianya dengan begitu tulus. Seseorang yang tidak perlu berbicara keras, tampil berlebihan, atau sengaja mencari perhatian untuk terlihat menarik.
Naya hanya menjadi dirinya sendiri. Ia berenang karena menyukainya. Ia tersenyum karena merasa bahagia. Ia bergerak tanpa menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikannya dari kejauhan.
Dan justru dalam ketidaksengajaan itulah, perhatian Nara tertahan. Jumat itu bermula dari kelelahan, ajakan aneh, dan keputusan iseng yang tidak memiliki tujuan. Namun, ketika malam tiba, Nara pulang dengan satu kesan yang terus tinggal dalam pikirannya.
Kadang-kadang, hal yang paling menarik memang datang tanpa direncanakan. Seperti perjalanan random menuju sebuah klub renang. Seperti pertemuan keempat kalinya yang terjadi secara kebetulan. Dan seperti rasa kagum yang tumbuh kepada seseorang yang sama sekali tidak berusaha membuatnya kagum.
***