"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Ketika suara riuh sorak-sorai dari lapangan perlahan memudar di balik dinding-dinding beton tebal, aku melangkah sendirian menyusuri koridor koridor lapas yang sepi dan beraroma karbol. Derap langkah kakiku bergema teratur di atas lantai semen yang dingin.
“Apa kau tahu... kau adalah manusia paling munafik di dunia ini?”
Suara Sena memecah keheningan, berbisik sarat akan provokasi di alam bawah sadarku.
Apa maksudmu? batinku, menghentikan ritme langkahku sejenak.
“Ayolah. Kau mungkin bisa membohongi seluruh penjahat di tempat ini, tapi kau tidak akan pernah bisa menipuku,” tawa Sena terkekeh pelan, bernada penuh kepuasan. “Saat ini... kau sedang tersenyum bahagia.”
Jemariku terangkat pelan, menyentuh bibir merah mudaku yang ternyata tanpa sadar telah merekah lebar.
Ah, dia benar. Saat ini, aku sedang tersenyum.
Bukan hanya itu. Ketika memori beberapa menit lalu berputar kembali di kepalaku—momen saat sol sepatuku menekan kepala Doni ke semen, saat untaian kalimat hinaan dingin lolos dari bibirku, saat aku melihat binar matanya yang dipenuhi kecemasan, rasa takut, dan kehancuran harga diri—entah kenapa jantungku mendadak berdebar kencang.
Sebuah sensasi hangat membuncah, menjalar cepat menyelimuti seluruh dadaku. Bibirku terus melukiskan senyuman yang kini benar-benar tak sanggup lagi kukendalikan.
Perasaan apakah ini sebenarnya?
“Itulah kebahagiaan yang sesungguhnya,” bisik Sena, suaranya terdengar begitu dekat di pelipisku.
Kebahagiaan?
Ya... itu benar. Dulu aku pernah merasakannya, saat-saat sederhana bersama Rania dan Siti. Namun, karena sudah terlalu lama tenggelam dalam amarah, kesakitan, dan puluhan kematian yang membusuk, sensasi yang baru saja mampir ini terasa begitu berbeda. Entah kenapa...
Langkahku terhenti total di tengah koridor remang. Aku menyilangkan kedua tanganku di bawah dada, merengkuh tubuhku sendiri rapat-rapat saat sensasi aneh itu kian merayapi sarafku.
...Ini terasa sangat nikmat.
Kedua pipiku terasa memanas. Ini adalah jenis perasaan yang asing, liar, namun memberi kepuasan yang teramat sangat lezat di dasar jiwaku.
“Kekeke... apa kau paham sekarang, Luna?” Sena tertawa geli, menikmati metamorfosis di dalam diriku. “Inilah kenikmatan dari balas dendam yang sesungguhnya.”
Senyumanku kian melengkung lebar, memamerkan deretan gigi bersihku di dalam koridor yang sunyi.
Ya. Aku mengerti. Aku memahaminya sekarang. Perasaan gila ini... rasa nikmat yang memabukkan ini... aku ingin merasakannya lagi. Dan lagi.
“Bagus, Luna! Bagus sekali! Kau memang harus menjadi seperti itu!” Sena mendadak tertawa lepas, sebuah tawa histeris penuh kemenangan yang menggema gila di dalam mental realm-ku. “Hancurkan mereka semua! Cabik-cabik mereka! Permalukan mereka di depan umum! Dan hina mereka sepuas hatimu hingga jiwamu meluap oleh kenikmatan! Lalu...”
Atmosfer di dalam kepalaku mendadak makin pekat saat Sena kian menggila, membelalakkan matanya dengan aura dahaga darah yang membakar.
“...LENYAPKAN MEREKA SEMUA DARI DUNIA INI!”
Aku menghembuskan napas pelan melalui hidung.
Ah... kalau untuk bagian yang terakhir itu, aku tidak akan melakukannya.
Tawa gila Sena seketika terputus di tenggorokan.
“Ah... begitu, ya,” sahutnya datar.
Sensasi hangat di dadaku perlahan menyurut, menyisakan raut wajah kami berdua yang kembali sama-sama memasang ekspresi datar dan dingin tanpa emosi, seolah kegilaan singkat tadi tidak pernah terjadi.
Malam harinya, setelah makan malam usai, ada waktu bebas sekitar satu jam sebelum seluruh narapidana diwajibkan kembali ke sel masing-masing. Di tengah kerumunan yang bising itu, mataku menangkap sosok Anis yang sedang tertawa lepas bersama beberapa tahanan wanita lainnya.
Aku menatapnya diam-diam dari sudut ruangan yang remang. Ingatan tentang apa yang pernah ia lakukan padaku di masa lalu—saat aku masih menjadi mangsa yang lemah—kembali melintas cepat di benakku. Dan caranya yang terus menjilat serta bermuka dua sejak aku menjadi penguasa di sini... kini membuat perutku mual. Rasa jijik yang mendalam membakar dadaku.
Sena... apa kau bisa mendorongku? batinku, memanggil sosok di dalam kepalaku.
Sena terdiam sejenak. Di dalam mental realm, ia perlahan menyeringai lebar.
“Wah, wah, wah... Luna sayangku ternyata sudah mau berubah. Hehehe,” tawa ejek Sena menggema, sarat akan nada geli yang culas. “Tapi, kau tidak bisa terus-terusan bertindak hanya setelah aku mendorongmu seperti sebelumnya. Meskipun pada awalnya kau akan merasakan sedikit perasaan tidak bersalah dan tidak bisa mencari-cari alasan lagi, kau harus bisa berjalan sendiri mulai sekarang.”
Aku terdiam sejenak mendengar ucapannya.
Rasa bersalah? Tidak ada. Yang bisa kubayangkan sekarang hanyalah sensasi nikmat dan hangat yang akan memenuhi hatiku saat melihat Anis hancur.
“Kukuku... Bagus. Hajar dia—”
"Tahanan nomor 323! Segera ikut aku ke ruang besuk!"
Suara bentakan sipir yang tiba-tiba memecah lamunanku, tepat saat kaki kiri melangkah maju untuk memberikan 'cintaku' pada Anis.
“Arghhh... kenapa harus sekarang, sih?!” Sena berteriak sangat kesal di dalam kepalaku, merutuki gangguan yang merusak momennya.
Aku menghembuskan napas pasrah, menahan amarah yang tertahan di dada, lalu berbalik mengekor sipir tersebut.
Ketika langkahku berhenti di ruang besuk, Arisya sudah duduk di sana. Anggun, tenang, dan didampingi dua pengawal berjas hitam yang berdiri tegap di belakangnya.
"Apa maumu?" tanyaku dingin begitu mendaratkan tubuh di kursi, tanpa perlu berlama-lama membuang basa-basi.
"Aku datang untuk mendengar jawabanmu," sahut Arisya halus, matanya yang sejelita hazel menatapku lurus.
Aku terdiam sejenak, memandangnya lekat-lekat.
Jika aku melampiaskan amarah dan membunuhnya sekarang... apa aku akan dihukum mati, ya? tanyaku pada Sena di dalam hati.
“Ehm... kemungkinan terbaiknya, iya,” sahut Sena datar.
Lalu apa kemungkinan terburuknya?
“Kau akan disiksa setengah mati oleh dua pengawalnya, lalu dijadikan budak seumur hidup di dalam penjara yang lebih ketat.”
Aku menghembuskan napas tipis. Yah, itu benar. Lagipula, kematian bukanlah sebuah hukuman bagiku yang bisa bangkit kembali.
"Tepatnya kau ingin aku melakukan apa?" tanyaku akhirnya pada Arisya.
"Akan panjang jika menjelaskan semuanya secara mendetail," Arisya menyilangkan jemari tangannya di atas meja. "Tapi intinya, aku ingin kau menjadi sekretaris sekaligus pengawalku."
Aku mengernyitkan dahi. "Bukankah kau sudah punya pengawal? Kau pasti juga memiliki sekretaris yang terampil."
"Kau memang benar," jawab Arisya tanpa ragu. "Tapi, pengawal yang kupunya sekarang memiliki beberapa keterbatasan ketika melakukan kegiatan tertentu. Dan jika aku hanya pergi bersama seorang sekretaris biasa, maka tingkat penjagaanku akan sangat berkurang."
"Penjagaan?" tanyaku menaikkan sebelah alis. "Memangnya kau ingin berlindung dari siapa?"
"Aku memiliki beberapa kondisi tertentu yang rumit di luar sana," jawabnya ambigu namun penuh penekanan.
Aku menatapnya semakin lekat, mencari kebohongan di matanya. "Kalau begitu, bawa saja pengawal dan sekretaris itu sekaligus."
"Itu akan sulit. Apalagi pada kegiatan-kegiatan yang mengharuskan aku untuk tidak terlihat mencolok."
"Lalu kenapa harus aku?"
"Aku sudah memeriksa rekam medis dan akademismu. Kau sangat pintar di sekolah dulu. Dan di sini, kau membuktikan bahwa kau juga sangat jago berkelahi," Arisya menjelaskan sembari menyanjungku dengan nada bicara yang teratur. "Selain itu, meskipun kau lebih tua dua tahun dariku, aku rasa kita bisa jadi lebih akrab karena kita sama-sama perempuan. Bagiku, kau adalah kandidat yang sangat sempurna."
Arisya berhenti sejenak, memiringkan kepalanya tipis. "Ah, tentu saja, kau akan mendapatkan bayaran yang sangat pantas."
Aku hanya diam menatapnya kosong. Tidak ada satu pun dari iming-iming uang atau sanjungan itu yang sanggup menyengat ketertarikanku. Duniaku sudah terlalu dingin untuk hal-hal konyol seperti itu.
Melihat reaksiku yang datar, raut wajah Arisya perlahan berubah. Pandangan matanya yang semula tajam kini melembut, menyiratkan kehangatan yang asing.
"Apa yang ingin kau lakukan setelah keluar dari penjara ini, Luna?" tanyanya pelan.
"Apa?"
"Jika kau menolak tawaranku hari ini, kau baru bisa keluar dari penjara 13 tahun lagi. Setelah itu... apa? Ke mana kau akan pergi?"
Kata-kata Arisya mulai merayap masuk, menusuk dinding pertahanan di dalam dadaku.
"Orang tuamu pergi ke luar negeri meninggalkanmu karena tidak ingin punya anak seorang kriminal," lanjut Arisya dengan nada suara yang penuh simpati, bukan ejekan. "Sahabat yang kau lindungi mati-matian... dia juga tidak mau lagi berhubungan denganmu. Apa kau akan mencari pekerjaan? Dengan rekam jejak KTP seorang mantan narapidana pembunuhan, itu adalah sesuatu yang hampir mustahil. Tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang mau menerima seorang kriminal."
Arisya memajukan tubuhnya. Sebuah senyuman yang begitu lembut dan tulus terukir di wajah cantiknya.
"Karena itu... ikutlah denganku, Luna. Aku akan menerima dirimu."
Arisya mengulurkan tangannya melintasi meja kayu yang membatasi kami.
Aku terdiam dengan mulut sedikit ternganga. Dada yang tadinya dipenuhi dahaga balas dendam mendadak bergetar hebat. Kata-kata Arisya bagaikan tamparan keras yang membangunkanku dari mimpi buruk yang panjang. Kalimat sederhana itu memaksa otakku untuk kembali berpikir jernih.
Memang... jika aku tetap bertahan di penjara ini, aku bisa melampiaskan amarahku dan membalas dendam pada orang-orang seperti Anis atau Doni. Tapi... setelah itu apa? Apa yang akan kulakukan setelah tempat ini tak lagi menyisakanku rasa sakit?
Tidak... alasan utamaku membiarkan diriku membusuk di penjara ini bukan untuk menjadi penguasa atau monster penyiksa. Aku bertahan di sini... supaya aku dapat menebus dosa atas nyawa yang melayang. Aku harus bertanggung jawab atas segala kejahatan dan luka yang diciptakan oleh jemariku sendiri.
"Menurutku..." suara Arisya kembali memecah keheningan, memotong gejolak batin di kepalaku. "...kau telah bertanggung jawab dengan sangat baik, Luna."
Aku tersentak. Cara Arisya menatapku... seolah-olah gadis di depanku ini sanggup membaca setiap jeritan kelam yang bergelung di dalam hatiku.
"Kau melakukan kejahatan itu murni demi melindungi masa depan seseorang yang kau cintai," tutur Arisya dengan kelembutan yang teramat dalam, sebuah kata-kata harapan yang belum pernah kudengar dari siapa pun selama bertahun-tahun. "Dan kau berani bertanggung jawab atas kebaikan yang kau lakukan. Kau bukanlah seorang kriminal... Kau bukanlah monster."
Mata hazel Arisya bergetar halus saat menatap pasang mataku.
"Kau hanyalah seorang gadis remaja malang yang harus membersihkan kotoran menjijikkan yang diciptakan oleh orang dewasa. Dan kau... sangat pantas untuk mendapatkan kebahagiaan."
Kebahagiaan...?
Dada yang tadinya membatu mendadak terasa sesak luar biasa. Rasa hangat yang merayap bukan lagi kepuasan culas saat menginjak orang lain, melainkan sebuah dinding pertahanan rapuh yang runtuh secara meledak-ledak. Beban trauma, penderitaan puluhan kematian yang tersimpan rapat, rasa terisolasi, dan kesepian mendalam yang kupendam sendirian selama di balik jeruji besi ini... mendadak mencair begitu saja.
Apakah kebahagiaan yang ia tawarkan ini... jauh lebih nyata daripada kenikmatan semu dari balas dendam?
Bibir bawahku tergigit erat, menahan isolasi tangis yang hendak pecah. Seluruh tubuhku gemetaran hebat. Sengatan emosi yang begitu haru dan menyakitkan membakar kelopak mataku.
Hei, Sena! seruku histeris di dalam pikiran, memanggil sosok kegelapanku dengan penuh keputusasaan. Sekarang kau pasti ingin aku membalas dendam, kan?! Maka katakanlah sesuatu! Hentikan aku sekarang! Katakan kalau gadis ini bohong! Hentikan aku... maka aku akan langsung mengikuti perkataanmu!
Namun... Sena hanya diam.
Di dalam mental realm-ku, sosok Sena yang biasanya bising dan penuh tawa gila kini berdiri mematung. Ia memalingkan wajahnya, bungkam seribu bahasa, membiarkan keheningan menguasai ruang bawah sadarku.
Tanganku yang gemetaran hebat perlahan terangkat ke udara. Dalam keraguan yang membuncah, aku masih berharap Sena akan berteriak dan mencegahku. Namun hingga detik terakhir... tidak ada gertakan apa pun.
Dengan air mata yang tanpa sadar meluncur lelah melewati pipiku, jemariku yang dingin perlahan maju—dan menyambut genggaman hangat tangan Arisya.