NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:582
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Loathsome Emperor 10th Grade: Kalawidya

Kaisar Maharaja Durgandha tidak duduk.

Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, penguasa tertinggi Prefektur Draconis berdiri di hadapan singgasananya dengan tangan yang mencengkram panel hologram darurat yang memancarkan data perbatasan dengan cahaya merah yang berkedip tanpa henti.

"Loathsome Emperor," ucapnya dengan suara yang mengisi seluruh aula tanpa ia perlu mengeraskannya, "Kalawidya datang."

Tiga belas jenderal klan Dragonoid berdiri dalam formasi dengan ekspresi yang tidak menyembunyikan beratnya situasi. Jenderal klan Basilisk melangkah maju dengan rahang yang mengeras.

"Yang Mulia, Loathsome Emperor tidak pernah muncul dalam seribu tahun terakhir. Kemunculannya di perbatasan kita berarti Prefektur Ethereal sudah tidak lagi memperdulikan konsekuensi diplomatik."

"Aku tahu," ucap Kaisar Maharaja Durgandha dengan nada yang datar namun mengandung bobot yang melampaui semua kata yang pernah keluar dari mulutnya malam ini, "Prefektur Draconis sudah lama melemah sejak Dragon Abyss meninggalkan tanah kita. Kalawidya tahu itu. Indrawarman tahu itu, dan sekarang seluruh Benua Sangakama akan tahu itu."

Keheningan yang sangat berat turun di seluruh aula.

Jenderal klan Nagaraja mengepalkan tangannya.

"Kita harus mengirim pasukan ke perbatasan sekarang, Yang Mulia. Sebelum Kalawidya menembus lapisan pertahanan pertama."

"Pasukan mana?" potong jenderal klan Lindworm dengan nada yang mengandung kepahitan yang tidak bisa ia sembunyikan, "Kita tidak punya kekuatan yang sebanding dengan Loathsome Emperor dalam kondisi Dragon Abyss yang sudah tidak ada."

Kaisar Maharaja Durgandha tidak menjawab perdebatan itu.

Mata emas tuanya berpindah ke Arjuna yang berdiri di sudut aula dengan tangan yang tergantung santai di sisi tubuhnya, dan mata merah membara yang sudah memindai seluruh ruangan sejak panel hologram darurat pertama kali menyala.

"Dragon Abyss?" tanya Arjuna dengan nada yang bukan pertanyaan.

Kaisar Maharaja Durgandha memandangnya tanpa berkedip.

"Kekuatan yang seharusnya menjadi tulang punggung Prefektur Draconis selama tiga ribu tahun. Kini aku merasakannya bersemayam di dalam tubuh seseorang. Namun aku tidak bisa melacaknya.”

Tidak ada yang bersuara.

Firasat itu datang tiba-tiba.

Arjuna tidak bisa menjelaskannya dengan kalkulasi manapun. Bukan dari sistem, bukan dari domain, bukan dari Dragon Soul Veins yang bergejolak. Melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari semua itu, sesuatu yang bergerak di balik seluruh perhitungannya seperti bayangan yang tidak bisa ditangkap.

Matanya berpindah ke Dyah Ayu yang berdiri di sampingnya.

Kemudian tangannya bergerak. Satu sentuhan sangat ringan di ujung hidung Dyah Ayu.

"Hei, apa yang kau—"

Dyah Ayu bersin.

Bukan bersin kecil. Bersin yang memantul di seluruh dinding aula, dan membuat tiga belas jenderal klan Dragonoid serentak meletakkan tangan ke gagang senjata mereka secara refleks.

Ratusan benda kecil meluncur keluar, dan menghantam lantai panel logam aula dengan bunyi nyaring yang bergema berulang-ulang seperti hujan batu yang tidak mengenal henti.

Seluruh aula membeku.

Ratusan awakening stone versi dua berpendar di lantai dengan cahaya yang membuat energi Ether di seluruh ruangan bergetar serentak.

"Itu … itu berapa?" bisik jenderal klan Basilisk dengan suara yang nyaris tidak keluar.

"Ratusan," jawab jenderal klan Nagaraja dengan nada yang sama.

Dyah Ayu mengusap hidungnya dengan punggung tangan, dan memandang lantai di hadapannya dengan ekspresi yang tidak menunjukkan pemahaman apapun.

"Kenapa hidungku selalu gatal di waktu yang tidak tepat?”

Arjuna sudah berlutut, dan mengumpulkan awakening stone itu dengan gerakan yang sangat efisien, lalu menyimpannya ke bracelet penyimpanan ruang miliknya.

Tanpa ekspresi yang berubah ia memasukkan satu ke mulut Dyah Ayu dan satu ke mulut Brama Kumbara yang sejak tadi berdiri di tepi ruangan dengan tangan yang masih memegang perutnya.

Brama Kumbara mengunyahnya.

"Rasa … apa ini … tidak enak … tapi kenapa … aku mau lagi?"

Kemudian Arjuna menyentuh titik inti dantian Brama Kumbara dengan tekanan yang presisi.

"Arc Of Medicine. Terima!”

Cahaya hijau keemasan mengalir masuk ke dalam dantian Brama Kumbara. 

Ia membeku selama tiga detik, matanya kosong seolah menyerap sesuatu yang sangat besar dalam waktu yang sangat singkat. Kemudian matanya yang kecil hampir tersembunyi di antara pipinya yang tembem berkedip dua kali.

"Aku … tahu cara membuat …  ratusan ribu jenis pil … dari mana … pengetahuan ini—"

"Dariku," jawab Arjuna dengan nada datar, lalu berpaling ke arah Kaisar Maharaja Durgandha, "Yang Mulia, aku membutuhkan semua bahan tanaman, dan logam terbaik yang ada di gudang istana. Sekarang!”

Kaisar Maharaja Durgandha memandangnya satu detik.

"Untuk apa?"

"Dyah Ayu akan membuat senjata, artefak, dan armor. Brama Kumbara akan membuat pil." Arjuna tidak mengubah nada bicaranya sedikitpun, "Prefektur Draconis membutuhkan keduanya lebih dari yang mereka butuhkan pasukan tambahan malam ini."

Kaisar Maharaja Durgandha mengangguk satu kali ke arah jenderal klan Hydra.

Harjasa bergerak tanpa perlu diperintah dua kali.

Arjuna berpaling ke Dyah Ayu.

"Buat senjata, artefak peningkat kecepatan, pertahanan, serangan dan Cyborg armor suit terbaik yang bisa kau hasilkan malam ini!”

Dyah Ayu mengangguk dengan semangat yang tidak wajar untuk situasi yang sedang berlangsung.

"Tujuh puluh persen—"

"Kontrak tetap berlaku."

Dyah Ayu mengangguk puas.

Arjuna berpaling ke Brama Kumbara.

"Buat pil dengan bahan terbaik yang tersedia. Prioritaskan pil pemulihan, dan pil peningkat Ether."

Brama Kumbara mengangguk dengan nafas yang sudah tersengal, meskipun ia tidak melakukan apapun.

"Baik … tapi setelah ini … aku boleh makan?"

Arjuna tidak menjawab. Kakinya sudah melangkah ke arah pintu aula.

***

Perbatasan Prefektur Draconis sudah menjadi neraka ketika Arjuna tiba.

Menara penjagaan pertama sudah roboh. Pasukan mayat daging Kalawidya atau skill Flesh Corps Army memenuhi seluruh area perbatasan seperti lautan yang tidak mengenal surut. Masing-masing bergerak dengan ritme yang bukan ritme makhluk hidup.

Arjuna mengaktifkan Devil Phantom Raijin seketika.

Domain seratus meter meledak dari tubuhnya. Phantom Arcana Trap menyebar ke seluruh area domain dalam satu gerakan, medan jebakan Ice, dan Gale meledak serentak.

Kemudian melumpuhkan ribuan mayat daging dalam radius yang membuat barisan depan pasukan Kalawidya berhenti seketika.

Namun Kalawidya tidak bergerak dari tempatnya berdiri. “Arjuna ….”

Sosok tinggi kurus berbalut jubah hitam itu memandang Arjuna dengan topeng tulang yang memancarkan cahaya ungu gelap. Kemudian jari-jarinya yang panjang bergerak sangat pelan menggambar sesuatu di udara yang tidak kasat mata.

Namun terasa seperti tangan raksasa yang menutup seluruh langit di atas area perbatasan.

"Arjuna Sasrabahu," ucap Kalawidya dengan suara yang seperti sesuatu yang membusuk dipaksa berbicara, "Seal Of Eternity!"

Seluruh domain Arjuna padam seketika.

Arjuna tidak bisa bergerak. Karena sesuatu yang melilit seluruh tubuhnya dari luar dan dalam sekaligus. 

Hal itu memadamkan setiap aliran Ether di setiap meridiannya dengan cara yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. 

“Ini apa yang terjadi?!” pikirnya menyipitkan mata.

Dari dalam inventaris sistem, Batara Niskala bergejolak.

Artefak anti segel itu melepaskan dirinya dari inventaris dan melayang di hadapan Arjuna dengan cahaya emas yang berpendar semakin terang. Ia bergerak mendekati tubuh Arjuna, mencoba menyatu, dan mencoba menetralisir Segel Keabadian yang melilit seluruh meridiannya.

Namun sesuatu menolak.

“Hahaha … menyedihkan. Apa yang bisa dilakukan artefak sampah itu, hahahah …,” hardik Kalawidya melihat tubuh Arjuna, dan artefak Batara Niskala saling menolak.

Penolakan tersebut terjadi, karena tubuh Arjuna sendiri yang belum mampu menampung kekuatan penggabungan dengan artefak setingkat Batara Niskala di ranah Qi Resonance Realm: Morning Star.

Batara Niskala memaksa. Arjuna memaksanya balik.

Selama tiga detik, keduanya saling menolak, dan menerima dalam pertarungan yang tidak terlihat.

“Menyatulah! Aaargh!” geram Arjuna, rahangnya mengatup keras.

Namun terasa seperti dua kekuatan raksasa yang menghantam satu titik yang sama dari arah berlawanan.

Kemudian darah menyembur dari mulut Arjuna. “Guhak! Si-sial!”

Batara Niskala mundur kembali ke inventaris sistem dengan cahaya yang meredup.

Arjuna berlutut dengan satu lutut menyentuh tanah, darah menetes dari sudut bibirnya, dan Seal Of Eternity masih melilit seluruh tubuhnya tanpa menunjukkan tanda-tanda akan melemah.

Kalawidya melangkah maju dengan langkah yang tidak mengeluarkan suara apapun.

"Ranah yang terlalu rendah untuk artefak itu," ucapnya dengan nada yang mengandung kekaguman yang tidak tulus, "Manusia murni yang menarik, dan … bodoh.”

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!