Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Rapat Puncak Para Tikus Tua
Hira menatap layar ponselnya sekali lagi. Jari telunjuknya mengusap pelan pinggiran benda pipih tersebut.
[Pesan Masuk: Teran Honigan - Datang ke Ruang Rapat Puncak sekarang. Tikus-tikus tua sedang berkumpul menyusun serangan balasan.]
Ia memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celana kain hitamnya.
{Mereka pasti panik karena pion logistik mereka baru saja kita tumbangkan.}
Suara alter ego itu terdengar sangat bersemangat. Tawa pelan yang menggema di dalam kepalanya membuat darah Hira berdesir cepat.
{Mari kita lihat wajah-wajah arogan mereka saat kita masuk ke sana tanpa diundang.}
Hira membalikkan badan. Sepatu hak tinggi merah marunnya mengetuk lantai marmer ruangannya saat ia berjalan keluar menuju lift khusus.
Ia menempelkan kartu hitam tanpa logo ke panel pemindai. Pintu perak lift terbuka mulus. Hira melangkah masuk dan menekan satu-satunya tombol yang berada di urutan paling atas.
[Lantai Puncak]
Lift melesat naik menembus gedung raksasa ini. Hira merapikan kerah blus hitamnya. Matanya menatap tajam pantulan dirinya di pintu baja lift.
Ting.
Pintu lift terbuka. Hira melangkah keluar menuju sebuah koridor melingkar yang sangat lebar. Di ujung koridor itu, sepasang pintu kayu jati setinggi tiga meter berdiri menjulang.
Leo sudah berdiri di depan pintu tersebut. Asisten berkacamata itu memegang sebuah map tipis berwarna abu-abu.
"Bu Hira," sapa Leo seraya menundukkan badannya. "Rapat sedang berlangsung. Mereka menuntut penjelasan atas penguncian gudang sektor utara yang Anda lakukan setengah jam yang lalu."
"Buka pintunya, Leo," perintah Hira singkat.
Leo mengangguk. Ia meraih gagang besi pintu ganda tersebut dan menariknya lebar-lebar.
Suara perdebatan bernada tinggi langsung menyambut telinga Hira.
"Ini tindakan ilegal, Pak Teran! Anda tidak bisa membiarkan tim audit internal menyegel empat puluh truk tanpa tanda tangan dari komite pengawas!"
Hira melangkah masuk dengan langkah perlahan.
Ruang Rapat Puncak itu luar biasa besar. Sebuah meja melingkar dari kayu mahoni utuh mendominasi bagian tengah. Di sekeliling meja itu, duduk lima orang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas mahal.
Teran Honigan duduk bersandar di kursi utama. Pria itu menyilangkan kakinya, meletakkan satu siku di sandaran kursi, dan menopang dagunya dengan punggung tangan. Wajah tegas CEO itu sama sekali tidak menunjukkan kepanikan meski sedang digertak oleh pria berambut perak di seberangnya.
"Prosedur yang Anda jalankan hari ini benar-benar melanggar statuta perusahaan!" Pria berambut perak itu kembali memukul meja dengan telapak tangannya. "Darmawan adalah Direktur Operasional yang sah! Siapa yang memberi wewenang untuk menahan akses logistiknya?!"
"Saya yang memberinya wewenang," jawab Teran dengan suara bariton yang sangat tenang.
Mata hitam Teran melirik melewati bahu pria berambut perak itu, menatap lurus ke arah Hira yang baru saja berdiri di ambang pintu.
Kelima pria paruh baya itu serentak menghentikan perdebatan mereka. Mereka memutar tubuh, menoleh ke arah pintu yang terbuka.
Hira berjalan mendekati meja mahoni tersebut. Langkah kakinya terdengar teratur, menggemakan ritme yang sangat dominan.
Pria berambut perak itu berdiri dari kursinya. Ia menatap Hira dari atas sampai bawah dengan ekspresi penuh penghinaan.
"Siapa wanita ini?!" bentak pria berambut perak itu ke arah Teran. "Ini rapat komite direksi senior! Tidak ada staf rendahan yang boleh masuk ke ruangan ini!"
Hira menarik sebuah kursi kosong yang berada tepat di sebelah kanan Teran. Ia duduk menyilangkan kakinya, lalu meletakkan tablet digital di tangannya ke atas meja mahoni.
"Nama saya Hira Lione," ucap Hira dengan senyum miring yang mematikan. "Dan saya bukan staf rendahan, Pak Herman."
Pria berambut perak bernama Herman itu tersentak pelan. Matanya melebar saat menyadari wanita asing ini mengetahui namanya.
"Saya adalah Eksekutif Independen," lanjut Hira. Suaranya terdengar sangat merdu namun menyayat tajam. "Dan saya baru saja membantu kolega kesayangan Anda, Darmawan, untuk mengosongkan meja kerjanya sepuluh menit yang lalu."
Keheningan seketika membekukan Ruang Rapat Puncak.
Herman menelan ludah. Ia menoleh ke arah pria berkepala plontos yang duduk di sebelahnya. Pria plontos itu juga terlihat memucat.
"Apa maksudmu mengosongkan meja kerjanya?!" Herman kembali menatap Hira. Tangannya menunjuk ke arah tablet di atas meja. "Kalian memecatnya secara sepihak?! Ini pelanggaran mutlak!"
Hira mendorong tablet digital itu ke tengah meja. Layar tablet tersebut menyala terang, menampilkan sebuah dokumen elektronik dengan tanda tangan digital berantakan di bagian bawahnya.
[Surat Pernyataan Pengakuan Penggelapan Dana - Darmawan]
"Darmawan tidak dipecat secara sepihak," Hira menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat santai. "Dia mengundurkan diri dengan sukarela setelah mengakui pemalsuan penyewaan empat puluh unit truk fiktif selama setahun terakhir."
Herman dan keempat direktur senior lainnya serentak mencondongkan tubuh mereka ke arah tablet itu.
Mata mereka bergerak cepat membaca barisan kalimat pengakuan tersebut.
Keringat dingin mulai bermunculan di dahi pria berkepala plontos. Ia mundur perlahan dan kembali duduk di kursinya dengan gerakan kaku.
{Lihat mereka. Barisan pelindung Darmawan langsung kehilangan taringnya begitu melihat bukti tanda tangan itu.}
"I-ini pasti jebakan," suara Herman mulai kehilangan volume lantangnya. Pria itu menatap Teran dengan rahang mengeras. "Anda memaksa Darmawan menandatangani ini, Pak Teran! Kami akan memanggil pengacara perusahaan untuk membatalkan dokumen ini!"
Teran hanya tersenyum tipis. Pria itu tidak repot-repot membalas ucapan Herman. Ia memberikan panggung ini sepenuhnya kepada Hira.
Hira menopang dagu dengan jari telunjuknya. Matanya menatap lurus ke arah Herman.
"Anda boleh memanggil sepuluh pengacara terbaik di negara ini, Pak Herman," ucap Hira lembut. "Tapi mereka tidak akan bisa membatalkan kesaksian lisan dari tiga manajer bawahan Darmawan yang dengan senang hati menyerahkan rekaman suara mantan direktur mereka kepada saya."
Herman terdiam. Tangannya yang bertumpu di atas meja mulai terlihat sedikit gemetar.
"Dan tahukah Anda bagian mana yang paling menarik dari pengakuan Darmawan hari ini?" Hira memiringkan kepalanya. Senyum di wajahnya semakin lebar.
Tidak ada satu pun dari kelima direktur senior itu yang berani menjawab. Mereka menatap Hira seolah wanita itu adalah algojo yang sedang mengayunkan kapak di atas kepala mereka.
"Uang hasil sewa truk fiktif itu tidak berhenti di rekening Darmawan," Hira memberikan pukulan lanjutannya. Ia menatap tajam ke mata Herman. "Alirannya bercabang. Sangat rapi. Menyelinap masuk melalui celah audit internal."
Hira mengulurkan tangannya, mengetuk layar tablet itu dengan kuku jari telunjuknya.
"Sistem tidak mungkin melewatkan miliaran rupiah setiap bulan tanpa bantuan dari seseorang yang memegang kendali atas pintu validasi keuangan pusat," ucap Hira pelan.
Herman langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Wajah pria berambut perak itu kini sepucat kertas.
"K-kamu menuduh divisi saya?!" Herman berteriak dengan suara pecah. "Kamu anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa soal mekanisme perusahaan ini!"
"Saya memang tidak tahu bagaimana cara kalian berbagi uang haram itu," balas Hira santai. Ia melipat kedua lengannya di atas meja. "Tapi saya tahu persis bagaimana cara mencabut semua pintu akses Anda mulai siang ini."
Herman menoleh dengan panik ke arah Teran.
"Pak Teran! Anda membiarkan wanita ini mengancam Direktur Keuangan Senior?!"
Teran Honigan memperbaiki posisi duduknya. Ia melirik Hira sejenak, lalu menatap Herman dengan sorot mata yang sangat mematikan.
"Dia Eksekutif Independen saya, Herman," jawab Teran dengan nada absolut. "Apapun yang dia katakan di ruangan ini, adalah eksekusi mutlak dari saya."
Teran menunjuk tablet di atas meja.
"Hira Lione baru saja membuka celah pertama," lanjut Teran. "Sekarang, mari kita bahas tentang jumlah aliran dana yang masuk ke rekening putra sulung Anda di luar negeri, Herman."
Hira menyeringai lebar. Ia memutar tubuhnya sedikit, menatap wajah Herman yang kini tampak seperti kehilangan seluruh nyawanya.
{Panggung ini benar-benar indah. Aku tidak sabar melihat siapa yang akan menangis berikutnya.}
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪