Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Sesampainya di lokasi pesta yang megah itu, begitu Dian melangkah turun dari mobil, ia melihat Joshua sudah menunggu tepat di depan pintu masuk.
Saat pandangan pemuda itu jatuh kepadanya, matanya tak beralih sedikit pun—terpancar kekaguman yang mendalam di sana. Ia berjalan mendekat, lalu mengulurkan tangan dengan senyum paling lembut yang pernah dilihat Dian.
“Kau terlihat… jauh lebih indah dari apa yang kubayangkan. Tidak sia‑sia aku memilihkan gaun itu,” bisiknya pelan, hanya agar Dian saja yang mendengarnya.
Dian tersenyum malu‑malu sambil menyandarkan tangannya di lengan Joshua, merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di tengah kerumunan orang‑orang berpengaruh itu, ia hanya yakin pada satu hal: apa pun yang terjadi malam ini, ia tak akan lagi merasa rendah diri—karena di sisi Joshua, ia merasa berharga lebih dari apa pun.
Semua orang memandang mereka dengan kekaguman; penampilan Dian dan Joshua serasi sekali, bagaikan pangeran dan putri dongeng. Namun di balik tatapan kagum itu, terselip rasa iri yang samar‑samar terasa mengelilingi Dian.
Karena Joshua sibuk berbincang dengan rekan‑rekannya, Dian perlahan menjauh memberi mereka ruang. Ia memilih meminum sedikit sari buah yang tersaji di meja—kebanyakan hidangan di sana berisi minuman beralkohol berkadar rendah, namun ia belum pernah mencobanya dan takut tidak cocok bagi dirinya.
“Maaf mengganggu…”
Tiga orang wanita berjalan mendekatinya. Dian agak ragu, karena ini pertama kalinya ia hadir di acara kalangan atas seperti ini.
“Iya, tidak apa‑apa,” jawabnya tenang.
“Kami baru pertama kali melihatmu. Sebenarnya ada hubungan apa dengan Mas Joshua?”
Panggilan “Mas” itu sedikit membuatnya geli, apalagi melihat penampilan dan sikap mereka yang terlihat sangat berusaha menarik perhatian.
“Aku hanya asistennya.”
“Asisten?” Wajah mereka berubah terkejut, namun terselip juga pandangan meremehkan. “Masa sih? Seorang asisten bisa hadir di acara setingkat ini?”
“Ada apa dengan itu?” tanya Dian mulai merasa tidak nyaman.
Salah satu wanita—yang tampak menjadi pemimpin di antara ketiganya—menyeringai sinis. “Kau tahu kan, biasanya hanya orang yang berusaha merayu atasannya saja yang bisa masuk ke sini. Kecuali tentunya pasangan resminya.”
Dian semakin menahan marah. “Apa maksudmu? Maaf ya, sebaiknya berhenti bicara begitu sebelum aku melakukan hal yang tidak menyenangkan bagimu!”
“Kau ini siapa berani menantangku? Aku hanya bicara apa yang semua orang pikirkan. Lagipula, kau sebaiknya berhati‑hati menghadapi kami… kalau tidak ingin kau mempermalukan atasanmu sendiri di sini.”
📖 Kelanjutan Cerita
Wanita itu makin mendekatkan wajahnya, seolah ingin menakut‑nakuti Dian. Namun Dian tidak mundur selangkah pun; ia menatap balik dengan tegas, tanpa berkedip sedikit pun.
“Memalukan? Justru orang yang berbicara sembarangan dan menghina orang asing tanpa alasan yang akan terlihat memalukan di mata semua orang,” ucap Dian tenang namun tegas.
Belum sempat wanita itu membalas, tiba‑tiba sebuah suara berat dan berwibawa terdengar dari belakang mereka.
“Apa yang sedang terjadi di sini?”
Ketiga wanita itu seketika menegang. Mereka berbalik dan melihat Joshua berdiri di sana dengan wajah dingin, tatapannya tajam tertuju pada mereka. Segera saja sikap sombong mereka hilang seketika, berganti menjadi gugup dan takut.
“Tidak… tidak ada apa‑apa, Tuan Joshua. Kami hanya sekadar menyapa temanmu saja,” jawab salah satu dari mereka terbata‑bata.
Joshua berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di samping Dian sambil menggenggam tangannya erat seolah memberi perlindungan penuh. Ia menatap tajam ke arah ketiga wanita itu.
“Orang yang kalian perlakukan begitu bukan sekadar teman biasa. Ia adalah wanita yang paling berharga bagiku. Jika ada satu orang lagi yang berani menyinggung atau merendahkannya sedikit saja… kalian akan tahu apa akibatnya.”
Suaranya rendah namun penuh tekanan, membuat suasana di sekitar seketika menjadi hening. Wajah ketiga wanita itu pucat pasi, mereka hanya bisa menunduk meminta maaf dengan nada takut, lalu bergegas pergi menjauh secepat mungkin.
Setelah mereka hilang di kerumunan, Joshua menoleh ke arah Dian, tatapannya kembali lembut dan hangat. Ia mengusap pelan punggung tangan Dian.
“Maafkan aku karena membiarkanmu menghadapi hal itu sendirian. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu sedikit pun,” ucapnya lembut.
Dian menatapnya, hatinya terasa penuh dan hangat. Ia tersenyum tulus sambil menggeleng pelan.
“Terima kasih, Joshua… aku merasa aman selama bersamamu.”
Malam itu, di tengah kemegahan pesta itu, Dian akhirnya benar‑benar sadar: ia bukan lagi sekadar orang yang berdiri di belakang seseorang—ia adalah seseorang yang dicintai, dihargai, dan dilindungi sepenuh hati oleh orang yang paling berarti baginya.
Berikut teks yang sudah diperbaiki alur bahasanya agar lebih halus, serta kelanjutan ceritanya:
Mereka berpamitan untuk pulang lebih awal. Dian mulai merasa tak betah berada di sana terlalu lama. Kendaraan yang seharusnya menjemputnya sudah berangkat duluan, sehingga kini ia harus berbagi perjalanan di dalam mobil yang sama bersama Joshua.
Jari-jari mereka saling terjalin, tanpa ada rasa menolak sedikit pun. Kadang Dian hanya menunduk malu—terutama karena ada sopir yang duduk di bangku depan.
"Dian... boleh aku mengajakmu berhenti sebentar di suatu tempat?" tanya Joshua pelan, sambil mengusap punggung tangan gadis itu dengan lembut.
Dian menoleh sedikit, matanya berbinar bingung namun penasaran. "Ke mana?"
Joshua tersenyum tipis, tatapannya lembut menatap wajah Dian yang diterangi cahaya lampu jalanan. "Ikut aku saja dulu, ya. Aku belum ingin mengantarmu pulang secepat ini... sebab keindahan dirimu masih ingin aku nikmati sepuasnya."
Wajah Dian seketika memerah padam. Ia memalingkan wajah ke arah jendela kaca, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang tak sengaja muncul di bibirnya. "Kau selalu saja bicara begitu..." gumamnya pelan, meski genggamannya pada tangan Joshua justru semakin erat.
Mobil pun berbelok menjauh dari jalan utama menuju arah yang berbeda, menuju tempat yang tenang di pinggiran bukit—tempat di mana seluruh lampu kota tampak berkelap-kelip di kejauhan, bagai hamparan bintang yang jatuh ke bumi. Joshua menarik tangan Dian, meningalkan sang sopir yang duduk tenang di dalam mobil, sampai mungkin letak mobil tersebut tidak terlihat lagi dari pandangan keduanya.
Suasana menjadi hening dan damai.
"Lihatlah," bisiknya lembut, "namun percayalah... pemandangan ini pun masih kalah indah dibandingkan dirimu."
Dian menatap takjub ke arah hamparan cahaya kota yang terbentang luas di bawah sana, namun perlahan pandangannya beralih ke sosok pria yang duduk di sampingnya.
Joshua menatapnya lekat-lekat, sorot matanya lembut. Ia perlahan mengangkat tangan bebasnya, menyentuh pipi Dian dengan ujung jari yang halus, mengusap rambut yang sedikit berantakan tertiup angin.
"Kau tahu, Dian?" suaranya rendah dan lembut, hampir seperti bisikan angin. "Sejak pertama kali melihatmu, aku tahu kau adalah hal terindah yang pernah Tuhan kirimkan kepadaku. Setiap detik bersamamu terasa terlalu singkat."
Wajah Dian semakin memerah, jantungnya berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari dada. Ia menundukkan pandangan, namun jemarinya justru semakin erat menggenggam tangan Joshua. "Kau... kau selalu pandai merangkai kata-kata manis," ucapnya pelan, meski nada suaranya penuh rasa senang.