Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bayang-Bayang dari Masa Lalu
Kemenangan mutlak di Laut Liguria membawa gelombang upeti sebesar 30 persen dari faksi Cosa Nostra mengalir lancar ke dalam brankas finansial dinasti Garrick. Namun, bagi Alana, kepuasan terbesar bukanlah angka-angka nominal yang dilaporkan Xavier pagi itu, melainkan tumpukan data mentah yang berhasil disedot oleh si kembar dari peladen kapal pesiar Don Donato. Di ruang kerjanya yang benderang oleh cahaya matahari Monako, Alana duduk dengan dagu bertumpu pada tautan jemarinya, menatap layar monitor besar yang menampilkan ribuan baris kode enkripsi kuno yang tengah dibersihkan oleh Julian.
Tasha Sterling berdiri di sisinya, menuangkan secangkir teh kamomil hangat dengan keheningan yang biasa. Atmosfer ruangan yang awalnya tenang mendadak berubah ketika Adrian, yang duduk di sofa dengan laptop militernya, memekik pendek dengan seringai jahil yang seketika lenyap dari wajahnya.
"Alana, Julian... lihat ini," panggil Adrian, suaranya mendadak turun beberapa oktaf, dipenuhi nada serius yang jarang dia tunjukkan. "Ada sebuah folder tersembunyi dengan enkripsi ganda tingkat tinggi di dalam basis data lama Don Donato. Folder ini dikirim dari sebuah peladen anonim di dalam wilayah Monako tepat satu tahun yang lalu."
Julian segera menghentikan aktivitasnya, jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik untuk membantu kembarannya memecah dinding pertahanan data tersebut. Hanya butuh waktu kurang dari tiga menit bagi dua genius siber itu untuk menembus lapisan terakhir. Begitu dokumen di dalamnya terbuka dan memproyeksikan sebuah gambar cetak biru, udara di dalam ruangan seolah membeku seketika.
Itu adalah denah arsitektur dan sistem pertahanan internal Mansion Utama dinasti Garrick angkatan lama. Lebih spesifik lagi, cetak biru itu menampilkan rute pelarian darurat dan titik buta kamera pengawas di paviliun barat—tempat di mana Alana disembunyikan sebelum takhta jatuh ke tangannya.
"Tasha, cocokkan garis waktu pengiriman berkas ini dengan basis data logistik domestik kita," perintah Alana, suaranya mengalun sangat datar, selembut beludru namun sedingin es.
Tasha dengan cekatan memeriksa catatan digital di tabletnya. Wajah wanita profesional itu sedikit menegang saat membaca hasilnya. "Berkas ini terkirim ke pihak Italia tepat dua minggu sebelum insiden penyerangan besar satu tahun yang lalu, Alana. Insiden... yang menyebabkan Anda terluka parah."
Fakta mengerikan itu terpampang nyata di depan mereka. Penyerangan brutal yang hampir merenggut nyawa Alana dan meninggalkan luka parah di punggung kecilnya bukanlah sekadar aksi eksternal dari musuh-musuh Victor Garrick. Itu adalah hasil dari sabotase orang dalam yang sangat rapi. Seseorang di dalam mansion telah menjual informasi pertahanan paling rahasia demi menyingkirkan Alana dari dinasti ini baru satu tahun yang lalu.
Satu jam kemudian, atmosfer di ruang rapat bawah tanah mansion berubah menjadi neraka fungsional yang siap meledak. Alana sengaja mengumpulkan kelima kakak laki-lakinya untuk menunjukkan temuan tersebut. Begitu proyektor menampilkan bukti otentik pengkhianatan internal itu, kemarahan kelima monster dunia bawah tanah tersebut meledak secara ugal-ugalan dan tanpa kendali.
BRAKK!
Dominic menghantam meja jati tebal di depannya dengan kepalan tangan masifnya hingga retak. Sepasang matanya merah menyala oleh amarah yang membakar. Rasa bersalah karena gagal melindungi adik kecilnya satu tahun lalu kini bercampur dengan haus darah yang pekat.
"Kunci seluruh mansion! Sekarang juga!" geram Dominic, suaranya bergemuruh berat, bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokan. "Cedric, kumpulkan semua staf, pelayan, pengawal, dan tetua angkatan lama yang memiliki akses ke paviliun barat satu tahun lalu. Aku sendiri yang akan mematahkan leher mereka satu per satu di ruang interogasi!"
Cedric berdiri dengan rahang yang mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Matanya berkilat kejam penuh gairah membunuh yang dingin. "Pasukan bayanganku akan menyisir setiap sudut kota. Tidak ada satu pun dari mereka yang boleh keluar dari perbatasan Monako hidup-hidup jika terbukti terlibat, bahkan jika mereka hanya menyediakan pulpen untuk menggambar denah ini."
Xavier mohon izin melangkah maju, merenggut ponselnya dari saku jas dengan gerakan kasar yang merusak estetika elegannya. "Aku akan membekukan seluruh aset, melacak garis keturunan, dan menghancurkan reputasi finansial siapa pun yang namanya terindikasi dalam folder ini. Mereka yang menyentuh Alana tidak akan dimaafkan, bahkan sampai generasi ketiga mereka."
Julian dan Adrian tidak berteriak, namun ekspresi di wajah kembar itu jauh lebih mengerikan. Jemari mereka menari di atas papan ketik dengan kecepatan gila, mengubah ruang rapat menjadi pusat perburuan digital global. "Kami akan memastikan jejak digital pengkhianat ini dikuliti sampai ke akar-akarnya," desis Adrian, seringai jahatnya kini benar-benar murni memancarkan aura kematian.
Melihat kakak-kakaknya yang mulai kehilangan akal sehat karena rasa protektif yang berlebihan, Alana tetap duduk dengan ketenangan mutlak. Dia tidak membiarkan emosi mengaburkan logika taktisnya.
"Kak Dominic, Kak Cedric, duduk," panggil Alana. Suaranya tidak keras, namun mengandung wewenang mutlak yang seketika menghentikan langkah dua pria masif itu. Kelima kakaknya menatap Alana, mencoba meredam napas mereka yang memburu.
"Jika kalian melakukan penguncian total dan interogasi massal sekarang, pengkhianat yang sesungguhnya akan langsung tahu bahwa kita telah menemukan berkas ini. Dia akan menghapus sisa jejaknya atau melarikan diri sebelum kita mendapatkan kepalanya," jelas Alana dengan ketenangan yang luar biasa manipulatif, tatapan matanya jernih dan tajam. "Dia telah bersembunyi selama satu tahun di bawah hidung Ayah dan kalian semua dengan berpura-pura setia. Dia mengira dia aman karena mengira waktu telah menghapus dosanya."
Alana mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat dingin, sejenis senyuman yang membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya berdiri. "Kita tidak akan memburunya dengan kasar. Kita akan menjebaknya dengan umpan informasi palsu, membiarkannya merasa di atas angin, sampai dia melangkah keluar sendiri dari tempat persembunyiannya."
Mendengar penjelasan logis adiknya, Dominic perlahan menurunkan ketegangannya, meski napasnya masih terasa berat. Rasa kagum kembali merayap di dada para kakak; Alana yang menjadi korban terbesar baru setahun lalu justru menjadi sosok yang paling dingin dan taktis dalam menyusun pembalasan dendam.
"Adrian, apakah proses dekripsi terdalam sudah selesai?" tanya Alana, mengalihkan pandangan ke layar monitor.
Adrian menekan satu tombol terakhir di laptopnya. Layar proyektor berkedip sekali sebelum menampilkan sebuah log komunikasi tersembunyi yang berisi nama pengguna asli di balik peladen anonim tersebut satu tahun lalu. Sebuah nama mantan petinggi divisi logistik domestik era Victor Garrick yang selama ini dikenal sebagai sosok "paling setia" dan masih menjabat di lingkaran luar dinasti.
"Dapat," ucap Adrian, matanya berkilat kejam saat membaca nama yang tertera di layar. "Namanya muncul, Alana."
Alana menatap nama tersebut tanpa secercah keraguan atau ketakutan sedikit pun. Di dalam ruang rapat bawah tanah yang sunyi itu, bayang-bayang masa lalu yang selama ini menghantui bekas lukanya kini berbalik menjadi target buruan baru yang siap dieksekusi dengan cara yang paling elegan dan mematikan.