NovelToon NovelToon
Ketika Rekor Bertemu Rindu

Ketika Rekor Bertemu Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Ella

Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.

Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.

Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.

"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Keesokan harinya, Rindu benar-benar membuktikan ucapannya. Tepat pukul dua siang, sedan hitam mewahnya sudah berhenti di depan area kolam indoor. Rindu melangkah turun dengan setelan olahraga yang *sporty* dan modis, rambut panjangnya dikuncir kuda dengan rapi.

Langkah kakinya terdengar solid saat memasuki area kolam. Jujur saja, sepanjang perjalanan tadi dada Rindu sempat berdebar aneh. Ia sudah menyiapkan mental dan rentetan kalimat ketus untuk membalas ketengilan Kenzo hari ini.

Begitu pintu kaca besar itu terbuka, suasana di dalam kolam justru sunyi senyap. Hanya ada pantulan air kolam yang berkilau diterpa cahaya siang. Rindu menghentikan langkahnya. Sepasang matanya langsung bergerak liar menyapu seluruh penjuru ruangan. Area kursi juri? Kosong. Tribun penonton? Sepi. Tempat dispenser kemarin? Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Rindu tidak mendapati keberadaan pelatih absurd-nya itu di mana pun. Gadis itu berjalan mendekati kursi pelatih, tempat Kenzo kemarin asyik bermain ponsel. Di atas meja hanya ada map jepit kosong milik pengelola kolam. Cowok jangkung yang kemarin berjanji akan melatihnya itu sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.

Rindu melirik jam tangan digital di pergelangan kirinya. Jam menunjukkan pukul 14.05.

"Dia yang nyuruh jangan telat, sekarang dia sendiri yang belum dateng?!" gerutu Rindu, seketika rasa dongkol mulai merayap naik ke dadanya.

Ia berkacak pinggang, menatap pintu masuk dengan napas memburu. Baru hari kedua, dan si "mahasiswa sewaan" itu sudah berani membuatnya menunggu. Rindu langsung merogoh kantong jaketnya, mengambil ponsel dengan sentakan kasar, berniat untuk langsung mengirimkan pesan penuh ancaman pada pelatih bagongnya itu.

Baru saja jemari Rindu hendak mengetik pesan dengan emosi yang sudah di ubun-ubun, terdengar suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa dari arah pintu masuk. Bunyi derit sol sepatu yang bergesekan dengan lantai porselen basah itu menggema di seluruh ruangan.

Rindu menoleh dengan cepat, menatap tajam ke sumber suara. Di sana, Kenzo sedang berlari kecil ke arahnya. Penampilan cowok itu tampak sedikit berantakan dibanding kemarin. Kemeja flanelnya dibiarkan tidak dikancingkan, memperlihatkan kaos oblong hitam di dalamnya. Ransel besarnya tampak bergoyang-goyang di punggung seiring dengan langkah kakinya yang lebar. Napasnya agak memburu, dan beberapa helai rambut depannya tampak acak-acakan menempel di dahi karena keringat.

Begitu sampai di depan Rindu yang sedang berkicak pinggang dengan wajah sedingin es, Kenzo langsung membungkuk sedikit, bertumpu pada kedua lututnya untuk mengatur napas.

"Sorry... Sorry banget, Rin, gue telat," ucap Kenzo dengan suara serak khas orang habis berlari jauh. Ia mendongak, menatap Rindu dengan pandangan bersalah yang langka. "Tadi gue bener-bener habis bimbingan darurat sama dosen. Draft bab empat gue mendadak dicoret-coret dan gue gak dilepas sebelum kelar revisi di tempat."

Kenzo menegakkan tubuhnya, buru-buru menurunkan ranselnya dan meletakkannya di lantai. Ia menatap jam tangan, lalu beralih menatap wajah Rindu yang masih ditekuk masam.

"Baru telat sepuluh menit, kan? Sumpah, gue tadi udah lari maraton dari gedung FISIP ke gedung olahraga ini demi lo," lanjut Kenzo lagi, mencoba menyengir tengil untuk mencairkan suasana, walau dalam hati ia agak was-was kalau sang Ratu Lintasan ini bakal langsung mogok latihan dan pulang.

Rindu langsung menaikkan sebelah alisnya, menatap Kenzo dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan penuh selidik. Bukannya mereda, rasa penasarannya malah makin terusik mendengar alasan cowok itu.

"Bukannya lo anak jurusan olahraga? Ngapain lo bimbingan di gedung FISIP?" sembur Rindu sinis. "Gak usah bikin alasan aneh-aneh deh, bilang aja lo sengaja molor."

Kenzo yang masih sedikit ngos-ngosan langsung menegakkan tubuhnya, lalu mengibas-ngibaskan tangan di depan dada seolah meminta Rindu untuk menurunkan tensi emosinya.

"Dosen pembimbing gue lagi dapet tugas ngajar kelas pararel di sana hari ini, Rin," jawab Kenzo jujur, sambil mengusap keringat di dahinya. "Daripada bimbingan gue diundur minggu depan dan skripsi gue makin lumutan, ya terpaksa gue yang nyamper balik ke sarang anak-anak budak korporat masa depan itu."

Kenzo mengembuskan napas panjang, lalu menatap Rindu dengan senyum tengilnya yang perlahan kembali terpasang di wajah. Ia memperhatikan Rindu yang sudah rapi dengan baju olahraganya sejak tadi.

"Tapi, wah... gue terharu banget sih. Ternyata omongan gue kemarin langsung dituruti ya?" goda Kenzo, sengaja membelokkan topik agar Rindu tidak memperpanjang urusan FISIP. "Ratu Lintasan kita hari ini datang tepat waktu banget. Gak sia-sia gue lari maraton tadi."

"Cih, narsis!" cibir Rindu, melirik tajam ke arah Kenzo yang masih tersenyum tanpa dosa.

Tanpa sudi mendengarkan kalimat godaan Kenzo lebih lanjut, Rindu langsung memutar tubuhnya dengan sentakan cepat. Ia melangkah lebar-lebar meninggalkan pelatih tengilnya itu sendirian di tepi kolam, berjalan lurus menuju ke arah ruang ganti cewek untuk berganti pakaian renang.

Kenzo yang ditinggal begitu saja hanya bisa terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatap punggung Rindu yang menjauh dengan senyum simpul, lalu berteriak kecil, "Jangan lama-lama di dalem, Rin! Airnya udah nungguin lo, nih!"

Di dalam koridor menuju ruang ganti, Rindu mendengus pelan mendengar teriakan Kenzo. Namun, kedua sudut bibirnya justru berkhianat. Sebuah senyuman tipis terukir di wajahnya, mengikis sisa-sisa rasa kesal akibat menunggu sepuluh menit tadi. Sambil membuka loker pakaiannya, jantung Rindu mulai berdegup sedikit lebih cepat bukan karena takut akan air kolam seperti biasanya, melainkan karena tantangan latihan yang akan diberikan oleh pelatih absurd-nya itu hari ini.

Tidak lama kemudian, pintu ruang ganti kembali terbuka. Rindu melangkah keluar dengan baju renang model one-piece hitam andalannya. Rambutnya sudah terbungkus rapi di dalam swimming cap, dan kacamata renang sudah menggantung di lehernya. Tatapan matanya kembali tajam dan fokus, mode atletnya sudah aktif.

Ia berjalan tegap menghampiri Kenzo yang kini sudah duduk santai di kursi pelatih sambil memegang sebuah papan klip dan pulpen.

"Lo udah buang waktu latihan gue sepuluh menit," cetus Rindu langsung, berdiri di depan Kenzo sambil melipat kedua tangannya di dada. "Cepat, menu latihan gue hari ini apa? Jangan bilang cuma disuruh bengong kayak kemarin."

Kenzo mendongak, menatap Rindu yang sudah siap tempur. Alih-alih merasa terintimidasi dengan gertakan sang Ratu Lintasan, Kenzo justru tersenyum puas. Ia mengetukkan ujung pulpennya ke papan klip beberapa kali.

"Galak amat, Bos. Tenang, sepuluh menit yang hilang bakal gue ganti dengan kualitas," ujar Kenzo santai. Ia bangkit berdiri, lalu menyerahkan papan klip itu ke hadapan Rindu.

"Menu hari ini: kita fokus balikin feeling lo terhadap air dulu. Nggak ada target waktu, nggak ada beban. Gue mau lo lakuin warming up santai 200 meter gaya bebas, habis itu lanjut kick drilling pakai papan luncur 4x50 meter. Tapi ada syaratnya," Kenzo menggantung kalimatnya, menatap lurus ke dalam manik mata Rindu dengan senyum misterius.

"Apa syaratnya?" tanya Rindu memicingkan mata penuh curiga.

"Setiap kali lo ngerasa panik atau dadanya mulai sesak di dalam air, lo harus langsung berhenti dan angkat tangan kanan lo tinggi-tinggi. Gue bakal langsung turun buat narik lo. Deal?" tantang Kenzo, nadanya berubah melembut namun terdengar sangat tegas dan protektif.

Rindu menaikkan sebelah alisnya, menatap menu latihan di papan klip dan wajah Kenzo bergantian dengan pandangan meremehkan.

"Gitu doang?" cibir Rindu, melipat tangannya di dada. "Menu kayak gini mah makanan anak-anak kelas pemula, bukan porsi buat atlet kejurnas kayak gue. Lo ngeremehin gue ya?"

Kenzo tidak terpancing. Ia justru melangkah satu dekapan lebih dekat, membuat Rindu refleks mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup kontras. Senyum tengil di wajah Kenzo berganti dengan tatapan mata yang dalam dan mengunci fokus Rindu.

"Gue gak pernah ngeremehin lo, Rin. Gue justru tahu kapasitas lo," kata Kenzo, suaranya terdengar berat dan tenang. "Buat atlet normal, menu ini emang cuma pemanasan. Tapi buat orang yang belakangan ini selalu sesak napas setiap kali badannya nyentuh air... menu ini bisa jadi medan perang yang berat."

Kenzo menunjuk ke arah lintasan kolam yang airnya tampak tenang.

"Bagi gue, lo bisa nyelesaiin 200 meter tanpa dapet serangan panik itu udah kemenangan besar buat hari ini. Jadi, jangan sok jagoan dulu. Turunin ego lo, masuk ke kolam, dan buktiin ke gue kalau lo bisa lewatin 'menu pemula' ini tanpa perlu gue seret naik."

Rindu terdiam. Kata-kata Kenzo barusan tepat sasaran, langsung menembus dinding pertahanan ego yang selama ini ia bangun rapat-rapat. Sialan, cowok ini selalu tahu cara membuatnya bungkam.

Menyembunyikan rasa salah tingkah sekaligus gugup yang mendadak menyerang, Rindu menarik kacamata renangnya ke bawah, menutupi kedua matanya.

"Lihat aja nanti. Jangan kedip, biar lo tahu siapa yang lo latih sekarang," ketus Rindu.

Tanpa membuang waktu lagi, ia berjalan ke tepi lintasan, bersiap melakukan dive untuk memulai menu latihannya. Jantungnya berdegup kencang, tapi kali ini, ada rasa aman yang aneh karena ia tahu, ada seseorang yang siap melompat kapan saja untuk menyelamatkannya.

Byur!

Rindu meluncur mulus ke dalam air. Sentuhan pertama dengan air kolam terasa begitu sejuk, dan untuk sesaat, insting lamanya sebagai Ratu Lintasan kembali bangkit. Gerakan lengannya membelah air dengan ritme yang sangat rapi, kakinya melakukan kick dengan bertenaga, melesat melewati 50 meter pertama dengan sempurna.

Kenzo berdiri di tepi lintasan, matanya tajam memperhatikan setiap kayuhan Rindu. Di atas kertas, performa Rindu memang luar biasa.

Namun, memasuki meter ke-70, tepat setelah Rindu melakukan flip turn di ujung kolam, ramalan Kenzo terbukti.

Dada Rindu mendadak terasa seperti dihimpit batu besar. Oksigen yang baru saja dihirupnya seolah menguap begitu saja. Gerakan tangannya yang tadinya ritmis mulai pecah, dan air kolam yang berkilau di matanya mendadak terasa mencekik, berubah menjadi bayangan hitam trauma masa lalunya saat kompetisi.

“Bagi gue, lo bisa nyelesaiin 200 meter tanpa dapet serangan panik itu udah kemenangan besar...”

Kata-kata Kenzo tadi mendadak terngiang di telinganya. Rindu mencoba melawan egonya, ia memaksakan diri melakukan dua kayuhan lagi, namun paru-parunya mulai terasa terbakar. Kepalanya pusing karena serangan panik yang datang tiba-tiba.

Sadar dirinya tidak akan kuat mencapai 100 meter, Rindu akhirnya menyerah. Dengan sisa-sisa kesadarannya, ia menghentikan kayuhan kakinya, membiarkan tubuhnya mengapung vertikal, dan langsung mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara.

Belum sempat Rindu mengembuskan napas kepanikan, sebuah kecipak air yang keras terdengar di dekatnya.

Byurr!!

Kenzo sudah melompat ke dalam air bahkan sebelum tangan Rindu turun. Hanya dalam hitungan detik, sepasang lengan yang kokoh dan hangat langsung merengkuh tubuh Rindu dari belakang, menyangga ketiaknya, dan membawa kepala Rindu tetap berada di atas permukaan air.

"Gue di sini, Rin. Napas... ambil napas pelan-pelan," bisik Kenzo tepat di samping telinganya. Suara cowok itu tidak lagi tengil, melainkan terdengar sangat dalam, tenang, dan menenangkan, menjadi satu-satunya pegangan Rindu di tengah badai kepanikannya.

Rindu langsung mencengkeram erat pundak kokoh Kenzo. Kedua tangannya meremas kemeja flanel cowok itu yang kini sudah basah kuyup, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, ia akan kembali tenggelam ke dalam pusaran trauma yang mencekik.

Napas Rindu masih tersengal-sengal, memburu dengan dada yang naik turun tidak beraturan. Wajahnya yang pucat disembunyikan di ceruk leher Kenzo, mencari perlindungan dari rasa takut yang barusan menyerangnya.

"Tenang, Rin. Lo aman. Ada gue," bisik Kenzo lembut.

Sambil terus mengapungkan tubuh mereka berdua dengan kayuhan kaki yang tenang, tangan kekar Kenzo perlahan bergerak mengelus punggung Rindu, menyalurkan kehangatan dan rasa aman yang sangat dibutuhkan gadis itu sekarang. Kenzo tidak membawanya langsung naik ke tepi kolam; ia membiarkan Rindu beradaptasi dulu dengan air di posisi yang aman.

"Atur napas lo... Ikutin ritme gue. Tarik lewat mulut, buang pelan-pelan," instruksi Kenzo dengan suara yang sangat rendah dan menenangkan, tepat di samping telinga Rindu.

Perlahan namun pasti, dekapan hangat dan detak jantung Kenzo yang stabil di dekatnya mulai menyalurkan ketenangan ke dalam diri Rindu. Rasa sesak di dadanya perlahan memudar, digantikan oleh kesadaran baru yang mendadak membuat wajahnya terasa panas.

Rindu baru sadar betapa dekatnya posisi mereka sekarang. Tubuh mereka menempel erat di dalam air, dan jemarinya masih mencengkeram bahu kokoh Kenzo yang terasa sangat bidang dan kuat untuk ukuran seorang mahasiswa biasa. Ego sang Ratu Lintasan mendadak mencicit, kalah telak oleh rasa nyaman yang anehnya enggan ia akhiri.

"Ooo... jadi ini sesi latihan yang lo maksud, Nzo?"

Sebuah suara melengking yang sangat familier tiba-tiba memecah keheningan area kolam renang. Suara itu menggema di dinding-dinding ruangan, sarat akan nada sinis dan penuh tuduhan.

Tria. Cewek itu entah bagaimana caranya bisa lolos dari penjagaan depan dan sekarang sudah berdiri di tepi kolam, menatap ke arah Kenzo dan Rindu dengan kedua tangan bersedekap di dada. Matanya memicing tajam, menuduh, dan dipenuhi rasa puas karena merasa penolakannya kemarin terbukti hari ini.

Mendengar suara itu, Kenzo langsung mengetatkan rahangnya. Sorot matanya yang tadinya lembut dan menenangkan seketika berubah menjadi sedingin es. Ia benar-benar muak melihat mantan pacarnya yang tidak tahu arti kata 'selesai' dan terus-menerus mencari perkara.

Kenzo tidak ingin membuat Rindu yang baru saja tenang menjadi panik lagi karena kedatangan pengacau.

"Ayo, Rin. Gue bantu ke tepi," bisik Kenzo lembut pada Rindu, mengabaikan sepenuhnya keberadaan Tria di atas sana.

Dengan satu tangan tetap merengkuh pinggang Rindu dengan protektif, Kenzo mengayuh kakinya perlahan, membawa tubuh mereka berdua mendekati tangga tepi kolam yang posisinya agak jauh dari tempat Tria berdiri. Ia memastikan Rindu memegang besi pegangan tangga dengan aman sebelum ia sendiri bergerak naik.

"Wah, hebat ya. Baru juga putus kemarin, sekarang udah peluk-pelukan di dalam air," cibir Tria lagi, melangkah mendekat mengikuti pergerakan mereka dengan senyum meremehkan. "Pantesan lo buru-buru lepasin gue, Ken. Ternyata selera lo emang cewek manja yang modus pura-pura tenggelam ya?"

Kenzo naik ke permukaan, membiarkan tubuhnya yang basah kuyup meneteskan air ke lantai porselen. Ia melangkah maju, memosisikan tubuh jangkungnya tepat di depan Rindu secara instingtif membentengi Ratu Lintasan itu dari tatapan beracun Tria.

—bersambung—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!