Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debat
Pak Haryoko yang dari tadi diam akhirnya ngono. Suaranya pelan. "Jadi...saya batal ya, Dok? Saya udah pasrah mau operasi hari ini."
Savira bimbang. Masa terjepit antara SOP dan rasa kasihan. Ruangan sunyi. Suster Lia yang sedang mencatat, tangannya berhenti. Lihat Savira. Ya, semua mata dalam ruangan itu melihat Savira, sang dokter anestesi.
Savira kembali jongkok. "Bapak, dengerin saya, ya. Operasi nya tidak batal. Tapi di undur." Jelasnya.
"Jantung Bapak sekarang kayak rumah yang kabelnya konslet. Kita mau benerin hari ini. 8 jam. Dibuka. Dijahit. Diganti jalur." katanya kembali menjelaskan. "Kalau sekarang kita tuangin air\= kopi tadi ke dalam rumah itu... konsletnya bisa meledak pas kita lagi benerin kabel." Metafora. Karena istilah medis tidak akan masuk ke hati yang panik.
Istri pak Haryoko Langs tutup mulut. Air matanya jatuh. "Maaf...dok...maaf...kami... Kami pikir kopi nggak ngaruh."
Ruang Pre-op kembali sunyi beberapa detik. Suster Lia nunduk, dr. Angga ngepalin tangan. Bahkan dr. Devan dan dr. Arlo membuang napas kasar Mende penjelasan pihak keluarga.
Savira buka lagi map nya. Tangannya tidak gemetar. "Jadi gini. Kesalahan sudah terjadi. Kita perbaiki. Opsi 1: tunda 6 jam. Biar lambung kosong beneran. Paling aman. Opsi 2: kita cuci lambung sekarang. Pasang selang dari hidung. Tidak nyaman, tapi kita bisa jalan jam 11. Tapi risiko tetap ada."
Ia diam. Memberi ruang untuk keluarga
Memilih. Bukan memaksa.
Pak Haryoko genggam tangan anaknya. Pelan. "Dok...opsi 1 saja. Saya...saya takut mati di meja operasi, Dok." Suaranya gemetar.
Savira ngangguk tegas. Sekali. Matanya melirik ke dr. Devan sekilas. Sedangkan dr. Devan? Dia tidak bicara, hanya anggukan kecil. Pelan. Isyarat. Seperti yang ia katakan di ruang ICCU.
"Saya percaya sama kamu." Mengingat kalimat itu, Savira semakin mantap dengan keputusannya.
Ia balik badan. Bukan melihat dr. Arlo. Tapi langsung tembak ke suster Lia. " Suster, Lia. Batalin jadwal 10:00. Booking ulang OK 3 jam 16:00. Sekarang pasang NGT Bapak. Cuci lambung. Kasih Ranitidin+Metoclopramide IV. Saya yang jaga bapak sampai jam 4."
Suster Lia ngangguk cepat. "Siap, Dok." Langsung gerak tanpa bertanya.
Setelah perintah itu keluar. Savira baru menoleh kearah dr. Arlo dan dr. Devan. "Dokter Arlo, dokter Devan. Maaf. Patient safety first. Saya R2. Tapi lisensi saya juga dokter. Dan saya tanggung jawab sama nyawa pasien dari jam 09:40 sampai jam 16:00 nanti."
Dram. dr. Arlo diam. Rahangnya mengeras. Dia kalah argumen. Di depan tim + pasien. Urat-urat di pelipisnya menonjol. Lalu keluar ruang tanpa sepatah kata.
Dokter Devan? Dia baru bicara pas mau keluar dari tirai. "Catat, dr. Savira yang take charge Pre-op ini. Saya setuju." Setelah itu ikut keluar.
......
Ruang Dokter Lounge OK. 09:57.
Pintu sliding kebuka kasar, dr. Arlo banting map coklat ke meja.
Brukk...
dr. Angga langsung mundur 2 langkah. Suster Vina yang mau masuk batal. Di dalam cuma ada dr. Devan. Diem. Lagi buka masker. Santai. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Tangan dr. Arlo mengepal kuat, matanya berkilat marah. "SUDAH SAYA BILANG!" Suaranya menggema. Memantulkan ke dinding kaca TV CT scan.
"DARI AWAL SUDAH SAYA BILANG JANGAN PAKAI DOKTER ANESTESI YANG MASIH R2! DIA BELUM SIAP UNTUK MENGHADAPI KASUS SEPERTI INI!" amuknya pada dr. Devan meledak. Map di meja ia sapu ke lantai. Bertebaran.
Dokter Devan merem. 3 detik. Tarik napas dari hidung. Keluarin dari mulut. Mengendalikan diri agar emosinya tidak terpancing.
Ia buka mata. Tenang. Dingin. " Operasi di undur karena SOP. Bukan karena status R2 dokter anestesinya." Sahut dr. Devan pelan.
dr. Arlo tertawa sinis. "Hahh... SOP?" Ia jalan muterin meja. Jarinya nunjuk wajah dr. Devan. "Kalau yang jaga itu prof. Handoko...kamu pikir dia akan panik melihat kopi jam 2? TIDAK! Dia akan pasang NGT 5 menit, cuci lambung, gas jam 11! SELESAI!" Katanya yakin.
"Yang bikin takut itu R2 kamu! Mukanya pucat! Tangannya gemetaran! Ida itu mentalnya ciut! Tidak berani ambil risiko!" Ia gebrak meja. DUAK! "Ini salah kamu! Pilih cewek baru putus yang emosinya labil! Buat jadi dokter anestesi CABG + TUMOR! ITU GILA!" Teriak dr. Arlo frustasi.
Tekanan untuk jadi yang terbaik kini mendarah daging dalam dirinya. Ia akan amarahnya meledak-ledak saat sesuatu yang sudah ia rencana gagal total. Seperti sekarang ini. Impiannya langsung melakukan operasi besar di hari pertama bergabunglah dengan Medika Care Hospital, kini harus tertunda.
Bukan batal, hanya tertunda. Tapi itu melukai harga dirinya dan egonya.
Dokter Devan masih diam. Tidak bergerak. Tidak berkedip. Hanya menatap datar rekan sejawatnya yang baru. Seperti orang kesurupan.
Perlahan, dr. Devan berdiri. Maju satu langkah. Meja jadi pembatas antara mereka. "Anda salah dr. Arlo." Suaranya tetap rendah. Formal.
Akan tetapi. Tatapannya yang datar bikin ngeri. Suster Vina perlahan mundur. Menjauh. "Satu. Prof. Handoko juga akan menunda. Karena aspirasi itu Russian Roulette. 5 menit NGT tidak menghilangkan risiko kopi+gula+susu yang sudah masuk 8 jam yang lalu."
Kakinya kembali melangkah. "Dua, dr. Savira tidak gemetar. Dia nahan. Beda! R2 yang takut hanya akan diam dan mengikuti apa mau anda. Tapi dia milih melawan!"
Sesaat, dr. Devan berhenti. Tatapannya mengunci mata Arlo. "Tiga, saya pilih dia karena dia dokter anestesi utama di tim saya! Bukan karena dia wanita, atau apapun!" Suaranya mulai meninggi.
Sunyi, dr. Arlo napasnya ngos-ngosan. Kalah telak. Argumennya dimentahin 1-1.
Dokter Devan ambil jam tangannya dari meja. Pakai. " Kesimpulannya. Kalaupun anestesinya konsulen... Operasi itu tetap di tunda. SOP harga mati!" Ia berjalan kearah pintu, melihat dr. Angga dan suster Vina menunduk. Mereka berharap jadi mahluk invisible.
"Dokter Angga, beresin map nya. Suster Vina. Lock ruangan ini 10 menit. Saya tidak mau di ganggu sampai press nanti." Ia keluar. Tutup pintu pelan. Klik.
Suster Vina dan dr. Angga saling melihat. Mereka telan ludah dengan susah payah, tubuhnya kaku karena dr. Arlo masih di ruangan itu.
Sementara dr. Arlo diam di tempat. Rahangnya mengeras. Di hajar dengan fakta. Bukan teriakan.
Tangannya mencengkram tepi meja sampai buku jarinya putih.
Dalam hatinya bersumpah tidak akan memberikan restu di hari pernikahan Devan dan Feli, adiknya. Menurutnya, calon adik iparnya sungguh tidak sopan. Walau semua yang di katakan Devan dan Savira adalah fakta telak yang tidak bisa di bantah.
Tapi Arlo merasa harga dirinya di injak-injak. Dan egonya terlalu tinggi untuk mengakui rencana sempurnanya....sudah retak.
*
*
*
*
*
To be continued